MasukWarning : Bacaan 21+ Karena keterbatasan biaya operasi sang Mama, Aurora terpaksa menerima tawaran gila dari Papa sahabatnya untuk menjalin hubungan terlarang bersama pria itu. Rasa keterpaksaan itu berubah menjadi rasa kecanduan akan sentuhan panas Leo. Hubungan terlarang mereka menimbulkan rasa yang tidak seharusnya hadir di antara keduanya. "Ini gila, Aurora. Saya tidak bisa melepaskanmu. Selamanya kamu akan terus menjadi milik saya, walaupun dunia menentang hubungan kita." ~Leo Charles Frederick~ Akankah cinta yang melanggar batas itu bisa membuat mereka terus bersama, atau justru menjadi awal kehancuran keduanya?
Lihat lebih banyakPelayan berlari menuju ke arah Leo dan Aurora yang sedang menikmati waktu berdua di ruang keluarga.Aurora yang sedang memeluk Leo dengan mesra langsung melepaskan diri dan tampak gugup ketika kepergok orang lain ia sedang manja dengan sang suami.Sedangkan Leo terlihat biasa saja tanpa merasa sungkan atau pun malu kepada pelayan di rumahnya.“Ada apa, Bi?” tanya Leo menatap wajah pelayan yang tampak gugup dan gelisah.Pelayan tersebut memainkan jemarinya. “I-itu, Tuan. Di luar ada pria yang pernah datang ke sini dan mengaku sebagai ayah dari Nyonya Aurora,” ucap pelayan dengan gugup.Leo berdecak kesal. Ada tujuan apa lagi Darma datang ke rumahnya lagi? Semenjak ada Darma datang ke rumah ini, ketenangan rumah ini sedikit terganggu.Aurora juga terkejut, ia merasa tidak enak hati dengan suaminya. Karena papanya itu sering menemui mereka di rumah tanpa ada rasa malu sedikit pun.“Kenapa Papa sering ke sini ya, Mas? Aku jadi gak nyaman,” ungkap Aurora dengan jujur.“Sayang tahan dulu ra
Brak…Darma terkejut ketika Emma membuka pintu dengan paksa.“Bisa kan buka pintunya pelan-pelan? Ada aku di dalam kamar, bisa-bisa aku jantungan,” protes Darma dengan nada kesal bahkan raut wajahnya sama sekali tak enak di pandang.Emma sama sekali tidak menghiraukan ucapan Darma. Wanita itu duduk di samping Darma dengan memegang perutnya.Darma menaikan satu alisnya, merasa heran mendengar ringisan pelan dari Emma.“Kamu kenapa, Emma? Kamu sakit?” tanya Darma memegang lengan Emma—raut wajahnya berubah drastis tampak khawatir.Emma meringis. “Entahlah aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba saja perutku kram. Mungkin karena sengaja menabrakkan diri di hadapan Leo,” jawab Emma dengan lirih.Emma mencoba mengatur napasnya, berharap kram di perutnya berangsur-angsur membaik. Dan benar saja kram itu sedikit menghilang walaupun masih hilang timbul yang membuat dirinya sama sekali tidak nyaman.“Istirahatlah dulu,” ujar Darma dengan pelan membantu Emma untuk berbaring di kasurnya.Emma menur
Ancaman Aurora kali ini bukan hanya sekedar omongan saja. Tetapi itu benar dari dasar hatinya jika Leo berani berbicara berdua dengan Emma.“Kali ini aku beneran ya, Mas. Aku akan sangat marah kalau Mas diam-diam bertemu dengan Emma. Kalau memang Mas masih cinta sama dia silahkan kembali dan ceraikan aku saja,” ucap Aurora dengan tegas, tidak ada keraguan dalam nada bicaranya.Leo melotot mendengarnya, jantungnya berdenyut sakit seperti dihantam benda keras hingga ia merasa sesak.Matanya berkaca-kaca, tanpa aba-aba Leo memeluk istrinya dengan erat. Bahkan ia enggan untuk melepaskannya.“Mas gak mau kita pisah, Sayang. Jangan berbicara seperti itu lagi ya. Mas gak akan bertemu dengan Emma tanpa sepengetahuan kamu. Kalau bertemu secara tidak sengaja Mas akan langsung pergi. Jangan ancam Mas dengan kata perpisahan, Sayang. Sungguh Mas sangat mencintai kamu dan gak mau kita berpisah,” ujar Leo dengan suara gemetar.Aurora juga merasa hatinya berdenyut sakit saat mengatakan itu. Jujur saj
Leo berjalan dengan langkah tegas tanpa melihat ke arah depan. Matanya sibuk melihat ke arah jam yang ada di tangannya, ia harus segera pulang setelah melakukan operasi yang cukup rumit dan menguras tenaganya.Bruk…Tetapi di tengah jalan ia tidak sengaja menabrak seseorang. Leo terkejut, mulutnya hendak mengatakan maaf tetapi melihat siapa yang terjatuh di depannya, mulutnya kembali tertutup rapat.“Sialan! Kenapa harus bertemu wanita ini,” umpat Leo di dalam hati dan mendengus kesal.Emma yang memang sengaja menabrakkan diri, mengaduh kesakitan, sambil memegang bokongnya dengan meringis.“Aduh sakitnya!” ucap Emma dengan meringis.Tak lama ia melihat ke arah Leo sambil mendongak. “Kalau jalan hati-ha—Mas Leo,” ucap Emma berpura-pura terkejut melihat Leo ada di hadapannya.Leo menatap Emma dengan raut wajah tak suka, ia bahkan tak membalas perkataan Emma begitu saja.“Hati-hati kalau jalan, Mas. Kalau aku kenapa-nala gimana?” ujar Emma dengan meringis dan senyuman tipisnya tidak bisa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak