Short
Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran

Pengantin Wanita yang Menghilang Sebelum Lamaran

By:  BekzyCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
18Chapters
3views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Selama empat tahun pernikahan kami, kata yang paling sering diucapkan Darren Setiadi hanya satu. "Tunggu." Aku mau berlibur, tunggu sampai proyeknya selesai. Aku mau merayakan hari jadi pernikahan, tunggu sampai rapatnya selesai. Aku mau ditemani pulang ke kampung untuk menjenguk orang tuaku, tunggu dia ada waktu senggang. Bahkan hari ini adalah hari ulang tahunku. Setengah bulan sebelumnya, aku sudah bertanya apakah malam ini dia punya waktu. Setelah mendapat jawaban pasti darinya, aku menghabiskan satu sore penuh memasak semua hidangan kesukaannya sambil menunggunya pulang. Namun, dari pukul enam sore hingga pukul sembilan malam, dia tetap belum juga pulang. Saat itu pula, berita malam mulai ditayangkan di televisi. [Pewaris Grup Setiadi rela berhujan demi menjemput cinta sejatinya sepulang kerja. Kisah lama mereka kembali bersemi!] Begitu mendengar sebutan familiar tersebut, aku refleks mengangkat kepala. Di layar, aku melihat pria itu memayungi seorang wanita berpakaian tipis, lalu merangkulnya erat ke dalam pelukan. Dari pintu gedung perkantoran hingga mobil Maybach yang terparkir, jaraknya jelas hanya beberapa langkah. Namun sepanjang jalan itu, payungnya terus dimiringkan ke arah wanita tersebut, sehingga bahu di sisi lain pria itu basah diguyur hujan. Ponselku tiba-tiba berbunyi. Sebuah pesan dari Darren. [Ada urusan. Tunggu aku pulang.] Aku pikir aku sudah terbiasa menunggunya. Aku pikir aku akan duduk diam di depan meja makan sambil menunggunya pulang. Namun ketika melihat jas di bahu pria itu yang basah oleh hujan di layar televisi, entah kenapa aku tiba-tiba tidak ingin menunggunya lagi.

View More

Chapter 1

Bab 1

Aku menyalakan lilin ulang tahun seorang diri, lalu memejamkan mata dan mengucapkan harapan.

"Semoga di usia yang baru ini, Shellen Jiyan bisa hidup bahagia."

Ini adalah harapan ulang tahun pertama dalam empat tahun pernikahan kami yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan Darren.

Selama ini harapanku tidak pernah berubah. Aku selalu berharap aku dan Darren bisa menua bersama hingga akhir hayat.

Kini aku hanya ingin diriku sendiri bahagia.

Setelah meniup lilin, aku memotong sepotong kue.

Rasa blueberry. Rasa favorit Darren.

Bahkan di hari ulang tahunku sendiri pun, semua yang kupersiapkan selalu mengutamakan kesukaannya.

Begitu kue itu masuk ke mulut, rasa asam yang tidak kusukai memenuhi lidahku.

Pada akhirnya, kita tidak akan pernah bisa memaksa diri menyukai hal-hal yang memang tidak kita sukai.

Begitu pula dengan kue ini. Begitu pula dengan seseorang. Seberapa keras pun aku berusaha membiasakan diri, itu tetap saja tidak ada gunanya.

Aku membuka aplikasi pemesanan tiket, lalu membeli tiket kereta terakhir malam ini menuju kampung halamanku.

Sejak menikah, aku belum pernah pulang sekali pun.

Setiap kali aku mengajak pulang, Darren selalu berkata bahwa dia sedang sibuk. Katanya, dia akan menemaniku nanti kalau sudah ada waktu.

Aku terus menunggu, menunggu, dan menunggu.

Namun, hari yang dia sebut lain kali itu tak pernah benar-benar datang.

Sampai akhirnya hari ini, aku tidak perlu menunggunya lagi.

Aku bisa menaiki kereta pulang seorang diri.

Saat menyeret koper keluar rumah, berita di televisi masih terus berlanjut.

Melihat mobil itu belum juga melaju, seorang wartawan memberanikan diri mewawancarainya dari balik jendela mobil.

"Pak Darren, hari ini Anda rela menerobos hujan untuk menjemput cinta sejati Anda pulang kerja. Apa Anda tidak takut istri Anda marah setelah mengetahui hal ini?"

"Tidak. Aku hanya mengantar teman lama pulang." Biasanya Darren tidak pernah mau menjawab pertanyaan seperti itu. Entah mengapa, hari ini dia justru menjawabnya. Nada suaranya tetap tenang, penuh wibawa khas seorang yang terbiasa berada di puncak.

"Lagipula, istriku selalu lembut dan pengertian. Dia tidak akan marah kepadaku. Sekarang pun dia masih menungguku di rumah untuk makan malam bersama."

Tepat ketika kata terakhirnya terucap, aku membawa koper dan berjalan sampai ke depan pintu.

Setelah mendengar jawabannya, aku hanya tersenyum tipis, lalu menutup pintu di belakangku.

Darren tidak tahu, mulai hari ini, aku tidak akan pernah menunggunya lagi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
18 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status