Share

Chapter 23

last update publish date: 2026-06-16 11:30:19

Seorang pria paruh baya berjalan dengan cepat setelah dia mendapatkan telepon dari sang istri. Pria itu, Evander, bahkan rela meninggalkan acara yang masih berlangsung demi melihat sang putri yang katanya telah sadar dari komanya.

Pintu ruang rawat Valerie terbuka lebar. Namun sang penghuni ruangan hanya fokus pada layar tab di hadapannya. Hanya Viviane yang menoleh menghampiri suaminya.

"Sayang, Valerie sudah tahu semuanya," bisik Viviane memberikan kode agar suaminya berbicara lebih hati-hati
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 116

    Sebelumnya Maverick tak pernah tahu dan tak pernah sadar jika diabaikan rasanya akan semenyakitkan ini. Meski di hari kemarin yang Maverick dapatkan hanya tamparan dan penolakan, tapi pria itu keras kepala. Dia kembali lagi, berharap hari ini Rosélia meberinya kesempatan meski hanya sedikit.Apakah diabaikan rasanya semenyesakkan ini? Lalu bagaimana dengan Rosélia yang selama hidupnya selalu diabaikan? Terlebih, tepat sebelum kepergiannya enam tahun lalu, Maverick menjadi salah satu orang yang mengabaikan gadis itu.Menyesal? Jangan ditanya. Sejak Maverick mulai menyadari kesalahannya, mulau mengakui perasaan yang dia miliki untuk Rosélia, dia sudah menyesal.Tapi penyesalan itu tak ada gunanya jika wanita yang telah dia sakiti sudah pergi jauh berbeda alam dengannya.Sekarang, begitu Maverick tahu jika wanita itu ternyata masih bernafas, memandang langit yang sama dengannya, Maverick merasa sedikit lega.Namun kembali lagi, pengabaian yang dilakukan Rosélia membuatnya begitu ingin me

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 115

    Setelah mendapatkan penolakan di hari kemarin, Maverick tidak kalah. Hari ini dia tetap kembali ke rumah Rosélia seperti apa yang dia katakan kemarin.Cuaca hari ini seolah membayar hujan deras kemarin. Kicauan burung membersamai langkah pelan Maverick menuju rumah Roséli dengan harapan Bastian tidak ada di sana.Setelah mengetahui keberadaan pria itu di rumah Rosélia, Maverick sedikit merasa tak tenang karena tahu jika pria itu akan menjadi penghambat pertemuannya dengan Rosélia.Dari jauh, senyum Maverick mengembang saat melihat Rosélia sedang duduk di atas tikar tepat di bawah pohon rindang di halaman rumahnya. Beberapa makanan juga berada di sana menemani wanita yang sedang tersenyum memperhatikan Elodie yang bermain di halaman.Langkahnya menjadi lebih cepat, seolah ingin segera tiba dan menyapa Rosélia beserta Elodie.Tepat saat Maverick tiba di pagar depan, netranya bersirobok dengan iris hazel Elodie yang kemudian berbinar sempurna begitu melihat kehadiran Maverick."Uncle!" s

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 114

    Maverick tidak tidur semalaman. Semilir angin dini hari menemani pria yang masih setia terjaga. Saat ini yang ada dalam pikirannya hanya, Rosélia masih hidup? Dan bagaimana bisa?Enam tahun lalu, gadis itu sudah dinyatakan meninggal karena mendonorkan organ tubuhnya pada Valerie. Selama enam tahun pula Maverick melihat dengan mata kepalanya jika makam Rosélia benar-benar ada.Maverick terlalu cepat percaya tanpa mencari tahu lebih lanjut dengan kejadian itu.Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?Maverick bangkit, meninggalkan ranjang yang sama sekali tak menawarkan rasa kantuk padanya sepanjang malam.Diraihnya ponsel sebelum dia berlalu mendekati perapian. Setelah yakin dengan nomor yang hendak dia hubungi, Maverick mendekatkan benda pipih itu ke telinga dan mulai duduk di depan perapian.Udara yang cukup dingin membuat nyaman ketika perapian itu seolah menyambut kedatangannya.“James,” panggil Maverick begitu telepon tersambung.“Iya, Tuan,” jawab pria itu seperti tergesa. Sepertiny

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 113

    Di luar sana, dua pria masih saling berusaha memenangkan ego masing-masing. Pukulan tak kunjung berhenti sehingga menyebabkan wajah tampan itu terlihat hancur. Lebam di kulit putih mereka terlihat begitu kontras dan mungkin akan terasa begitu ngilu."Jangan ikut campur urusanku dengan Rosélia!" teriak Maverick tak terima saat Bastian menghalangi jalannya untuk bertemu dengan Rosélia."Aku memiliki hak! Rosélia tanggung jawabku sekarang!"Tubuh Maverick sempat kaku untuk sesaat ketika mendengar ucapan Bastian. Namun dia berusaha kembali mengendalikan tubuhnya."Cih. Kamu pikir aku akan percaya?" Maverick meremehkan hal ini. Yang Maverick tahu jika Bastian hanya sekadar dokter yang menangani Rosélia enam tahun lalu.Pukulan kembali melayang, namun kali ini Maverik berhasil menangkis dan membalasnya dengan tak kalah keras.Hingga akhirnya satu suara wanita yang berhasil menghentikan kegiatan mereka."Jangan saling bunuh di rumahku!" teriak Rosélia putus asa. Dia tak meminta berhenti, dia

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 112

    Kakinya terus melangkah namun tak kunjung sampai di tempat tujuan. Bukan karena pelan, tapi karena sejak tadi gadis itu hanya melangkah di dalam rumah, bolak-balik tanpa arah. Pandangannya sama sekali tak fokus, kadang dia menggigit kuku jarinya berharap bisa mengurangi rasa gelisahnya.Bukan satu atau dua menit, tapi hal tersebut telah berlangsung selama satu jam lamanya.Tangannya masih menggenggam ponsel yang setengah jam lalu dia gunakan untuk menghubungi orang. Bukan tanpa sebab, tapi karena Elodie, putri kecilnya.Rosélia begitu sibuk dengan pekerjaannya, dia salah mengingat dan mengira telah meminta Anne menjemput Elodie. Namun setelah menelepon wanita paruh baya itu, jawabannya membuat Rosélia begitu panik bukan main."Kamu tidak memintaku menjemput Elodie, Rosélia. Makanya sejak tadi aku hanya berbaring santai di atas ranjangku," jawabnya."A-apa?" tanya Rosélia nanar."Aku kira kamu hari ini senggang makanya kamu tidak memintaku yang menjemputnya." Lagi-lagi suara dari seber

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 111

    Seorang gadis kecil berdiri memeluk dirinya sendiri saat angin yang cukup kencang datang begitu tiba-tiba. Sudah sejak tiga puluh menit lalu dia berdiri di depan sekolah menunggu Ibunya menjemput. Kakinya mulai pegal, tapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang."Elodie, tunggu sebentar ya. Aku ke dalam dulu mengambil jaket dan payung," ucap gurunya.Elodie mengangguk. Entah sadar atau tidak, gadis kecil itu melangkahkan kakinya pelan. Semakin jauh-semakin jauh hingga tak terasa dia sudah tak ada di lingkungan sekolah lagi."Mommy lama, Elodie bisa pulang sendiri," desisnya.Entah karena bosan atau memang dia merasa bisa pulang meski tidak dijemput, dengan tekadnya, Elodie berjalan cepat. Beruntung jalur sekolah ke rumahnya tidak melewati jalan utama yang ramai.Kaki kecil itu terus melangkah. Udara yang semakin dingin mulai menusuk tulangnya."Kenapa dingin sekali," ucapnya. Gadis itu berhenti sejenak, kemudian menengadah dan membuka tangannya menghadap langit."Mendung dan hujan su

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 01

    Gaun ivory yang sedikit menjuntai di bagian belakang, belahan di bagian paha kiri hingga bawah membuat kaki jenjang sang pemilik terpampang indah. Putih, mulus tanpa cela sedikitpun. Rosélia datang, membelah keramaian para tamu yang sebagian sudah datang. Setiap langkahnya, dia mendengar orang-or

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 07

    Satu minggu berlalu bagi Rosélia terasa sangat lama. Pameran usai dan semua berjalan dengan lancar, bisa dikatakan sukses. Selama satu minggu itu, Rosélia beberapa kali menyempatkan waktu untuk menengok Valerie. Adiknya itu tak kunjung membuka mata, dia masih betah dalam tidurnya. Sama seperti har

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 06

    Mbok Rumi benar-benar menyiapkan semuanya di kamar ini. Semua keperluannya ada, hanya beberapa barang miliknya saja yang harus Rosélia bawa ke sana. Ditariknya selimut sampai sebatas dada. Tubuhnya terlentang, matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar dengan pencahayaan samar. Baru saja he

  • Ranjang Panas Pengantin Pengganti   Chapter 05

    Tangis Rosélia pecah, telinganya berdengung, dadanya sesak sampai dia memukul-mukulnya berharap sesak itu hilang meski hanya sesaat. Semua mata tertuju padanya. Melihatnya dengan tatapan jijik, kecewa yang menuh amarah. Perlahan, raungan terdengar semakin keras. Bersamaan dengan itu, Viviane berjal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status