ログインTak lama setelah sebuah foto berhasil Lily kirimkan, sebuah pesan mulai datang, disusul pesan-pesan beruntun lainnya. Sungguh, Lily tidak pernah menyangka bahwa Diandra akan membalas pesannya secepat itu. Jantungnya berdebar sangat cepat. Saking kerasnya, sampai-sampai dadanya terasa ngilu. [Kau siapa?] [Dapat nomor teleponku dari mana?] [Kenapa kau bisa mempunyai foto suamiku?] Lily menarik napas. Wajahnya menegang, namun ia mencoba untuk menenangkan dirinya. Lalu ... ia mengetik balasan. [Saya tidak ingin membuat Anda terkejut, tapi ...] [Saya adalah wanita kedua suami Anda, Nona Diandra.] Setelah mengirimkan dua buah pesan, Lily menggigit bibirnya. Apakah tindakannya akan berakibat fatal? Dan ketika pikirannya kalut, wanita yang menjadi istri sah kekasihnya memberikan balasan. Ponsel Lily kembali bergetar. [Jangan mengatakan hal omong kosong!] [Siapa yang menyuruhmu?!] [Pasti ada seseorang yang membayarmu untuk menghancurkan rumah tangga kami, 'kan?!] [Mengaku saj
"Apa kau kurang tidur? Aku baru sadar kalau ada sedikit kantung mata di sini." Sedikit melupakan sarapannya, tangan Diandra terulur menyentuh bawah mata Sang suami. Di titik itu tampak menggelap, melingkari mata. Wanita itu menatapnya dengan cemas. Sedangkan yang disentuh hanya diam saja, tak banyak bereaksi. Ia tetap melanjutkan sarapannya. "Kantung mata itu sudah ada sejak lama, Diandra. Kau saja yang tidak pernah memperhatikannya." Jonathan berbicara dengan terus mengunyah roti panggang buatan Diandra. Menjawab dengan santai seakan itu bukanlah masalah baginya. "Aku sering tidur ketika hampir tengah malam, sangat wajar jika akan muncul mata panda," lanjutnya. Diandra tersentak. Apakah dirinya memang setidakperhatian itu? "Maafkan aku. Aku berjanji, mulai detik ini aku akan lebih memperhatikanmu." Sejenak tatapan mata hazelnya turun, pertanda sesal. Namun, sesaat kemudian Diandra kembali mencari mata biru suaminya. "Aku akan membelikan krim untuk menghilangkan mata pandamu nanti
Kamar mandinya memang masih berada di area kamar, bahkan suara kucuran airnya masih mampu Lily dengar setelah Jonathan memasukinya. Wanita itu menghela napas, beringsut bangkit untuk mengenakan kembali pakaiannya. Dan ketika suara dering ponsel menyapa telinga, Lily sedikit tersentak. Tatapannya mencari, lalu menemukan alat komunikasi itu. Rupanya Jonathan meninggalkan telepon genggamnya di atas ranjang. Ada sebaris nama tertera di layarnya yang menyala; Istriku. Ah, ternyata Diandra yang menelepon. Secara spontan Lily menatap pintu kamar mandi. Jonathan masih berada di baliknya, sedang mandi atau apa pun di dalam sana. Dan sepertinya akan lama. Lily urung memakai pakaiannya. Setelah dering ponsel berhenti, ia mendekat. Tangannya terulur demi meraih ponsel milik Jonathan. Tangannya yang lain meraih ponselnya sendiri di atas nakas. Lalu ... diam-diam ia menyalin nomor ponsel istri sah pria yang ia cinta, menyimpannya ke dalam kontak di ponselnya. Tepat setelah itu, ponsel di gengg
Pria itu baru saja mengikat ujung 'pengaman' berbahan lateks yang baru saja ia gunakan, membiarkan agar cairan yang dihasilkan dari ledakan gairahnya tetap berada di dalam. Setelahnya, ia membuangnya pada tempat sampah di sudut kamar, tepat di sisi pintu. Matahari belum lama terbenam, dan menemui Lily merupakan kegiatan rutinnya sebelum kembali membuka klinik praktik pribadi miliknya. Setidaknya untuk beberapa hari terakhir. Setelah jam kerjanya di Rumah Sakit selesai, ia tidak lagi pulang ke rumahnya. Ada kenyamanan yang ia dapatkan di rumah sederhana milik Lily. Meskipun waktu mereka hanya diisi oleh canda tawa dan obrolan santai, sungguh Jonathan sangat menikmati setiap detiknya. Sosok wanita muda berparas manis itu sedikit demi sedikit mampu menyalakan kembali lilin kehidupannya yang semula padam. Kini hatinya mulai terasa hangat setelah kehadiran Lily. Ketika Jonathan kembali mengenakan celana panjang berwarna hitam miliknya, kedua netra indah Lily terus saja memperhatikan pri
Perjalanan ke rumah Lily tak pernah benar-benar berlalu dalam keheningan. Dulu, setiap kali mengantar, suasana di dalam mobil Jonathan selalu canggung. Ada jeda panjang, ada keheningan. Tapi sekarang berbeda. Hubungan mereka semakin rapat semenjak mereka memilih untuk menanggalkan panggilan yang kaku. 'Paman' masih ada, tapi nadanya sudah berbeda. Lebih manja. Lebih dekat. Obrolan yang semakin lepas membuat ikatan keduanya terasa semakin intim. Jonathan mulai bercerita tentang pasiennya. Lily mulai bercerita tentang masa kecilnya. Sekarang tak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Hanya ada tawa kecil dan radio yang dipelankan. "Omong-omong, apakah kau mencuci bajumu sendiri, Paman? Atau mungkin ... Bibi Diandra yang mencucinya?" Lily tiba-tiba saja mengalihkan pembicaraan di sela candaan mereka. Nadanya dibuat setenang mungkin. Tentu bukan tanpa maksud, ada satu hal yang ingin ia pastikan. Noda lipstik merah di kemeja Jonathan malam itu. "Kenapa bertanya, hm?" sembari tetap fo
Dering di ponselnya mengusik ketenangan Diandra. Suara notifikasi itu memantul di dalam trailer kecil yang dingin karena penyejuk ruangan. Wanita itu meletakkan kembali botol air mineral setelah meneguk isinya beberapa kali, tenggorokannya masih terasa kering karena adegan teriak-teriak tadi pagi. Kemudian beralih meraih ponsel di dalam tas mewah miliknya yang tergeletak di meja rias. Layar menyala. Ada sebuah foto yang dikirim oleh temannya, Elizabeth. Jari Diandra berhenti di atas layar selama sedetik. Jantungnya belum curiga apa-apa. "Tumben sekali," ucapnya seraya membuka pesan. Elizabeth jarang sekali mengirim pesan di jam syuting. Tak lama berselang, Diandra mengernyitkan dahi ketika memperbesar foto kiriman dari Elizabeth. Pikselnya agak pecah karena di-zoom. Ada dua sosok yang berhasil tertangkap kamera, salah satunya terlihat sangat familier. Postur tubuhnya, cara duduknya bersandar ke kursi, bahu yang sedikit condong ke depan saat tertawa. Meskipun sebagian wajah pria d







