Mag-log inBel pertanda masuk membuat semua murid yang tadinya berkeliaran mulai kembali ke kelas masing-masing. Kantin yang tadinya ramai juga mulai sepi karena para murid sudah masuk ke kelas masing-masing. Chesia, Lucky dan Seriazer juga mulai berjalan beriringan kembali ke kelas. Lucky tertinggal di belakang karena ia terhalang oleh kerumunan yang membuat ia terpaksa mundur. Saat sudah berada di belakang Chesia dan Seriazer, ia menatap keduanya yang terlihat mengobrol santai dan terkadang tertawa bersama. 'bjir. Serasa nyamuk gue di tengah-tengah mereka' gumam Lucky dalam hati dan tetap berjalan sambil manyun di belakang. Denting handphone nya membuat ia mengambil handphone nya dan melihat pesan yang terlihat ramai di grup angkatan. Viko: liat nih guyss. Ternyata si Kiara diam-diam nusuk si Chesi di dari belakang. Parah. Lucky mengetuk video berdurasi singkat yang memperlihatkan kan Kiara yang sedang berbincang dengan Reki, dan pas di saat Kiara mengatakan bahwa akan
Chesia menjaga Seriazer di UKS sampai istirahat pertama, karena setelah istirahat Seriazer berkata ia ingin kembali ke kelas saja. Karena tubuhnya sudah jauh lebih stabil dan lebih segar setelah istirahat di UKS jadi dokter yang menjaga pun membolehkan Seriazer untuk kembali ke kelas. Chesia juga kembali ke kelasnya karena akan ada ujian harian fisika hari ini. " Gimana? Lo yang nemenin si kakel garang di UKS? Kalian deket ya? Kok gue baru tau ya? Perasaan dulu lo nggak terlalu deket sama dia" ucap Kiara setelah Chesia duduk di sampingnya. " Yaa nggak gimana-gimana sih. Karena dia pernah bantu gue, jadi gue juga bantu dia. Itu aja kok" jawab Chesia. Nggak salah sih, hanya saja ia tidak mengatakan bahwa ia dan Seriazer pernah beberapa kali bertemu. " Oh iya. Kemarin si Reki chat gue. Katanya lo nggak angkat telpon dia ya? Kenapa? Kan lo suka sama dia? Kok di cuekin?" Tanya Kiara semangat membuat Chesia menghela nafas panjang. " Gue.. kayaknya nggak sesuka itu
Ruangan UKS itu terasa sunyi setelah para anggota PMR pergi, menyisakan Chesia dan dokter yang merawat serta Seriazer yang masih pingsan di atas bangsal. Chesia tetap di berdiri di samping bangsal Seriazer dengan wajah cemas bercampur dengan penasaran. " Gimana bu dokter? Dia nggak papa kan?" Tanya Chesia cepat setelah dokter itu selesai memeriksa kondisi Seriazer. " Dia cuma demam karna kecapean dikit. Nanti kalau dia udah bangun kamu kasih dia minum obat dulu ya. Oh iya, itu di depan ibu udah suruh orang buat beliin dia bubur, nanti pastiin dia makan ya" ucap dokter yang menjaga membuat Chesia menghela nafas lega dan mengangguk mantap. " Iya bu, terima kasih sebelumnya" ucap Chesia membuat dokter itu mengangguk kecil dan kembali ke meja nya. Chesia menyentuh kening Seriazer yang terasa panas dan memutuskan mengambil air di baskom dan handuk kecil dari lemari UKS. Chesia kembali duduk di tempatnya dan mengompres kening Seriazer pelan-pelan. Ia sendiri bing
Setelah selesai makan dan para bocil sudah pada mengantuk. Akhirnya mereka semua bubar. Di depan bangunan itu, mereka berkumpul untuk salam perpisahan dan berpelukan singkat, karena mereka akan kembali ke rumah dan ke dunia masing-masing. Seriazer juga ikut berdiri sopan di sana. Ia menyalimi semua mulai dari Veros, River, Skyler, Rigecherta dan para bini-bini mereka. Para bocil juga berpamitan pada Seriazer membuat senyum pemuda itu tak kunjung redup. " Dada kak Azer, kak Chesi, kak Lucky, kak Eri sama bocil semuaaa. Byee" lambai Vemia dari mobilnya, mereka pergi lebih dulu. " Yok lah pulang juga." Ajak River membuat Ella dan Leveri mengangguk. " Byee semua..!" Lambai Ella dan Leveri dari mobil. " Kami juga pamit dulu deh, Recky sama Kelly juga udah ngantuk kayaknya" ucap Luci memeluk Tivane singkat. " Bye-bye semua.. kami pulang yaa" lambai Kelly dan Recky. " Nggak ikut pulang kamu?" Tanya Tivane pada Lucky yang malah berdiri santai di sa
" Haloo semua, aku bawa member baru!" Seru Chesia masih menarik tangan Seriazer sampai semua orang yang ada di dalam ruangan itu melongo, melihat si Chesia yang bahkan jarang punya teman cowo kecuali anak mereka membawa seorang pemuda tampan. Para bocil sendiri langsung bersorak riang karena kakak kesayangan mereka ikut kemari. " Siapa itu Chesi? Pacar kamu kah?" Goda River paling brisik. Rigecherta sendiri sudah menatap datar, seolah tak mau anaknya yang masih ingin ia rawat seperti bayi itu memiliki pasangan secepat ini. " Ehh.. bukan. Ini kak Azer. Kakak kelas aku di sekolah, tadi pas kami jajan, kami ketemu di jalan, terus karna para bocil kenal sama kak Azer, kamu main bentar. Dia juga beliin kami pizza tadi, jadi karna dia baik, nggak mungkin di tinggal sendirian di luar, jadi aku bawa" jelas Chesia sedikit panik karena sudah di tatap oleh papinya. " Owalah.. beneran kalian kenal sama kakaknya?" Tanya Luci pada mereka yang langsung mengangguk semangat.
"Kakak!" Pekikan para bocah itu menghentikan obrolan keduanya. Chesia dan Seriazer sama-sama menoleh ke arah mereka yang berlarian sambil membawa makanan di tangan masing-masing. " Udah?" Tanya Chesia menatap mereka satu-persatu yang membawa makanan. " Udah. Kakak nggak jajan?" Tanya Kelly menatap Chesia. " Nggak, nanti aja makan sama yang lain" jawab Chesia merapikan rambut bocah itu yang sedikit berantakan karena lari-larian. " Nggak boleh minta ya kak" ucap Vergean menyembunyikan makanannya di belakang tubuh. " Dih? Pelit banget lo sama gue." Delik Chesia membuat Vergean menjulurkan lidah mengejek. " Nggak boleh gitu" Tegur Vemia membuat Vergean cengengesan. " Ayo makan. Duduk di sana aja" ucap Recky sudah berlari menuju salah satu meja tua tak di pakai di tepi gang itu. " Ayo kak Azer, kita bagi makanannya" ucap Vergean menarik tangan Seriazer. Seriazer tertarik pasrah karena di tarik oleh para bocil itu. " Lah? Gue yang kakaknya serasa ng
Kini ruangan Rigecherta itu sudah terasa lebih hangat dan lebih ringan setelah Rigecherta siuman dan mulai ikut menyahuti candaan serta kata-kata temannya. Tivane juga sudah lebih ceria tidak seperti dua hari belakangan yang selalu sedih dan lebih banyak diam, ia kini sudah tersenyum cerah dan mu
Tivane masih berdiri di gerbang dan menatap cowok dia tas motor tersebut dengan dahi mengerut heran. Pemuda itu membuka helmnya membuat Tivane sedikit mengangguk karena ternyata pemuda itu adalah Evan. " Apa tadi?" Tanya Tivane sambil keluar dari gerbang. " Jadi itu cowok yang bikin lo bat
Rigecherta menarik tangan Tivane untuk masuk ke rumah nya. Rigecherta masuk sambil melepas sepatu. " Rige pulang!" Ucap Rigecherta sambil membuka sepatunya dan langsung duduk di sofa di ikuti oleh Tivane yang duduk canggung tak jauh darinya. "Udah pulang dek?" Ibu Rigecherta datang dari dap
Keesokan harinya Tivane berangkat ke sekolah lebih semangat karena ia ingin menjumpai Rigecherta. ' sorry bikin lo nunggu lama Rige ' Tivane berkata dalam hati. "Papa boleh tanya sama kamu?" Tanya Aliandra saat mereka sedang berada di mobil dalam perjalanan ke sekolah. "Mau tanya apa pah?" Tan







