FAZER LOGINPesawat landing beberapa menit lalu. Entah kenapa kali ini terasa berbeda. Badan Rosélia terasa begitu lelah, bahkan wajahnya juga pucat pasi, seolah tak ada darah dalam tubuhnya.
Tak hanya itu, bagian belakang kepalanya pun terasa berat. Namun, Rosélia hanya mengabaikannya. Mungkin memang badannya sedang kurang sehat saja.Dua orang yang baru saja tiba di penthouse itu menggeret koper sebelum memasuki lift. Begitu tiba di depan pintu, MaveriMaverick tak sedikitpun memberikan pengampunannya pada Rosélia. Setelah mendapati gadis itu keluar berdua dengan pria yang katanya teman di kampusnya, Maverick menarik paksa gadis itu, membawanya kembali ke kediaman mereka.Tentu saja tidak dengan kepala dingin. Amarah Maverick benar-benar berada di puncak. Sepanjang perjalanan tak ada suara yang menyapa. Maverick sibuk dengan amarahnya dan Rosélia juga sibuk dengan ketakutannya."Turunkan aku di galeri," ucap Rosélia saat mobil melaju lebih dekat dengan galeri miliknya."Aku yang punya kendali, jadi kamu diam," jawab Maverick tajam. Keheningan kembali menyapa beberapa saat sebelum ponsel Maverick bergetar lama.Maverick melihatnya, dia memejamkan matanya saat menyadari sesuatu, lebih tepatnya setelah dia melihat nama penelpon di layar ponselnya. Maverick sempatkan untuk menarik napas dalam sebelum dia mengangkatnya."Sayang, maaf. Kamu bisa makan sendiri dulu siang ini? Ada yang t
Pertanyaan Valerie pada Edric beberapa hari lalu terus saja menggantung dalam pikiran Rosélia. Dan jawaban Edric berhasil membuat Rosélia menjadi tak fokus melakukan kegiatan-kegiatannya. Bibirnya selalu berkata, "biarkanlah, memang sedari dulu harusnya Valerie yang menikah dengan Maverick."Tapi tanpa Rosélia sadari, jauh di lubuk hatinya, dia merasa takut. Takut jika dirinya benar-benar ditinggalkan, takut jika Maverick lebih memilih Valerie dibandingkan dia, meski saat ini pun kondisinya memang seperti itu. Tapi untuk saat ini setidaknya dia memiliki status yang sah dengan Maverick."Nyonya, maaf. Di bagian sini juga diganti menjadi kaca?" tanya seorang tukang yang berhasil membangunkan Rosélia dari lamunannya."Ah iya, di sana juga. Aku ingin hasil akhirnya ruangan ini menjadi terang dan menerima lebih banyak sinar matahari," jawabnya.Seperti saran Cordelia kemarin, selain fokus dalam pengembangan galeri, Rosélia juga akan mencoba membuka kelas melukis di sana. Masih pada bagian
Tiga tahun enam bulan merupakan waktu yang cukup singkat untuk menyelesaikan study perguruan tinggi. Dan selama itu, Valerie dapat melaluinya dengan cukup lancar. Setelah banyaknya lika-liku dalam penyusunan tugas akhir, meski pada akhirnya tetap ada campur tangan dari sang Ayah, akhirnya hari ini Valerie menyandang gelar sarjana.Begitu dirayakan sampai keluarga Maverick juga datang pada acara wisuda beberapa menit lalu. Media berdatangan, tak ada kecurigaan, headline yang ramai beredar sekarang seperti "Turut Menyaksikan Langkah Besar Adik Ipar Menuju Masa Depan".Setelah acara yang cukup menguras tenaga, akhirnya mereka bisa beristirahat dan mengisi perut mereka yang kosong di Morgan's Eatery seperti biasa. Mereka memesan ruangan VIP agar lebih leluasa untuk berbicara."Selamat ya, Sayang. Akhirnya kamu menyandang gelar sarjana," ucap Anastasya sambil mengelus tangan Valerie.Gadis yang mendapat ucapan selamat itu lantas tersenyum manis seray
Rosélia memang tak pernah bermimpi untuk menjadi seorang Dosen. Dosen sangat jauh dari cita-citanya. Namun, sejak sekolah, Rosélia sangat suka berbagi ilmu dengan teman-temannya. Bahkan anak-anak yang tak memiliki kesempatan untuk sekolah, Rosélia kerap berbagi.Karena kegemarannya itu, akhirnya Rosélia memilih jalan untuk menjadi tenaga pendidik di lingkungan perguruan tinggi. Selama menjadi dosen, Rosélia sangat menikmatinya. Oleh karena itu, ketika dia mendengar bahwa kampus memilih mengeluarkan Rosélia, bukan hanya terkejut, dia juga kecewa."Rosé, kamu tak berbohong soal penolakan karyamu, kan?" Tanya Cordelia. Dua gadis yang akhirnya kembali bertemu setelah pulang ke tanah air, setelah di luar negeri kemarin mereka diberikan kebahagiaan, namun begitu pulang Cordelia begitu terkejut mendapatkan kabar seperti itu.Cordelia tahu seniman sehebat apa sahabatnya itu. Tak mungkin jika Rosélia sudah mendapatkan penawaran namun pihak penyelenggara menolak bahkan membatalkannya begitu sa
Pesawat landing beberapa menit lalu. Entah kenapa kali ini terasa berbeda. Badan Rosélia terasa begitu lelah, bahkan wajahnya juga pucat pasi, seolah tak ada darah dalam tubuhnya.Tak hanya itu, bagian belakang kepalanya pun terasa berat. Namun, Rosélia hanya mengabaikannya. Mungkin memang badannya sedang kurang sehat saja.Dua orang yang baru saja tiba di penthouse itu menggeret koper sebelum memasuki lift. Begitu tiba di depan pintu, Maverick yang memimpin, sementara Rosélia hanya menunggu sampai pintu itu terbuka.“Kamu baik-baik saja?” Maverick bukan tidak memperhatikan. Sedari tadi dia tahu bagaimana pucatnya wajah Rosélia, namun dia baru berani bertanya sekarang.“Tak apa. Hanya sedikit lelah,” jawab Rosélia.Saat pintu terbuka, yang ada dalam benak Rosélia bukanlah ketenangan. Harapannya pupus ketika di dalam sana dia melihat seorang gadis berdiri menghadap me
“Kamu benar-benar tak akan beranjak dari sana?” tanya Maverick. Pria itu bahkan sudah siap dengan pakaiannya. Pakaian yang jarang sekali dia kenakan. Celana jeans dipadukan dengan kaos santai berwarna putih.Namun, Rosélia masih dalam posisinya. Tubuhnya terbaring di ranjang membelakangi posisi Maverick dengan selimut yang membalut seluruh tubuhnya tanpa terkecuali. “Setidaknya makan sarapanmu.” Maverick kembali berkata. Sarapan yang diantar ke sana pagi tadi masih utuh di atas meja bahkan setelah Maverick meninggalkannya untuk mandi.Karena kesal tidak kunjung mendapatkan jawaban. Maverick menyingkap selimut dengan paksa sehingga membuat Rosélia cukup terguncang. “Rosélia!” bentaknya begitu dia sudah bisa melihat wajah Rosélia yang berantakan. Jejak air mata masih terukir jelas di pipinya. Tapi iris legam itu enggan untuk menatap Maverick barang sedetikpun.“Apa? Pergilah, jangan pedulikan aku,” jawabnya pelan. Bahkan setelah menjawab, Rosélia membalikan badannya agar tidak menghad
Rindu yang menumpuk sudah Maverick anggap sebagai tabungan. Maka saat ini, ketika dia mendengar kabar jika Valerie telah bangun, dengan cepat dia bergegas ke rumah sakit. Dia tak mempedulikan Rosélia, seorang istri yang pulang sendirian dengan menggunakan taksi. Yang dia pedulikan saat ini hanya Va
Seorang pria paruh baya berjalan dengan cepat setelah dia mendapatkan telepon dari sang istri. Pria itu, Evander, bahkan rela meninggalkan acara yang masih berlangsung demi melihat sang putri yang katanya telah sadar dari komanya.Pintu ruang rawat Valerie terbuka lebar. Namun sang penghuni ruangan
Seluruh acara yang dihadiri oleh pemilik Ashbourne Holdings tak pernah luput dari sorotan media, tak terkecuali malam ini. Di tempat yang sama, Morgan's Eatery menjadi tempat acara mereka malam ini. Hampir seluruh meja telah terisi. Tak ada orang lain malam ini, hanya mereka dan beberapa media yan
Langkahnya begitu cepat. Amarah melingkupi seorang pria paruh baya. Pintu dibuka dengan kencang begitu dia tiba di tempat tujuannya. "Maverick!" teriaknya. Hal itu membuat Maverick yang sedang memeriksa beberapa dokumen menoleh pada sumber suara. Dia berdiri menghampiri ayahnya. Maverick membuan







