LOGINDi saat kekasihnya mengalami masalah yang cukup pelik bahkan harus berakhir di meja sidang, Allena memilih untuk menghabiskan malam dengan mabuk di sebuah club malam. Namun, nahas, dia salah masuk kamar dan berujung bercinta dengan pria yang sedang menunggu asistennya membawakan pakaian ganti untuknya. Allena sangat shock. Dia bersumpah pertemuan dengan Gilbert di malam itu adalah pertemuan terakhirnya. Namun, siapa sangka. Pria yang bercinta dengannya semalam adalah hakim di sidang sang kekasih. "Aku bisa membebaskan kekasihmu, asalkan kau mau menjadi pemuas ranjangku." Akankah Allena menerima tawaran itu demi bebasnya tuntutan sang kekasih?
View MoreBab 1 RPTH
----
"Cheers!"
Suara riuh orang-orang disertai gegap gempita musik terdengar memekakkan telinga di sebuah club malam di Kota Jakarta.
Allena Thompson, wanita yang tengah frustasi akibat masalah yang menimpa kekasihnya berjoget mengikuti beat musik yang cepat dengan tangan memegang gelas berisi cairan memabukkan.
Bibirnya tak henti meracau, kadang berteriak. Namun, tak ada yang menghiraukannya sama sekali sebab hampir 80 persen orang yang berada di sana dalam keadaan yang sama. Jadi, Allena bebas mengungkapkan semua keluh kesahnya.
"Mark ... kasusmu sudah membuatku gila, rasanya kepalaku mau pecah!" Allena tertawa lalu tiba-tiba menangis seperti orang gila.
Dalam keadaannya yang sudah parah itu, pelayan club merasa cemas dan mendekati Allena sebab takut jika ada orang yang memanfaatkan Allena.
Sang pelayan menawarkan diri untuk mengantar Allena pulang ke hotel yang berada di seberang club membuat Allena akhirnya mengangguk. Pelayan itu memang cukup mengenal Allena sebab sudah beberapa kali datang.
"Oke, antar aku sampai lobi, aku sudah pusing sekali."
"Baik, Nona. Hati-hati," kata pelayan.
Pelayan tersebut memapah Allena sampai ke lobi hotel. Setelah itu, sang pelayan meninggalkannya sebab Allena yang memintanya.
"Tinggalkan aku di sini, biar aku ke kamarku sendiri," ucap Allena seraya memberikan tip uang seratus ribu pada pelayan tersebut.
"Terima kasih, Nona," ucap pelayan.
Allena tak menjawab, dia hanya terus berjalan dengan tubuh yang limbung serta pikiran yang linglung. Untung saja, kamarnya berada di lantai satu sehingga wanita itu tak perlu naik lift untuk sampai.
Kini, Allena berada di depan kamar nomor 6 yang bersebrangan dengan kamar nomor 9. Kamarnya adalah kamar nomor 6 tapi karena mabuk, dia jadi sulit membedakan angka tersebut.
Berulang kali Allena memastikan, tapi dua angka itu terasa sama di penglihatannya. Bayang-bayang dari angka tersebut membuatnya semakin pusing, Allena tak mampu menahannya sehingga dengan segera, dia membuka kamar nomor 9 yang kebetulan tidak dikunci oleh pemiliknya.
Brakkk!!
Suara pintu dibuka dengan keras terdengar. Allena langsung menutup kembali pintu itu lalu menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Saat itu, Allena tak melihat apa-apa, dia memejamkan matanya dan merasa lega karena sudah sampai di kamarnya.
"Ah, aku pusing sekali menghadapi hari esok. Rasanya ingin berlari sejauh mungkin, tapi bagaimana dengan nasibmu jika aku pergi, Mark?" monolognya.
Tanpa Allena sadari, seorang lelaki tengah mengerutkan dahinya melihat kelakuan Allena yang demikian. Lelaki itu lantas menghampiri Allena dan bertanya untuk apa Allena berada di kamarnya.
"Maaf, kamu siapa? Sepertinya kamu salah masuk kamar," tanya Gilbert.
Dia adalah pemilik kamar yang telah dimasuki Allena.
"Aku, siapa? Ah, aku adalah wanita tercantik di dunia." Allena tertawa terbahak-bahak.
"Dasar wanita gila," sungut Gilbert. "Kamu salah masuk kamar sepertinya, ini kamarku dan aku tidak merasa memesan seorang wanita. Pergi sana!" usir Gilbert.
Gilbert mencoba menjelaskan pada Allena atas kekeliruan ini sebab dia memang tak memesan wanita malam ini. Lelaki itu tengah menunggu asistennya yang akan membawakan pakaian ganti untuk berdinas besok.
Namun, Allena yang dalam keadaan mabuk parah lagi-lagi tak peduli. Dia justru malah menarik kerah baju Gilbert lalu mendengus lehernya dalam-dalam.
"Ah, wanginya ... kamu sedang mencoba menggodaku, ya, Mark? Kamu mau menyenangkanku sebelum besok kita bertarung di Pengadilan?" tanya Allena dengan tawa nakalnya.
"Mark? Siapa Mark?" tanya Gilbert lagi.
Dia semakin kebingungan. Situasi ini sangat tiba-tiba dan Gilbert bingung mesti bagaimana.
"Mark, kekasihku. Kamu kekasihku, kan? Oh, Sayang, ayo kita mulai!" Allena nampak tak sabar.
Wanita itu berdiri seraya menarik tangan Gilbert yang pikirannya dipenuhi dengan tanda tanya. Mark dan pengadilan, dua kata itu membuatnya teringat akan sesuatu.
Gilbert teringat akan sidang yang akan dia pimpin besok dengan terdakwa bernama Mark juga. Hal itu secara alami membuat Gilbert ingin mengorek informasi dari wanita ini.
"Apa jangan-jangan ...." Gilbert mengusap dagunya tanpa berpikir.
"Mark! Kenapa kamu malah diam saja? Kamu tuh suka sekali, ya, menyiksaku? Kamu suka membuatku menunggu, membuatku kesal, dan sekarang saat kita akan menikah pun kamu malah berulah," celoteh Allena.
Allena berbaring di ranjang dengan air mata yang mulai keluar. Wanita itu menangis mengingat peliknya masalah yang tengah dia hadapi bersama sang kekasih.
"Apa maksudmu, ulah apa?" Gilbert bertanya.
"Ulahmu yang menggelapkan dana perusahaan untuk biaya pernikahan kita. Oh, Ya Tuhan, kamu bodoh sekali. Dan sekarang pernikahan kita terancam batal sebab mungkin kamu akan masuk bui! Argh, menyebalkan!"
Deg!
Jantung Gilbert berdegup kencang. Tidak salah lagi, kasus yang Allena sebutkan adalah kasus yang akan ditanganinya besok meski kemungkinannya tidak sampai 100 persen.
Namun, dari semua celotehan yang Allena katakan, Gilbert semakin yakin dan akhirnya dia memiliki bukti kuat untuk menetapkan siapa tersangka yang sesungguhnya.
"Ini adalah keberuntungan yang didatangkan oleh Dewi Fortuna, aku mendapatkan bukti secara lisan untuk kasus ini, dan mendapatkan wanita cantik yang nyasar ke mari. Kebetulan macam apa ini?" gumam Gilbert.
"Apa, kamu bicara apa, Mark?" Allena tiba-tiba menyentuh wajah Gilbert.
Gilbert menggeleng. "Tidak, aku bukan bicara padamu."
"Lalu pada siapa? Di sini gak ada orang, kan? Ah, jangan-jangan kamu juga sudah mulai frustasi sepertiku. Kamu mulai gila juga, ya?" Allena kembali tertawa.
"Ya, sepertinya begitu," jawab Gilbert.
"Kamu sangat menggemaskan, Sayang. Kemarilah."
Allena membuat Gilbert bersandar di dadanya sambil terus berceloteh tanpa arah. Lelaki yang berprofesi sebagai hakim itu mencoba melayani ocehan Allena meski rasanya Gilbert pun sudah lelah.
Namun, sebagai laki-laki normal, lama-lama Gilbert tak tahan juga. Dadanya berdesir, merasa tertantang dengan situasi yang amat membingungkan sekaligus menguntungkan ini.
Apalagi Allena tak henti menggodanya, Gilbert tentu tak bisa menolak. Kecantikan dan kemolekan tubuh wanita itu membuat pertahanan Gilbert goyah.
"Kamu cantik, siapa namamu?" tanya Gilbert.
"Kamu lucu sekali, Mark, kita sudah bertahun-tahun pacaran dan kamu masih menanyakan namaku," sahut Allena.
"Aku hanya mau mendengar namamu, Sayang." Gilbert berbisik di telinga Allena.
"Ah, kamu semakin menggemaskan. Aku ... Allena, tapi aku mau dipanggil sayang atau honey saja. Seperti biasa," jawab Allena.
Gilbert tersenyum miring, dia semakin tergoda dengan ucapan-ucapan nakal yang dilontarkan Allena padanya terlebih saat ini Allena sibuk memainka tangannya di telinga Gilbert.
Gilbert memejamkan matanya, masih mencoba menahan diri untuk tak terpancing. Namun, rasa sangat sulit. Dan kini, tangan Allena berpindah ke bawah, ke area paling sensitif yang dimilikinya.
"Ah, kamu membuatnya bangun, Allena," desah Gilbert.
"Kalau begitu, mari bercinta denganku, Mark. Aku sudah tak tahan."
Allena membuka bajunya hingga memperlihatkan bagian dadanya yang membuat Gilbert panas dingin karenanya.'Sepertinya, tak ada salahnya jika aku menyentuhnya. Dia yang menggodaku, jadi aku hanya memanfaatkan peluang, bukan?'
Bab 7 RPTH----Allena menghentakkan kakinya melangkah masuk ke dalam kamar bernomor 9 itu. Suara dentum pintu yang ditutup rapat di belakangnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang memutus vonis mati bagi kebebasannya.Bau aroma parfum maskulin beraroma woody khas Gilbert langsung menyergap indra penciumannya, membuat perut Allena makin mual dihantam rasa cemas.Gilbert tak langsung menyentuhnya. Lelaki itu justru berjalan santai menuju sofa di sudut ruangan, menuangkan cairan berwarna keemasan ke dalam dua gelas kristal kecil.Langkahnya tenang, amat percaya diri, menikmati tiap detik ketegangan yang terpancar dari tubuh Allena yang berdiri kaku di tengah ruangan."Minum dulu, Allena. Kamu terlihat sangat tegang," ujar Gilbert seraya mengangsurkan salah satu gelas ke arahnya."Aku ke sini bukan untuk minum-minum," tolak Allena mentah-mentah tanpa menggeser posisi berdirinya sedikit pun.Tangannya terlipat rapat di dada, membentuk benteng pertahanan semu.Gilbert tertawa terkeke
Bab 6 RPTH----Dada Allena bergemuruh hebat tatkala netranya bersibobok dengan manik mata Mark yang penuh rasa ingin tahu. Kalimat yang sudah tersusun rapi di kepala seketika menguap begitu saja.Bagai memegang bara api, memberi tahu situasi hukum yang sebenarnya kepada Mark terasa begitu membakar jemarinya."Katakan, Allena. Jangan membuatku makin gila dengan keraguanmu," desak Mark. Suaranya ditekan sedemikian rupa, mencoba menahan emosi yang berkecamuk di dalam dada.Allena menghela napas panjang, berusaha menetralkan getar pada suaranya."Mark ... aku sudah bicara dengan pihak terkait. Bukti-bukti yang dipegang Jaksa dan Penggugat terlalu kuat. Laporan pengadaan barang yang kamu manipulasi itu sudah dikunci. Secara teknis hukum, posisi kita sangat tersudut. Kemungkinan kamu divonis belasan tahun itu sangat besar jika kita hanya mengandalkan jalur persidangan normal."Mata Mark membelalak. Wajah lelaki itu merah padam seketika. "Apa maksudmu?! Jadi gunanya kamu dan timmu selama in
Bab 5 PRTH----Allena termangu mendengar ucapan Gilbert. Mau bagaimana pun dia menyangkal, ucapan Gilbert memang benar.Posisi Mark sangat lemah, lelaki itu tersangka dan sudah terbukti kejahatannya. Jadi, kecil kemungkinan Allena dapat menyelamatkannya.Kecuali, Allena memakai orang dalam. Sogokan atau seperti yang Gilbert minta yakni dengan mengorbankan badan. Namun, Allena masih ragu."Aku takut kamu menipuku," ucap Allena."Terserah, sih. Sekali lagi aku katakan, keputusan ada di tanganmu, dan kalah menangnya dirimu ada di tanganku," jawab Gilbert enteng."Sampai kapan aku harus menjadi teman tidurmu?" tanya Allena tanpa menatap lawan bicaranya."Hmmm, entahlah, sampai aku puas dan bosan mungkin."Bahu Allena semakin melemas, tubuhnya terasa tak bertulang dan hampir saja pingsan. Dalam waktu yang tak ditentukan, Allena harus melayani seorang lelaki yang tak dia cintai.Berat, ini sangat berat. Namun, Allena harus melakukannya. Dia tak punya pilihan lain karena hanya inilah satu-s
Bab 4 PRTH----Mata Allena terbelalak ketika mendengar tawaran Gilbert yang menurutnya tak masuk akal. Dia menatap Gilbert dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu bergidik ngeri mengingat tubuhnya yang tinggi, tegap, dan kekar.Namun, bukan itu yang menjadi alasan Allena ingin menolak tawaran Gilbert. Baginya, ini masalah harga diri yang harus dipertahankan. Gilbert harus tahu kalau dirinya bukanlah wanita gampangan.Masalah semalam, kalau memang benar sungguh itu adalah sebuah ketidaksengajaan dan Allena tentu akan memperbaiki diri. Setiap manusia wajar jika memiliki kesalahan, bukan?"Aku tidak mau, Yang Mulia Hakim Gilbert William Grace, SH!" jawab Allena lengkap dengan menyebut gelar lelaki di hadapannya."Jangan menggunakan kekuasaanmu itu dengan memeras orang lain, ya, kamu adalah hakim, jagalah kehormatanmu!" imbuhnya.Gilbert tertawa lalu menatap Allena seperti dirinya menatap makanan. Haus, lapar, buas. Gilbert nampak menakutkan."Kamu juga seorang Pengacara tapi ternyata s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.