LOGINGetaran di tubuhnya hadir tiba-tiba begitu Rosélia mulai melangkah masuk. Selama menikah dengan Maverick, rasanya Rosélia tak pernah memiliki kenangan indah di tempat ini. Meski terkesan mewah, namun siapa sangka yang Rosélia dapatkan di tempat itu hanya kesunyian dan juga rasa sakit.“Kamu yakin akan baik-baik saja?” Cordelia bertanya entah untuk yang keberapa kali. Ketiganya berdiri mematung setelah beberapa langkah.Matanya mengedar memindai setiap isi ruangan. Tak ada yang berubah, semuanya hampir sama. Mungkin hanya beberapa benda kecil yang berubah letak.“Aku akan berusaha baik-baik saja,” jawab Rosélia setelah menghembuskan nafas dalam.“Di mana kamar Elodie, Mom?” Elodie bertanya, namun Cordelia juga ikut menunggu jawaban Rosélia. Gadis yang menyandang status sebagai sahabatnya itu juga penasaran akan hal itu.“Selama di sini, kita tidur di kamar yang sama, ya,” jawab Rosélia.Bukan Maverick tak mempersilahkan Rosélia untuk menggunakan kamar lain. Tapi gadis itu sendiri yang
Perkembangan kesehatan Maverick berlangsung dengan baik. Hasil observasi dokter mengatakan bahwa kondisinya semakin membaik dan tidak diharuskan melangsungkan operasi. Hanya obat dan istirahat yang cukup yang diperlukan Maverick.Meski begitu, hampir setiap hari Rosélia ada di sana. Bahkan ketika Maverick sama sekali tak meminta, gadis itu tetap ada di sana. Elodie juga demikian. Jika Kakek dan Neneknya tidak mengajaknya bermain, maka putrinya itu akan diantarkan ke rumah sakit.“Maaf karena mungkin aku tak bisa menemanimu sampai sembuh di sini,” ucap Rosélia. Meski rasanya sekarang tak ada lagi tembok penghalang di antara mereka, tapi Rosélia tak melupakan niat awalnya menghadiri undangan forum pemerintah itu yang tak lain adalah agar media tak selalu mengejarnya sehingga dia bisa segera kembali ke Interlaken.“Tak bisakah kamu tetap di sini?” tanya Maverick dari atas ranjang rumah sakit, sementara Rosélia duduk di sofa sambil sibuk dengan ponselnya.Gadis itu menggeleng. “Aku tak b
Rosélia menatap pria yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Matanya terpejam erat seolah enggan terbuka. Hari semakin gelap dan kini hanya menyisakan dirinya dan pria bernama Maverick di sana.Setelah beberapa perdebatan tentang siapa yang akan menjaga Maverick di sana, akhirnya keputusan akhirnya tetap Rosélia yang tinggal. Bukan atas paksaan siapapun, tapi murni karena keinginannya.Kini, dia duduk di samping ranjang pria itu, di sebuah kursi yang sudah disediakan di sana, sendiri dalam sepi.Sementara Si Kecil kesayangannya, malam ini tidur di rumah Kakek dan Neneknya. Bukan tanpa rasa khawatir pula Rosélia melepasnya. Tapi dia berusaha menanamkan rasa percaya jika mereka tak akan membawa Elodie kemanapun. Elodie akan kembali padanya besok pagi.“Air…” Suara lirih yang hampir tak terdengar itu masuk ke dalam indera pendengaran Rosélia. Beruntung jarak mereka yang tak terlalu jauh memudahkannya mendengar suara-suara kecil di malam yang sunyi ini.Rosélia terlonjak, dia b
Satu jam lamanya Rosélia menunggu kedatangan keluarga Maverick, hingga akhirnya mereka datang. Namun, siapa sangka, mereka tak datang berdua. Elodie dan juga Cordelia menyusul beberapa langkah di belakang mereka.Sebelum Rosélia menghadiri forum yang diadakan pemerintah itu, dia memang telah lebih dulu menitipkan Elodie pada Cordelia. Dan ketika dia sudah mulai tenang selepas kejadian di depan gedung parlemen itu, Rosélia segera memberikan kabar pada orang tua Maverick dan juga Cordelia.Pada Cordelia, dia hanya memberitahukan jika dirinya mungkin pulang terlambat karena menunggu Maverick di rumah sakit. Dia tidak tahu jika pada akhirnya Cordelia dan putrinya akan datang.Elodie menghampiri Rosélia dan memeluk Ibunya itu. Belum ada kata yang terucap karena fokus mereka teralihkan ketika Anastasia memanggil lirih putranya yang terlelap.“Maverick…” Anastasia memanggil lirih putranya. Dia segera menghampiri ranjang Maverick dan sedikit meneteskan air mata.Sementara itu, fokus Edric mal
Di tengah kepanikan itu akhirnya Rosélia mengerti dengan keadaan yang tengah terjadi saat ini. Masa di hadapannya mengira jika dirinya adalah bagian dari parlemen karena dirinya keluar dari gedung itu.Namun mereka salah, Rosélia bukan bagian dari mereka. Dia hanya datang untuk menghadiri sebuah forum. Meski begitu, karena dia terlalu panik, tak ada satu pun penjelasan yang sempat keluar dari bibirnya.Kerumunan itu bergerak. Tubuh Rosélia terdorong meski beberapa penjaga masih tetap berusaha memberikan jarak. Namun, jumlah yang kerumunan yang nyatanya lebih banyak daripada penjaga, membuat pertahanan itu terasa sia-sia dan Rosélia sempat terseret untuk beberapa langkah.“Bukan– tunggu!” Rosélia berusaha mengeluarkan suara paling kencangnya berharap salah satu atau mungkin beberapa orang dalam kerumunan itu bisa mendengarnya. Namun nihil, usahanya kembali sia-sia. Kalimat lain yang belum sempat terucap kembali dia telan saat sebuah benda melayang melewati bahunya. PlakTelur yang b
Ucapan Cordelia tentang Rosélia yang akan kembali ke Interlaken untuk selamanya terus saja terngiang dalam ingatan Maverick. Meski sejak awal dia tahu akan seperti itu, tapi sebelumnya Maverick masih memiliki harapan ketika Rosélia berkunjung kembali ke Indonesia barangkali pikirannya berubah.Namun setelah mendengar hal itu dari Cordelia, harapan yang Maverick tanam, musnah dalam sekejap. Dia terus saja menghela nafas gusar dalam perjalanan menuju forum yang diadakan pemerintah.Tujuan utamanya kali ini bukan untuk mendengarkan para pejabat itu berbicara. Tapi jauh dari itu, Maverick justru ingin bertemu dan berbicara dengan Rosélia terlebih soal lukisan miliknya di Atelier de Rosélia. “Sudah sampai, Tuan.” James akhirnya membuka suaranya setelah beberapa saat mereka tiba namun Maverick tak kunjung keluar.“Ah ya aku akan keluar sekarang,” ucapnya cukup tersentak.Suasana di sekitar gedung parlemen sudah cukup ramai. Beberapa ada yang langsung masuk ke aula rapat, beberapa lainnya a
Suara musik bernuansa sakral mulai menggema di ruangan yang begitu luas dan ramai oleh tamu undangan. Namun, hal itu tidak membuat ke-khidmatan acara berkurang. Di atas altar, Maverick belum tahu apa-apa. Dia tidak tahu jika hari ini bukan sang belahan jiwa yang akan dia nikahi, dia tidak tahu jik
Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har
Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he
Gaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang. Setiap langkahnya, dia mendengar orang-or







