LOGINWarning : Bacaan 21 + Karena keterbatasan biaya operasi sang Mama, Aurora terpaksa menerima tawaran gila dari Papa sahabatnya—menjalin hubungan terlarang bersama Papa sahabatnya sekaligus dokter yang menangani Mamanya. Rasa keterpaksaan itu berubah menjadi rasa kecanduan akan sentuhan panas Leo. Hubungan terlarang mereka menimbulkan rasa yang tidak seharusnya hadir di antara keduanya. "Ini gila, Aurora. Saya tidak bisa melepaskanmu. Selamanya kamu akan terus menjadi milik saya, walaupun dunia menentang hubungan kita." ~Leo Charles Frederick~ Akankah cinta yang melanggar batas itu bisa membuat mereka terus bersama, atau justru menjadi awal kehancuran keduanya?
View MoreOtak Aurora tiba-tiba kosong, wajah gadis itu memerah menahan malu akibat pikirannya sendiri yang bisa terbaca oleh Leo.Aurora membenarkan letak duduknya, ia langsung membuang muka ke arah samping sambil merutuki dirinya sendiri.“Malu banget,” gumam Aurora dengan perasaan yang tidak karuan yang ia rasakan saat ini.Sedangkan Leo hanya tersenyum kecil, nyaris tidak terlihat. Leo juga diam, ia menjalankan mobilnya dengan tenang, dan tidak ada niatan untuk mengajak Aurora berbicara kembali.Pria itu terlihat santai seperti tidak terjadi apa pun sebelumnya yang sangat berbeda sekali dengan Aurora sekarang.“Pasti Om Leo berpikir jika aku ini…” Aurora tidak sanggup melanjutkan ucapannya di dalam hati, karena memang ia sudah menjadi gadis milik Leo selama perjanjian itu masih berlaku dan Leo belum membatalkan semuanya.Kenapa hatinya kembali sesak mengingat dirinya sendiri?Tanpa disadari oleh Aurora mobil milik Leo sudah berhenti di gedung apartemen milik pria matang itu.Aurora tersenta
“Dokter Leo baik sekali, Aurora. Kita punya utang budi ke dia,” ucap Amelia dengan pelan dan tersenyum manis.Aurora membalas senyuman Mamanya dengan tersenyum kecut, hatinya tersentil mendengar ucapan Amelia yang sejak tadi memuji Leo karena kebaikannya.“Andai saja Mama tahu,” gumam Aurora dengan lirih.Suara notifikasi ponselnya membuat Aurora mengalihkan tatapannya ke arah ponselnya yang sejak tadi ia genggam.08xx : “Kamu bisa masak? Nanti kamu ikut ke apartemen saya.”Aurora menelan ludahnya dengan kasar, walaupun nomor baru Aurora langsung tahu itu siapa, jantung Aurora berdetak sangat cepat membaca pesan itu bernada ajakan.Apakah ini saatnya?“Kamu kenapa, Sayang? Wajah kamu pucat sekali,” tanya Amelia dengan khawatir.Aurora kelagapan, ia berusaha terlihat biasa saja di hadapan Mamanya walaupun sebenarnya ia panik bukan main.“Tidak apa-apa, Ma. Nanti aku izin sebentar untuk pulang ya, Ma.”Aurora meremas ujung bajunya dengan gelisah, suasana di ruangan Mamanya langsung beru
“Kenapa lama sekali?” gumam Aurora dengan gelisah saat operasi sudah berlangsung beberapa jam lamanya.Jantungnya berdetak tidak karuan, bahkan di lorong ini udara semakin terasa pengap, keringat bercucuran di dahi Aurora. Mungkin sangking paniknya, gadis itu merasa panas, tetapi tangannya begitu dingin dan berkeringat.Berulang kali Aurora berdiri dan duduk, hembusan napasnya terdengar berat.Leo berusaha sedang menyelamatkan nyawa Mamanya, ia percaya dengan pria matang itu.Tetapi hatinya masih merasa tidak tenang, setiap detik yang terlewat bagaikan jarum yang menusuk ke hatinya.“Tuhan, tolong selamatkan Mamaku,” gumam Aurora berdo'a dengan lirih.Rasanya Aurora ingin menangis, matanya sudah memerah, kakinya bergerak gelisah, seluruh anggota tubuhnya merasakan kepanikan yang sama.Hingga Aurora mendengar suara pintu terbuka, gadis itu langsung bangun dari duduknya menghampiri Leo yang berada di depan pintu dengan pakaian lengkapnya.“B-bagaimana keadaan Mama saya, Dok?” tanya Auro
“D-dokter Leo, tentang penawaran anda waktu itu saya menerimanya,” ucap Aurora dengan cepat tetapi suaranya begitu pelan dan mata yang tertutup rapat serta jantung yang berdetak tak beraturan.Hening….Aurora membuka matanya dengan perlahan, ia menatap Leo dengan pandangan yang sangat sulit diartikan.“D-dokter kenapa diam? A-apa penawaran itu sudah tidak berlaku?” tanya Aurora dengan meremas ujung pakaiannya, dan menggigit bibir bawahnya.“Jangan menggigit bibirmu seperti itu, Aurora!” peringat Leo dengan menelan ludahnya kasar hingga jakunnya terlihat bergerak naik turun.Aurora membungkam bibirnya, ia tidak tahu maksud Leo seperti apa tetapi jujur saja ia merasa takut.“J-jadi apakah penawaran itu masih berlaku, Dok?” tanya Aurora menahan rasa malunya yang bertentangan dengan hati nuraninya.Ia ingin menghindari semuanya, tetapi keadaan memaksanya untuk menerima penawaran Leo. Ada rasa marah terhadap dirinya sendiri sekaligus terhadap Leo, tetapi Aurora tidak bisa berbuat apa-apa


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.