Share

[BAB 2] Pengkhianatan Besar

Seiring langkah sosok siluet itu menuju titik keberadaan enam penyihir, kabut-kabut ungu kehitaman membuat makhluk hidup di sekelilingnya layu. Mati hanya dalam hitungan detik. Hutan yang sudah hampir mati tak bernyawa, kini semakin menjadi hitam pekat. 

Pepohonan seketika membengkok karena ranting-rantingnya tidak bernyawa. Akar-akarnya seakan kaku, makhluk-makhluk melolong kesakitan sebab jiwa mereka dicabut paksa. 

Tanda-tanda seperti ini… keenam penyihir sudah bisa mengetahui siapa yang datang. 

"Sang Bayang Hitam," lirih Narvi, memandang khawatir sosok siluet yang disembunyikan kabut pekat. 

Aslyn menggeram kesal. Dia menjulurkan Agyss merah miliknya ke arah sosok siluet itu. 

"Mavesto Ila—ah!" Aslyn langsung terlempar ke samping, menghantam batang pohon besar yang sudah mati. 

"Aslyn!" Narvi dan Maggni berseru serempak. 

Aslyn mengerang memegang dadanya. Serangan sihir kabut yang tiba-tiba melesat cepat seakan menusuk dadanya. Sekuat mungkin Aslyn mencengkeram bola kekuatan Agyss miliknya agar terlepas dari tangannya. 

Tersulut kekesalan, Maggni menggertakkan gigi-giginya kepada sosok siluet yang tersembunyi di antara kabut pekat. Dia baru ingin menjulurkan Agyss merah miliknya, tetapi sesuatu terasa menusuk punggung, lalu melilit pinggangnya amat kuat. 

"Arghhh!" Maggni mengerang dengan kedua mata terpejam erat, merasakan sakit bagai seribu jarum menusuk. "P-panggil… panggil Zevana!" 

"Kalian berpikir akan bisa mengalahkanku?" 

Albus terkejut melihat pemandangan kedua penyihir hendak menyerang Sang Bayang Hitam, tetapi serangan sihir kabut menghunjam. Gryffin miliknya mulai terbang tidak stabil. Albus tidak bisa mengendalikan hingga gryffin-nya semakin lama semakin terbang lemah.

Tubuh Albus mendarat menggelinding ke tanah bersamaan gryffin-nya yang jatuh tertusuk runcing batang pohon. Rintihan sakit gryffin itu membekukan sekujur tubuh Albus. Kematian gryffin sama saja kematian sebagian hidupnya. 

"Tidak!" Albus berseru menjulurkan satu tangan dalam posisi terjerembab. "Tidak, Malvoy! Malvoy!" 

Sayang sekali, Malvoy—gryffin Albus—mati hitungan detik kemudian. 

Napas Albus tersengal-sengal karena emosinya tersulut. Manik matanya langsung berkilat marah. Albus mengalihkan pandangan kepada sosok siluet berkabut tak jauh darinya. Segera Albus menjulurkan Agyss biru. 

"Geviosa pellene!" 

Akar-akar mati pepohonan hampir saja ingin timbul dari tanah. Namun kabut ungu pekat yang melaju secepat kilat berubah menjadi akar lebih tebal, menahan pergerakan akar-akar dari sihir Albus. 

Sekuat mungkin Albus mempertahankan sihirnya meskipun akar-akar mati itu dililit habis oleh akar sihir Sang Bayang Hitam. Erangan Albus keluar selama mempertahankan sihirnya, tetapi lengan Albus langsung tersentak ke atas. Agyss miliknya terlempar. 

"Argh!" Albus berseru ketika sesuatu mulai melilit dari kaki hingga ke pinggang. "Umero Povetta!"

Berulang kali Albus berupaya mengeluarkan sihir dari telapak tangan. Sihir memutus akar sihir terkutuk yang melilit tubuhnya sekarang. Namun kekuatannya seakan hilang. 

"Dinding pelindungku tidak kuat bertahan lama!" Seruan Malvosa terdengar saat menjaga dinding pelindung beku. Agyss biru miliknya berkelap-kelip pertanda tingkat kekuatan menurun. 

Situasi menjadi genting. Albus, Maggni, dan Aslyn sudah terperangkap sihir kabut hitam. Dinding pelindung beku Malvosa tak lama kemudian pecah dan sihir kabut langsung menghunjam. Malvosa serta Narvi terlilit akar mati yang mencekik pernapasan mereka. 

Sementara Iluvia yang menunggangi gryffin langsung terjatuh ke tanah dan merintih. Agyss miliknya terlepas dari tangan. 

 

"KALIAN TIDAK BISA MENGHANCURKANKU!"

"GEVARUS MARVETTO!" 

Kabut sihir terkutuk yang bergerak seperti gelombang langsung menguap setelah gelombang sihir muncul tiba-tiba. Keenam penyihir sontak terperangah, lalu serempak mengalihkan pandangan ketika mendengar lolongan serigala. 

"Zevana?" Aslyn memanggil dengan lirih, menarik kedua sudut bibirnya membentuk senyum nanar. "Dia datang, akhirnya dia datang!"

Berlainan dengan Aslyn, ketiga penyihir lelaki—Narvi, Albus, dan Maggni—bersikap was-was melihat serigala abu-abu yang menjadi kendaraan Zevana. Mereka bertanya-tanya dalam diam: sejak kapan Zevana, seorang penyihir, berteman dengan seorang werewolf? 

Serigala abu-abu melesat cepat dari belakang, menembus barikade sihir buatan Zevana. Di hadapan kabut ungu pekat yang mematikan nyawa makhluk-makhluk dan kehidupan sekeliling, serigala abu-abu berhenti atas kemauan Zevana. 

"Nuvesalus mollis, suviante solum, ingerdian lousia!"

Setelah tiga mantra diucapkan, satu per satu makhluk-makhluk yang sudah mati perlahan bangkit. Erangan dari tiga makhluk sejenis raksasa terdengar menggema. Bersamaan dengan itu empat kilatan petir menggelegar, Zevana menghadapkan empat petir itu untuk menyerang pasukan makhluk sihir terkutuk. 

Lalu satu tangan Zevana bergerak seperti mengayunkan sesuatu ke depan.  

Lengkingan kesakitan melolong dari balik kabut akibat terkena petir yang menyambar. Ranting-ranting berubah menjadi tombak api dan melesat menuju sesuatu di balik kabut. Hanya suara gema seseorang mengerang—Zevana menduga itu karena serangan tombak apinya. 

"Zevana… kau datang…"

Zevana berdiri tegap seakan menantang kabut di depannya. Manik mata abu-abu yang tajam itu mengawasi sekeliling. Sejujurnya Zevana merasa sangat penasaran dengan wujud Sang Bayang Hitam. 

"Tentu saja. Kau pikir aku akan melarikan diri?!" Zevana balas berseru. 

"Ha-ha-ha!" Tawa menggelegar yang berat menggema. Jelas saja itu adalah ejekan. "Aku pikir kau sudah menjadi pecundang, Zevana!"

Kedua tangan Zevana mengepal kuat. Matanya sudah menyala putih pertanda kekuatan dalam dirinya semakin menggebu-gebu.

"Kalian semua penyihir-penyihir angkuh! Mengapa kalian tidak mempercayai ramalan kitab itu? Terlalu mudah bagiku menghancurkan kalian."

Zevana masih terdiam dengan tatapan mengawasi sekeliling. Semakin Zevana mencoba mengatur emosi, semakin emosi itu meletup lebih kuat. 

"Tunjukkan dirimu, Sang Bayang Hitam. Kau yang pengecut karena tidak berani keluar dari pelindung kabutmu!" 

Dari arah samping kanan depan Zevana, serangan kabut sihir hampir saja menghujam tubuhnya. Beruntung Zevana bisa menghindari serangan kabut sihir dari Sang Bayang Hitam. 

"Aku tidak akan membiarkanmu menguasai Negeri Amaphera!" Suara Zevana bertepatan dengan jatuhnya tombak petir di titik keberadaan Sang Bayang Hitam. 

Frans sudah berubah kembali menjadi manusia, memandang takjub Zevana dengan kekuatan hebatnya menyerang menggunakan tiga sihir langka. Api, membangkitkan kematian makhluk, dan kuasa petir. Diam-diam ia menunggu suatu reaksi akan muncul dari diri Zevana. 

"Claster—"

Pelafalan mantra Zevana langsung terhenti ketika merasakan rasa panas menusuk pada salah satu kakinya. Rasa panas yang seakan menembus kulit, daging, membakar kaki Zevana. 

 

"Argh…" Zevana melihat luka bakarnya bergerak menjalar dengan percikan api ke seluruh kulit kaki. "Apa ini?" 

Hanya dalam hitungan tiga detik, rasa panas itu semakin melebar dan mengebaskan sekujur kaki. Zevana tidak bisa memindahkan kakinya untuk mundur. 

"Andraca luves…" Zevana menggumamkan mantra penyembuh luka. "Argh! Apa ini?!"

Sayangnya, mantra penyembuh luka Agyss-nya tidak berpengaruh. 

Zevana tersentak mengangkat kepala saat dadanya seakan dihujam jarum-jarum kecil. Rasa sakit dari kaki mengalir di antara sel-sel darah menuju dada, meninggalkan tekanan kram luar biasa pada perut, dan menusuk ulu hatinya. 

"Zevana!" 

Seruan dari enam penyihir lain terdengar. Napas Zevana tercekat. Kini seluruh tubuhnya sungguh-sungguh tidak bisa bergerak. Zevana hanya bisa berdiri kaku, menatap sosok siluet di balik kabut dengan tajam.

"Inilah… inilah masa kejayaanku! Negeri Amaphera akan tunduk di bawah kuasaku!"

Zevana menggeram kesal. Ia tidak bisa berbuat apa pun. 

"Serahkan Agyss-nya ke padaku!"

Tangan Zevana masih mencengkeram erat Agyss miliknya. 

"Maafkan aku, Zevana." 

Mata Zevana melirik ke samping, melihat Frans mengambil paksa Agyss dari tangannya. Zevana merasa terkejut dan memandang Frans tak percaya. 

"Kau mengatakan kalau kau menyelamatkanku," ujar Zevana penuh penekanan marah. "Obat itu adalah jebakan?"

Frans sudah memegang Agyss milik Zevana. "Aku menyelamatkan Negeri Amaphera. Dia mengincar Agyss milikmu. Negeri Amaphera akan semakin hancur kalau benda ini tidak diberikan."

Zevana tidak bisa melawan saat bola kekuatan Agyss miliknya melayang bersama kabut hitam pekat. Warna putih Agyss itu perlahan berubah menjadi hitam seiring kabut sihir terkutuk menyelimuti. 

Tanah tiba-tiba berguncang. Tak lama kemudian tampak sebuah cahaya hitam penuh kabut menjulang ke langit. Dinding pelindung Zevana pecah, membuat sihir hitam langsung melesat menghunus enam penyihir yang saat itu terkulai lemas. 

Zevana sesak mendengar jeritan kesakitan keenam penyihir lain. Kabut ungu pekat mencabut inti jiwa mereka tanpa iba. Tak ada apa pun yang bisa dilakukan Zevana. Rasa panas menusuk tiba di tenggorokan—kematian benar-benar menunggu depan mata! 

Kedua mata Zevana terpejam erat, merapalkan mantra dalam hati. Namun semua mantra tak berfungsi. Seiring Agyss miliknya telah berubah, maka kekuatan diri Zevana akan hancur. 

"Selamat tinggal, Zevana."

Hanya itu kalimat terakhir yang didengar Zevana sebelum ia merasakan penyiksaan lebih besar. Jeritan sakit panjang Zevana melolong ketika sesuatu dalam tubuhnya ditarik paksa. 

Zevana baru terjatuh lemas setelah inti jantungnya dicabut paksa oleh Sang Bayang Hitam.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status