Ranjang Panas Pengantin Pengganti
Hidup tak pernah benar-benar berpihak pada Rosélia Deveraux. Sejak kecil, dia dibenci oleh ayah kandung, ibu sambung, bahkan kakek dan neneknya sendiri karena dianggap sebagai penyebab kematian Calestine, ibunya, yang meninggal saat melahirkannya.
Namun penderitaan Rosélia tidak berhenti di sana. Ketika hidupnya mulai merasa tenang, semuanya kembali berubah. Dia tiba-tiba harus menggantikan Valerie, adiknya untuk menikah dengan Maverick setelah penyakit Valerie mendadak kambuh beberapa saat sebelum pernikahan.
Sayangnya pernikahan itu bukan awal dari kebahagiaan. Menjadi istri Maverick, seorang CEO kaya, tampan dan berkuasa justru menyeret Rosélia ke dalam kehidupan yang penuh luka. Satu persatu penderitaan menghampirinya, terlebih karena Maverick membencinya setengah mati.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, mampukah Rosélia bertahan? Atau justru dia akan hancur oleh Maverick?
Baca
Chapter: Chapter 88Ternyata, ketertarikannya pada Rosélia sudah berlangsung cukup lama. Hanya saja saat itu Maverick memilih menyangkalnya.Kebersamaan Rosélia dengan Xavier yang bisa dibilang cukup dekat dan kerap bertemu membuat Maverick tak suka saat itu.Tapi, saat itu Maverick lebih memilih alasan, kedekatan mereka akan merusak nama baik keluarga, apalagi bagi Maverick sebagai CEO Ashbourne Holdings. Nyatanya tak begitu. Rasa tak suka melihat Rosélia dengan pria lain, ternyata sebuah perasaan yang bisa dikatakan cemburu.Hanya saja, hatinya saat itu masih bimbang karena di sisi lain ada Valerie yang harus dia perjuangkan.Hari ini, setelah mendengar cerita Cordelia dan bertemu dengan Xavier bahkan berbicara singkat dengan pria itu, Maverick tahu. Dia mencintai Rosélia.“Boleh aku bertanya sesuatu?” Setelah awal pertemuan mereka tadi, Xavier mengajak Maverick untuk berbincang di sebuah kafe di samping galeri.Maverick mengangguk.“Sebenarnya Rosélia ke mana? Setelah dia menitipkan galeri ini, dia b
Terakhir Diperbarui: 2026-07-18
Chapter: Chapter 87Hidupnya terasa lebih hampa, hanya ada kekosongan yang singgah. Maverick, setelah pengakuan dosa yang dia lakukan, pria itu lebih sering menghabiskan waktu di luar, di manapun asal tidak di rumahnya.Selain karena rumah merupakan salah satu tempat yang selalu mengingatkannya pada Rosélia, Maverick juga berkeinginan untuk mengunjungi tempat-tempat yang didatangi Rosélia.Setelah menyelesaikan seluruh berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya, Maverick berlalu begitu saja tanpa berpamitan pada dua orang temannya yang juga ada di sana."Ke mana lagi dia?" tanya Ken keheranan. Pasalnya Maverick baru saja tiba di kantor satu jam yang lalu. Tanpa banyak bicara pria itu segera menandatangani berkas dan kembali pergi begitu saja."Ke makam lagi kayanya," jawab Brian menggedikan bahunya.Saking seringnya Maverick ke sana, Brian sampai hafal dengan kegiatan baru yang kerap dilakukan Maverick belakangan ini.Sebenarnya Maverick sudah bekerja seperti biasa, hanya saja sikapnya menjadi lebih ding
Terakhir Diperbarui: 2026-07-18
Chapter: Chapter 86Gereja itu berdiri anggun di antara deretan pepohonan tua. Cahaya matahari sore menembus kaca berwarna-warni sehingga memantulkan warna merah, hijau dan sedikit keemasan di lantai marmer yang dingin. Aroma di dalamnya dipernuhi dengan aroma khas kayu tua berpadu dengan lilin dan dupa yang samar, menciptakan suasana yang damai yang justu terasa begitu menusuk bagi hati yang dipenuhi dengan penyesalan. Maverick berjalan gontai melalui lorong tengah. Suara langkahnya menjadi pengiring bagi dirinya sendiri di keheningan tempat ibadah ini. Kemudian, pria itu berhenti di bagian tengah gereja, mendongakan kepala untuk memandang salib besar di bagian atas. Namun bukan itu tujuan utamanya, melainkan sebuah bilik kayu yang berada di bagian kanan. Maverick kembali melangkahkan kakinya. Pria itu berhenti di sebuah bilik dengan tulisan "Ruang Pengakuan Dosa". Meski berat, Maverick tetap melangkah, masuk, dan duduk diam. Imam sudah menunggu di balik kisi-kisi di depannya. Maverick mulai mela
Terakhir Diperbarui: 2026-07-18
Chapter: Chapter 85"Kamu tidur dengannya?"Kalimat itu seolah terus berputar-putar dalam kepala Maverick. Wanita yang saat ini masih ada di hadapannya terdiam. Meski gadis itu sudah tahu jawabannya dari diamnya Maverick, tapi dia tetap menunggu. Menunggu Maverick mengatakannya secara langsung."Hmm." Nasi sudah menjadi bubur. Kalimat yang baru saja terlontar dari bibir Maverick tidak dapat dia tarik lagi. Valerie sudah mengetahuinya.Gadis itu menghembuskan nafasnya panjang, mencoba mencari ketenangan agar amarahnya tak kembali memuncak."Kamu melakukannya karena mencintainya?" Maverick seolah tengah diintrogasi hanya bisa mengangguk, menggeleng dan menjelaskan beberapa kejadian yang memang perlu."Aku tidak tahu," jawabnya acuh.Keheningan datang menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Valerie mencoba menenangkan dirinya."Ayo tidur denganku!" Permintaan yang dilayangkan Valerie begitu tiba-tiba hingga membuat Maverick membelalakan matanya."A-apa?""Aku bilang ayo tidur denganku. Bukannya dulu kamu
Terakhir Diperbarui: 2026-07-17
Chapter: Chapter 84Berulang kali Maverick terus menyangkal. Berulang kali pula pria itu terus menghindar. Tapi kali ini dia kalah, semesta memaksa dirinya untuk mengakui semua perasaan yang dia punya untuk Rosélia, untuk darah dagingnya. Sesak yang dia rasakan bukan sementara, juga bukan hanya sekadar gurauan. Meski hanya lewat mimpi, pertemuan itu terasa begitu nyata. Maverick ingin mengulang. Maverick ingin bersua. Maverick ingin mengakui bahwa dia mencintai Rosélia dan buah hatinya. Lantas Valerie? Maverick tak bisa melepaskan wanita yang berstatus sebagai kekasihnya begitu saja. Tidak setelah Rosélia memberikan jantungnya pada Valerie agar hanya ingin Adiknya hidup. Tidak setelah Rosélia mengorbankan hidupnya. Tidak setelah Rosélia mengorbankan darah dagingnya. Setidaknya hanya itu yang bisa Maverick lakukan agar bisa selalu dekat dengan mereka. "Kenapa kita ke sini?" protes Valerie di sampingnya. Mereka telah tiba di kawasan pemakaman yang begitu luas. Valerie sebelumnya telah bertany
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Chapter 83Pertanyaan yang kerap dilayangkan Valerie hanya terus dibalas dengan kata ‘nanti’ oleh Maverick. Pria itu tak memiliki pilihan lain. Perasaan gelisah yang sering kali datang, seolah terus meminta Maverick menghentikan niatnya untuk menikahi Valerie.Selain itu, kegelisahan yang selalu hadir dalam sepinya malam sering kali membuat Maverick kesulitan untuk memejamkan mata. Seperti malam ini, Maverick diam terduduk di tepi ranjang. Jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas, tapi hingga kini matanya masih enggan terpejam. Setelah menghela nafas, pria itu beranjak.Entah mengapa, langkah kakinya membawa Maverick masuk ke dalam satu ruangan yang dulu sering kali Rosélia tempati untuk bekerja atau menyimpan dokumennya.Perlahan tangannya terangkat untuk menyalakan saklar lampu, Maverick bisa melihat tumpukan dokumen, buku-buku yang tersusun rapi di rak dan juga beberapa hiasan ruangan yang tersimpan di tempatnya. Terlihat agak berdebu mengingat ruangan itu jarang terjamah. Namun tak sep
Terakhir Diperbarui: 2026-07-16
Chapter: Alarick Part 39"Nerissa!" Dibantingnya pintu dengan kencang. Gadis itu masuk ke apartemennya setelah mendapatkan kabar dari Nerissa tentang perceraiannya. Dibantingnya tas selempang yang dia gunakan sembarangan. Saking terburu-burunya, dia sampai lupa ada orang lain yang mengekor dari belakang. Kali ini pintu dibuka dan ditutup dengan lebih manusiawi.Nerissa menolehkan kepalanya melihat dua orang yang baru saja tiba. Beberapa menit lalu, Nerissa memberitahu kedua temannya untuk bertemu di apartemen Lovetta. Gadis itu juga memberitahu akan perceraiannya dengan Alarick."Jelaskan!" Masih Lovetta yang menggebu-gebu, sementara Raquil hanya menyimaknya."Kau ingat saat malam aku pingsan dan kau yang membawaku ke rumah sakit?" tanya Nerissa."Tentu saja aku ingat. Aku hampir gila saat itu melihat keadaanmu," jawab Lovetta.Pandangan mata Nerissa kosong. Ingatannya menerawang jauh ke hari di mana dia pingsan."Sebelum menelponmu, aku menelepon Alarick. Tapi, dia tak mengangkat telponnya dan juga tidak ba
Terakhir Diperbarui: 2026-05-09
Chapter: Alarick Part 38Keheningan menyelimuti ruang tamu apartemen Alarick, padahal di sana ada dua orang yang sedang berkecamuk dengan pikiran mereka.Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dengan meja sebagai perantara. Di atas meja itu terdapat sebuah map yang malam tadi diberikan oleh Nerissa pada Alarick—lengkap dengan pena yang tergeletak di atasnya.Masing-masing sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ya, Nerissa memuskan untuk pergi menemui Clara setelahnya."Sudah kau tandatangani?" Nerissa memecah keheningan di antara mereka.Alarick membasahi tenggorokannya. "Apa kau sudah memikirkan alasan yang akan kau sampaikan pada kedua orang tua kita?" tanya Alarick.Nerissa berdecak. "Jika yang kau takutkan kau tidak akan mendapatkan semua harta ayahmu, tenang saja. Seperti keinginanmu, kau akan mendapatkan semuanya tanpa kehilangan sepeser pun," jawab Nerissa.Niatnya dulu menikahi Nerissa memang karena sebuah warisan, tapi mendengar Nerissa berkata demikian mengapa rasanya ada yang mengganjal dalam hatin
Terakhir Diperbarui: 2026-05-08
Chapter: Alarick Part 37Pernihakan Nerissa dan Alarick belum genap satu tahun. Bisa dikatakan pernikahan mereka masih seumur jagung. Namun, selama mereka menjadi bagian satu sama lain, Nerissa tak pernah merasakan kebahagiaan.Bukan hanya Nerissa, Alarick juga sama tersiksanya. Bagi Alarick, kebahagiaannya hanya Haleth.Tapi, meski Nerissa sama sekali tak merasakah bahagia, tak mendapatkan perlakuan sebagai seorang istri dan tak mendapatkan haknya dari seorang suami, Nerissa tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.Melayani Alarick setelah pria itu pulang bekerja, berbenah rumah, dan juga memasak, itu sudah menjadi rutinitasnya selama menikah dengan Alarick.Nerissa memandang setiap sudut apartemen milik suaminya—takut suatu saat dia akan merindukannya. Meski dia selama ini hanya tidur di sofa saja.Letak apartemen Alarick yang strategis membuat pemandangan malam kota terlihat begitu memanjakan mata. Nerissa sengaja memindahkan sebuah meja bulat di sudut ruangan ke dekat jendela. Tak lupa,
Terakhir Diperbarui: 2026-05-07
Chapter: Alarick Part 36Banyaknya hal yang Nerissa pikirkan membuat gadis itu sulit sekali terlelap. Sudah hampir tengah malam tapi matanya sangat segar. Dia sedari tadi hanya berguling-guling tak menentu di sofa.Suaminya juga belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Jadi, Nerissa merasa bosan. Meski keberadaan Alarick juga tak berpengaruh sebanyak itu, tapi setidaknya dia tahu suaminya ada di rumah."Ah kenapa sulit sekali tidur," ucapnya pelan.Dia memutuskan untuk bangun. Dengan ponsel dalam genggamannya, gadis itu pergi ke dapur hendak mengambil minum dengan harapan dia akan terlelap setelah minum beberapa teguk air.Namun, begitu dia kembali ke sofa, entah kenapa kepalanya terasa pening. Semuanya terasa berputar. Nerissa beberapa kali menggelengkan kepalanya, menutup dan kembali membuka matanya berharap rasa pusingnya menghilang. Namun, harapan hanya harapan. Nyatanya, bukannya membaik, rasa pusing itu kian menjadi.Beruntung, ponselnya ada dalam genggaman. Menelpon Alarick adalah pilihannya karena
Terakhir Diperbarui: 2026-05-06
Chapter: Alarick Part 35Kondisi Nerissa semakin hari semakin memburuk. Setelah mengganti obatnya, tubuhnya lebih sering terasa lemas, darah dari hidungnya juga lebih sering menetes. Bukan salah obatnya ataupun Raquil yang tidak cakap. Tapi semua ini Nerissa penyebabnya. Deadline yang selalu mengejarnya membuat gadis itu sering kali melupakan obat yang menjadi penopang hidupnya.Hari ini tepat dua minggu setelah dia mendapatkan obat baru. Dan pertemuan dengan Raquil tadi adalah kali kedua bagi Nerissa.Temannya itu memarahi Nerissa karena gadis itu kerap melewatkan obatnya. Ditambah kesibukan Nerissa membuat fisiknya lebih lemah dari biasanya."Aku akan benar-benar mengurungmu di Rumah sakit jika kau berani melewatkan obatmu lagi," ancamnya.Raquil dan Nerissa berjalan beriringan di lorong Sakit yang tak begitu ramai. "Jangankan obat ini, nasi pun kadang aku lupa memakannya." Sambil mengangkat kotak obatnya, Nerissa masih bisa membantah.Raquil sangat geram dibuatnya. Kenapa temannya ini sangat sulit diberi
Terakhir Diperbarui: 2026-05-05
Chapter: Alarick Part 34Dulu, Nerissa sangat mendambakan pernikahan. Dia membayangkan bagaimana bahagianya dia jika bisa menikah dengan pria yang dia sayangi dan keluar sepenuhnya dari keluarganya—yang dia pikir tidak menyayanginya sama sekali.Namun, semua bayangan tentang indahnya sebuah pernikahan itu pupus begitu saja setelah dia merasakannya sendiri. Mengerikan dan hampir membuatnya gila.Dengan mata sembab, gadis itu melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Beberes rumah, memasak, menyiapkan pakaian untuk Alarick, dia lakukan semua itu setelah apa yang suaminya lakukan malam tadi.Bekas merah di pipinya masih tercetak jelas. Sakitnya pun masih terasa olehnya, namun dia berpura-pura tidak pernah mengalaminya.Suara langkah yang sudah sangat dia kenali mulai mendekat. Namun, Nerissa memilih untuk melajutkan kegiatannya."Ner—""Makanlah. Aku pergi duluan, ada yang harus aku kerjakan." Tanpa menunggu Alarick menyelesaikan ucapannya, Nerissa pergi setelah membawa tas kerjanya.Sementara itu, Alarick hanya
Terakhir Diperbarui: 2026-05-04