LOGINSebagai satu-satunya saksi di ruang tamu itu, Alexa berdiri membeku di dekat dinding. Kedua matanya tak pernah lepas dari Theo dan Jaslyn yang kini saling berhadapan, aura pertengkaran memanas di udara seperti listrik yang siap menyambar. Sebenarnya, Alexa hanya ingin memastikan satu hal, apakah Theo menyimpan perasaan pada Jaslyn… atau semua ini sekadar kesalahpahaman bodoh.Sayangnya, jawabannya muncul dengan cara yang sangat… eksplosif.“Jadi ini alasanmu menolakku?” suara Jaslyn meninggi, nadanya seperti pecahan kaca. “Kau lebih memilih gadis kecil itu daripada aku? Oh, aku mengerti sekarang, Theo.” Ia tertawa miring, tawa yang lebih mirip ejekan. “Kau ternyata punya selera aneh. Seorang pedofil, kan? Suka anak-anak?”Alexa nyaris tersedak udara sendiri. Ia bukan lagi anak-anak, usianya sudah sembilan belas tahun, namun ia mengurungkan niat untuk protes dan terus menonton.Sementara Theo hanya menghela nafas, panjang dan penuh kesabaran yang hampir habis. “Kau sudah selesai bicara?
Theo baru saja menutup pintu rumah dengan suara menggemuruh lembut. Ketika ia berbalik, Alexa sudah berdiri di belakangnya menunggu, seakan tahu ia akan ditanya. Theo menghela nafas panjang, lalu melipat tangan di depan dada, menatap gadis itu tanpa kedipan.“Aku tahu ini ulahmu, Alexa.” suaranya dalam, penuh kendali. “Dari mana kau mendapatkan video itu?”Alexa mengangkat satu alis, santai sekali, seolah baru pulang dari belanja dan bukan dari memicu skandal sekolah. “Aku tidak memulai masalah,” katanya pelan, bibirnya terangkat tipis. “Aku hanya membalas seseorang yang dengan sengaja menggangguku.”Theo menyipitkan mata. “Jadi, kau mengutak-atik komputerku tanpa izin?”Alexa tersenyum menyeringai. “Justru aku yang ingin bertanya padamu, Paman.” Ia melangkah mendekat. “Kenapa kau menyimpan video Dylan dengan pria lain di komputer pribadi? Jangan-jangan…” Alexa memincingkan mata nakal. “Kau bagian dari mereka?”Theo menatapnya dingin, lama, dan hampir tak percaya bahwa gadis ini beran
Dylan duduk bersandar di bangku taman belakang sekolah, matanya terpaku pada layar ponselnya. Senyum puas terpampang jelas di wajahnya, senyum seseorang yang merasa menang. “Kau sudah lihat apa yang terjadi?” suara Tiana memecah keheningan. Dylan mengangguk tanpa mengangkat wajah. “Jelas. Alexa pasti dikeluarkan. Siapa yang tidak? Ketahuan tinggal dengan guru sendiri dan bahkan menjalin hubungan? Itu pelanggaran berat.” Tiana menghela nafas, lalu menyandarkan bahunya pada dinding. Ia menatap Dylan seperti menatap anak kecil yang terlalu percaya diri. “Dylan,” gumamnya santai, “kau benar-benar yakin mereka tinggal bersama?” “Aku mengikutinya selama beberapa hari.” Dylan menjawab cepat, penuh keyakinan. “Aku lihat dia keluar dari rumah Theo. Itu sudah cukup bukti.” “Cukup bukti?” Tiana terkekeh mengejek. “Serius? Kau hanya punya foto mereka makan bersama dan Alexa keluar dari rumah itu. Tidak ada yang lebih... sensitif?” Dylan baru mengalihkan perhatian dari ponsel. “Apa maksudmu?
Ruang rapat guru mendadak berubah menjadi ruang sidang kecil. Setelah beberapa menit diskusi antar guru, keputusan dijatuhkan, ujian ulang dilakukan hari ini juga, tanpa persiapan, tanpa jeda, tanpa kesempatan pulang untuk mengambil catatan. Alexa hanya mengangguk. Tidak ada rasa takut di wajahnya, yang ada hanyalah api kecil yang menyala di matanya. Theo berdiri sedikit lebih jauh dari meja, menyilangkan tangan di depan dada. Ia tidak ikut campur, tapi sorot matanya mengikuti setiap gerak Alexa. Ada kegelisahan yang ia sembunyikan di balik ekspresi datarnya. “Baik,” ucap kepala sekolah sambil meletakkan satu lembar set soal tebal ke meja panjang. “Ini soal khusus yang tidak digunakan untuk siswa lain. Tidak mudah. Jika kau bisa mengerjakan ini, kami akan mencabut seluruh tuduhan.” Alexa menarik kursi, duduk, dan mengambil pena. Sebelum mulai, ia sempat menatap Theo satu detik. Hanya satu. Cukup untuk melihat bagaimana pria itu menahan nafas, seolah ia sendiri yang akan menjalani
Menuju semester akhir, status Alexa sebagai siswi yang hampir lulus membuatnya tak lagi wajib masuk setiap hari. Jam belajarnya kini lebih fleksibel, tapi tugas tetap saja menumpuk. Hari ini adalah hari pertama sekolah kembali aktif setelah libur musim panas, dan suasana sekolah terasa berbeda… entah kenapa. Alexa berjalan berdampingan dengan Felix memasuki area sekolah. Namun baru saja melewati undakan tangga dari area parkiran, Alexa menangkap tatapan-tatapan aneh dari beberapa siswa. Tatapan panjang, menyipit, penuh penilaian. Awalnya ia mengabaikan, seperti biasa ia memang selalu menjadi pusat perhatian, tapi kali ini tatapan itu terasa berbeda. Lebih… menjurus. Felix ikut memperhatikan ke sekeliling. “Apa kau merasa tatapan mereka agak… aneh hari ini?” bisiknya. Alexa mendengus halus. “Aku juga merasa demikian. Kau tau ada apa?” Felix menggeleng, mengedikan bahu. “Tidak. Ini kan baru hari pertama sekolah buka lagi. Mereka seharusnya sibuk dengan urusan masing-masing.” Tapi ny
Musim panas kali ini berjalan dengan ritme yang berbeda bagi Alexa. Hari-harinya bukan lagi diisi dengan keluhan tanpa arah atau pembangkangan kecil, melainkan rutinitas yang tertata, sebuah dunia baru yang memaksanya tumbuh dewasa lebih cepat dari yang ia bayangkan. Setiap pagi, ia berangkat bekerja paruh waktu. Sesuatu yang dulu terasa menakutkan kini berubah menjadi pengalaman berharga. Alexa mulai memahami bahwa dunia kerja tidak sesederhana yang terlihat, ada tekanan, ada tanggung jawab, ada tuntutan untuk tetap tersenyum meski tubuhnya meminta istirahat. Ia belajar bahwa setiap gaji kecil yang ia terima adalah hasil dari keringat dan waktu, bukan hadiah yang datang begitu saja. Dan begitu pulang, bukannya rebahan seperti remaja kebanyakan, ia langsung beralih pada materi belajar yang sudah Theo susun rapi. Jadwal itu disiplin, detail, hampir seperti jadwal seorang atlet, dan anehnya, Alexa mulai menikmatinya. Ada kepuasan tersendiri saat ia bisa mencentang satu tugas demi satu







