登入Pesawat landing beberapa menit lalu. Entah kenapa kali ini terasa berbeda. Badan Rosélia terasa begitu lelah, bahkan wajahnya juga pucat pasi, seolah tak ada darah dalam tubuhnya.Tak hanya itu, bagian belakang kepalanya pun terasa berat. Namun, Rosélia hanya mengabaikannya. Mungkin memang badannya sedang kurang sehat saja.Dua orang yang baru saja tiba di penthouse itu menggeret koper sebelum memasuki lift. Begitu tiba di depan pintu, Maverick yang memimpin, sementara Rosélia hanya menunggu sampai pintu itu terbuka.“Kamu baik-baik saja?” Maverick bukan tidak memperhatikan. Sedari tadi dia tahu bagaimana pucatnya wajah Rosélia, namun dia baru berani bertanya sekarang.“Tak apa. Hanya sedikit lelah,” jawab Rosélia.Saat pintu terbuka, yang ada dalam benak Rosélia bukanlah ketenangan. Harapannya pupus ketika di dalam sana dia melihat seorang gadis berdiri menghadap me
“Kamu benar-benar tak akan beranjak dari sana?” tanya Maverick. Pria itu bahkan sudah siap dengan pakaiannya. Pakaian yang jarang sekali dia kenakan. Celana jeans dipadukan dengan kaos santai berwarna putih.Namun, Rosélia masih dalam posisinya. Tubuhnya terbaring di ranjang membelakangi posisi Maverick dengan selimut yang membalut seluruh tubuhnya tanpa terkecuali. “Setidaknya makan sarapanmu.” Maverick kembali berkata. Sarapan yang diantar ke sana pagi tadi masih utuh di atas meja bahkan setelah Maverick meninggalkannya untuk mandi.Karena kesal tidak kunjung mendapatkan jawaban. Maverick menyingkap selimut dengan paksa sehingga membuat Rosélia cukup terguncang. “Rosélia!” bentaknya begitu dia sudah bisa melihat wajah Rosélia yang berantakan. Jejak air mata masih terukir jelas di pipinya. Tapi iris legam itu enggan untuk menatap Maverick barang sedetikpun.“Apa? Pergilah, jangan pedulikan aku,” jawabnya pelan. Bahkan setelah menjawab, Rosélia membalikan badannya agar tidak menghad
Hatinya tak pernah tenang setelah mendengar keputusan dari panitia pelaksana pameran. Apa katanya? Nama Rosélia tidak termasuk dalam seniman yang mengikut sertakan karyanya dalam pameran? Omong kosong.Rosélia tahu dalang di balik semua ini. Pikirannya hanya terarah pada satu orang yang dia kenal dan tiba-tiba muncul di London, tepat di tempat Rosélia akan menyerahkan lukisannya. Bukan hanya itu, ucapan Maverick dan juga tatapan pria itu sudah sangat jelas bagi Rosélia jika pria itu ada di balik kegagalannya.Dan saat ini, pria bersepatu hitam itu masih terus mengikuti Rosélia sampai hotelnya. Tepat di depan pintu kamarnya, Rosélia berhenti. Dia berbalik, menatap nyalang pria yang juga menghentikan langkahnya."Apa maumu?" Tanya Rosélia ketus.Maverick menaikkan salah satu alisnya masih dengan senyum miring di wajahnya. "Kita tidak akan bicara di dalam?" Dagu Maverick menunjuk kamar dengan nomor 512 itu, memberikan
Sejak dulu, Rosélia tak pernah bermain-main dengan mimpinya. Dia selalu bersungguh-sungguh, karena hanya itu yang tersisa dalam hidupnya.Rosélia merasa harus menggapainya, sendiri, dengan cepat dan tanpa cela. Itu juga motivasinya membeli bangunan besar di tanah kelahiran yang katanya akan dia jadikan galeri.Dan kali ini, mimpi lainnya sedang dia perjuangkan. Bedanya, bukan di tanah kelahirannya melainkan di negeri orang.“Ah, harusnya aku bisa mengantarmu ke sana di hari yang sangat penting ini,” sesal Cordelia. Hari di mana Rosélia menyerahkan karyanya, Cordelia malah harus pergi. “Perusahaan membutuhkanmu karena Daddy harus mengurus yang lain.” Begitu kata Daddy-nya dalam telepon beberapa saat lalu.“Tak apa. Aku bisa melakukannya sendiri. Selesaikan dulu urusanmu, nanti kita bertemu lagi setelah semuanya selesai,” jawab Rosélia. Gadis itu sudah siap pergi, begitupun dengan Cordelia. Tapi drama yang disebabkan sahabatnya itu membuat waktu sedikit terulur.“Kabari aku setelah me
Bangunan-bangunan bersejarah menjulang anggun di tepi Sungai Thames. Jalanan dipenuhi dengan langkan manusia dari berbagai bangsa menciptakan harmoni budaya yang hidup di penjuru kota. Saat senja tiba,lampu-lampu kota memberikan kesal elegan dan megah.Di tengah rasa asing yang Rosélia rasakan, bersemayam rasa lega, tenang dan damai. Rasanya kali pertama dia merasakannya setelah sekian lama. Dan ironisnya, dia merasakannya di tanah orang, bukan di tanah kelahirannya.Rosélia mulai percaya jika rumah bukan tempat di mana dia tinggal selama ini, tapi di mana dia merasa nyaman ketika berada di sana. Dan di sinilah rumah Rosélia. Jauh dari keluarganya, jauh dari orang-orang yang seharusnya menjadi tempat pulang, tetapi justru menjadi sumber sebagian besar luka dalam hidupnya."Hari kedua dan aku merasa sangat nyaman," ucap Rosélia seraya menghirup udara segar sedalam-dalamnya.Dua hari di negeri orang tak terlalu banyak kegiatan yang Ros&e
Tepat saat itu juga, saat hatinya teriris dan perasaannya tersakiti, Rosélia pulang ke penthouse. Bukan untuk istirahat ataupun menetap, tapi untuk meninggalkan. Dia mengeluarkan kopernya, dimasukan hampir seluruh pakaian dan peralatan lain miliknya.Jangan lupakan paspor dan juga dokumen lain yang dia perlukan untuk keberangkatannya. Keputusan Rosélia bulat, dia akan pergi sekarang juga. Tanpa ada yang tahu, dan tentu saja meninggalkan segala konsekuensi yang tak akan dia tanggung lagi.Saat suasana penthouse sepi, tak ada mata, tak ada perhatian dan tak ada yang tahu jika lelahnya membawa gadis itu menjauh tak terjangkau oleh orang-orang terdekatnya.“Pak, saya berangkat sekarang ke sana. Untuk dokumen lain yang diperlukan, akan saya kerjakan di sana begitu juga dengan karya yang akan saya serahkan.” Benda pipih pintar itu masih tertempel di telinga kirinya. Sementara tangan kanannya sibuk memutar kunci mobil yang akan dia gunakan menuju bandara.“Kenapa mendadak, Rosélia?” tanya se
Hampir tiga jam lamanya Rosélia berada di ruang operasi, berjuang untuk nyawanya sendiri, setelah dia menjadi tameng Maverick dalam penembakan yang dilakukan oleh Noah. Saat ini tubuhnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Maverick telah memberikan kabar pada Evander dan Viviane, namun dua ora
Suara pintu yang dibuka secara tiba-tiba membuat sang pemilik kamar terlonjak bukan main. Baru saja matanya hendak terpejam, kini menjadi segar lagi karena hal tersebut. "Ada apa?" tanya Rosélia hendak mendudukkan dirinya. Namun belum sempat dia duduk, Maverick telah lebih dulu menerjang tubuhnya.
Rindu yang menumpuk sudah Maverick anggap sebagai tabungan. Maka saat ini, ketika dia mendengar kabar jika Valerie telah bangun, dengan cepat dia bergegas ke rumah sakit. Dia tak mempedulikan Rosélia, seorang istri yang pulang sendirian dengan menggunakan taksi. Yang dia pedulikan saat ini hanya Va
Seorang pria paruh baya berjalan dengan cepat setelah dia mendapatkan telepon dari sang istri. Pria itu, Evander, bahkan rela meninggalkan acara yang masih berlangsung demi melihat sang putri yang katanya telah sadar dari komanya.Pintu ruang rawat Valerie terbuka lebar. Namun sang penghuni ruangan







