Share

Bab 4

Author: Fanita
"Naura, selama bertahun-tahun ini, demi dirimu, sudah berapa banyak acara sosial yang kutolak? Kau nggak bisa menjatuhkanku hukuman mati cuma karena hal sekecil ini. Jangan marah lagi, ya?"

"Aku sangat lelah. Biarkan aku beristirahat sebentar, ya?"

Aku masih berjongkok di tempat, mencium aroma parfum yang terus menguar kuat dari tubuhnya.

Rasa mual yang selama ini kutahan akhirnya tidak sanggup lagi kubendung. Aku memuntahkan semuanya ke tubuh Owen.

Wajah Owen seketika berubah muram.

Namun, sebelum dia sempat berkata apa pun, pandanganku tiba-tiba menghitam dan aku langsung kehilangan kesadaran.

Saat terbangun kembali, aku sudah terbaring di ranjang rumah sakit.

"Naura, kau sudah sadar?"

Melihatku membuka mata, Owen langsung menggenggam tanganku dengan gembira.

"Dokter bilang kau hamil. Usianya hampir dua bulan. Aku bakal menjadi ayah!"

Perasaan haru dan kegembiraan di wajahnya tampak begitu tulus, seolah-olah dia sudah lama menantikan kehadiran anak ini.

Dulu, setelah memergoki perselingkuhannya, aku begitu terpukul hingga mengalami keguguran. Dokter mengatakan kondisi tubuhku ikut terdampak dan akan sulit untuk hamil lagi.

Selama bertahun-tahun ini, demi memulihkan kesehatanku, Owen sering memasakkan berbagai hidangan herbal untukku. Dia bahkan hampir menjadi ahli kesehatan karena itu.

Kerabat dan teman-teman semua iri padaku.

Hanya aku yang tahu bahwa semua itu hanyalah bentuk rasa bersalahnya dan upayanya untuk menenangkan hati nuraninya.

Melihatnya begitu gembira hingga tidak tahu harus berbuat apa, aku justru teringat postingan Almira setelah Owen pergi semalam.

[Aku benar-benar nggak mau dia pulang menemani istri tuanya itu, jadi aku berbohong bahwa kandunganku nggak stabil dan berhasil membuatnya datang ke sini. Hehe.]

Aku menundukkan kepala dan tanpa sadar mengusap perutku. Hatiku terasa kosong.

Mungkin aku dan Owen memang ditakdirkan tidak berjodoh. Karena setiap kali seorang anak datang ke dalam hidup kami, waktunya selalu tidak tepat.

Aku menarik kembali tanganku. Tidak ada sedikit pun kegembiraan di wajahku.

Melihat reaksiku, rasa bersalah melintas di wajah Owen.

"Maaf, Naura. Aku yang salah. Aku nggak seharusnya mengabaikanmu demi pekerjaan. Jangan khawatir, mulai hari ini aku bakal pulang lebih awal setiap hari buat menemani kau dan bayi kita."

Sejak pulang dari rumah sakit hari itu, Owen seperti berubah menjadi orang lain. Begitu selesai bekerja, dia langsung pulang ke rumah.

"Naura, sekarang kau lagi hamil, jadi harus memperhatikan asupan gizi. Aku sengaja belajar dari internet. Coba cicipi, enak nggak?"

Sambil berbicara, Owen menyendok semangkuk sup dan mendorongnya ke hadapanku. Dia menatapku dengan penuh harap.

Aku diam-diam mengambil sendok, mencicipinya, lalu mengangguk.

Wajah Owen langsung dipenuhi kegembiraan. Namun, saat melihat aku berdiri tanpa alas kaki di lantai, ekspresinya kembali serius.

"Kenapa nggak memakai sandal lagi?"

Dia berdiri, mengambil sepasang sandal katun dari rak sepatu, lalu berlutut di depan kakiku untuk memakaikannya.

Aku memandangi sosok Owen yang sibuk mondar-mandir tanpa mengatakan apa pun.

Dia tampaknya benar-benar menantikan kelahiran anak ini.

Begitu kami pulang, dia langsung memasang pelindung benturan pada setiap sudut furnitur di rumah. Bahkan karena khawatir lantainya licin, dia secara khusus memasang karpet di seluruh rumah.

Untuk sesaat, aku hampir kembali tenggelam dalam ilusi itu.

Namun, tamparan kenyataan selalu datang tanpa peringatan.

Malam itu, di luar jendela, kilat menyambar dan guntur bergemuruh.

Owen sedang memegang sebuah buku cerita untuk pendidikan pralahir dan membacakannya kepada bayi dalam kandunganku dengan penuh semangat.

Suasana yang hangat itu tiba-tiba terganggu oleh dering telepon yang nyaring.

Owen melirik layarnya lalu segera mematikannya. Namun, orang di seberang sana tidak menyerah. Telepon itu terus berdering berulang kali.

Aku yang mulai terganggu akhirnya berkata datar, "Nggak diangkat?"

Owen ragu sejenak, lalu dia bangkit dan pergi ke ruang tamu.

Beberapa saat kemudian, dia buru-buru masuk untuk berganti pakaian. Raut cemas sempat melintas di wajahnya.

"Naura, ada urusan mendesak yang mengharuskanku keluar. Tidurlah dulu, jangan menungguku."

Aku menatapnya sekilas, lalu mengangguk tanpa berkata apa-apa.

Tidak lama kemudian, aku melihat postingan baru dari Almira.

[Tahun ini genap enam tahun kami bersama. Aku mengancamnya kalau dia nggak datang, aku bakal membesarkan anak ini sendirian. Benar saja, dia langsung panik dan buru-buru datang. Tiba-tiba aku teringat pertama kali kami bersama. Di ranjang pernikahannya, tepat di bawah foto pernikahannya dengan istrinya. Benar-benar membuatku rindu masa itu ....]

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 11

    Tatapanku sempat terhenti sejenak, tetapi aku tidak terlalu memikirkannya. Aku langsung naik ke lantai atas dan membawa koperku turun.Sebelum pergi, aku menoleh untuk terakhir kalinya ke tempat yang telah kutinggali selama delapan tahun ini.Dulu, tempat ini menyimpan cinta paling tulus yang pernah kumiliki.Aku pernah mengira tempat ini akan menjadi tempatku tinggal seumur hidup.Namun, tidak kusangka, hanya dalam waktu delapan tahun, seluruh cinta itu telah berubah menjadi kehampaan, dan aku sendiri telah kehilangan jati diriku.Tiba-tiba pintu terbuka dari luar."Naura, kau pulang ...."Aku menoleh dan memandang orang yang datang itu. Sesaat, aku tertegun.Janggut Owen tampak tidak dicukur selama beberapa hari. Penampilannya terlihat lusuh dan terpuruk."Naura, kau mau pergi?"Aku mengangguk."Surat cerai sudah kau tanda tangani?""Naura, masalah Almira sudah kuselesaikan. Mulai sekarang, dia nggak bakal mengganggu kita lagi. Aku bersumpah, kali ini aku benar-benar tahu aku salah.

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 10

    Ketika Almira sekali lagi didorong ke dalam pelukan Owen yang sedang mabuk, pada akhirnya dia gagal menahan diri.Setiap kali selesai berselingkuh, dia selalu berusaha menebus kesalahannya dengan memperlakukan Naura jauh lebih baik, seolah dengan begitu pengkhianatannya bisa terhapus.Bahkan alasan Almira bisa mengandung juga karena setelah Naura keguguran akibat tekanan, dia tidak pernah berhasil hamil lagi.Owen berpikir bahwa jika ada seorang anak, Naura juga akan memiliki tempat untuk mencurahkan kasih sayangnya.Namun, dia tidak pernah menyangka Naura juga akan hamil pada saat yang sama. Semuanya terjadi begitu kebetulan, hingga dia tidak memiliki kesempatan untuk menghindar ataupun memperbaiki keadaan."Naura, izinkan aku berusaha untuk terakhir kalinya. Kalau setelah itu kau tetap nggak mau memaafkanku, aku ... aku ...."Owen mengepalkan tangannya. Bahkan hanya membayangkannya pun, dia merasa tidak sanggup.Dia mengusap air mata di sudut matanya, lalu melangkah menuju pintu kelu

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 9

    Nenek menatap Owen dengan sorot mata yang rumit, lalu mengajukan sebuah pertanyaan."Owen, masih ingat seperti apa Naura ketika pertama kali kau membawanya pulang ke rumah?"Owen tertegun sesaat dan teringat pada Naura saat itu.Sensitif, penakut, dan tidak pernah mudah membuka hatinya kepada orang lain.Naura adalah teman sebangkunya di SMA. Owen jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Saat itu, Owen berusaha sekuat tenaga untuk memperlakukannya dengan baik, tetapi tidak pernah mendapatkan balasan.Bahkan tidak pernah memberinya tatapan lebih.Owen sangat kecewa dan pernah berpikir untuk menyerah.Namun, suatu hari, sepulang sekolah, dia melihat Naura sedang dirundung oleh seorang bocah laki-laki, tetapi Naura hanya diam menerimanya.Owen tidak tahan melihatnya dan maju untuk memberi pelajaran kepada anak itu. Awalnya, dia mengira Naura akan mulai memandangnya berbeda.Namun, keesokan harinya, dia justru melihat Naura datang ke sekolah dengan pipi bengkak.Setelah mencari tahu, di

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 8

    Sejak saat itu, aku pun tinggal di rumah lama.Sejak ibu meninggal, nenek adalah satu-satunya orang di dunia ini yang pernah memberiku kasih sayang seorang orang tua.Aku menepuk pelan bahunya untuk menenangkannya, lalu berkata dengan suara lembut, "Nenek, aku nggak apa-apa. Semuanya sudah berlalu.""Aku sudah mengetahui semuanya dengan jelas. Kalau bukan karena wanita nggak tahu malu itu datang membuat keributan di hadapanku, aku nggak bakal tahu kalau bocah brengsek itu berani melakukan hal sehina ini."Dari cerita nenek, barulah aku tahu bahwa hari itu Owen membawa Almira untuk menggugurkan kandungan.Sebelum Almira masuk ke ruang operasi, Owen kebetulan melihatku yang baru keluar dari ruang operasi.Saat Owen sibuk terlibat pertengkaran denganku, Almira diam-diam kabur dari pintu samping menuju rumah lama.Dia memohon kepada nenek, demi anak Keluarga Hermanta yang sedang dikandungnya, nenek mau membiarkan garis keturunan ini tetap ada.Melihatku terdiam, nenek menggenggam tanganku

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 7

    "Hari ini, aku bukan menemaninya untuk pemeriksaan kehamilan. Aku cuma ...."Aku tertegun sesaat.Enam tahun lalu, Owen juga seperti ini, menangis sambil mengatakan bahwa semuanya itu hanyalah kecelakaan, bahwa dia akan mati tanpa diriku."Sudahlah. Nggak penting lagi." Aku memotong ucapannya dengan tenang, lalu mengeluarkan surat cerai dari dalam tas."Owen, cintamu terlalu murahan dan terlalu kotor. Simpan saja buat orang lain, aku nggak sanggup menerimanya.""Mungkin ini juga lebih baik. Di antara kita nggak ada lagi ikatan karena anak. Dia juga nggak perlu datang ke dunia ini cuma buat menderita.""Sebenarnya aku berencana mengirimkannya kepadamu. Kebetulan kita bertemu sekarang, jadi tanda tangani saja."Aku mengembuskan napas perlahan dan menegakkan tubuh. Rasa sakit di perutku seolah tiba-tiba berkurang.Duri itu memang sudah seharusnya dicabut sejak lama.Hanya saja, beban perasaan yang kupikul terlalu berat, sampai aku pernah berpikir bahwa aku tidak akan bisa hidup tanpanya.

  • Retakan yang Tak Bisa Disatukan   Bab 6

    Wajah Owen langsung berubah. Tatapannya dipenuhi kepanikan selama beberapa detik. Setelah lama terdiam, dia memaksakan sebuah senyum."Naura, jangan bercanda. Lelucon seperti ini sama sekali nggak lucu."Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya dengan tenang.Dengan ekspresi tidak percaya, Owen membaca lembar itu berulang kali.Tiba-tiba dia mengepalkan tangannya erat-erat hingga kertas itu menjadi gumpalan kusut.Detik berikutnya, dia mendongak. Kedua matanya memerah."Naura, kenapa? Itu anak yang sudah kita nantikan selama enam tahun. Bagaimana bisa kau ... bagaimana kau tega ...."Aku tertawa sinis."Kenapa aku nggak tega?""Masih ingat bagaimana anak pertama kita dulu pergi? Sekarang cuma sejarah yang terulang. Bedanya, kali ini aku nggak bakal sebodoh dulu untuk memercayaimu lagi."Wajah Owen yang semula dipenuhi amarah langsung membeku. Dia tampak panik sesaat, lalu buru-buru meraih tanganku."Naura, aku nggak tahu siapa yang mengatakan hal-hal nggak masuk akal itu kepadamu. Tapi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status