共有

Bab 5 KEPUTUSAN DAVINA

last update 公開日: 2025-01-29 09:42:17

Tanpa sengaja seorang pria menabrak Davina dari belakang. Sambil terus menepuk-nepuk pipi Davina, pria itu mencoba membangunkannya. "Akh … sial, aku harus segera membawanya ke rumah sakit." Pria itu segera mencari taksi untuk membawa Davina ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Davina segera mendapatkan perawatan dari para tenaga medis. "Suster tolong berikan perawatan terbaik untuknya, saya akan membayarnya berapapun," pinta Pria itu.

"Baik Pak, silahkan lakukan pendaftaran. Kami akan menangani pasien," jawab seorang suster.

Pria itu segera ke bagian administrasi untuk melakukan registrasi pasien. Seorang petugas bertanya, "Bapak yang bertanggung jawab kan?" 

"Iya, saya yang menabraknya. Jadi saya yang bertanggung jawab, tolong berikan perawatan yang terbaik untuk wanita itu." Wajahnya terlihat panik.

"Bapak atas nama siapa?" tanya petugas itu lagi. Pria itu tak menjawab, hanya memberikan kartu identitasnya pada petugas. "Denis!"

Setelah semua perawatan selesai, Davina dipindah ke ruang rawat. Sayangnya dia belum sadar juga. "Bagaimana kondisinya Dok?" Denis bertanya pada dokter yang menangani Davina tadi.

"Semuanya baik-baik saja Pak, pasien ini mengalami kebutaan. Namun, saya melihat kondisinya jauh lebih baik. Semoga saja beliau segera siuman, agar kita bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut nantinya," ucap sang dokter.

Setelah mendapat penjelasan dari dokter, Denis memutuskan untuk menjaga Davina. Itu ia lakukan demi bentuk tanggung jawabnya. Tanpa sadar ia tertidur disamping ranjang sambil menggenggam tangan Davina.

"Selamat pagi Pak," ucap seorang perawat.

Denis yang masih asik terlelap tiba-tiba terbangun dan kaget karena posisinya ia menggenggam tangan Davina. "Astaga! apa yang ku lakukan," sentaknya sendiri. 

"A-apa, aku di mana ini, kalian siapa?" tanya Davina. 

"Anda sudah sadar Nona, bagaimana perasaan anda? Apa masih ada yang sakit?" Denis memberi pertanyaan bertubi-tubi, sedangkan perawat segera memeriksa kondisi vital pasien. Secara tiba-tiba mereka terkejut dengan ucapan Davina.

"A-aku bisa melihat lagi, aku tidak sedang bermimpi kan? Huhuuu …." Davina menangis sebab kini matanya telah bisa melihat lagi, tetapi untuk memastikan lebih jelasnya perawat segera memanggil dokter.

"Selamat Nona Davina, sekarang anda telah sembuh kembali. Namun, ada beberapa pemeriksaan yang harus kita jalankan dulu sebelum anda boleh pulang," ucap dokter.

Davina menyetujuinya dan segera melakukan pemeriksaan itu. Hingga sampai semuanya selesai Denis masih menunggu Davina. "Nona, semua pemeriksaan telah selesai. Saya akan mengantarkan anda pulang," tawar Denis.

"Tidak usah Pak, saya mau naik taksi saja. Untuk semua biaya tagihan rumah sakit akan saya ganti, tolong tuliskan nomer telfon anda." Davina menyerahkan secarik kertas dan bolpoint.

"Tidak perlu, itu adalah tanggung jawabku. Lagi pula cukup kok tabunganku, sebagai gantinya jika kita diperkenankan untuk bertemu dilain waktu, anda bisa mentraktirku nanti." Denis mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Dengan tersenyum Davina menyambut uluran tangan Denis sambil berkata, "deal!"

"Kalau begitu biar saya pesankan taksi." Denis segera memesan taksi on line dan menemani Davina menunggu taksi itu datang sambil berbincang. Mereka juga sempat berkenalan dan saling bertukar cerita tentang jati diri masing-masing.

"Terimakasih banyak Denis, berkat kamu aku bisa melihat lagi. Tuhan telah memakai mu untuk menunjukkan kuasanya, aku akan selalu mengingatmu. Selamat tinggal!" Davina melambaikan tangannya lalu pergi, begitupun dengan Denis.

"Betapa cerobohnya aku, hampir saja mendapatkan masalah besar karena telah menabrak orang. Untung saja dia tidak apa-apa kalau sampai dia lewat bisa dipenjara aku. Ah, sudahlah kenapa bicaraku jadi melantur sih, lebih baik aku pulang sekarang. Kakek pasti sudah menungguku," gumam Denis.

Sementara itu saat di depan rumah, Davina kembali memakai kacamata hitamnya. Tongkat yang menemaninya pun ia pakai lagi. Sambil membenahi kaca matanya Davina berkata, "permainan akan kita mulai Sayang. Kalau seperti ini rasanya sudah adil kan, aku akan mengikuti permainanmu." Senyuman smirk Davina mulai keluar.

Brak!! Davina membuka pintu kamar tamu dengan sedikit kasar. Betapa terkejutnya dia saat melihat suaminya yang selama ini ia cintai sedang bermain kuda-kudaan dengan seorang wanita. Bahkan dia sama sekali tak menyangka jika wanita itu berani mengkhianatinya.

"Mas ... kamu ada di sini Mas?" tanya Davina dengan gaya orang buta. Ia meraba-raba benda di sekitarnya.

Saat pintu terbuka Anggara dan selingkuhannya juga panik, hampir saja wanita itu buka suara. Untungnya Anggara segera menutup mulut wanita bodoh itu, jika tidak ia pasti sudah berteriak. Secara perlahan Anggara menyuruh wanita itu pergi secara perlahan dari kamar, sedangkan Anggara akan memainkan perannya.

"Iya Sayang, em ... kamu di sini ya. Saat pulang tadi aku merasa lelah sekali, jadi aku memutuskan untuk tidur di sini. Aku takut mengganggu mu jika aku ke kamar kita," sahut Anggara.

Lalu pria itu mulai mendekati Davina, sambil mencium keningnya. "Kamu istirahat aja dulu ya, Mas mau keluar sebentar. Ada yang mau Mas beli di mini market depan, kamu mau titip sesuatu?" tanya Anggara.

Dengan senyumannya Davina pun menjawab, "enggak Mas, ya udah Mas hati-hati di jalan. Jangan lama-lama ya Mas!"

"Hem, istirahat lah dulu." Sekali lagi Anggara mencium kening istrinya lalu pergi dan menghilang dari balik pintu.

Sepertinya Anggara, Davina mulai melepas kacamatanya dan membuang tongkat dengan kasar. "Aaakkkh!! bangs*t, berani-beraninya kalian mengkhianatiku." Davina mendengar suara mobil Anggara, lalu ia mengintip dari jendela dan betapa bencinya ia melihat pemandangan itu. Anggara berada satu mobil dengan Michelle, sahabatnya sendiri.

"Hh, kalian jangan senang dulu bisa kabur dariku saat ini. Sebab permainan baru dimulai," ucap Davina . Lalu ia kembali memainkan perannya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • SAHABATKU GUNDIK SUAMIKU   BAB 12 AMPLOP COKLAT

    "Nona, anda sudah bisa melihat?" tanya Deby dengan serius. Davina hanya hanya mengangguk sambil tersenyum. "Aku harap kau tidak mengatakannya pada orang lain dulu. Kali ini aku percaya padamu bahwa kau bisa memegang rahasia ku ini. Aku masih ingin mengungkap kebusukan orang-orang yang telah mengkhianati ku," ucapnya dengan sorot mata yang tajam. "Baik Nona, saya akan merahasiakan ini." Deby mengatakannya penuh dengan kemantapan. "Selanjutnya lakukan saja apa yang aku perintahkan," pungkas Davina. Setelah mendapat mandat dari nona besarnya, Deby segera pergi. Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mendengarkan pembicaraan itu. Dia lantas pergi tanpa mengeluarkan suaranya. Malam pun tiba, entah keberapa kalinya Anggara mengajak Michelle pulang ke rumah. Kali ini Davina menunggu suaminya di ruang tengah. Saat itu Davina yang sedang duduk bersama dengan mbak Mi untuk menonton TV. "Tuan," sapa mbak Mi. Namun, seketika suaranya tercekat karena Anggara menempelkan jari telunjukn

  • SAHABATKU GUNDIK SUAMIKU   BAB 10 RAMPOK

    Davina terlihat serius menatap layar laptopnya. Dahinya mengernyit dan pandangannya menajam, seolah sedang mengintai sesuatu. Setelah beberapa saat ia melepas kacamatanya dan menyenderkan tubuh di kursi. "Baru beberapa bulan gabung di perusahaan Ayah, dia sudah berani memanipulasi keuangan kantor dengan jumlah yang begitu besar? Sepertinya dia memang bakat jadi maling, sungguh memalukan! Sayangnya pria bangs*t seperti itu masih berstatus sebagai suamiku," sesalnya. Apa yang dilihatnya tadi mulai dicetak kedalam bentuk kertas, satu persatu lembaran kertas itu muncul dari dalam printer. "Okey, sudah selesai. Sekarang tinggal kirim ke pengacaraku lalu mulai jalankan misi selanjutnya," gumamnya. Setelah merapikan beberapa lembar kertas itu, Davina mengambil ponselnya lalu menelfon seseorang. "Denis, aku sudah berhasil mengumpulkan data-data transaksi penggelapan uang kantor yang dilakukan Anggara. Sekarang tinggal menunggu bukti chat Anggara dengan Gundiknya itu," ucap Davina dengan po

  • SAHABATKU GUNDIK SUAMIKU   Bab 11 TAK LAMA LAGI

    "Nak apa kamu terluka, kenapa kamu melamun?" tanya Johanes. "Ah, e ... tidak kok Kek. Saya tidak apa-apa, silahkan di cek dulu Kek, apa isinya masih lengkap," usul Davina. "Iya semuanya masih lengkap, sekali lagi terima kasih ya Nak. Sebagai ucapan terima kasih ku, ini untuk jajan nanti." Johanes memberi Davina sejumlah uang di dalam amplop coklat. "Kakek, ini tidak perlu. Saya ikhlas menolong Kakek, sebenarnya itu tadi hanya gerakan reflek setelah mendengar Kakek berteriak tadi. Sepertinya kondisi Kakek sudah lebih aman sekarang, aku harap para pengawal Kakek tidak berada terlalu jauh dari Kakek. Aku harus pergi Kek, sampai jumpa." Davina segera pergi dengan melambaikan tangan. Johanes hanya tersenyum sambil menggeleng pelan, lalu ia pergi bersama para pengawalnya. Sementara Davina sendiri merasa lega karena sepertinya kakek Johanes tidak mengenalinya. Saat ini perusahaan milik Johanes masih ada kerjasama dengan milik ayahnya, Davina takut jika Johanes mengenalinya maka akan m

  • SAHABATKU GUNDIK SUAMIKU   Bab 9 AKU BISA MEMBANTUMU

    "Mas, ponsel ini yang keluaran terbaru udah ada lho. Kamu nggak mau beliin aku Mas," rayu Michelle."Boleh Sayang, emang berapa harganya?" Anggara tampak tersenyum menanggapi permintaan kekasihnya itu."Murah kok Mas, paling cuma 35 jutaan. Emang beneran kamu mau beliin aku Mas?" tanya Michelle untuk memastikan lagi."Iya dong, kamu pikir aku orang miskin. Tentu tidak Sayang hahaha ...,"ucapnya dengan percaya diri."Apa jangan-jangan kamu udah dapet duit lagi dari istrimu yang buta itu ya Mas?" Michelle terlihat semangat dengan pertanyaannya itu."Pinter banget sih kamu hahaha...." Anggara tertawa penuh kemenangan.Malam itu Anggara masuk ke kamar Davina sambil mengendap-endap saat Davina sudah terlelap. Lantaran saat di kantor Anggara mendengar jika Davina dikirim uang dalam jumlah banyak, sudah pasti saat itu uang istrinya masih banyak. Benar saja, ada beberapa gepok uang di laci nakas. Tanpa ragu dan takut Anggara mengambil beberapa gepok dan hanya disisakan dua gepok saja.'Orang

  • SAHABATKU GUNDIK SUAMIKU   Bab 8 SEMUANYA JADI MUDAH

    Pagi itu Anggara pergi ke kantor tanpa pamit dengan Davina. Jika dia Davina yang kemarin, maka hatinya akan sangat sedih mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Sayangnya Davina hari ini sudah berbeda, semenjak semalam dia mengetahui jika suaminya secara diam-diam mengambil isi rekeningnya. Anggara menggunakan sidik jari Davina untuk melakukan transaksi mobile banking, padahal saat itu Davina sedang tertidur. Meskipun Davina sempat sadar, tapi dia memilih untuk membiarkan Anggara melakukan apa yang dia mau."Bagus jika dia sudah pergi, tinggal aku suruh Mbak Mi pergi juga. Lalu para teknisi cctv akan segera datang," ucapnya sambil menatap jendela.Beberapa menit yang lalu Davina baru saja melihat suaminya pergi dengan mobil barunya, tentu saja ada Michelle juga yang sedang glendotan di lengan Anggara. Tidak ada rasa cemburu sedikitpun di hati Davina saat ini, sepertinya memang dia sudah mati rasa. "Mbak ... Mbak Mi," panggilnya."Iya Non, ada apa?" tanya mbak Mi."Sekarang tang

  • SAHABATKU GUNDIK SUAMIKU   Bab 7 SETAN APA MALING

    "Hallo selamat siang, saya butuh seseorang yang bisa dijadikan mata-mata. Bisakah kalian mengirimkan orang yang paling ahli? Berapa pun harganya akan saya bayar," ucap Davina.Yah, wanita itu menghubungi sebuah agen detektif yang cukup terkenal di kota itu. Lantaran aktingnya yang harus tetap berpura-pura buta, Davina memiliki batas ruang gerak. Dia tidak bisa mengikuti kemana suaminya pergi, sehingga ia memutuskan untuk menyewa seorang detektif saja."Aku harap dengan cara ini bisa membantuku," gumamnya sendiri. Data diri serta foto Anggara telah dikirimkan Davina ke agensi itu. Lalu seseorang mengabari jika akan menuju lokasi Anggara saat ini."Bagus, sekarang aku akan menghubungi pengacara ku." Davina mulai menceritakan semua yang dia alami ke pengacaranya. Dia juga meminta pengacaranya agar mendampinginya dalam proses yang sedang dia jalani sekarang. "Mba Mbak Mi," panggilnya.Dari arah dapur mbak Mi sedikit berlari kecil dan menyahuti panggilan majikannya, "iya Non ada apa?""Se

  • SAHABATKU GUNDIK SUAMIKU   Bab 6 MENGUMPULKAN BUKTI

    "Kamu dianter sopir kan Mas?" tanya Davina."Iya, nanti sopir yang anter aku. Kamu lanjutin makannya, aku mau berangkat dulu ya, bye!" Anggara mengecup kening Davina sebelum ia pergi."Hati-hati Mas," teriaknya.Saat suaminya sudah pergi, Davina melihat situasi dan tidak ada orang saat itu. Ia berg

  • SAHABATKU GUNDIK SUAMIKU   Bab 4 SUARA APA ITU

    Tak terasa sudah satu bulan semenjak kejadian naas itu, kini Anggara mulai bisa berjalan kembali. Walaupun belum sepenuhnya normal, setidaknya ia sudah bisa beraktivitas. Setelah mendapat persetujuan dari Davina, Anggara kini sudah mulai bergabung di perusahaan ayahnya. "Hai Vin, gimana kabarmu ha

  • SAHABATKU GUNDIK SUAMIKU   Bab 3 MERAYU MERTUA

    "Mas, Mas Angga," panggil Davina. Wanita itu baru saja bangun, saat meraba kasur di sampingnya ternyata suaminya sudah tidak ada. Ia pun kembali bersedih saat mengingat tentang kondisinya saat ini. "Kenapa duniaku segelap ini sekarang, hiks… bagaimana aku menghadapi masa depanku nanti." Air matany

  • SAHABATKU GUNDIK SUAMIKU   Bab 2 BUTA

    Seorang pria paruh baya berlari di lorong rumah sakit. Wajahnya terlihat panik, ditambah dengan guratan halus tanda penuaan. Sesampainya di depan IGD, ia melihat ada sepasang suami istri paruh baya juga yang sedang duduk dengan wajah sedih. "Bagaimana keadaan mereka, apa mereka baik-baik saja?" tan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status