Share

Bab 5

Author: Fanita
Pada gambar yang menyertai postingan itu, terlihat satu kotak penuh kondom yang sudah dibuka.

Seluruh tubuhku menegang. Kedua tanganku mengepal erat.

Dengan tangan gemetar, aku menekan tombol panggil. Telepon berdering lama sebelum akhirnya diangkat.

"Halo, Naura?"

Suara Owen terdengar sedikit terengah-engah. Aku berusaha keras menahan getaran dalam suaraku dan hendak berbicara.

Namun, samar-samar terdengar desahan manja dari seberang telepon.

"Sayang ... lanjut, ya? Aku sudah nggak tahan ...."

Suaranya pelan, seolah berbisik di telinga, tetapi melalui telepon itu, setiap katanya menghantam hatiku dengan keras.

Terdengar jelas suara Owen menelan ludah. Ketika berbicara lagi, suaranya terdengar serak dan tergesa-gesa.

"Naura, proyek di sini agak rumit. Malam ini mungkin aku nggak bisa pulang. Jadilah anak baik dan tidurlah. Besok aku bakal membawakan kue kesukaanmu."

Aku memejamkan mata sejenak. Saat berbicara, suaraku dipenuhi kepedihan.

"Owen, pertama kali kau bersama Almira dulu, apa itu terjadi di ranjang pernikahan kita?"

Orang di seberang telepon terdiam selama dua detik. Saat Owen kembali berbicara, nadanya sudah dipenuhi kemarahan.

"Naura, bukannya kita sudah sepakat buat nggak membahas masalah itu lagi? Sudah enam tahun berlalu. Kenapa kau masih terus mempermasalahkannya? Selama bertahun-tahun ini, aku terus mengalah dan selalu membujukmu tanpa syarat. Apa itu masih belum cukup?"

"Apa lagi yang kau inginkan? Apa aku harus membelah dadaku dan memperlihatkan isi hatiku kepadamu?"

"Berhentilah membuat masalah, bisa nggak? Aku lelah."

Aku tertawa pelan. Jawabannya sudah sangat jelas.

Kalau begitu, memang tidak perlu lagi terus mempertahankan semuanya.

"Kau benar. Kita semua sudah lelah. Mari bercerai."

Telepon di seberang terdiam selama dua detik. Lalu terdengar dengusan dingin Owen.

"Terserah."

Nada sambung yang terputus terus berdenging di telingaku. Setiap bunyinya terasa seperti palu yang menghantam jantungku.

Aku terbaring di ruang operasi. Saat alat-alat medis yang dingin mulai masuk ke dalam tubuhku ....

Aku tiba-tiba teringat pemandangan yang kulihat di poliklinik kandungan tadi.

Pria itu dengan hati-hati merangkul Almira yang perutnya sudah sedikit membuncit.

Aku memejamkan mata dan tersenyum tipis. Ketika obat bius mengalir masuk ke pembuluh darahku, untuk pertama kalinya aku merasa terbebas.

Satu jam kemudian, sambil memegangi perut bagian bawah, aku berjalan tertatih-tatih menuju pintu poliklinik kandungan.

Begitu mengangkat kepala, aku melihat Owen berjalan lurus ke arahku.

"Naura, kau mengikutiku? Sejak kapan kau menjadi orang yang penuh kecurigaan seperti ini?"

Aku tidak punya tenaga untuk berdebat dengannya. Perut bagian bawahku terasa sangat sakit, sehingga tanpa sadar aku menundukkan kepala dan meringkuk sedikit.

Namun, Owen mengira aku merasa bersalah dan tidak berani menatapnya.

Kemarahan melintas di matanya. Dia segera melangkah maju dan mencengkeram tanganku.

"Kau pikir dengan menundukkan kepala seperti itu aku nggak bakal mengenalimu ...."

Namun, ketika melihat wajahku yang pucat mengerikan, dia seketika terdiam. Tanpa sadar dia bertanya, "Kenapa wajahmu sepucat ini?"

Aku menepis tangannya dengan kuat, lalu berdiri sambil menahan rasa sakit dan bersiap pergi, tetapi Owen kembali menghalangiku.

"Naura, jangan mempertaruhkan kesehatanmu cuma karena marah kepadaku."

Saat kami saling tarik-menarik, lembar tagihan yang ada dalam pelukanku jatuh berserakan ke lantai.

Tatapan Owen langsung terpaku di sana. Beberapa saat kemudian, dia bertanya dengan suara bergetar, "Aborsi tanpa rasa sakit ... apa maksudnya ini?"

Aku berbalik dan menatapnya dengan tenang. Kemudian, aku tersenyum tipis.

"Itu berarti anaknya sudah nggak ada. Hubungan kita juga sudah berakhir."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 11

    Tatapanku sempat terhenti sejenak, tetapi aku tidak terlalu memikirkannya. Aku langsung naik ke lantai atas dan membawa koperku turun.Sebelum pergi, aku menoleh untuk terakhir kalinya ke tempat yang telah kutinggali selama delapan tahun ini.Dulu, tempat ini menyimpan cinta paling tulus yang pernah kumiliki.Aku pernah mengira tempat ini akan menjadi tempatku tinggal seumur hidup.Namun, tidak kusangka, hanya dalam waktu delapan tahun, seluruh cinta itu telah berubah menjadi kehampaan, dan aku sendiri telah kehilangan jati diriku.Tiba-tiba pintu terbuka dari luar."Naura, kau pulang ...."Aku menoleh dan memandang orang yang datang itu. Sesaat, aku tertegun.Janggut Owen tampak tidak dicukur selama beberapa hari. Penampilannya terlihat lusuh dan terpuruk."Naura, kau mau pergi?"Aku mengangguk."Surat cerai sudah kau tanda tangani?""Naura, masalah Almira sudah kuselesaikan. Mulai sekarang, dia nggak bakal mengganggu kita lagi. Aku bersumpah, kali ini aku benar-benar tahu aku salah.

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 10

    Ketika Almira sekali lagi didorong ke dalam pelukan Owen yang sedang mabuk, pada akhirnya dia gagal menahan diri.Setiap kali selesai berselingkuh, dia selalu berusaha menebus kesalahannya dengan memperlakukan Naura jauh lebih baik, seolah dengan begitu pengkhianatannya bisa terhapus.Bahkan alasan Almira bisa mengandung juga karena setelah Naura keguguran akibat tekanan, dia tidak pernah berhasil hamil lagi.Owen berpikir bahwa jika ada seorang anak, Naura juga akan memiliki tempat untuk mencurahkan kasih sayangnya.Namun, dia tidak pernah menyangka Naura juga akan hamil pada saat yang sama. Semuanya terjadi begitu kebetulan, hingga dia tidak memiliki kesempatan untuk menghindar ataupun memperbaiki keadaan."Naura, izinkan aku berusaha untuk terakhir kalinya. Kalau setelah itu kau tetap nggak mau memaafkanku, aku ... aku ...."Owen mengepalkan tangannya. Bahkan hanya membayangkannya pun, dia merasa tidak sanggup.Dia mengusap air mata di sudut matanya, lalu melangkah menuju pintu kelu

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 9

    Nenek menatap Owen dengan sorot mata yang rumit, lalu mengajukan sebuah pertanyaan."Owen, masih ingat seperti apa Naura ketika pertama kali kau membawanya pulang ke rumah?"Owen tertegun sesaat dan teringat pada Naura saat itu.Sensitif, penakut, dan tidak pernah mudah membuka hatinya kepada orang lain.Naura adalah teman sebangkunya di SMA. Owen jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Saat itu, Owen berusaha sekuat tenaga untuk memperlakukannya dengan baik, tetapi tidak pernah mendapatkan balasan.Bahkan tidak pernah memberinya tatapan lebih.Owen sangat kecewa dan pernah berpikir untuk menyerah.Namun, suatu hari, sepulang sekolah, dia melihat Naura sedang dirundung oleh seorang bocah laki-laki, tetapi Naura hanya diam menerimanya.Owen tidak tahan melihatnya dan maju untuk memberi pelajaran kepada anak itu. Awalnya, dia mengira Naura akan mulai memandangnya berbeda.Namun, keesokan harinya, dia justru melihat Naura datang ke sekolah dengan pipi bengkak.Setelah mencari tahu, di

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 8

    Sejak saat itu, aku pun tinggal di rumah lama.Sejak ibu meninggal, nenek adalah satu-satunya orang di dunia ini yang pernah memberiku kasih sayang seorang orang tua.Aku menepuk pelan bahunya untuk menenangkannya, lalu berkata dengan suara lembut, "Nenek, aku nggak apa-apa. Semuanya sudah berlalu.""Aku sudah mengetahui semuanya dengan jelas. Kalau bukan karena wanita nggak tahu malu itu datang membuat keributan di hadapanku, aku nggak bakal tahu kalau bocah brengsek itu berani melakukan hal sehina ini."Dari cerita nenek, barulah aku tahu bahwa hari itu Owen membawa Almira untuk menggugurkan kandungan.Sebelum Almira masuk ke ruang operasi, Owen kebetulan melihatku yang baru keluar dari ruang operasi.Saat Owen sibuk terlibat pertengkaran denganku, Almira diam-diam kabur dari pintu samping menuju rumah lama.Dia memohon kepada nenek, demi anak Keluarga Hermanta yang sedang dikandungnya, nenek mau membiarkan garis keturunan ini tetap ada.Melihatku terdiam, nenek menggenggam tanganku

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 7

    "Hari ini, aku bukan menemaninya untuk pemeriksaan kehamilan. Aku cuma ...."Aku tertegun sesaat.Enam tahun lalu, Owen juga seperti ini, menangis sambil mengatakan bahwa semuanya itu hanyalah kecelakaan, bahwa dia akan mati tanpa diriku."Sudahlah. Nggak penting lagi." Aku memotong ucapannya dengan tenang, lalu mengeluarkan surat cerai dari dalam tas."Owen, cintamu terlalu murahan dan terlalu kotor. Simpan saja buat orang lain, aku nggak sanggup menerimanya.""Mungkin ini juga lebih baik. Di antara kita nggak ada lagi ikatan karena anak. Dia juga nggak perlu datang ke dunia ini cuma buat menderita.""Sebenarnya aku berencana mengirimkannya kepadamu. Kebetulan kita bertemu sekarang, jadi tanda tangani saja."Aku mengembuskan napas perlahan dan menegakkan tubuh. Rasa sakit di perutku seolah tiba-tiba berkurang.Duri itu memang sudah seharusnya dicabut sejak lama.Hanya saja, beban perasaan yang kupikul terlalu berat, sampai aku pernah berpikir bahwa aku tidak akan bisa hidup tanpanya.

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 6

    Wajah Owen langsung berubah. Tatapannya dipenuhi kepanikan selama beberapa detik. Setelah lama terdiam, dia memaksakan sebuah senyum."Naura, jangan bercanda. Lelucon seperti ini sama sekali nggak lucu."Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tenang.Dengan ekspresi tidak percaya, Owen membaca lembar itu berulang kali.Tiba-tiba dia mengepalkan tangannya erat-erat hingga kertas itu menjadi gumpalan kusut.Detik berikutnya, dia mendongak. Kedua matanya memerah."Naura, kenapa? Itu anak yang sudah kita nantikan selama enam tahun. Bagaimana bisa kau ... bagaimana kau tega ...."Aku tertawa sinis."Kenapa aku nggak tega?""Masih ingat bagaimana anak pertama kita dulu pergi? Sekarang cuma sejarah yang terulang. Bedanya, kali ini aku nggak bakal sebodoh dulu untuk memercayaimu lagi."Wajah Owen yang semula dipenuhi amarah langsung membeku. Dia tampak panik sesaat, lalu buru-buru meraih tanganku."Naura, aku nggak tahu siapa yang mengatakan hal-hal nggak masuk akal itu kepadamu. Tapi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status