Share

18- RPTH

Author: Elarys T
last update publish date: 2026-09-26 23:44:05

Bab 18 -RPTH

---

Cahaya matahari pagi menyusup tajam melalui celah gorden tebal, menusuk langsung ke pelupuk mata Allena.

Nyeri hebat bagai dihantam ribuan jarum seketika meledak di dalam kepalanya saat dia mencoba menggerakkan leher. Denyut pening yang menggelayut berat membuat pandangannya kabur dan buram untuk beberapa detik.

Allena meringis, memegangi dahinya seraya meregangkan tubuh. Namun, sapuan kain sutra yang teramat asing di telapak tangannya mendadak menghentikan pergerakannya.

Sensa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   18- RPTH

    Bab 18 -RPTH---Cahaya matahari pagi menyusup tajam melalui celah gorden tebal, menusuk langsung ke pelupuk mata Allena.Nyeri hebat bagai dihantam ribuan jarum seketika meledak di dalam kepalanya saat dia mencoba menggerakkan leher. Denyut pening yang menggelayut berat membuat pandangannya kabur dan buram untuk beberapa detik.Allena meringis, memegangi dahinya seraya meregangkan tubuh. Namun, sapuan kain sutra yang teramat asing di telapak tangannya mendadak menghentikan pergerakannya.Sensasi dingin dan halus dari kasur tempatnya berbaring terasa sangat berbeda dengan tempat tidur di kamarnya sendiri.Allena mendadak membuka matanya lebar-lebar. Kesadarannya langsung tertarik penuh.Dia menoleh ke sekeliling ruangan—dinding bernuansa abu-abu gelap, lampu gantung minimalis yang mewah, serta kemeja pria yang tergantung kaku di sudut kamar. Ini bukan kamarnya!Rasa panik menyengat Allena dengan hebat. Dia buru-buru menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuhnya, dan seketika itu pul

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   17- RPTH

    Bab 17 -RPTH------Mobil sedan mewah milik Gilbert berhenti mulus di area parkir privat penthouse sebuah apartemen eksklusif di kawasan Jakarta Selatan.Pintu lift terbuka langsung menyambung ke dalam ruang tamu luas berdinding kaca yang memperlihatkan kerlip lampu kota.Suasana apartemen itu teramat hening, dingin, dan tertata terlampau presisi, sangat mencerminkan karakter pemiliknya yang gila kontrol.Namun, ketenangan itu seketika pecah saat Gilbert mencoba memapah Allena keluar dari lift.Allena benar-benar hilang kendali.Langkah kakinya menyilang tak berarah, matanya terpejam sebagian, dan bibirnya terus menggumamkan tawa-tawa kecil yang tak jelas artinya."Awas, jalanmu benar sedikit, Allena," bisik Gilbert, suaranya dipenuhi rasa gusar yang ditahan seraya merengkuh pinggang wanita itu agar tidak ambruk ke lantai granit."Hihi... lantai apartemenmu goyang, Gilbert..." Allena terkekeh konyol, jarinya menunjuk-nunjuk udara dengan lemah. "Kamu ... kamu hakim sok keren yang jahat

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   16- RPTH

    Bab 16 -RPTH-----Penolakan dingin yang keluar dari bibir Gilbert mendarat tepat di atas luka Allena yang paling menganga.Rasa hancur, harga diri yang remuk, serta keputusasaan yang meluap-luap seketika berubah menjadi gelombang kekesalan yang amat pekat.Air mata yang sempat menggantung di pelupuk matanya tersapu oleh luapan amarah yang tak lagi memiliki arah."Cukup, Allena. Pakai akal sehatmu," tegur Gilbert tajam.Tangannya terulur, mencoba menjauhkan gelas kristal dari jangkauan jemari Allena."Kamu sudah terlalu banyak minum. Jangan bertindak bodoh di tempat umum."Namun, Allena tidak lagi sudi menurut.Dengan tatapan menantang dan napas yang terengah-engah, Allena justru menyambar dua gelas cocktail bertakar alkohol tinggi yang baru saja diantarkan bartender ke meja bar."Jangan atur-atur aku!" desis Allena penuh penolakan.Tanpa ragu, Allena menengadahkan kepalanya dan meneguk habis gelas pertama dalam sekali teguk.Rasa terbakar yang menyengat langsung menjalar dari tenggor

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   15- RPTH

    Bab 15 – RPTH----Dentuman bass dari musik house yang menghentak pelan bergetar di lantai kayu lounge eksklusif di kawasan Senopati. Pencahayaan temaram bernuansa amber dan tembaga membingkai deretan botol kristal di belakang meja bar.Di sudut yang agak terpencil, Allena duduk sendirian di atas kursi tinggi. Blus kerjanya sudah terlepas kancing atasnya, lengan baju tergulung kaku, dan rambutnya yang biasa tertata rapi kini jatuh berantakan mengitari bahu.Di depannya, gelas kristal berisi negroni ketiga sudah hampir kosong.Arus alkohol yang membakar tenggorokan menjadi satu-satunya cara untuk mematikan kebas di dadanya, membakar sisa-sisa rasa dipermalukan di ruang sidang serta amarah akibat manipulasi murah Mark."Satu gelas tequila shot lagi," panggil Allena pada bartender, suaranya agak serak dengan jeda yang mulai melambat."Aku sarankan kamu berhenti di gelas ketiga itu, Pengacara Allena."Sebuah suara bas yang familier, dingin, dan sarat akan dominasi mendadak memotong riuh m

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   14- RPTH

    Bab 14 - RPTHBau lembap khas sel tahanan sementara Pengadilan Negeri berbaur dengan aroma samar antiseptik murah.Allena duduk di kursi besi dingin yang memisahkan dirinya dengan Mark.Toga hukumnya sudah dia lepas dan tersampir kaku di atas pangkuan, menyisakan blus putih bersiluet tegas yang kini terasa mencekik lehernya.Di seberang meja kayu kusam, Mark duduk memeluk dirinya sendiri. Wajah pria itu kusut, matanya merah dipenuhi panik yang tak lagi bisa disembunyikan."Na, gimana?" sergap Mark tanpa basa-basi, suaranya naik satu oktav saat polisi pamong yang menjaga di sudut ruangan melangkah sedikit menjauh."Kenapa hakimnya dingin banget begitu? Kamu tadi kenapa gak ngelawan lebih keras sih?!"Allena memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menekan denyut nyeri yang mulai menjalar di pelipisnya.Rasa dipermalukan oleh Gilbert di ruang sidang masih membakar pipinya."Aku sudah berusaha, Mark," sahut Allena, suaranya sengaja ditahan agar tetap rendah dan stabil."Tapi

  • Ranjang Panas Tuan Hakim   13- RPTH

    Bab 13 - RPTH----Atmosfer Ruang Sidang Utama Pengadilan itu terasa begitu membeku.Di sebelah kirinya, Mark duduk di kursi terdakwa dengan wajah pucat dan bahu merosot, tampak begitu merana di bawah sorotan lampu ruang sidang.Namun, fokus Allena sama sekali tak tertuju pada kekasihan di sampingnya. Pandangannya terpaku lurus ke depan, ke arah meja majelis hakim yang tinggi menjulang.Di sana, di kursi hijau kebesarannya, Gilbert William Grace duduk memimpin sebagai Hakim Ketua.Toga hakim bercorak merah-hitam melekat sempurna di tubuh tegapnya.Wajahnya yang rupawan tampak dingin bagai pahatan marmer, memancarkan wibawa dan otoritas mutlak yang sanggup membuat siapa pun di ruangan itu menahan napas."Persidangan perkara pidana nomor 402/Pid.B/2026/PN.Jkt.Pst atas nama Terdakwa Mark Christopher dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum," ujar Gilbert.Tok! Tok! Tok!Suara ketukan palu kayu bergaung nyaring, membelah keheningan. Allena meremas ujung toga hitamnya.Suara bas yang berat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status