MasukGerardo Ortiz Marcelo kerap di juluki Hot Duda setelah berpisah dari sang istri karena dia di vonis mandul dan tak bisa memiliki keturunan. Vonis itu menjadi rahasia yang tak boleh di ketahui oleh siapapun, jika tidak dia akan melenyapkan siapapun yang menyebarkan berita itu. Suatu malam dia bertemu dengan seorang gadis muda dan menghabiskan satu malam kesalahan padanya. Beberapa bulan kemudian gadis itu kembali menemuinya dan meminta pertanggung jawaban padanya. Gerardo tak lantas mempercayainya. "Bagaimana seorang pria mandul bisa membuat perempuan hamil?" "Tapi saya hanya melakukannya pada tuan,” jawab Shena. Bagaimana apakah Gerardo akan mencari kebenarannya dan menikahi Shena Claudia Walker? atau Gerardo tetap bersikeras dan meninggalkannya?
Lihat lebih banyakSuara lenguhan seorang wanita terdengar, sambil meliukkan tubuhnya yang keenakan diatas pangkuan seorang pria ketika miliknya tengah dimainkan dengan begitu liar. "Eunghh..."
Wajahnya menengadah, lehernya yang jenjang terangkat dengan begitu tinggi sampai kelopak matanya memejam. "Apa kau menyukai permainan ku?" tanya pria itu dengan senyum smirk di bibirnya kala mulut wanita itu terus meracau dengan tubuh yang bergerak seperti cacing kepanasan. "Ahh, iya Baby aku begitu menyukainya, kau sangat lihai. Sekarang keluarkan jarimu, mari kita mulai permainan yang sesungguhnya," balasnya dengan suara berat ketika nafasnya terengah menahan siksaan nikmat yang diberikan Gerardo. Pria itu lantas tersenyum miring, semakin memperdalam jemarinya dengan gerakan semakin liar hingga membuat wanita itu kian menjerit tak karuan, "Aahh!" Gerardo terus memacu tangannya dengan wajah geram. "Tapi sayangnya, aku hanya ingin bermain dengan jariku, bukan dengan milikku!" bisik Gerardo. Wanita itu menyeringai dengan kecewa, namun juga waspada ketika Gerardo mulai memperingatinya dengan arogan. Dia tahu siapa Gerardo, dan juga kemampuan Gerardo. Tak lama setelah memberi peringatan untuknya, Gerardo mengeluarkan jemarinya, dia segera mengambil tisu lalu membersihkan jemarinya dengan pandangan jijik. Wanita itu mengatur nafasnya sejenak akibat aktivitas ini dengan kedua siku yang tertumpu diatas meja. "Sekarang menjaulah dari pangkuanku dan jangan muncul lagi dihadapanku!" seru Gerardo dengan nada yang lantang mengusir wanita itu. Hingga membuat wanita itu terkejut dan panik. "Kau mengusirku baby? Jadi sungguh kau tak mau bermain denganku?" Pria itu tersenyum miring, sorot matanya yang tajam seolah dapat menembus hingga ke tulangnya. "Berhenti memanggil ku dengan panggilan yang menjijikan itu, jika kau masih ingin merasakan makanan dengan lidahmu!" Sekujur tubuh wanita itu langsung merinding, hanya dengan melihat sorot matanya saja sebenarnya wanita itu sudah paham jika dirinya sedang mendapat ancaman yang membahayakan. Apalagi setelah mendengar ancaman yang di ucapkan langsung dari mulutnya, wanita itu langsung berhenti bernafas hingga beberapa saat. Gerardo sangat berbahaya jika terus di usik. "Maafkan aku Tuan Gerardo ..." ucap wanita itu dengan senyuman gugup, dia hanya sedang berusaha memperbaiki situasi yang ada dengan terlihat hangat. Gerardo hanya diam. "Kalau begitu, bisakah kita bermain malam ini? Sebagai permohonan maafku, jadi tuan tak perlu membayarnya." Wanita itu juga tidak menyerah. Dia kembali melancarkan godaannya. "Tidak!" Gerardo menolak dengan tegas. Membuat wanita itu terbelalak. "Milikmu sudah sering dimasuki dan aku tidak suka wanita yang sering dimasuki banyak pria!" ucapnya lalu membangkitkan tubuhnya. Brugh! Tubuh wanita itu pun langsung terjengkang dari pangkuan Gerardo begitu pria itu berdiri, hingga membuat sang wanita harus meringis kesakitan mengusap pantatnya. "Fuck! Selain tampan ternyata kau sangat menyebalkan, tapi tak apa setidaknya terimakasih karena akhirnya aku bisa juga merasakan permainanmu!" gumam wanita itu. Gerardo tak menggubris perkataan itu, ia lalu berkata, "jangan mencariku lagi ataupun mencoba menghubungiku. Mengerti?" "Mengerti, Tuan." Wanita itu mengangguk dengan waspada dan segera mengenakan kembali celana dalamnya juga merapikan penampilannya. Dia berdiri dan melihat Gerardo yang terus memperhatikannya dengan tatapan peringatan. Setelah paham Gerardo sedang dalam suasana hati yang tak dapat di ganggu wanita itu merasa beruntung, karena hanya di usir dengan sebuah lirikan mata, bukan dengan kekerasan fisik atau lainnya. Setelah mengambil tasnya dari atas meja. Wanita itu pun segera pergi dari sana. Gerardo baru bisa merasa tenang saat wanita yang menurutnya tak berguna itu pergi dari tempat ini. Pintu di ruangan itu terbuka ketika wanita itu menariknya, dan wanita itu keluar. Tapi pada saat yang sama sosok wanita lain tampak berdiri di samping pintu itu dan terkejut ketika wanita penghibur tadi keluar dari pintu di sampingnya. Shena tidak sengaja lewat di depan lorong ruang VIP itu dan mendengar suara-suara aneh dari dalamnya, sebenernya ruang VIP di belakangnya ini yang sangat jarang di pakai, dan hanya boleh di booking oleh seseorang yang konon katanya sangat berkuasa di negara ini. Shena merasa sangat penasaran, oleh karena itu dia ingin mengintipnya untuk mengetahui siapa sosok pria paling berkuasa itu. Tapi, yang dia dapati adalah wanita penghibur yang baru saja keluar dari sana. Shena segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dan pura-pura sibuk ketika wanita penghibur tadi menatapnya. "Sedang mencari apa?" tanya wanita itu dengan sinis. Shena sedang membawa nampan di tangan, sehingga dia dapat menggunakan benda itu sebagai alasan. "Aku sedang ingin mengambil gelas kosong." ucapnya. Shena bekerja sebagai pelayan bar, alasan ini sangat mudah membuat wanita itu percaya. Sehingga wanita itu hanya mengedikan bahunya sambil berlalu begitu saja. Shena menghela nafas lega, namun tanpa dia ketahui Gerardo yang sejak tadi berdiri di dalam sana terus memperhatikan ke arahnya dengan pandangan misterius. Tonjolan yang ada di lehernya bergerak naik dan turun. Shena merasa seperti ada yang sedang meliriknya dari sana, hingga ia buru-buru pergi dari tempat itu untuk menghindari masalah lain. Selama di perjalanan, kejadian tadi terus saja membayangi kepalanya, dia mendengar suara-suara menjijikan wanita itu. Jika benar pemilik ruang VIP itu adalah seorang pria, maka apakah yang wanita tadi lakukan untuk menghiburnya? Jika itu benar, perasaan kagum pada sosok yang konon katanya sangat tampan dan berkuasa itu mendadak berubah. "Ternyata semua orang kaya itu sama, memiliki hobby yang sama bermain dengan wanita." Shena terbengong saat pikirannya kian kemana-mana. Namun Shena segera menggelengkan kepalanya dan mengumpulkan fokusnya lagi untuk bekerja.Sejak hari itu peran baru yang Gerardo dapatkan sebagai seorang ayah memberi ia tanggung jawab baru. Saat ini bayi-bayi yang kecil itu telah tumbuh menjadi bayi yang menggemaskan, di sayangi semua orang, tubuhnya gemuk dan suara tangisnya menjadi pengiring rumah yang dulu sunyi. Sekarang nuansa rumah terasa lebih hidup. Nyonya Kalista, tuan Damian, tuan James semuanya menjadi kakek dan nenek siaga, bahkan Daniel juga menyayangi keponakannya itu. Shena kini tampak semakin matang sebagai seorang ibu. Setiap pagi ia akan bangun lebih awal untuk menyusui dan menenangkan kedua bayinya. Ada kelembutan baru dalam dirinya, semacam naluri keibuan yang muncul secara alami. Sementara Gerardo, yang dulunya tak pernah menyentuh dunia anak-anak, kini menjadi ayah yang teramat melindungi. Ia belajar mengganti popok, menggendong bayinya dengan posisi benar, hingga mengenali perbedaan tangis lapar dan tangis mengantuk. Setiap malam, ia akan duduk di dekat ranjang bayi, membacakan cerita pendek
Beberapa bulan kemudian setelah kondisi Shena pulih, begitu juga Gerardo yang sudah bisa beraktifitas seperti sedia kala. Mereka berdua memutuskan untuk kembali dari rumah Tuan James. Dengan Shena menggendong putri kecilnya dan Gerardo yang menggendong putra kecilnya mereka berpamitan pada Tuan James. Seharian itu lalu putra dan putri mereka menjadi rebutan orang-orang di rumahnya ketika semua orang ingin berkenalan dengannya. Sesaat setelah malam hari tiba, mereka baru bisa mengistirahatkan badan. Dan kebetulan sekali, sebelum mereka memutuskan kembali ke rumah ini, Gerardo sudah sempat membuatkan kamar untuk anak-anaknya, sehingga mereka bisa memulai semuanya dengan nyaman. "Kamu pasti lelah, tidurlah," ucap Shena memandangi Gerardo yang terlelap di sampingnya, tangannya sambil mengusap rambut pria itu. Hari ini ia memandangnya dan mengingat lagi momen bagaimana mereka bertemu untuk pertama kali. Semua kenangan itu muncul seperti klip film yang membuat ia menahan senyum. Gerardo
Saat para perawat membawa bayi-bayi itu keluar, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Kali ini sunyi yang penuh harapan. Gerardo kembali memeluk Shena, membiarkan wanita itu bersandar sepenuhnya padanya. “Nama,” ucap Gerardo pelan. “Kita belum bicara soal nama.” Shena tersenyum lelah. “Aku menyimpan itu untukmu. Aku ingin kau yang memilih.” Gerardo menatap jendela, cahaya sore menembus tirai tipis. “Kalau begitu… kita pilih bersama. Seperti keluarga.” Shena menutup mata. Untuk pertama kalinya sejak semua tragedi itu terjadi, ia merasa aman. Tuan James memasuki ruangan Shena setelah mengetahui proses persalinan baru saja selesai, begitu dia masuk dia di kejutkan dengan keberadaan seorang pria yang tengah memeluk cucunya. Pandangannya penuh dengan tanya, begitu juga Gerardo yang terkejut. Dia langsung melepaskan pelukan itu, dan menatap wajah tuan James. Sebelumnya ia tak tahu dimana Shena berada. Tadi ia mendapat informasi dari Hector yang sudah di hubungi Daniel karena
Shena tercekat. Matanya membelalak, bibirnya terbuka tanpa suara. Gerardo tersenyum samar, lalu melangkah masuk perlahan. Lalu melihat dua bayi kembar di sampingnya. Shena tak berkata-kata. Air matanya langsung mengalir, begitu juga dengan perasaannya yang selama ini terpendam. "Gerardo..." ucapnya lirih. Gerardo menghampiri ranjang dan menunduk perlahan, menatap bayi mungil mereka. Jemarinya menyentuh lembut tangan si bayi. Perasaannya membuncah dia benar-benar tidak mempercayai hari ini, menerima keajaiban setelah empat bulan tertidur dan melihat anaknya dengan sehat dan selamat. Shena menahan tangisnya, tidak ingin terisak terlalu keras. Namun matanya membenarkan segalanya betapa ia merindukan pria ini, betapa ia takut kehilangan. "Maaf aku tidak ada saat kau melahirkan," kata Gerardo serak, menatapnya. Shena menggeleng sambil menghapus air matanya. "Kau datang tepat waktu... karena aku hampir percaya kau tak akan datang..." Gerardo menyentuh pipinya lembut, l


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan