ログインPada hari renovasi rumah pernikahan kami selesai, aku menyadari bahwa lukisan bunga begonia di dinding kamar utama telah diganti. Diganti dengan sebuah lukisan bunga matahari. Aku bertanya kepada Andi, dan dia menjawab dengan santai, "Sinta menyukai lukisan ini, jadi aku ganti saja." "Lagipula, kau juga tidak paham hal-hal begini." Padahal lukisan bunga begonia itu dibuatkan oleh ibuku sebelum dia meninggal. Aku menatap dinding itu tanpa berkata apa pun. Andi mengira aku akan menangis lagi, nada suaranya terdengar tidak sabar. "Jangan membesar-besarkan masalah hanya karena sebuah lukisan." "Sinta hanya membantu mengawasi renovasi, seleranya lebih bagus darimu." Belakangan aku baru tahu, tidak hanya lukisan itu saja. Rak lemari di ruang ganti pakaian diubah menyesuaikan tinggi badan Sinta. Dapur dipilih dengan warna putih susu kesukaannya. Bahkan lampu nakas di samping tempat tidur, diganti oleh Andi setelah Sinta berkomentar, "Kalau terlalu terang, nanti susah tidur." Dulu aku mengira, ini adalah rumah pernikahan kami. Ternyata, aku hanyalah orang yang diizinkan untuk tinggal di sini. Melihatku menyimpan kembali kuncinya, Andi akhirnya mengernyit. "Kau mau membuat keributan apa lagi?" Aku menggelengkan kepala pelan. Di luar jendela, bunga begonia sedang bermekaran dengan indah. Namun tiba-tiba aku teringat, bunga yang layu tidak pernah menimbulkan suara. Sama seperti saat aku melepaskannya.
もっと見るSaat Andi kembali datang ke rumahku, lukisan bunga begonia sudah kembali tergantung di dinding.Dimas baru saja pergi, dan di depan pintu masih ada pot bunga begonia yang baru diganti.Aku membuka pintu, Andi berdiri di bawah anak tangga tanpa membawa hadiah maupun berkas apa pun.Dia berkata, "Aku datang untuk meminta maaf."Aku tidak mengizinkannya masuk, "Katakan saja."Andi menatap lukisan itu, dengan suara serak, dia berkata, "Soal lukisan, soal rumah pernikahan, soal Sinta, dan soal aku yang selama ini menganggap pengorbananmu sebagai sesuatu yang wajar ... semuanya adalah salahku."Aku mendengarkan dengan tenang, tanpa ada gejolak apa pun di dalam hati.Dia mengeluarkan cincin pertunangan itu dari sakunya, di bagian dalam cincin masih tampak goresan tipis, lalu berkata lirih, "Aku sudah meminta orang untuk memperbaikinya, tapi bekasnya tetap tidak bisa hilang."Aku berkata, "Sesuatu yang pernah rusak memang akan selalu meninggalkan bekas."Mata Andi sedikit memerah, "Nola, aku s
Pukul tiga sore, Andi memasuki ruang rapat bersama timnya.Saat melihatku duduk di kursi utama, langkahnya jelas terhenti sejenak.Aku berdiri seperti saat menyambut rekan bisnis biasa, "Pak Andi, silakan duduk."Pandangan Andi tertuju pada kartu identitas kerjaku.Dulu dia pernah berkata bahwa setelah menikah, aku tidak perlu bekerja sekeras ini karena Keluarga Fuwasa mampu menghidupiku.Saat itu aku menganggapnya hanya sebagai bentuk perhatian dan kasih sayangnya kepadaku.Setelah presentasi proyek dimulai, aku mendorong dokumen proposal ke hadapannya."Ini adalah anggaran dan jadwal pengerjaan yang sudah kami sesuaikan. Kalau Pak Andi tidak keberatan, maka perjanjian tambahannya sudah dapat ditandatangani minggu depan."Andi membuka dua halaman, lalu bertanya, "Kau yang bertanggung jawab?"Aku menjawab, "Iya."Dia menatapku, lalu berkata, "Kondisimu sekarang tidak stabil, ganti dengan orang lain untuk berkoordinasi denganku."Ruang rapat menjadi sunyi.Aku tersenyum tipis dan menang
Saat Dimas sedang memperbaiki lukisan itu, aku duduk di sampingnya sambil menyusun daftar hal-hal yang harus dibereskan setelah pernikahan dibatalkan.Dia berkata, "Bekas lipatannya bisa memudar, tapi tidak mungkin hilang sepenuhnya."Aku menjawab, "Tidak apa-apa kalaupun masih terlihat."Dimas mengangkat pandangannya ke arahku, lalu bertanya, "Bukannya dulu kau paling takut kalau lukisan ini sampai rusak?"Aku mengirimkan konfirmasi pengembalian dana hotel ke bagian keuangan, kemudian menjawab dengan tenang, "Dulu aku takut, karena selalu merasa masih banyak hal yang tidak boleh rusak."Dia tidak bertanya lagi.Terdengar suara ketukan dari pintu.Andi berdiri di luar, membawa sarapan di tangannya, nada suaranya terdengar jauh lebih lembut daripada kemarin, "Kau punya sakit maag, makanlah dulu sedikit."Aku menolak dengan singkat, "Tidak perlu."Dimas mengangkat kepala dari depan kanvas, "Dia sudah makan."Andi melihat semangkuk bubur di meja, tatapannya langsung menggelap, dan berkata
Aku kembali ke rumah lama peninggalan ibuku dan memesan makanan.Saat bel pintu berbunyi, aku mengira itu adalah pengantar makanan.Setelah membuka pintu, tampak Andi sedang berdiri di luar sambil memeluk lukisan bunga begonia itu. Ujung lengan jasnya berdebu, dan di sudut matanya dipenuhi gurat merah karena kurang tidur.Dia berkata, "Lukisannya sudah kubawa kembali."Aku memandang lukisan itu dan berkata, "Terima kasih."Dua kata yang terdengar begitu sopan itu justru membuat raut wajahnya langsung membeku.Dia mengulurkan lukisan itu ke depan sambil berkata, "Aku sudah menyuruh orang untuk membingkai ulang, kanvasnya bisa diperbaiki, dan rumah pernikahan kita juga bisa diubah sesuai keinginanmu."Aku menerima lukisan itu, tanpa mengizinkannya masuk, lalu berkata, "Tidak usah, lukisannya akan kuperbaiki sendiri."Andi menatap jari manisku yang kini kosong dan bertanya, "Mana cincinmu?"Aku menjawab, "Sudah kuberikan padamu.""Bukan itu maksudku." Suaranya merendah, "Nola, kata-kataku












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.