"Ya Tuhan! Dia benar-benar membalasnya!" raut cantik yang semula tampak syok, perlahan berubah ceria. Ia benar-benar tak menyangka bila pada akhirnya Si pria matang bersedia membalas pesan darinya. Senyuman cerah tercipta, dan ia mencoba mengatur napasnya. "Oke. Tenangkan dirimu, Lily. Kita harus cepat-cepat membalas pesannya." [Tidak sama sekali, Tuan. Katakan pada saya, Anda ingin makan di mana?] Dan, ketikan pesan itu segera ia kirim. Lalu, ia menyimpan ponselnya di dada, kembali menanti jawaban. Di tempat lain Jonathan membalasnya, masih dengan posisi berbaring di atas sofa. [Kau saja yang menentukan, saya akan menyesuaikan.] Bola mata Lily bergerak ke atas, berpikir. Tidak mungkin ia mengajak Si pria idaman makan di pinggir jalan, bukan? Pria itu seorang dokter, bukan levelnya makan di pedagang kaki lima. Setelah menimbang-nimbang selama beberapa detik, akhirnya gadis itu menemukan keputusan. Yah, meskipun itu artinya ia harus merelakan tabungannya. [Baiklah, saya akan me
Last Updated : 2026-08-14 Read more