Share

Menyelesaikan Masalah

Author: YuRa
last update Last Updated: 2025-08-23 12:11:15

Ibunya Dimas menatap Esti dengan wajah sinis, bibirnya menyunggingkan senyum tipis penuh sindiran.

“Bu, kalau Ibu punya masalah di luar, jangan dijadikan alasan untuk melampiaskan pada Dimas.”

Esti mengerutkan dahi. “Maaf, apa maksud Ibu?”

Wanita itu menyilangkan tangan di dada. “Saya tahu siapa Anda. Saya tahu bagaimana keluarga Anda.”

Ruangan mendadak terasa semakin dingin. Esti menarik napas panjang, berusaha menjaga agar nada suaranya tetap terkendali.

“Bu, ini masalah siswa di sekolah, tidak ada sangkut pautnya dengan pribadi saya.”

Namun, tatapan sinis itu tidak surut. “Tetap saja, Bu. Orang yang tidak bisa menyelesaikan masalah keluarganya sendiri, bagaimana bisa menilai anak orang lain?”

Sejenak, Esti merasakan sesuatu menusuk hatinya. Kata-kata itu tidak hanya meragukan profesionalismenya, tapi juga mengungkit luka pribadinya. Namun, ia tidak boleh terpancing.

Dengan suara mantap, ia menjawab, “Ibu, saya di sini bukan untuk menghakimi siapa pun di luar konteks pekerjaan say
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Runtuhnya Sebuah Kesetiaan   Perasaan Ganjil

    Setelah makan, suasana rumah mulai mereda. Piring-piring dikumpulkan, sisa aroma pindang tulang masih menggantung di udara. Esti memilih membantu Dewi membereskan meja, sementara Haris berpamitan sebentar keluar ke teras untuk “menghirup udara segar.” Widya pun tak lama kemudian menyusul dengan alasan ingin menelpon.Esti yang baru selesai mencuci piring menyadari kedua orang itu tak kembali. Perasaan ganjil kembali mengusik. Ia berjalan perlahan ke dekat ruang tamu yang terhubung ke teras, langkahnya hati-hati agar tak menimbulkan suara.Dari balik pintu yang sedikit terbuka, ia mendengar suara Haris.“Sudah lama sekali, ya, aku hampir nggak mengenalimu tadi.”Suara Widya terdengar lirih, namun jelas. “Aku juga nggak menyangka bisa ketemu kamu lagi di sini. Aku sudah pisah dengan Mas Erwin.”Jantung Esti berdetak lebih cepat.“Pisah? Bercerai maksudnya?” kata Esti dalam hati.Haris menarik napas panjang. “Widya, aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu. Semoga kehidupanmu lebih b

  • Runtuhnya Sebuah Kesetiaan   Saudara Jauh

    Haris dan Esti tiba di rumah kecil bercat hijau muda itu saat matahari sore menebarkan cahaya hangat. Aroma masakan tradisional tercium samar dari dapur, menambah rasa rindu yang selalu hadir setiap kali mereka berkunjung."Ibu sehat?" tanya Esti sambil cipika-cipiki dengan Bu Siti, senyumnya tulus meski masih tersisa jejak hati-hati dalam hatinya."Alhamdulillah, Nak, sehat," jawab Bu Siti dengan wajah berbinar. Ada haru yang tak bisa disembunyikan. Sejak Esti menerima kembali Haris setelah luka masa lalu akibat perselingkuhannya, kasih sayang Bu Siti pada menantunya semakin mendalam—campuran antara rasa syukur dan rasa bersalah yang tak pernah diucapkan.Dari arah belakang rumah, Dewi muncul sambil mengusap tangannya dengan lap kecil. "Lho, Esti, sudah lama datangnya?" tanyanya ramah."Belum, Mbak. Baru nyampai kok," jawab Esti ringan, mencoba menjaga suasana tetap hangat.Obrolan pun mengalir tentang hal-hal sederhana—kegiatan sehari-hari, tetangga, dan rencana akhir pekan."Mana M

  • Runtuhnya Sebuah Kesetiaan   Kasus Selesai

    Keesokan harinya, Esti menerima pesan baru.[Aku tidak menginginkan Haris, aku ingin memiliki apa yang ia punya. Kita bicara lagi, Esti. Sendirian.]Esti membaca pesan itu berulang kali. Kali ini jelas, wanita itu tidak mengincar Haris, tapi sesuatu yang lebih berbahaya, kehancuran keluarganya.“Tapi kemarin ia bilang ingin memiliki Haris?” Esti mengernyitkan dahinya.“Ucapannya nggak jelas. Sebenarnya apa maunya ya?”Esti bimbang, ia ingin menemui Maya untuk mengetahui apa keinginan Maya. Tapi disisi lain, ia ingat ucapan Haris untuk tidak bertindak gegabah dan sendirian. Akhirnya Esti memutuskan untuk menemui Maya sendirian.***Pertemuan berikutnya berlangsung di sebuah kafe kecil yang sepi. Esti duduk berhadapan dengan wanita itu, mencoba menyembunyikan kegelisahan.“Apa sebenarnya yang kau inginkan?” tanya Esti tanpa basa-basi.Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke kursi, tersenyum dingin. “Aku ingin kau merasakan apa yang pernah aku rasakan. Kau pikir Haris hanya menyakitimu? Dia

  • Runtuhnya Sebuah Kesetiaan   Diuji

    Esti menahan napas, mencoba tetap tenang saat wanita itu semakin mendekat. “Aku tidak ingin membicarakan ini di sini,” ucap Esti singkat, lalu berbalik menuju mobilnya.Esti mencoba mengingat-ingat wajah perempuan itu, sepertinya ia mengenali, tapi masih bingung, siapa dan dimana ia pernah mengenalnya.Wanita itu tersenyum samar, seolah tak terganggu oleh penolakan itu. “Kalau begitu, aku akan datang sendiri, ke tempat yang lebih nyaman. Rumahmu, mungkin?” katanya lirih, tapi cukup jelas untuk membuat Esti merinding.Esti tidak menjawab. Ia masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan pergi secepat mungkin. Namun, rasa tidak nyaman menggelayuti pikirannya sepanjang perjalanan pulang.Malam itu, saat Esti, Haris, dan anak-anak makan malam, suara bel rumah tiba-tiba berbunyi. Haris berdiri hendak membukanya, namun Esti lebih dulu berkata, “Biar aku yang buka.”Ketika pintu terbuka, di sanalah wanita itu berdiri dengan senyum tipis yang menyiratkan sesuatu yang tak terucap.“Boleh aku masuk? Ki

  • Runtuhnya Sebuah Kesetiaan   Pesan Misterius

    Hari ini, Esti bersama suami dan anak-anaknya menikmati makan malam di sebuah restoran kecil yang hangat. Mei dan Ais tampak sibuk membuka buku menu, saling berdebat makanan mana yang paling enak untuk dipesan. Suasana penuh tawa ringan, berbeda jauh dari masa-masa kelam yang pernah mereka alami.Kegiatan seperti ini kini menjadi rutinitas baru keluarga mereka, cara sederhana namun bermakna untuk mempererat hubungan.Haris, yang dulu sering menghabiskan waktu di luar bersama teman-temannya, kini duduk dengan pandangan penuh perhatian pada istri dan anak-anaknya. Di wajahnya tergambar penyesalan yang sudah lama ingin ditebus.Dalam hati, ia berjanji tak akan pernah mengulang kesalahan yang sama, berselingkuh, menghancurkan kepercayaan, dan hampir kehilangan keluarga yang begitu ia cintai. Kini, setiap senyum Esti dan tawa anak-anaknya menjadi pengingat bahwa rumah adalah tempat paling berharga yang harus dijaga.Esti memandang Haris sekilas, lalu tersenyum. Senyum itu bukan hanya tanda

  • Runtuhnya Sebuah Kesetiaan   Menyelesaikan Masalah

    Ibunya Dimas menatap Esti dengan wajah sinis, bibirnya menyunggingkan senyum tipis penuh sindiran.“Bu, kalau Ibu punya masalah di luar, jangan dijadikan alasan untuk melampiaskan pada Dimas.”Esti mengerutkan dahi. “Maaf, apa maksud Ibu?”Wanita itu menyilangkan tangan di dada. “Saya tahu siapa Anda. Saya tahu bagaimana keluarga Anda.”Ruangan mendadak terasa semakin dingin. Esti menarik napas panjang, berusaha menjaga agar nada suaranya tetap terkendali. “Bu, ini masalah siswa di sekolah, tidak ada sangkut pautnya dengan pribadi saya.”Namun, tatapan sinis itu tidak surut. “Tetap saja, Bu. Orang yang tidak bisa menyelesaikan masalah keluarganya sendiri, bagaimana bisa menilai anak orang lain?”Sejenak, Esti merasakan sesuatu menusuk hatinya. Kata-kata itu tidak hanya meragukan profesionalismenya, tapi juga mengungkit luka pribadinya. Namun, ia tidak boleh terpancing. Dengan suara mantap, ia menjawab, “Ibu, saya di sini bukan untuk menghakimi siapa pun di luar konteks pekerjaan say

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status