Ranjang Panas Pengantin Pengganti
Hidup tak pernah benar-benar berpihak pada Rosélia Deveraux. Sejak kecil, dia dibenci oleh ayah kandung, ibu sambung, bahkan kakek dan neneknya sendiri karena dianggap sebagai penyebab kematian Calestine, ibunya, yang meninggal saat melahirkannya.
Namun penderitaan Rosélia tidak berhenti di sana. Ketika hidupnya mulai merasa tenang, semuanya kembali berubah. Dia tiba-tiba harus menggantikan Valerie, adiknya untuk menikah dengan Maverick setelah penyakit Valerie mendadak kambuh beberapa saat sebelum pernikahan.
Sayangnya pernikahan itu bukan awal dari kebahagiaan. Menjadi istri Maverick, seorang CEO kaya, tampan dan berkuasa justru menyeret Rosélia ke dalam kehidupan yang penuh luka. Satu persatu penderitaan menghampirinya, terlebih karena Maverick membencinya setengah mati.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, mampukah Rosélia bertahan? Atau justru dia akan hancur oleh Maverick?
Read
Chapter: Chapter 163Entah bagaimana awalnya, yang jelas saat ini Rosélia bukan sedang berbelanja berdua dengan Elodie ataupun mencari sesuatu yang Elodie inginkan sebagai hadiah. Saat ini dirinya malah hadir di tengah-tengah Maverick dan Theresa, meski ada Elodie dan juga Justin juga di antara mereka.Mereka duduk berbincang di sebuah kafe cantik yang suasananya terbilang tenang. Mungkin jika Rosélia datang ke sana karena keinginannya dan seorang diri, dia akan merasa lebih tenang dan bahagia.Namun, karena kali ini kedatangannya ke sana bukan atas kemauannya sendiri, jadilah sepanjang mereka di sana, wajah Rosélia begitu masam.Seperti sekarang, di tengah perbincangan yang katanya dua kawan lama yang baru kembali bertemu, Rosélia hanya bergeming, fokus pada jus apel di hadapannya.“Aku tidak tahu jika kamu tertarik dengan lukisan,” ucap Theresa pada Maverick.“Ah ya. Aku juga tak menyangka melukis akan semenyenangkan itu,” jawab Maverick.“Kalau kamu?” Kali ini ucapan Theresa ditujukan untuk Rosélia yan
Last Updated: 2026-09-02
Chapter: Chapter 162Panggilan itu secara spontan membuat Maverick menengadah, memandang orang yang baru saja memanggilnya. Seorang wanita dengan rambut coklat terang sebahu, kulit putih pucat dan senyuman di bibir tipisnya. Pemilik mata biru itu, Maverick sangat mengenalinya.“Theresa?” desis Maverick.Pria itu ikut tersenyum ketika gadis yang memanggilnya tadi berjalan semakin dekat ke arahnya. “Rupanya aku tak salah,” ucap gadis bernama Theresa Vougel itu.Maverick tak basa-basi, entah dorongan dari mana, dia menarik Theresa dalam pelukannya, begitu erat hingga membuat Theresa terkekeh dengan sikap Maverick.Mereka berdua benar-benar saling berpelukan di sebuah Taman Kanak-kanak. Beruntung semua orang sedang berada di ruangan sehingga kini di sana hanya ada mereka termasuk Rosélia yang menyaksikan pemandangan manis itu.Meski manis, namun entah mengapa seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya. Meski diam, wajah Rosélia tak bisa bohong, terukir dengan jelas jika dia sama sekali tak menyukai apa yan
Last Updated: 2026-09-01
Chapter: Chapter 161Panggilan itu secara spontan membuat Maverick menengadah, memandang orang yang baru saja memanggilnya. Seorang wanita dengan rambut coklat terang sebahu, kulit putih pucat dan senyuman di bibir tipisnya. Pemilik mata biru itu, Maverick sangat mengenalinya.“Theresa?” desis Maverick.Pria itu ikut tersenyum ketika gadis yang memanggilnya tadi berjalan semakin dekat ke arahnya. “Rupanya aku tak salah,” ucap gadis bernama Theresa Vougel itu.Maverick tak basa-basi, entah dorongan dari mana, dia menarik Theresa dalam pelukannya, begitu erat hingga membuat Theresa terkekeh dengan sikap Maverick.Mereka berdua benar-benar saling berpelukan di sebuah Taman Kanak-kanak. Beruntung semua orang sedang berada di ruangan sehingga kini di sana hanya ada mereka termasuk Rosélia yang menyaksikan pemandangan manis itu.Meski manis, namun entah mengapa seperti ada sesuatu yang menghantam dadanya. Meski diam, wajah Rosélia tak bisa bohong, terukir dengan jelas jika dia sama sekali tak menyukai apa yan
Last Updated: 2026-09-01
Chapter: Chapter 160Mata itu terpejam sempurna, hembusan nafas yang teratur menggambarkan jika gadis itu tertidur begitu pulas. Terhitung sepuluh menit yang lalu Elodie terlelap setelah lelah menangis.Gadis kecil itu bahkan tanpa sadar terlelap dalam pelukan Maverick. Namun, tak ingin mengganggu, Maverick tetap mempertahankan posisinya masih dengan tangannya yang mengelus punggung Elodie dengan konstan.Tak lama, Rosélia kembali masuk ke kamarnya. Kali ini bukan dengan raut panik, pun tidak dengan tangan kosong. Dia membawa nampan berisikan bubur, air putih dan juga beberapa butir obat di atas piring kecil.“Makan dulu, setelah itu minum obat,” ucapnya. Dia duduk di tepi ranjang setelah menyimpan nampan itu di atas nakas.“Aku akan makan nanti,” jawab Maverick. Bukan tak menghargai, tapi rasanya dia tak ingin mengganggu putrinya yang sedang terlelap begitu nyenyak.Rosélia mengerti. “Pindahkan dulu saja,” pinta Rosélia. Lagipula dia tak tega melihat Maverick yang sedang sakit harus menampung beban Elodi
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Chapter 159Dengan bertopang pada semua benda yang dia lewati, Maverick berjalan lebih dulu sebelum kemudian Rosélia dan Elodie mengekor di belakangnya. Maverick akhirnya mempersilahkan Rosélia masuk setelah dia mendengar jika Rosélia bersedia membantunya. Kedatangan dan pertolongan Rosélia sama sekali tak masuk dalam rencananya. Bahkan demam yang tiba-tiba menyerang tubuhnya juga di luar prediksi Maverick.Berjalan ke depan, membuka pintu ketika dia mendengar ada yang mengetuk, bukan berarti sakit di kepalanya menghilang. Bahkan saat ini, rasa sakit di kepalanya semakin menjalar ke bagian belakang pun melintas di atas matanya.Penglihatannya seakan menyempit. Bagian sampingnya semakin hitam sebelum kemudian semuanya hitam dalam penglihatan Maverick. Setelahnya, dia sama sekali tidak mengingat apapun. Hal terakhir yang dia ingat adalah teriakan Rosélia dan Elodie yang memanggilnya.“Maverick!”“Ayah!”Dua gadis itu sama-sama terkejut ketika tubuh Maverick limbung tepat di ambang pintu kamarnya.
Last Updated: 2026-08-31
Chapter: Chapter 158Rosélia membereskan sisa teh yang disuguhkan pada James. Pria itu sama sekali tak menyentuh cangkir sedikit pun. Rosélia mencuci bekasnya, begitu pun miliknya. Begitu selesai, gadis itu diam termenung di depan meja cuci piring. Sejak kedatangan James dan membawa berita perihal ketidak sehatan Maverick, kepalanya terasa kian berisik.Namun dia berusaha mengabaikan. Gadis itu berlalu dari sana, pindah ke tempat kesukaannya, di depan sebuah kanvas yang menghadap langsung ke arah pegunungan Interlaken, hanya terhalang jendela kaca di antara mereka.“Masih ada satu jam sebelum aku menjemput Elodie,” desisnya. Rosélia menggunakan waktu satu jam itu dengan berguna. Dia menyelesaikan lukisannya. Meski pikirannya kurang fokus, namun hasi lukisnya tetap sempurna. Jam terbang membuat Rosélia tak mudah teralihkan ketika sedang melukis.Satu jam terasa sangat lama hari ini, mungkin karena pikirannya terbagi. Rosélia bersiap untuk menjemput Elodie. Dia tak ingin putrinya menunggu kedatangannya.Se
Last Updated: 2026-08-30
Chapter: Alarick Part 39"Nerissa!" Dibantingnya pintu dengan kencang. Gadis itu masuk ke apartemennya setelah mendapatkan kabar dari Nerissa tentang perceraiannya. Dibantingnya tas selempang yang dia gunakan sembarangan. Saking terburu-burunya, dia sampai lupa ada orang lain yang mengekor dari belakang. Kali ini pintu dibuka dan ditutup dengan lebih manusiawi.Nerissa menolehkan kepalanya melihat dua orang yang baru saja tiba. Beberapa menit lalu, Nerissa memberitahu kedua temannya untuk bertemu di apartemen Lovetta. Gadis itu juga memberitahu akan perceraiannya dengan Alarick."Jelaskan!" Masih Lovetta yang menggebu-gebu, sementara Raquil hanya menyimaknya."Kau ingat saat malam aku pingsan dan kau yang membawaku ke rumah sakit?" tanya Nerissa."Tentu saja aku ingat. Aku hampir gila saat itu melihat keadaanmu," jawab Lovetta.Pandangan mata Nerissa kosong. Ingatannya menerawang jauh ke hari di mana dia pingsan."Sebelum menelponmu, aku menelepon Alarick. Tapi, dia tak mengangkat telponnya dan juga tidak ba
Last Updated: 2026-05-09
Chapter: Alarick Part 38Keheningan menyelimuti ruang tamu apartemen Alarick, padahal di sana ada dua orang yang sedang berkecamuk dengan pikiran mereka.Sepasang suami istri itu duduk berhadapan dengan meja sebagai perantara. Di atas meja itu terdapat sebuah map yang malam tadi diberikan oleh Nerissa pada Alarick—lengkap dengan pena yang tergeletak di atasnya.Masing-masing sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ya, Nerissa memuskan untuk pergi menemui Clara setelahnya."Sudah kau tandatangani?" Nerissa memecah keheningan di antara mereka.Alarick membasahi tenggorokannya. "Apa kau sudah memikirkan alasan yang akan kau sampaikan pada kedua orang tua kita?" tanya Alarick.Nerissa berdecak. "Jika yang kau takutkan kau tidak akan mendapatkan semua harta ayahmu, tenang saja. Seperti keinginanmu, kau akan mendapatkan semuanya tanpa kehilangan sepeser pun," jawab Nerissa.Niatnya dulu menikahi Nerissa memang karena sebuah warisan, tapi mendengar Nerissa berkata demikian mengapa rasanya ada yang mengganjal dalam hatin
Last Updated: 2026-05-08
Chapter: Alarick Part 37Pernihakan Nerissa dan Alarick belum genap satu tahun. Bisa dikatakan pernikahan mereka masih seumur jagung. Namun, selama mereka menjadi bagian satu sama lain, Nerissa tak pernah merasakan kebahagiaan.Bukan hanya Nerissa, Alarick juga sama tersiksanya. Bagi Alarick, kebahagiaannya hanya Haleth.Tapi, meski Nerissa sama sekali tak merasakah bahagia, tak mendapatkan perlakuan sebagai seorang istri dan tak mendapatkan haknya dari seorang suami, Nerissa tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang istri.Melayani Alarick setelah pria itu pulang bekerja, berbenah rumah, dan juga memasak, itu sudah menjadi rutinitasnya selama menikah dengan Alarick.Nerissa memandang setiap sudut apartemen milik suaminya—takut suatu saat dia akan merindukannya. Meski dia selama ini hanya tidur di sofa saja.Letak apartemen Alarick yang strategis membuat pemandangan malam kota terlihat begitu memanjakan mata. Nerissa sengaja memindahkan sebuah meja bulat di sudut ruangan ke dekat jendela. Tak lupa,
Last Updated: 2026-05-07
Chapter: Alarick Part 36Banyaknya hal yang Nerissa pikirkan membuat gadis itu sulit sekali terlelap. Sudah hampir tengah malam tapi matanya sangat segar. Dia sedari tadi hanya berguling-guling tak menentu di sofa.Suaminya juga belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Jadi, Nerissa merasa bosan. Meski keberadaan Alarick juga tak berpengaruh sebanyak itu, tapi setidaknya dia tahu suaminya ada di rumah."Ah kenapa sulit sekali tidur," ucapnya pelan.Dia memutuskan untuk bangun. Dengan ponsel dalam genggamannya, gadis itu pergi ke dapur hendak mengambil minum dengan harapan dia akan terlelap setelah minum beberapa teguk air.Namun, begitu dia kembali ke sofa, entah kenapa kepalanya terasa pening. Semuanya terasa berputar. Nerissa beberapa kali menggelengkan kepalanya, menutup dan kembali membuka matanya berharap rasa pusingnya menghilang. Namun, harapan hanya harapan. Nyatanya, bukannya membaik, rasa pusing itu kian menjadi.Beruntung, ponselnya ada dalam genggaman. Menelpon Alarick adalah pilihannya karena
Last Updated: 2026-05-06
Chapter: Alarick Part 35Kondisi Nerissa semakin hari semakin memburuk. Setelah mengganti obatnya, tubuhnya lebih sering terasa lemas, darah dari hidungnya juga lebih sering menetes. Bukan salah obatnya ataupun Raquil yang tidak cakap. Tapi semua ini Nerissa penyebabnya. Deadline yang selalu mengejarnya membuat gadis itu sering kali melupakan obat yang menjadi penopang hidupnya.Hari ini tepat dua minggu setelah dia mendapatkan obat baru. Dan pertemuan dengan Raquil tadi adalah kali kedua bagi Nerissa.Temannya itu memarahi Nerissa karena gadis itu kerap melewatkan obatnya. Ditambah kesibukan Nerissa membuat fisiknya lebih lemah dari biasanya."Aku akan benar-benar mengurungmu di Rumah sakit jika kau berani melewatkan obatmu lagi," ancamnya.Raquil dan Nerissa berjalan beriringan di lorong Sakit yang tak begitu ramai. "Jangankan obat ini, nasi pun kadang aku lupa memakannya." Sambil mengangkat kotak obatnya, Nerissa masih bisa membantah.Raquil sangat geram dibuatnya. Kenapa temannya ini sangat sulit diberi
Last Updated: 2026-05-05
Chapter: Alarick Part 34Dulu, Nerissa sangat mendambakan pernikahan. Dia membayangkan bagaimana bahagianya dia jika bisa menikah dengan pria yang dia sayangi dan keluar sepenuhnya dari keluarganya—yang dia pikir tidak menyayanginya sama sekali.Namun, semua bayangan tentang indahnya sebuah pernikahan itu pupus begitu saja setelah dia merasakannya sendiri. Mengerikan dan hampir membuatnya gila.Dengan mata sembab, gadis itu melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Beberes rumah, memasak, menyiapkan pakaian untuk Alarick, dia lakukan semua itu setelah apa yang suaminya lakukan malam tadi.Bekas merah di pipinya masih tercetak jelas. Sakitnya pun masih terasa olehnya, namun dia berpura-pura tidak pernah mengalaminya.Suara langkah yang sudah sangat dia kenali mulai mendekat. Namun, Nerissa memilih untuk melajutkan kegiatannya."Ner—""Makanlah. Aku pergi duluan, ada yang harus aku kerjakan." Tanpa menunggu Alarick menyelesaikan ucapannya, Nerissa pergi setelah membawa tas kerjanya.Sementara itu, Alarick hanya
Last Updated: 2026-05-04