LOGINKeesokan paginya, langit di atas SMA Fortuna Negara terlihat mendung, seolah mendukung suasana hatiku yang sedang kelabu. Batas waktu untuk memberikan jawaban kepada Bu Annisa adalah sore ini.Aku berjalan menyusuri koridor menuju kelas dengan langkah berat, seakan ada pemberat besi yang terikat di pergelangan kakiku. Namun, sebelum aku sempat mencapai tempat perlindunganku (baca: kelas), sebuah tangan halus namun tegas menarik kerah belakang seragamku."Ara, mau kemana terburu-buru begitu, Tuan Telmi?"Suara itu. Suara yang tenang, sedikit serak khas bangun tidur, namun mengandung ketajaman yang bisa mengiris mental seseorang. Aku menoleh perlahan dan mendapati Kak Clarissa berdiri di sana. Rambut hitam panjangnya tergerai indah, kontras dengan tatapan matanya yang sayu namun mengintimidasi."Kak Clarissa? Ini masih pagi, tumben Kakak sudah aktif?""Jangan salah sangka. Nyawaku masih tertinggal setengah di tempat tidur," jawabnya sambil menutup mulut dengan punggung tangan, menahan u
Pada akhirnya, apa yang aku dapat hari ini setelah mengetahui Tia memiliki banyak teman?Jawabannya mungkin hanya satu: prasangka itu menakutkan. Aku yang selama ini mengira Tia adalah sesama penghuni gua yang hanya berteman dengan tabel periodik dan reaksi kimia, ternyata memiliki kehidupan sosial yang jauh lebih berwarna daripadaku. Bahkan, dia memiliki "pasukan" teman di dunia maya yang nyata adanya.Aku menghela napas panjang, menatap pintu yang baru saja tertutup rapat di depanku. Keheningan kembali menyelimuti ruang tamu rumahku, menggantikan suara tawa Fachri, omelan Shinta, dan isak tangis Tia yang dramatis tadi."Hah... Melelahkan," gumamku pelan sambil memungut bantal sofa yang tadi sempat menjadi senjata Tia.Aku berjalan menuju dapur, mencuci beberapa gelas bekas minum mereka. Suara air keran yang mengalir deras seolah menjadi musik latar untuk pikiranku yang mulai berkelana. Efek The Village Effect yang dibicarakan Shinta dan Fachri tadi... apakah benar-benar bekerja pada
Siang ini seperti biasa aku mendengar penjelasan dari Bu Annisa dengan mata pelajaran matematikanya. Jika bertanya apakah itu adalah hal yang sulit? Dengan sombong akan aku jawab: tentu saja tidak. Aku dapat mudah mengerti materi yang sedang Bu Annisa utarakan. Baik itu hari ini atau pun di masa depan, memahami pelajaran adalah hal yang mudah bagiku. Terdengar sombong memang. Tapi akan aku katakan sekali lagi, menyombongkan diri dengan kemampuan yang diasah sendiri adalah hal yang bagus. Orang-orang yang berusaha menghindari kewajibannya seperti bolos kelas adalah orang yang tidak mampu mengatasi dirinya sendiri, dan aku sama sekali tidak mengerti cara berpikir orang-orang yang seperti itu. Katakan saja, bukankah seharusnya mereka itu malu menunjukkan betapa ke tidak kompetennya mereka, bukan? Dan seperti yang sudah aku bilang juga sebelumnya, belajar di kelas itu bagaikan auto correct untuk kesalahan yang tidak aku ketahui selama belajar di rumah. Seperti halnya sekarang, deng
Kak Clarissa: Apa kau ada di rumah, Raihan? Notifikasi pesan tiba-tiba muncul dari layar ponselku. Itu berasal dari aplikasi berbalas pesan MINE yang sudah tidak asing lagi di telinga. Me: Aku ada di rumah. Apa Kakak memerlukan sesuatu? Kak Clarissa: Apakah aku bisa menemuimu? Seketika aku langsung mendapat balasan secara instan. Jari-jarinya memang tidak bisa diremehkan, dan aku tahu Kak Clarissa tidak akan melakukan trik copy paste. Me: Tentu. Aku pikir tidak ada masalah. Kira-kira ada apa dengan Kak Clarissa? Apakah dia sedang membutuhkan sesuatu? Sangat jarang melihat dia meminta langsung seperti itu. Mengingat tipenya yang menjaga jarak dengan orang lain. Tapi meminta bertemu langsung seharusnya bukan hal yang aneh. Kak Clarissa: Kalau begitu buka pintunya. Aku tarik kembali kata-kataku tadi. Ada apa ini? Mengapa perasaanku langsung menjadi tidak enak, ya? Me: Maaf? Kak Clarissa: ... Kak Clarissa: Karena ini berbentuk tulisan aku tidak perlu mengetik ulang, bukan? Kak
Ini terjadi setelah aku bertemu dengan Kak Riyanti malam itu.Setelah pulang dari misi volunteer dan tidak secara kebetulan arah pulang aku dan Kak Riyanti sama, aku langsung tidur dengan pulas. Di pagi harinya aku memberikan pesan kepada Kak Riyanti menggunakan tanda nama yang Kak Riyanti berikan agar kami bisa bertukar kontak. Tak lama setelah aku memberi pesan dan memberitahu itu adalah aku, Kak Riyanti langsung membalasnya dan menjadi teman di MINE.Karena hari waktu itu adalah hari Minggu dan Kak Riyanti sedang libur dari pekerjaannya, kami berdua banyak bertukar kata hari itu lewat MINE.Aku dan Kak Riyanti pada awalnya hanya membicarakan tentang makanan, sepertinya Kak Riyanti melihat profilku dipenuhi dengan foto makanan yang aku buat sendiri semenjak SMA. Kemudian pada hari berikutnya topik pembicaraan kami berubah menjadi pembicaraan komedi yang sedang trending belakang ini, dan kemudian berlanjut menjadi curhatan dan akhirnya kami berdua cukup dekat.
“Selamat datang, Raihan.”Suara itu terdengar ketika dia sudah membuka pintu yang ada di hadapanku. Dengan mendengar suara itu juga, aku melihat seorang gadis sedang menggunakan pakaian lengan panjang ditutupi oleh celemek berwarna biru polos dengan kantung di bawahnya. Gadis itu juga menunjukkan wajah yang terlihat sedikit lelah sambil membawa sebuah centong di tangannya.Itu adalah Kak Riyanti.“Maaf sudah mengganggu, Kak.”“Kau ini... Aku seharusnya yang mengatakan itu. Ah, silakan masuk.”“Kalau begitu permisi.”Setelah mengizinkanku masuk, aku kemudian membuka sepatu yang aku pakai dari rumah untuk datang ke sini.Selagi membuka sepatu, Kak Riyanti kemudian menutup pintunya kembali yang berada di belakangku. Setelah tertutup, Kak Riyanti kemudian berjalan di lorong pintu masuk sambil mengatakan “maaf, aku sedang memasak sekarang. Anggaplah rumah sendiri, ok?” lalu pergi







