Terjerat Pesona Papa Sahabatku

Terjerat Pesona Papa Sahabatku

last updateLast Updated : 2026-01-23
By:  Syafitri WulandariUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
17views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Warning : Bacaan 21 + Karena keterbatasan biaya operasi sang Mama, Aurora terpaksa menerima tawaran gila dari Papa sahabatnya—menjalin hubungan terlarang bersama Papa sahabatnya sekaligus dokter yang menangani Mamanya. Rasa keterpaksaan itu berubah menjadi rasa kecanduan akan sentuhan panas Leo. Hubungan terlarang mereka menimbulkan rasa yang tidak seharusnya hadir di antara keduanya. "Ini gila, Aurora. Saya tidak bisa melepaskanmu. Selamanya kamu akan terus menjadi milik saya, walaupun dunia menentang hubungan kita." ~Leo Charles Frederick~ Akankah cinta yang melanggar batas itu bisa membuat mereka terus bersama, atau justru menjadi awal kehancuran keduanya?

View More

Chapter 1

Bab 1. Tawaran Gila Papa Sahabatku

“Kamu mau ke mana malam-malam seperti ini Emma? Kamu itu tidak pernah peduli dengan saya, kita sudah jarang bertemu bahkan kita sudah lama tidak tidur bersama,” keluh Leo menatap istrinya yang sudah berpakaian begitu seksi.

Emma memutar bola matanya dengan malas, keluhan Leo sama sekali tidak ia anggap serius.

“Aku ada janji dengan temanku, Mas. Kita sudah tua kamu masih memikirkan persoalan ranjang? Lain kali saja, Mas. Aku pergi dulu,” sahut Emma sama sekali tidak peduli dengan ucapan Leo.

Aurora yang baru saja datang tubuhnya langsung membeku, mendengar perdebatan yang ia yakini dari kedua orang tua sahabatnya—Shopia.

Niat hati menjadi tamu karena diundang sahabatnya untuk makan malam sekaligus merayakan ulang tahun Shopia, dirinya malah menyaksikan pertengkaran suami istri itu.

Emma pergi begitu saja melewati Aurora dan juga Shopia, bahkan sama sekali tidak melirik ke arah anaknya.

Aurora menatap ke arah Shopia, sahabatnya itu terlihat mematung dan tidak bisa berkata apa-apa.

Wajah Aurora memerah, entah mengapa ia merasa malu sama mendengar persoalan suami istri itu.

Leo menghela napas panjang, ia menghampiri Shopia dan melirik ke arah Aurora sekilas.

Gaun hitam yang begitu kontras di kulitnya yang putih, Aurora tampak terlihat berbeda malam ini.

Aurora menelan ludahnya dengan kasar, ia menjadi gugup saat mata tajam itu menatap ke arah dirinya.

Aura pria matang begitu kentara di diri Leo. Rahang tegas, lengan berotot, postur tubuhnya begitu menggoda, dengan balutan kemeja berwarna putih dengan kancing kemeja yang terbuka, dan bagian lengan digulung sampai siku membuat penampilan Leo begitu maco.

Tanpa sadar Aurora menahan napasnya saat Leo semakin mendekat ke arahnya, lebih tepatnya ke arah Shopia.

“Papa mau ke rumah sakit, Shopia. Ada pasien yang harus Papa urus,” ucap Leo dengan tegas.

“T-tapi, Pa—”

“Papa buru-buru. Lain kali saja kita berbicara.”

Tangan Shopia menggantung di udara saat ingin menahan Papanya, suaranya juga tertahan di tenggorokan.

“Kalian melupakan ulang tahunku lagi,” gumam Shopia dengan kecewa.

Aurora merasa udara di sekitar ruangan ini begitu pengap, ia merangkul Shopia dengan tersenyum mencoba mencairkan suasana.

“Kita masih bisa merayakan—”

Ucapan Aurora menggantung di udara, karena suara dering ponsel miliknya, ia mengambil ponselnya dan wajahnya langsung memucat ketika ia mengenal nomor yang meneleponnya—pihak rumah sakit.

Dengan tangan gemetar Aurora menggeser ikon berwarna hijau itu.

“H-halo…”

“Nona Aurora, saya ingin menginformasikan jika keadaan ibu anda saat ini sedang kritis. Mohon untuk segera datang ke rumah sakit.”

“A-apa? I-iya Sus, saya segera ke sana.”

Aurora langsung berlari begitu saja meninggalkan Shopia. Wajahnya pucat, saat kabar buruk itu terdengar di telinganya.

***

Tubuh Aurora mematung, membaca kata demi kata pada kertas yang ada di tangannya.

Biaya operasi Mamanya sangat besar. Bagaimana caranya ia harus mencari uang 100 juta rupiah dalam waktu dekat?

“Operasinya bisa dilakukan ketika anda sudah melunasi biaya administrasinya, Nona,” ujar Suster yang langsung membuyarkan lamunan Aurora.

Ucapan Suster di hadapannya seperti menghatamkan dada Aurora seperti palu godam. Napasnya tercekat, seolah seluruh udara di dunia ini lenyap seketika. Tubuhnya menegang, karena takut yang terus menggerogoti hatinya.

Matanya mulai berembun. Ada sesak yang menanjak dari dada hingga ke tenggorokan. Tiba-tiba wajah Mamanya terbayang—keriput, lemah, tak berdaya, dan sangat membutuhkan pertolongan darinya.

“Beri saya waktu, Sus. Saya akan melunasi semuanya.”

“Baik, Nona. Secepatnya harus segera dilunasi agar ibu anda bisa dioperasi. Saya permisi.”

Tubuh Aurora hampir ambruk, ia harus mencari pinjaman sekarang juga.

Tidak ada waktu lagi!

Ia harus pergi. Aurora berjalan cepat keluar rumah sakit, pikirannya buntu dan terasa penuh.

Waktu terus berlalu, Aurora sudah berusaha mencari pinjaman ke sana ke sini tetapi tidak ada yang mau membantunya sama sekali, ia mengusap wajahnya dengan kasar.

Gadis itu terlihat frustasi, Aurora kebingungan, Mamanya harus sehat kembali, tetapi sampai sekarang ia tidak dapat pinjaman sama sekali.

“Ya Tuhan, di mana aku mendapatkan uang sebanyak itu? Bahkan sampai sekarang aku belum mendapatkan uang pinjaman sedikit pun,” gumam Aurora dengan napas yang terdengar berat.

Aurora kalut, ia teringat wajah Mamanya, bibirnya gemetar, matanya memerah, isakan lirih terdengar di bibir pucatnya.

“Kenapa tidak ada yang mau membantuku hikss…? A-aku benar-benar membutuhkan uang itu sekarang,” gumam Aurora dengan frustasi.

Aurora terduduk dengan lesu, ia memijat kakinya yang sudah terasa sakit karena terus-terusan berjalan dengan rasa kebingungan dan frustasinya.

Dirasa kakinya sudah mendingan, Aurora berdiri kembali, ia harus semangat demi Mamanya. Tapi ke mana lagi ia harus pergi?

Aurora terus berjalan, walaupun tidak tahu ke mana ia harus pergi, ia mencoba untuk ke bank mencari pinjaman, tetapi dirinya harus menelan pil kepahitan karena pihak bank sama sekali tidak mau meminjamkan uang untuk dirinya, tidak ada jaminan yang bisa meyakinkan pihak bank kepadanya.

Tatapan Aurora sudah kosong, ia tidak bisa lagi berpikir dengan jernih. Tetapi hatinya belum bisa tenang sama sekali.

Ia masih mempunyai Papa dan saudara yang lainnya. Tetapi Aurora merasa ia sendirian karena tidak ada yang mau membantunya sama sekali.

“Mama yang kuat ya,” gumam Aurora dengan tersenyum miris.

Udara siang ini semakin terik, keringat sudah membanjiri dahinya. Kulitnya yang putih sudah memerah, tetapi Aurora sama sekali tidak peduli.

Aurora memutuskan untuk kembali ke rumah sakit, ia merindukan Mamanya yang ia tinggalkan seorang diri di sana.

Pikirannya kosong tubuhnya terasa begitu ringan.

Ia berjalan tanpa memperhatikan sekitar, tanpa sadar air matanya jatuh, mengingat semua kenangannya bersama dengan Amelia.

Sampai—

Bruk…

Aurora tidak sengaja menabrak seseorang, gadis itu mendongak melihat siapa yang ia tabrak saat ini.

“M-maaf, Om. S-saya tidak sengaja,” gumam Aurora dengan takut-takut melihat wajah tenang dan dingin Leo—Papa sahabatnya.

Leo tidak bersuara, tatapan pria matang itu tidak terlepas dari wajah Aurora. Sudah sejak tadi ia memperhatikan gadis itu, ekspresi wajah Aurora tidak bisa dibohongi. Jika gadis itu sedang dalam kebingungan.

Leo yakin itu semua terjadi karena Aurora membutuhkan uang untuk operasi ibunya, ia sudah melihat data ibu Aurora.

Aurora terlihat gugup, karena Leo sama sekali tidak berbicara, ia begitu canggung dengan Papa sahabatnya ini.

“S-saya permisi, Om. S-sekali lagi saya minta maaf.”

Aurora hendak berjalan pergi, sebelum itu ia sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai tanda permintaan maaf, tetapi ucapan Leo langsung menghentikan langkahnya.

“Saya bisa bantu untuk melunasi semua biaya operasi ibumu asal kamu mau menuruti semua perkataan saya.”

Mata yang tadinya redup, kini terlihat sedikit berbinar, ada harapan di binar matanya karena perkataan Leo. Dada yang tadinya sesak kini sedikit lega dan terasa ringan.

“B-benaran, Om?” tanya Aurora dengan tersenyum tetapi matanya berkaca-kaca karena sangking bahagianya mendengar ucapan Leo.

Leo mengangguk, matanya melirik sekitar, ia tidak mau ada yang mendengar pembicaraannya dengan Aurora.

Aurora memainkan jemarinya dengan gugup, angin menerpa keduanya hingga rambut Aurora berterbangan, tanpa disadari oleh Aurora sejak tadi Leo memperhatikannya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Saya benar mau membantu. Itu pun jika kamu setuju dengan penawaran yang saya berikan,” kata Leo dengan santai.

Aurora harus mendongak ketika ingin menatap wajah tampan yang penuh ketegasan itu, di dalam hati Aurora berkata : ternyata Leo bukanlah pria yang buruk, ada sisi kebaikan di dalamnya.

“Apa yang harus saya lakukan, Dok?” tanya Aurora dengan gugup.

Aurora tanpa sadar menahan napasnya, memperhatikan bibir Leo yang masih bungkam. Apa pun akan ia lakukan demi Mamanya, asal masih di dalam tahap yang wajar untuknya.

Leo membenarkan letak kacamatanya, wajahnya tampak begitu serius.

“Jadi teman tidur saya, maka saya akan membiayai seluruh pengobatan ibumu sampai selesai,” ucap Leo dengan tegas, suaranya berat dan tidak ada keraguan di sana.

“A-apa?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status