LOGINHidup tak pernah benar-benar berpihak pada Rosélia Deveraux. Sejak kecil, dia dibenci oleh ayah kandung, ibu sambung, bahkan kakek dan neneknya sendiri karena dianggap sebagai penyebab kematian Calestine, ibunya, yang meninggal saat melahirkannya. Namun penderitaan Rosélia tidak berhenti di sana. Ketika hidupnya mulai merasa tenang, semuanya kembali berubah. Dia tiba-tiba harus menggantikan Valerie, adiknya untuk menikah dengan Maverick setelah penyakit Valerie mendadak kambuh beberapa saat sebelum pernikahan. Sayangnya pernikahan itu bukan awal dari kebahagiaan. Menjadi istri Maverick, seorang CEO kaya, tampan dan berkuasa justru menyeret Rosélia ke dalam kehidupan yang penuh luka. Satu persatu penderitaan menghampirinya, terlebih karena Maverick membencinya setengah mati. Di tengah pernikahan tanpa cinta, mampukah Rosélia bertahan? Atau justru dia akan hancur oleh Maverick?
View MoreGaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang.
Setiap langkahnya, dia mendengar orang-orang mulai membicarakan, memuji dan mengagumi hasil karya Rosélia mulai dari dekorasi maupun layout venue. Itu cukup membuat hati Rosélia terobati meski menurutnya tema baru yang diinginkan Valerie, adiknya, tidak seindah yang sebelumnya. Mata indahnya mencari sebuah ruangan di mana Valerie berada, bride room. Heels berwarna senada berhenti begitu ruangan yang dia cari sudah ada di depan mata. Ada ragu, namun Rosélia tetap masuk. Semua mata tertuju padanya saat suara pintu terbuka. Keluarganya dan keluarga Ashbourne, keluarga mempelai pria juga ada di sana, memperhatikan. "Kak, sini!" seru Valerie. Kali ini dia tidak bisa menghampiri Kakaknya sebab masih ada beberapa tangan yang menyapukan brush di wajahnya. Dia hanya mampu melihat Rosélia dari pantulan cermin di hadapannya. Rosélia menyimpan tas yang dia tenteng di sebuah meja kecil di ruangan itu sebelum menghampiri Valerie. Begitu sudah berada di samping Adiknya, Valerie bertanya, "gimana, gaunnya bagus tidak?" Gaun pengantin juga berwarna ivory karena itu memang warna semula yang ada di konsep sebelum Valerie berubah pikiran dan berakhir Rosélia merevisi konsepnya habis-habisan malam tadi. "Gaunnya bagus," jawabnya singkat. Rasa lelah masih dia rasakan setelah dua hari ke belakang dia mengurus seluruh layout venue pernikahan Valerie dan Maverick. "Riasannya? Menurut Kakak ada yang kurang?" Lagi-lagi Valerie meminta pendapat Rosélia . Kali ini Rosélia hanya menggeleng, menandakan jika riasan Valerie sudah lebih dari cukup. Semua sesuai dengan porsinya. "Mending kamu segera menyusul untuk menikah. Gak enak kalau jadi perawan tua, apalagi hidup di masa tua sendirian." Viviane mendekat, kedua tangannya melipat di depan dada, tatapannya tajam dan menyindir. Rosélia sudah terbiasa dengan hal semacam itu. Cacian, makian kerap keluarganya layangkan padanya. Rosélia memilih tak menjawab dan mengabaikan ucapan Ibu Sambungnya itu. "Bouquet untuk kamu pegang nanti sudah aman?" tanya Rosélia memastikan. "Sudah, meski aku tidak terlalu suka dengan perpaduan warnanya. Tapi, karena Kakak yang membuatnya untukku, jadi akan aku pakai." Ucapannya antusias, namun tetap ada yang menggores hati Rosélia dari ucapan adiknya itu. "Hmm, aku keluar sebentar. Masih ada hal yang harus aku cek," ucapnya segera berlalu dari sana. "Rosélia , bisa ke sini sebentar." Maverick memanggil Rosélia dari ambang pintu. Gadis itu kebingungan, ada apa gerangan Maverick tiba-tiba memanggilnya. Namun, dia tetap mendekat takut ada hal penting yang hendak pria itu bicarakan. Mendengar Maverick memanggil Kakaknya, Valerie lantas ikut menoleh. Dia juga penasaran dengan apa yang akan mereka bicarakan. Namun, dia sama sekali tak mendengar sepatah kata pun karena keduanya berbicara sambil meninggalkan bridal room. Valerie tahu itu bukan pembicaraan romantis, mungkin hanya pembicaraan seputar venue dan acara. Tapi Valerie cemburu. “Valerie, kamu sudah minum obat?” Viviane bertanya sambil menggeledah tasnya mencari pouch berisi obat milih Valerie. Perhatian gadis itu teralihkan sesaat. “Belum, aku akan meminumnya nanti.” Valeri mengangkat pouch yang Ibunya cari sebagai pertanda jika Ibunya tak perlu mencari lagi. Penyakit jantung yang Valerie idap sejak kecil membuat gadis itu harus mengonsumsi obat setiap hari. Hal itu juga yang membuatnya menjadi anak kesayangan Viviane dan Evander. Sementara Rosélia… hampir tidak pernah mendapatkan perhatian itu sama sekali. Viviane tersenyum dan menghentikan kegiatannya. “Jangan lupa diminum, Ibu keluar sebentar untuk menelpon,” ucapnya yang dijawab anggukan oleh Valerie. Satu persatu orang-orang di ruangan itu pergi mulai dari makeup artist hingga seluruh keluarganya. Katanya menemui beberapa kolega yang mulai berdatangan sebagai tamu VVIP. Mata Valerie menggelap. Efek lelah, kurang istirahat, emosi dan juga cemburu membuatnya bersifat impulsif. Ekor matanya melirik sebuah tas tangan berwarna ivory yang dia yakini itu milik Rosélia . Perlahan dia mendekat dan berakhir memasukan pouch itu ke dalam tas milik Kakaknya. Tak berlebihan, dia hanya ingin Kakaknya tidak disukai orang terutama Maverick, jangan sampai. “Terlewat sekali saja tidak masalah, aku masih bisa menahannya,” ucapnya. Setelah itu dia kembali ke tempatnya. Sampai Rosélia kembali ke sana bersama Evander. “Bersiaplah, acaranya akan segera dimulai,” ucap Rosélia memperingati. “Kamu siap, Sayang?” Evander bertanya pada putri kesayangannya di depan Rosélia . Pahit sekali hidupnya, ketika Valerie hampir setiap hari mendapatkan panggilan sayang, sementara dirinya hanya selalu mendapatkan makian. Valerie mengangguk. Evander menggandeng sang putri sampai mereka tiba di depan sebuah pintu tinggi yang masih tertutup. Pintu itu mengarah ke altar. Pengantin wanita mulai merasakan ada yang tidak beres. Nafasnya sesak, penglihatannya mulai mengabur dan tubuhnya lemas. Dia tergeletak di pangkuan sang Ayah. “Sayang, Valerie kamu kenapa?” Evander panik saat putrinya sudah tidak sadar. Rosélia , Keluarga Deveraux dan keluarga Ashbourne yang ada di belakang mereka juga ikut panik. Mereka mengerumuni tubuh Valerie. “Valerie, bagun.” Rosélia menepuk pelan pipi adiknya. “Kita harus membawanya ke rumah sakit, Sayang,” ucap Viviane. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan anak semata wayangnya. “Tapi pernikahannya…” sambung Viviane bingung. Di satu sisi pernikahan Maverick dan Valerie tidak mungkin dilanjutkan karena pengantin wanita tidak sadar, tapi di sisi lain, semua persiapan, semua tamu yang sudah datang, tidak mungkin mereka membatalkannya begitu saja. Apalagi hal ini pasti akan merusak nama keluarga mereka. “Lanjutkan, lanjutkan pernikahannya,” ucap Evander yakin. Matanya perlahan menatap Rosélia . Rosélia yang semula masih menatap Valerie mulai mengalihkan atensinya saat dirasa ada beberapa pasang mata yang menatapnya. “Rosélia , menikahlah dengan Maverick.” Bagai disambar petir di siang bolong, Rosélia terkejut bukan main. Badannya kaku, lidahnya kelu untuk beberapa saat. “Ja-jangan bercanda, Ayah,” ucapnya dengan gemetar. Otaknya masih belum bisa memproses semua yang Evander katakan. “Aku bilang, menikah dengan Maverick!” Kesabarannya habis. Bersamaan dengan itu seorang staf menghubungi ambulans. “Tunggu, Tuan Evander—” “Tak ada cara lain Tuan Edric Kita harus melakukannya. Semua persiapan sudah selesai, para tamu undangan juga sudah datang. Kita tak bisa ambil resiko untuk mempermalukan keluarga kita, kan?” Evander menyela Edric, calon besannya. Hening, tak ada suara sampai Rosélia berkata, “aku menolak, Ayah. Aku tidak mau.” Suara ketukan tongkat di lantai granit memecah keheningan. Theodore Deveraux, kakek Rosélia dan Valerie, mendekatinya. “Ikuti saja apa yang dikatakan Ayahmu! Kamu tidak punya hak untuk menolak!” ucapnya kemudian. "Punya, aku punya hak untuk menolak, Kek! Ini hidupku, jadi biarkan aku yang memilih hidup seperti apa yang aku mau!" Akhirnya amarah Rosélia pecah. Dia tidak bisa terus menahannya. "Dasar anak pembawa sial!" Tangan Theodore melayang hendak memukul Rosélia, namun seseorang berhasil menahan tangan itu. "Tuan Theodore jangan lakukan itu. Kita bawa dulu Valerie ke rumah sakit," ucap Edric meyakinkan. "Kamu pikir berapa lama mereka bisa menunggu?" Jawab Theodore menunjuk para tamu undangan yang sudah ada di venue. "Para kolega, pejabat, dan bahkan ada Ketua Dewan di sini," lanjutnya. Edric diam, dia tidak bisa menjawab. Apa yang dikatakan Theodore ada benarnya. Saat itu, atensi Theodore kembali pada Rosélia. "Kamu mau acara dibatalkan?! Kamu mau buat nama baik keluarga kita hancur, hah?!" sentaknya. Suasana hening sesaat, Rosélia tidak menjawab pun dengan yang lainnya. "Untuk sementara saja agar tamu tidak merasa kesal. Maverick tetap milik Valerie!" Rosélia terdiam. Semua terdiam sampai ada beberapa perawat yang datang membawa Valerie ke rumah sakit. “Lanjutkan, Rosélia.” Suara Evander kali ini memelan. Masih tak ada jawaban. Menurut Rosélia tak ada gunanya dia menolak, toh Evander akan tetap memaksanya. Air mata menetes dengan cepat. Dihalaunya dengan tangan dan Rosélia berkata, “lakukan apa yang Ayah mau.” Rosélia pikir, drama pernikahan ini sudah selesai pagi tadi saat dia selesai merevisi venue. Dia kira dia akan terbebas dan bisa sedikit tenang. Tapi, siapa sangka justru ini adalah sebuah awal yang nyata dari penderitaannya. Menikah dengan orang yang sama sekali tak dia cintai juga tak mencintainya dan hanya dijadikan sebagai pengganti. Ini adalah mimpi terburuk dalam hidup Rosélia . Setelah ini, sepertinya sudah tidak ada lagi tempat aman baginya di dunia. Semua akan terasa menyakitkan dan menyesakkan. Di tengah semua hal yang singgah dalam pikiran Rosélia , para makeup artist datang dan menambah pakaian Rosélia dengan beberapa elemen yang lebih istimewa sampai dia sudah siap menjadi seorang pengantin pengganti.Bagi sebagian orang, waktu mungkin bukan apa-apa. Hanya membawa perubahan pada usia dan penampilan. Tapi bagi Maverick, waktu jauh daripada itu semua. Waktu mengajarkan banyak hal tentang kehilangan, cinta dan arti sebuah rumah.Dulu, dia mengira memiliki segalanya berarti paling berkuasa di manapun. Dia memiliki harta, kuasa dan juga nama keluarga yang dihormati banyak orang.Namun, semua itu ternyata tak pernah cukup untuk membuatnya merasa utuh. Sampai seorang perempuan bernama Rosélia Deveraux tanpa sengaja datang ke dalam hidupnya.Perempuan yang dulu tak pernah ingin dia miliki. Perempuan yang pernah dia lukai begitu dalamnya. Perempuan yang bahkan setelah melewati begitu banyak rasa sakit, masih memberinya kesempatan untuk memperbaiki.Dan sekarang, perempuan itu sedang duduk di sofa ruang keluarga mereka, membaca buku sambil sesekali mengingatkan anak laki-laki agar tidak berlari dalam rumah."Alistair, pelan-pelan!" interupsinya. Entah sudah berapa kali dia berkata demikian,
Setelah Maverick menceritakan kegelisahannya pada Rosélia, mereka berdua duduk di atas ranjang. Maverick sama sekali tak mendengarkan ucapan Rosélia untuk tidak terlalu khawatir.Buktinya, saat ini di tangannya sudah ada tab yang menampilkan informasi yang didapatkan dari James.Ethan Voxley, putra bungsu keluarga Voxley. Alis Maverick mengernyit.“Kenapa dia yang dibawa ke acara itu kalau dia anak bungsu?” tanyanya setelah membaca apa yang ada di layar.“Kenapa?” Rosélia mendekat. Dia ikut penasaran dengan apa yang tengah dilihat oleh Maverick.“Anak yang diceritakan Elodie… dia putra bungsu Darwin, cucu dari pemilik VoxMedia Group, Moris Voxley. Jika dia putra bungsu, kenapa dia yang datang? Kenapa bukan putra sulungnya?” Maverick masih mempertanyakan hal yang sama.Memang, umumnya para pemilik perusahaan akan membawa putra atau putri sulung mereka ke acara semacam itu dengan tujuan memperkenalkan pada rekan-rekan kerjanya jika dialah yang akan menjadi penerus perusahaan.“Mungkin K
Elodie berlari kecil ke arah Maverick yang ternyata sudah kembali dari podium. Ayahnya itu sepertinya tengah mencarinya. Terlihat dari ekspresi khawatir yang tersemat jelas di wajah pria itu.Tak jauh dengan James. Pria itu juga sibuk bertanya kepada setiap orang tentang keberadaan putri atasannya itu. “Iya, dia berusia sekitar dua belas tahun,” ucap James.“Kami tidak terlalu memperhatikan karena sejak tadi fokus kami hanya pada pembicara,” jawab orang itu.“Ups, sepertinya aku membuat Ayahku kelimpungan,” kekehnya. Elodie berjalan cepat ke arah Ayahnya dengan senyuman tanpa dosanya. “Ayah,” panggilnya. Dia mencolek lengan Ayahnya.Hal itu membuat rasa lega di dada Maverick hadir. Seolah semua belenggu hilang begitu saja saat mendengar suara lembut putrinya.James yang juga mendengar panggilan itu akhirnya bisa bernapas lega.*“Ayah tidak mau hal itu sampai terulang lagi. Kamu tahu betapa khawatirnya Ayah tadi?” Maverick terus menceramahi Elodie sepanjang perjalanan. Bahkan ketik
Lima tahun kemudian…“Kamu yakin tidak ikut?” tanya Maverick. Dia memandang Rosélia di hadapannya yang sedang membetulkan letak dasinya.“Hmm, jika aku ikut, bagaimana dengan dia,” ucap Rosélia sembari melirik ke arah sampingnya, di mana seorang anak laki-laki berusia lima tahun itu tengah bermain dengan berbagai macam mainannya.“Kita bisa mengajaknya,” usul Maverick. “Dan dia akan segera bosan kemudian menangis di sana? Tidak, tidak. Biar Elodie saja yang menemanimu,” jawab Rosélia.Alistair Ashbourne, anak kedua Maverick dan Rosélia. Anak kecil berkulit putih itu lahir lima tahun yang lalu. Putranya yang berhasil membuat Maverick mati-matian menahan mual saat dia berada dalam kandungan.“Mommy, ini bagaimana?” Gadis yang mulai memasuki usia remaja itu sibuk dengan gaun baru pemberian Ayahnya. Tali di bagian belakang membuatnya kesulitan. Akhirnya dia menyerah dan meminta bantuan Rosélia.Elodie, gadis itu tumbuh menjadi gadis cantik yang ceria, cerewet dan lembut. Dia selalu meng
Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har
Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal
Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.