ログインSeriazer tertegun merasakan usapan singkat yang lembut itu di puncak kepalanya. Pikirannya terasa kosong dan santai saat gadis itu melakukannya. " Nggak papa. Sini usap lagi" ucap Seriazer mengambil tangan Chesia dan meletakkan tangan Chesia dia atas kepalanya. " Eh?" Kaget Chesia dengan mata melebar. " Usap lagi dong. Kakak suka." Ucap Seriazer membuat Chesia mendelik dan terkekeh kecil. " Modus" ucap Chesia namun tetap menuruti. Tangannya bergerak pelan di atas kepala Seriazer. " Mana ada modus. Kalau modus berarti kamu juga tadi modus dong" ucap Seriazer menyerang balik. " Refleks!" Ucap Chesia membela diri. " Untung refleks nya ke kakak ya, kalau ke cowo lain mereka pasti baper" ucap Seriazer tertawa kecil. " Emang kakak nggak baper?" Tanya Chesia menatap mata Seriazer dan menurunkan tangan nya dari kepala pemuda itu. " Baper lah. Siapa yang nggak baper di perhatiin sama cewe cantik?" Ucap Seriazer tengil membuat Chesia ternganga heran.
Seriazer terkekeh kecil dan merapikan sedikit rambut Chesia lalu tersenyum lebar, antara kagum, gemas dan sayang yang sangat tulus di wajahnya. " Lucu kok." Ucap Seriazer membuat Chesia menahan senyum dan mengangguk kecil dengan pipi merona. " Ayo naik lagi, kita lanjut jalan" ucap Seriazer mulai menaiki motornya kembali. Chesia naik kembali ke boncengan Seriazer dan duduk manis di sana. " Pegangan" ucap Seriazer membuat Chesia mengangguk dan menggenggam jaket Seriazer di bagian pinggang. " Jangan di situ, sini aja. Kakak takut kamu jatuh" ucap Seriazer menarik tangan Chesia agar melingkar di pinggangnya. Chesia membeku diam dengan badan yang otomatis maju memeluk tubuh pemuda di depannya. Apalagi ucapan Seriazer yang terdengar sangat lembut mengalun di telinganya membuat wajah Chesia yang sudah merah bertambah merah. " Kak? Nggak papa kah aku peluk kakak kayak gini?" Tanya Chesia polos membuat Seriazer tersenyum dan terkekeh kecil. " Kenapa emang? Kan p
Bel pertanda masuk membuat semua murid yang tadinya berkeliaran mulai kembali ke kelas masing-masing. Kantin yang tadinya ramai juga mulai sepi karena para murid sudah masuk ke kelas masing-masing. Chesia, Lucky dan Seriazer juga mulai berjalan beriringan kembali ke kelas. Lucky tertinggal di belakang karena ia terhalang oleh kerumunan yang membuat ia terpaksa mundur. Saat sudah berada di belakang Chesia dan Seriazer, ia menatap keduanya yang terlihat mengobrol santai dan terkadang tertawa bersama. 'bjir. Serasa nyamuk gue di tengah-tengah mereka' gumam Lucky dalam hati dan tetap berjalan sambil manyun di belakang. Denting handphone nya membuat ia mengambil handphone nya dan melihat pesan yang terlihat ramai di grup angkatan. Viko: liat nih guyss. Ternyata si Kiara diam-diam nusuk si Chesi di dari belakang. Parah. Lucky mengetuk video berdurasi singkat yang memperlihatkan kan Kiara yang sedang berbincang dengan Reki, dan pas di saat Kiara mengatakan bahwa akan
Chesia menjaga Seriazer di UKS sampai istirahat pertama, karena setelah istirahat Seriazer berkata ia ingin kembali ke kelas saja. Karena tubuhnya sudah jauh lebih stabil dan lebih segar setelah istirahat di UKS jadi dokter yang menjaga pun membolehkan Seriazer untuk kembali ke kelas. Chesia juga kembali ke kelasnya karena akan ada ujian harian fisika hari ini. " Gimana? Lo yang nemenin si kakel garang di UKS? Kalian deket ya? Kok gue baru tau ya? Perasaan dulu lo nggak terlalu deket sama dia" ucap Kiara setelah Chesia duduk di sampingnya. " Yaa nggak gimana-gimana sih. Karena dia pernah bantu gue, jadi gue juga bantu dia. Itu aja kok" jawab Chesia. Nggak salah sih, hanya saja ia tidak mengatakan bahwa ia dan Seriazer pernah beberapa kali bertemu. " Oh iya. Kemarin si Reki chat gue. Katanya lo nggak angkat telpon dia ya? Kenapa? Kan lo suka sama dia? Kok di cuekin?" Tanya Kiara semangat membuat Chesia menghela nafas panjang. " Gue.. kayaknya nggak sesuka itu
Ruangan UKS itu terasa sunyi setelah para anggota PMR pergi, menyisakan Chesia dan dokter yang merawat serta Seriazer yang masih pingsan di atas bangsal. Chesia tetap di berdiri di samping bangsal Seriazer dengan wajah cemas bercampur dengan penasaran. " Gimana bu dokter? Dia nggak papa kan?" Tanya Chesia cepat setelah dokter itu selesai memeriksa kondisi Seriazer. " Dia cuma demam karna kecapean dikit. Nanti kalau dia udah bangun kamu kasih dia minum obat dulu ya. Oh iya, itu di depan ibu udah suruh orang buat beliin dia bubur, nanti pastiin dia makan ya" ucap dokter yang menjaga membuat Chesia menghela nafas lega dan mengangguk mantap. " Iya bu, terima kasih sebelumnya" ucap Chesia membuat dokter itu mengangguk kecil dan kembali ke meja nya. Chesia menyentuh kening Seriazer yang terasa panas dan memutuskan mengambil air di baskom dan handuk kecil dari lemari UKS. Chesia kembali duduk di tempatnya dan mengompres kening Seriazer pelan-pelan. Ia sendiri bing
Setelah selesai makan dan para bocil sudah pada mengantuk. Akhirnya mereka semua bubar. Di depan bangunan itu, mereka berkumpul untuk salam perpisahan dan berpelukan singkat, karena mereka akan kembali ke rumah dan ke dunia masing-masing. Seriazer juga ikut berdiri sopan di sana. Ia menyalimi semua mulai dari Veros, River, Skyler, Rigecherta dan para bini-bini mereka. Para bocil juga berpamitan pada Seriazer membuat senyum pemuda itu tak kunjung redup. " Dada kak Azer, kak Chesi, kak Lucky, kak Eri sama bocil semuaaa. Byee" lambai Vemia dari mobilnya, mereka pergi lebih dulu. " Yok lah pulang juga." Ajak River membuat Ella dan Leveri mengangguk. " Byee semua..!" Lambai Ella dan Leveri dari mobil. " Kami juga pamit dulu deh, Recky sama Kelly juga udah ngantuk kayaknya" ucap Luci memeluk Tivane singkat. " Bye-bye semua.. kami pulang yaa" lambai Kelly dan Recky. " Nggak ikut pulang kamu?" Tanya Tivane pada Lucky yang malah berdiri santai di sa
Kini ruangan Rigecherta itu sudah terasa lebih hangat dan lebih ringan setelah Rigecherta siuman dan mulai ikut menyahuti candaan serta kata-kata temannya. Tivane juga sudah lebih ceria tidak seperti dua hari belakangan yang selalu sedih dan lebih banyak diam, ia kini sudah tersenyum cerah dan mu
Ruangan Rigecherta kini penuh oleh Veros, Milenia, Luci, Risa juga Tivane yang duduk di kursi samping brankar. Tivane duduk sambil menggenggam tangan Rigecherta dengan helaan nafas berat. " Sudah beres masalahnya?" Tanya Risa pada mereka yang duduk di sofa. " Udah tan, tadi tadi di bawa
Hari ini kampus trilogi itu terlihat sangat ramai oleh para Maba, juga para orang tua dan dosen yang bertugas berkumpul di lapangan kampus itu. Acara penyambutan mahasiswa baru universitas mengadakan hang out yang vibes nya seperti study tour karena akan di bawa ke daerah terpencil namun indah
Kini semua sedang berkumpul di meja panjang yang sudah di siapkan di belakang rumah Tivane tersebut. Rigecherta dan Tivane di tengah-tengah, ayah Tivane di ujung kiri dan ibu Tivane di ujung lainnya. Semuanya makan sambil mengobrol dengan ceria, suasana terasa hangat serta pemandangan yang in







