LOGIN“This is so wrong,” I muttered, trying to pull away. Aziel’s eyes darkened. “Then why are you looking at me like you want me?” My pulse spiked. “I don’t.” “Liar,” he whispered, leaning closer, his voice low and dangerous. Prince Zarek breaks rules for fun. But when he’s forced under the control of Don Aziel...a mafia heir whose reputation is built on bending men to his will...rebellion becomes deadly. Aziel tolerates no weakness. He is cold, calculating, and knows exactly how to get under Zarek’s skin. Zarek should hate him...but hate twists into something hotter, something he cannot ignore. He did not come to submit. He came to destroy the man who ruined his brother. The problem? Getting close to Aziel might be the one mistake that costs him everything…and leaves him wanting more.
View More“Kenalkan! Dia adalah kekasihku, dan kami berencana akan menikah dua tahun lagi.”
Queen terdiam dengan mulut menganga seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ageng Jati Wardana, pria yang tadi malam resmi menjadi tunangannya itu dengan penuh percaya diri membawa wanita lain dan memperkenalkannya sebagai kekasih.“Maaf! Bisa diulang?” tanya Queen seraya meminta penjelasan lebih lanjut, meskipun sebenarnya dia sangat yakin jika telinganya tidak salah dengar.Queen mengalihkan pandangannya ke seisi ruangan private restaurant mewah, dengan kepala yang sedikit mendongak untuk menahan agar air mata tidak jatuh. Beberapa kali Queen menghela napas dalam-dalam untuk menenangkan pikirannya, dan setelahnya dia kembali memberanikan diri menatap Ageng dengan seulas senyum di bibirnya seolah ingin menunjukkan dirinya yang tegar.“Kau tidak salah dengar,” sahut Ageng seolah bisa membaca isi hati Queen. “Namanya Davianna, kami sudah menjalin hubungan selama tiga tahun terakhir. Dan yang pasti kami saling mencintai.” Detail sekali Ageng memberikan informasi tentang hubungannya dengan sang kekasih tanpa mempedulikan perasaan Queen sedikitpun.Sebenarnya tanpa Ageng menyebut nama, Queen sudah hafal di luar kepala nama lengkap wanita yang saat ini duduk di hadapannya. Davianna Aneira Rinjani, seorang artis yang sedang naik daun, dengan citra cantik dan cerdas, karena di tengah kesibukannya sebagai artis dia berhasil lulus S1 dengan predikat summa cum laude. Dan berita yang santer terdengar, saat ini dia sudah diterima di dua universitas terbaik di luar negeri untuk jenjang pendidikan S2.“Baik … lalu ….” Queen menjeda kalimatnya menatap secara bergantian Ageng dan Davianna yang duduk tepat di hadapannya. “Kalau kalian saling mencintai, bahkan sudah berencana untuk menikah, buat apa kau bertunangan denganku? Mengapa tidak bertunangan dengannya atau … menikah saja sekalian?” cecar Queen dengan memamerkan senyum yang sangat dipaksakan hingga memperlihatkan rasa getir di hatinya.“Karena saya ingin fokus dengan pendidikan saya dulu, mengejar karir baru berumah tangga.”Davianna mencoba menjelaskannya dengan santun dan lembut, hampir semua gerak-geriknya terlihat anggun dan elegan. Tidak heran jika beberapa saat yang lalu dia berhasil masuk sepuluh besar dalam sebuah ajang ratu-ratuan.Tidak bisa dipungkiri, jika saat ini Queen merasa rendah diri kala menatap pasangan kekasih di hadapannya. Mereka terlihat begitu serasi, tampan dan cantik, kaya dan cerdas, seolah mereka berdua telah memonopoli semua keindahan dunia. Dan di sini Queen merasa layaknya Upik Abu yang hanya menjadi penonton saja.“Rencana yang sangat bagus, matang.” Meskipun Queen terlihat tetap tenang dan berbicara tanpa meninggikan suara, tetapi terlihat jelas luka yang menganga di sorot mata yang tajam. “Tapi yang saya tanyakan, buat apa Mas Ageng yang … brengsek itu masih terlalu baik untuk menyebutnya.”Kembali Queen menjeda kalimatnya dan menghela napas panjang berusaha agar tetap tenang. Meskipun sebenarnya dalam hati sudah ingin memaki dengan segala kosakata kasar, menyebut penghuni kebun binatang, atau kata-kata kotor lainnya yang tiba-tiba memenuhi kepalanya. Tetapi akal sehat masih membimbing Queen untuk bisa memilih dan memilah kata agar dia tetap bisa menjaga harga dirinya.“Buat apa pesta pertunangan tadi malam?” Queen menatap Ageng dengan tatapan penuh tanya dan seakan berharap mendapat jawaban sesegara mungkin. Masih lekat dalam ingatan Queen betapa mewah dan meriahnya pesta pertunangan tersebut, bahkan lebih mewah dari pesta pernikahan beberapa temannya.“Buat apa kita merencanakan pernikahan bulan depan … jika dua tahun yang akan datang kau akan menikah dengan wanita lain? Jujur saja … aku tidak mau dipoligami.” Queen berusaha mempertahankan harga dirinya. Meskipun dia sadar jika dalam pernikahannya dengan Ageng, dirinya bukan hanya tidak dicintai tetapi juga tidak diinginkan.“Tidak akan ada poligami.”Ageng terlihat tetap tenang, bahkan tanpa sungkan dia membalas tatapan mata Queen. Tatapan memuja penuh binar bahagia yang dilihatnya tadi malam kini berubah kilatan amarah. Tetapi tidak ditemukannya cemburu di sana, karena sepertinya Queen juga tidak mencintainya.“Lalu … kita bercerai begitu?” Queen mencoba memastikan apakah yang dia pikirkan saat ini sama dengan yang dipikirkan oleh Ageng dan Davianna.“Ya, kita akan menikah hanya selama dua tahun, selama Davi menjalani pendidikan S2-nya di luar negeri. Setelah Davi lulus dan kembali ke Indonesia, kita bercerai dan saya akan menikah dengan Davi.”“Mengapa harus begitu?” Suara Queen tergetar, tetapi dia berusaha untuk tetap terlihat tegar.“Davi ingin menyelesaikan pendidikannya terlebih dahulu, tetapi kedua orang tuaku sudah memaksaku untuk menikah. Dan aku rasa menikah denganmu adalah sebuah jalan tengah. Hanya dua tahun … dan saya akan memberikan kompensasi yang layak untukmu.”Bagi Queen, sepasang kekasih di hadapannya sungguh gila dan tidak berperasaan. Entah apa yang membuat keduanya merasa bisa mempermainkan masa depannya.“Mengapa harus saya?”“Karena orang tua kita sudah membicarakan perjodohan kita, di belakang kita tentunya.”Queen menoleh ke belakang dan tidak menemukan apa-apa. Sebenarnya Queen tahu ucapan Ageng hanyalah sebuah kiasan, tetapi dia ingin menularkan rasa kesal di hatinya kepada pasangan kekasih yang berada tepat di hadapannya. “Kalau memang tidak cinta, dan tidak siap berkomitmen … bukan begini caranya.” Berulang kali Queen harus menghela napas panjang lalu membuangnya dengan perlahan, sepertinya sebentar lagi amarah akan meledak. “Saya mundur dari pertunangan kita. Dan untuk alasan di hadapan keluarga, kita cari masing-masing. Masalah … selesai, dan saya tidak ingin berurusan lagi dengan kalian.”Queen bergegas bangkit dari duduknya, lalu diraihnya tas ransel yang berisi berbagai keperluan kerjanya. Baginya pembicaraan ini sangat tidak berguna dan hanya membuang waktu saja. Seharusnya saat ini dia sudah berada di tempat kos mengistirahatkan diri sambil bermain game atau membaca novel online.“Saya rasa kita bisa membicarakan hal ini secara baik-baik.” Davianna memberanikan diri berbicara untuk mencegah Queen keluar dari ruangan tersebut, karena dia tidak ingin rencana dan impiannya hancur berantakan. Citra diri cantik, cerdas dan berpendidikan, serta peluang untuk menjadi menantu di keluarga Wardana harus tetap dia jaga demi masa depannya.“Sebaik apapun pembicaraan kita, hasilnya tetap buruk untuk saya.” Tidak ada lagi yang dipedulikan oleh Queen, tas ransel sudah berada di punggungnya dan dia siap untuk pergi. “Jika mengikuti rencana ini, dua tahun lagi kau akan menjadi wanita terhormat dengan gelar magister, sedangkan aku … akan mendapat gelar janda. Asal kalian tahu, bagi sebagian orang, gelar janda itu merupakan kasta terendah wanita setelah pelakor. Bagiku ini sangat tidak adil.”Queen mulai melangkahkan kakinya meninggalkan sepasanga kekasih dengan pikiran gila mereka. Tampaknya Ageng belum putus asa untuk mewujudkan apa pun yang menjadi keinganan dan cita-cita Davianna, sebagai bukti cintanya kepada sang kekasih, Ageng akan melakukan apa pun untuk mewujudkannya.“Kita bisa membuat kesepakatan, dan saya akan berusaha agar kesepakatan itu tidak akan merugikanmu.”Queen menghentikan langkahnya dengan tangan yang sudah siap untuk memutar knop pintu. Sejenak Queen mencoba untuk berpikir, menimbang lagi dan mencari celah keuntungan yang bisa dia dapatkan dari kesepakatan yang coba Ageng tawarkan,Aziel’s POVThe city lights blurred past the windshield, bleeding into streaks of gold and white across the glass as Luka drove without a word. I leaned back in the leather seat, letting the low hum of the engine and the steady motion of the car settle into my bones, fatigue dragging heavier with each passing second.One more meeting and I would have passed out in my seat, but I hadn’t expected anything less.“Don, we’re here,” Luka announced.I unbuckled my seatbelt, stepping out of the car and stretching, a dull pull running down my spine as my muscles resisted the movement.“Anything else you’d like, Don?” Luka asked, his hands slipping into his pockets. The lines on his face were sharper than usual, exhaustion from yesterday still etched into them.“Get some rest. We have an early morning tomorrow.”“Yes, Don.” He nodded, glancing at me once before walking off.I followed right behind him, slower, each step carrying more weight than it should have.A distant noise from the hallway
Zarek’s POVThe phone wouldn’t stop ringing. Every buzz made my chest tighten, my gaze snapping to the door again and again, as if it might swing open by itself.My hands trembled slightly as I reached for the phone, my eyes locking onto the screen.Dad.I let it ring one more time before answering.“Hello.”Silence.It stretched for a second too long, heavy and deliberate, pressing against my chest before he finally spoke.“Is this how you intend to behave as future king?”“I’m sorry. I was in the shower.”“At this hour?” His tone remained calm, but the edge beneath it cut deeper than shouting ever could. “Is that what I sent you there to do?”I stayed quiet, the weight of his voice pressing hard against my ear, forcing my shoulders to stiffen. Any excuse I made would only make it worse.“Let this be the last time I warn you, Zarek. I did not align myself with criminals for you to mistake it for freedom and start acting out.”I rolled my eyes, a breath of disbelief catching in my thr
Zarek's POVTHREE DAYS LATER.“There you go again, frowning,” Elise scolded, lightly hitting me on the shoulder. “Is the coffee that bad?”“No, it’s not that,” I dismissed, placing the mug down.We were in the kitchen at the penthouse. Apparently, Aziel had ordered my things to be brought back here, which I didn’t oppose. But having a guard following me around like I couldn’t be trusted on my own for the last three days had me edgy.“Now we are back to zoning out,” Elise snapped.“Fine, I’m sorry,” I said, forcing a gentle smile. “What were you saying?”She studied me for a beat. “Did something happen when I was on break? You look… off.”I sighed sharply, my hand going up instinctively to my chin. Off was one way to put it. Unsteady felt closer. My mind replayed the last moments with Aziel, his hands, his voice, the way he had pulled me under him like resistance was never part of the equation. Every attempt I’d made to hold my ground crumbled before I could register it.“No need to wo
Aziel's POVThe moment his breathing evened out, I knew I should move, put distance between us and regain some level of control.I didn’t.For a few seconds longer, I just sat there, his weight resting against me, steady and unguarded in a way I hadn’t earned. My hand hovered near his shoulder before I let it drop, fingers grazing his arm. My jaw tightened at my own hesitation.Dangerous.My phone buzzed sharply on the nightstand, Luciano’s name flashing. He had been calling repeatedly, each ring carrying impatience.I exhaled slowly, easing Zarek’s head off my shoulder with care, making sure he didn’t stir. He shifted slightly but didn’t wake, and something in my chest loosened at that. I straightened, casting him one last glance, memorizing the curve of his features, before grabbing my jacket and heading toward the penthouse door.By the time I reached the landing, Luciano was waiting just outside, phone tucked in his hand, eyes narrowing as he tried to peer inside.I stepped forwar
Zarek's POVI'd never been this confused about anything in my life, rooted at the same spot, still clinging tightly to my robe like an anchor. Wondering how he could just keep throwing accusations and twisting his words every second he got, while the worst part was that everyone knew what had happe
Aziel's POV I strode down the staircase, Luciano following right behind me, holding his chest. Cough. Cough. Cough. “What?” I snapped, slightly irritated at his persistence when I already knew he had something to say. “Smooching, are we? What was that about?” “Giving him something to think
Aziel's POV "Stay still." I carefully carried Zarek in my arms, lifting him from the floor. "I can walk on my own," he whined, knowing well that I didn’t take orders from anyone. I walked out of the gym, heading straight to the penthouse. He didn’t say another word. I clicked the door open and p
Zarek's POV"No, he can't."He doesn't know anything about me. No one does, not even Zakar. But his words felt too real.I gripped my hair tightly, thoughts colliding too fast to catch, too loud to ignore.I hadn't had time to think straight. One thing kept happening after another. No rest. No brea






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.