Share

Salah Paham

Penulis: Pulungan
last update Tanggal publikasi: 2026-01-20 15:03:21

Suasana taman pagi itu terlihat ramai oleh orang-orang yang sedang car free day an dengan pasangan atau teman masing-masing.

Di sudut lain terlihat dua remaja yang sedang berbincang serius, Rigecherta dan Prita yang berdiri berhadapan terlihat akrab.

" Kenapa?" Tanya Rigecherta tanpa basa-basi.

"Sorry kalo gue ganggu waktu lo, tapi papa kecelakaan dan belakangan suka mimpi sambil manggil-manggil nama lo" ucap Prita memberi tahu dan menatap Rigecherta penuh harap.

"Terus?" Tanya Rigecherta cuek.

"Please sekali aja temuin dia, kasian dia selalu manggil lo. Kata dokter juga kalo lo datang bisa mempercepat penyembuhan." Bujuk Prita pada Rigecherta.

Prita adalah adik tiri dari Rigecherta, ayah Rigecherta dulu sangat menginginkan anak, dan ia dengan bodohnya mengira ibu Rigecherta tidak bisa memiliki keturunan dan ia memilih selingkuh dan menikahi perempuan lain. Tanpa ia ketahui saat ia pergi ternyata ibu Rigecherta sedang mengandung Rigecherta. Makanya Rigecherta sangat membenci ayahnya karena memilih berselingkuh dan meninggalkan ibunya yang sedang mengandung ia.

"Please Rige, demi kesehatan papa" bujuk Prita sambil memegang lengan Rigecherta karena Rigecherta masih tak merespon.

"Lo apaan sih" saat ia hendak menepis tangan Prita matanya tak sengaja menoleh ke arah samping dan membeku melihat Tivane berdiri di sana menatap dirinya, dengan Milenia di samping Tivane.

"Ayo Nia!" Ajak Tivane menarik tangan Milenia untuk pergi dari sana.

" VANE!" Panggil Rigecherta hendak menyusul namun Prita menahan tangan nya sementara Tivane berjalan cepat meninggalkan taman.

"Apa lagi sih?" Sentak Rigecherta langsung menarik kembali tangannya.

Saat Rigecherta ingin meninggalkan Prita, tiba-tiba handphone di genggaman Prita berdering dan terdengar suara panik dokter.

"Ya?! Kok bisa dok?" Tanya Prita sedikit keras membuat Rigecherta melihat ke arah nya.

" Iya, saya ke sana sekarang" Prita langsung mematikan sambungan dan menatap Rigecherta penuh harap.

"Please, keadaan papa kata dokter makin memburuk, ketemu sekali aja, ya?" Bujuk Prita membuat Rigecherta akhirnya mengangguk dan mereka bergegas ke rumah sakit.

Sampai di ruangan ayahnya, Rigecherta hanya diam dan menatap mereka dengan sorot mata yang campur aduk. Ia pun mengambil handphonenya dan mengirim chat kepada Tivane.

Rigecherta: Tivane. Kamu lagi dimana?

Namun pesan itu tak di baca oleh Tivane membuat Rigecherta mendecak.

"Rige" panggil ayahnya membuat ia menoleh.

"Kenapa?" Tanya Rigecherta pelan karena sudah lelah juga dia sini sejak tadi.

"Kamu udah gede ya sekarang" ucap ayahnya membuat ia memutar mata jengah.

" Iya" hanya itu yang ia keluarkan dari mulutnya. Padahal ingin sekali ia mengatakan ' ya iyalah, menurut Lo gue kecil Mulu gitu?' namun ia hanya bisa mengucapkan di hati karena kondisi ayahnya juga masih terbilang belum stabil.

" Rige mau pulang dulu, kasian mama nunggu di rumah sendirian" ucap Rigecherta membuat ayahnya menoleh sedih.

"Tapi masih hujan, kamu nanti bisa sakit. Tunggu reda dulu ya" ucap ayahnya karena memang sedang turun hujan membuat Rigecherta menghela nafas panjang dan kembali duduk ke sofa. Ia tidak ngapa-ngapain, hanya duduk dan melihat handphone nya beberapa kali, berharap pesannya di balas Tivane.

Sementara di tempat lain, Tivane sedang berbincang di kafe dengan Milenia sambil menunggu hujan reda.

"Jadi yang tadi tuh, orang yang pernah lo tabrak kan?" Tanya Milenia teringat saat mereka di Kalimantan.

"Iya, dan dia teman sebangku gue, tapi dia tuh selalu nge chat gue padahal udah punya pacar ngeselin banget tau nggak " ucap Tivane menggebu-gebu saat teringat Rigecherta selalu mendekatinya

" Lo yakin itu pacar dia?" Tanya Milenia hati-hati.

" Ya iyalah, udah jelas banget, padahal baru tadi pagi dia bilang dia nggak punya pacar, tapi tiba tiba udah ketemuan selesai ketemuan sama gue. Kan kadal emang" sungut Tivane membuat milenia manggut-manggut saja.

"Lo suka ya sama dia?" Tanya Milenia tiba-tiba.

"Nggak" ucap Tivane cepat.

" Iya juga, Lo kan udah mau di jodohin ya" ucap Milenia membuat Tivane teringat bahwa ayahnya pernah berkata ia akan di jodohkan. Ia pikir ayahnya hanya bercanda, ternyata itu benaran.

"Hm. Gue nggak kenal jugasih sama cowok nya" jawab Tivane singkat.

Mereka di sana sampai hujan mereda dan kembali pulang ke rumah masing-masing.

Saat sampai di rumah Tivane langsung mandi dan tidur karena besok harus kembali sekolah.

Di halaman rumahnya, ada Rigecherta yang baru sampai dan menatap lama ke arah balkon kamarnya, lalu kembali melajukan motornya kembali ke rumah.

Pagi hari menyambut dengan cerah. Di sekolah terlihat sudah ramai orang apa lagi hari ini adalah hari Senin, hari dimana di adakan upacara bendera.

Di dalam kelas 12 IPS 3 juga sudah heboh seperti pasar karena si Skyler sudah mulai menjahili orang karena bosan katanya. Namun di tengah ke kekacauan itu, satu orang terlihat hanya diam dan selalu menatap ke arah pintu masuk, seolah sedang menunggu seseorang.

Dan saat Tivane masuk ke dalam kelas senyum Rigecherta langsung mengembang dan hendak menyapa namun suara bel terdengar tepat saat Rigecherta ingin bersuara. Tivane pun tak menghiraukannya dan langsung keluar kelas setelah meletakkan tasnya untuk baris di lapangan.

" Rige, ayo baris tuh" ajak Veros membuat Rigecherta mengangguk dan berdiri sambil membawa topinya.

Suasana hening saat upacara berlangsung, namun Rigecherta hanya menatap ke arah Tivane yang berbaris sedikit di depan sementara ia di tengah. Rigecherta menghela nafas saat Tivane sama sekali tak menoleh ke arahnya.

Saat barisan bubar semua murid kembali ke kelas mereka masing-masing dan saat memasuki kelas Tivane tak duduk di bangku sebelah Rigecherta karena ada teman mereka yang tidak hadir. Ia memilih duduk bersama seorang siswi lain.

" Vane, kok di situ duduknya? Bukannya bangku lo di sini?" Tanya Rigecherta heran. Namun Tivane hanya menggeleng santai.

" Mau di sini aja sih. Kenapa emang?" Tanya Tivane jutek dan kembali melihat ke arah depan seolah tak mau menanggapi lagi. Rigecherta menghela nafas dan mengangguk saja.

" Lo kenapa Ge?" Tanya River saat melihat wajah pucat dan kusut Rigecherta.

"Nggak papa" jawab Rigecherta singkat.

"Guys. Pak Robi nggak masuk" ucap si ketua kelas membuat seisi kelas langsung girang karena jam kosong. Namun di tengah keributan itu lagi-lagi Rigecherta hanya meletakkan kepala nya ke meja dan memejamkan mata.

" Mabar yok, selagi jam kosong" ajak River membuat Skyler dan Veros hanya mengangguk ikut.

"Rige, Mabar yok" ajak River pada Rigecherta namun tak ada balasan.

"Oy" panggilnya lagi mengguncang lengan Rigecherta namun masih tak ada balasan.

"Aelah, lo tidur apa mati sih?" Decak Skyler karena kesal tak di sahut-sahut.

" Mulut lo anjir" umpat Veros tak suka.

"Kenapa sih nih anak?" Tanya River mengguncang lengan Rigecherta dan menegakkan tubuh Rigecherta.

"E-eh, Rige. Nggak lucu lo" panik mereka membuat Tivane menoleh dan mengerutkan kening saat melihat Rigecherta pucat dan lemas tak sadarkan diri.

"Dia kenapa? Padahal tadi masih baik-baik aja" gumam Tivane.

" Bawa ke UKS aja lah yok" ucap Veros panik membuat mereka menurut dan langsung membopong tubuh Rigecherta yang lemas.

Sampai di UKS mereka meletakkan Rigecherta ke ranjang UKS dan langsung di hampiri seorang dokter yang menjaga.

" Kenapa ini?" Tanya dokter tersebut.

" Nggak tau dok, tadi dia lagi tidur, pas di banguning ternyata pingsan" jelas Skyler membuat dokter langsung memeriksa membuat mereka menjauh memberi ruang.

" Tuh anak kenapa sih?" Decak Veros khawatir.

" Dia lagi demam, sama asam lambung nya juga naik" jelas dokter setelah selesai memeriksa Rigecherta membuat mereka mengangguk.

"Makasih dok" ucap mereka bersamaan.

" Sama-sama" jawab dokter lalu berlalu untuk mengambil obat.

"Yok lah, beli makan dulu sama dia" usul River membuat mereka mengangguk setuju.

" Ayo lah" sahut Skyler. Mereka berjalan ke luar namun saat di pintu mereka berpapasan dengan Tivane.

" Gimana keadaannya?" Tanya Tivane.

" Masih belum sadar, oh iya, Lo jaga dia dulu ya, kita mau beli makanan sama dia" ucap Veros membuat Tivane mengangguk.

Tivane langsung masuk setelah mereka pergi dan duduk di samping ranjang Rigecherta.

"Panas banget coy badannya" ucap Tivane kaget saat tak sengaja menyentuh lengan Rigecherta. Ia kemudian memeras handuk di pinggir ranjang dan meletakkannya di atas kepala Rigecherta.

Saat ia sedang mengompres kening Rigecherta, ia tak sengaja melihat liontin kalung yang selalu di pakai Rigecherta.

Deg!

Jantungnya berdetak kencang dan kepalanya terasa berdenyut melihat inisial liontin itu.

_waduh, kenapa nih?_

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Pulungan
happy reading
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 24/ Ending

    * Beberapa bulan kemudian * Sudah sekitar 6 bulan pernikahan mereka, kini Chesia terlihat sedang mengandung anak mereka, bulan ini usia kehamilannya 5 bulan. Perutnya sudah mulai membuncit namun masih belum terlalu besar karena baru 5 bulan. Chesia kini tampak sedang duduk santai di taman belakang rumahnya dengan Seriazer sambil nyemil dan membaca novel. Wanita itu tampak santai menghabiskan waktu si sana dengan dunianya sendiri sampai tidak sadar ada yang mendekat dari arah belakang dan langsung memeluknya. Chesia tersentak kaget dan menoleh mendapati wajah suaminya yang baru pulang dari kantor sedang bersandar di bahunya. " Udah pulang? Kok nggak salam? Kaget aku" ucap Chesia mengelus punggung tangan suaminya yang berada tepat di atas perutnya. " Udah salam kok tadi, tapi nggak ada yang nyahut, jadi aku datang ke sini" jawab Seriazer semakin endusel manja pada Chesia. " Oh iya kah? Maaf ya, kayaknya aku keasyikan baca novel" ringis Chesia mengusap lembut kep

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 23 S2/ Sah

    Seriazer telah satu Minggu di Indonesia. Selama itu juga, pemuda itu tak pernah terlihat diam sebentar saja di rumah nya, kalau nggak kekantor ya ke rumah Chesia. Ia hanya pulang malam untuk beristirahat membuat paman nya geleng-geleng kecil namun tetap membiarkan karena dari dulu Seriazer memang tak pernah berdiam lama-lama di rumah, Selalu ada saja kegiatannya, takau nggak ke danau ya ke perpus, kalau nggak ya.. ngintilin Chesia dari jauh. Malam sudah terlihat larut, Seriazer yang sedang menuang air minum di dapur menoleh saat melihat Rizky sedang duduk di meja makan sendirian. " Om, belum tidur?" Tanya Seriazer mendekat. " Nggak bisa tidur. Om tiba-tiba kangen sama Tante kamu" ucap Rizky membuat Seriazer menyernyit. " Kamu belum tau kan? Om dulu punya pacar, tapi putus karena saling gengsi dan ego yang sama-sama tinggi, sampai sekarang om masih belum bisa move on dari calon Tante kamu itu. Tapi.. dia udah nikah sama cowo lain sekarang" curhat Rizky membuat S

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 22 S2/ saingan sama adek sendiri.

    Chesia dengan cepat langsung melaju di depan Seriazer yang sedari tadi mengikutinya dengan santai di belakang. " Eci! Belok kanan dulu!" Seru Seriazer namun Chesia dengan cepat menggeleng dan memeletkan lidah meledak saat menoleh sedikit ke belakang. Seriazer yang melihat itupun terkekeh kecil dan menggeleng pelan. " Dasar bocah" gumam Seriazer akhirnya pasrah mengikuti gadis itu. Chesia sampai di depan rumahnya dan langsung memarkirkan motornya di depan gerbang. " Eh udah pulang non Chesia? Mau di masukin nggak motornya?" Tanya pak satpam yang dengan sigap berdiri. " Iya pak, ini kuncinya, makasih ya" ucap Chesia lalu berdiri di depan gerbang dengan tangan berkacak pinggang, seolah menunggu musuh bebuyutan. Motor Seriazer akhirnya sampai dan pemuda itu langsung membuka helm lalu turun dari motornya. " Kenapa mukanya masih di tekuk gitu? Masih marah hmm?" Tanya Seriazer lembut menghampiri Chesia dan merapikan rambut gadis itu karena habis ngebut di jalanan.

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 21 S2/ bertemu kembali

    Hari berganti terasa sangat cepat, bahkan tidak terasa kini sudah lima tahun sejak kejadian di bandara yang menguras air mata. Chesia terlihat lebih dewasa karena ia sekarang bukan lagi murid SMP melainkan mahasiswi di salah satu universitas yang ia impikan sedari dulu. Chesia terlihat sedang fokus pada dosen yang sedang mengajar di depan, sesekali tangannya akan mengetik cepat di handphone nya. Ia sedang chatan dengan Seriazer namun masih bisa mendengarkan walaupun sesekali akan tersenyum sendiri. " Chesia, nanti mau nongki dulu nggak di cafe depan?" Bisik teman Chesia namun tak ada sahutan karena Chesia sedang berbunga-bunga dengan chat Seriazer. " Chesi.. Chesia!" Panggil temannya itu membuat satu kelas termasuk dosen di depan menatap mereka berdua. Chesia sendiri sudah malu setengah mati apalagi melihat ekspresi teman sekelasnya yang sudah menahan tawa masing-masing. " Ada apa itu?" Tanya sang dosen menatapi keduanya. " Ohh.. nggak kok pak, tadi itu ada

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 20 S2/ berpisah

    Suasana bandara yang ramai siang itu seolah lenyap dalam pandangan Chesia. Gadis itu terus menangis dalam pelukan ayahnya tanpa peduli beberapa orang yang lewat memperhatikan nya yang menangis keras. Tivane dan Rigecherta hanya bisa menghela nafas kecil dan memilih menenangkan gadis itu dulu. " Kakak apaan deh? Alay banget" celatuk Vergean menatap kakak nya jengah. " Mamih.. aku masih mau ketemu sama kak Azer, aku masih pengen ngobrol sama dia.." lirih Chesia sesenggukan. " Mami udah bilang dari kemarin. Udah jangan jangan nangis lagi" ucap Tivane lembut mengusap air mata putri sulungnya itu. " Tapi sekarang gimana? Aku tau aku salah. Tapi aku juga nggak tau kalau dia hari ini mau berangkat" ucap Chesia menunduk dalam. " Sudah jangan nangis." Ucap Rigecherta menenangkan sambil memegang pundak putrinya. " Beneran udah berangkat ya?" Tanya Kiara terdiam di samping Rizky. Saat semua orang berusaha menenangkan Chesia. Seriazer datang dari belakang gadis

  • Rigecherta My Possesive Best Friend    Bab 19 S2/ bandara

    Setelah sesi foto bersama, Seriazer langsung pergi tanpa menunggu apa-apa lagi. Motornya melaju cepat di jalanan, sementara pikirannya penuh oleh pertanyaan mengapa Chesia tiba-tiba marah padanya serta kemungkinan kemungkinan buruk yang terus terngiang membuat kepalanya terasa penuh. Setelah sampai di depan gerbang rumah Chesia, pemuda itu langsung turun dari motor nya dengan cepat lalu melihat ke dalam karena gerbang itu tertutup. " Pak satpam!" Panggil Seriazer sedikit keras saat melihat ada satpam yang berjaga di sana. Satpam itu terlonjak dan bangun dengan cepat karna tadi sempat ketiduran. " Siapa den?" Tanya si satpam mendekat. " Temen Chesia pak, Chesia nya ada di dalam nggak?" Tanya Seriazer membuat pria itu menggeleng pelan. " Belum pulang den, tadi katanya mau jumpain temen." Jawab si satpam membuat Seriazer menyernyit heran. " Belum pulang? Dia ada bilang nggak tadi mau kemana?" Tanya Seriazer lagi. " Nggak ada den. Katanya suruh saya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status