ВойтиAkibat kecelakaan maut, Arunika terbangun di dalam dunia novel yang sangat ia benci. Jiwanya tersesat ke dalam tubuh Lilia—seorang istri lemah yang hidupnya habis hanya demi mencari perhatian sang suami dingin yang toxic. Namun, Arunika bukanlah Lilia. Di hadapan suami menyebalkan yang kini berdiri nyata di depannya, Arunika menolak untuk mengemis cinta lagi. Jika takdir tokoh ini berakhir tragis, maka Arunika akan mengambil alih pena itu dan menulis ulang akhir ceritanya sendiri!
Узнайте большеMinggu ini seharusnya menjadi hari libur bagi Arunika.
Tidak ada shif kerja, tidak ada panggilan darurat dari kafe—hanya ada dirinya, kasur tipis di kamar sempit, dan ponsel retak yang setia menemaninya membaca novel romantis online. Hari itu, ia tengah tenggelam dalam cerita yang membuat dadanya sesak. Novel itu mengisahkan perselingkuhan tokoh utama pria dengan istrinya sendiri—wanita yang sudah memberinya dua anak—sementara si pria malah mengejar sahabat sang istri. "Ish! Kok tidak ada lanjutannya, sih?" gumam Arunika sambil mendengus kesal. Ia menatap layar ponsel yang menampilkan tulisan To be continued. Tanpa pikir panjang, jarinya langsung mengetik komentar: “Penulis, tolong cepat lanjut! Cowoknya menyebalkan banget, mentang-mentang ganteng! Kalau aku jadi istrinya, sudah aku siram air panas!” Ia memeluk bantal dengan gemas. "Lelaki seperti itu tidak pantas mendapatkan cinta, sumpah." Belum sempat ia menutup aplikasi, ketukan keras menggema di pintu kamarnya. Dug! Dug! Dug! "Arunika! Bangun! Jangan malas-malasan! Lihat, cucian belum kamu sentuh!" seru suara parau Lastri, bibinya. Arunika meringis. "Aku sudah cuci semuanya, Bi..." balasnya lemas. "Buka pintunya! Ini kamar anakku, bukan kamarmu!" bentak Lastri kian keras. Begitu pintu terbuka, tangan Arunika langsung ditarik kasar. "Lihat pakai matamu!" Lastri menjewer telinganya tanpa ampun. "Akh! Bi, sakit! Lepas! Aku sudah cuci piring dan baju!" teriak Arunika mencoba menghindar. "Bohong, Bu," sela suara lembut namun berbisa. Nadine, sepupunya, muncul dengan wajah sok polos. "Dari tadi dia di kamar terus. Pas Ayah pergi kerja pun, dia tidak keluar." Arunika menatap Nadine tak percaya. "Ini pasti ulahmu, kan?!" Nadine hanya mengangkat alis sambil tersenyum sinis. "Mana buktinya?" "Sudahlah! Pergi saja kamu dari sini. Menyusahkan saja! Kalau bukan karena suamiku, aku tidak sudi mengurus mu!" usir Lastri dengan pandangan jijik. Arunika terdiam. Ia tahu percuma berdebat. Dengan langkah berat, ia membereskan barang-barangnya yang tak seberapa—hanya beberapa potong pakaian lusuh dan ponselnya. "Pergi sana," desis Nadine di ambang pintu. "Sudah cukup umur untuk menyewa kos. Jangan jadi benalu di rumah orang." Arunika tidak menjawab. Ia melangkah keluar dari rumah susun itu tanpa menoleh lagi. Pamannya memang baik, tapi pria itu tidak pernah punya nyali untuk melawan istrinya sendiri. "Huh..." Arunika mendesah di trotoar, menatap langit mendung. "Aku harus ke mana? Uang saja tidak ada." Gajinya selama ini habis untuk menutupi kebutuhan rumah Bibinya. Ia bukan menumpang, melainkan ikut menjadi tulang punggung. Ironis. "Kalau saja aku jadi orang kaya, mungkin enak..." gumamnya lirih. "Seperti Lilia, istrinya Nathan. Tapi ogah, deh, punya suami seperti Nathan. Dasar playboy licik!" Ia tertawa getir, teringat tokoh pria di novel yang baru ia baca. Namun, tawa itu lenyap seketika saat sebuah klakson memekakkan telinga. TIIIIINNNNN! Semuanya terjadi begitu cepat. Cahaya putih, suara benturan, dan teriakan orang-orang bercampur menjadi satu. Arunika sempat melihat siluet mobil hitam pekat sebelum tubuhnya terhempas ke aspal. "Ibu..." bisiknya lemah. Pandangannya mengabur, lalu semuanya gelap. * * "Engh..." Arunika mengerang. Matanya terbuka perlahan, menatap sekeliling yang tampak kabur. "I-ini di mana?" gumamnya serak. Udara terasa wangi mawar, namun samar-samar ada bau disinfektan. Ranjang empuk, selimut sutra, dan langit-langit putih mewah. Semuanya asing. "Nyonya, Anda sudah bangun?" suara lembut seorang perawat terdengar di sampingnya. "Nyonya?" Arunika mengernyit. Begitu matanya menangkap cermin besar di ujung ruangan, napasnya tercekat. Refleksi di sana bukan dirinya—melainkan sosok wanita cantik luar biasa dengan wajah yang tak pernah ia miliki. Tangannya gemetar menyentuh kaca. "Ini bukan aku... ini Lilia?" Jantungnya berdegup kencang. Nama itu—Lilia—adalah tokoh utama wanita yang nasibnya baru saja ia maki-maki. "Nyonya, Anda tidak apa-apa?" "Aku... masuk ke novel Merubah Takdir? Gila!" serunya panik. "Kecelakaan?" Arunika mencoba mengingat. Di novel, Lilia dan anak-anaknya seharusnya tidak selamat. "Di mana anak-anak?" "Mereka sudah pulang, Nyonya. Hanya luka ringan," jawab perawat lega. Arunika menghela napas panjang. Berarti takdir sudah mulai bergeser. Ia bangkit menuju kamar mandi, menatap wajah Lilia yang cantik namun tampak rapuh. "Oke, Lilia. Mulai sekarang, kamu bukan budak cintanya si Nathan lagi," ucap Arunika mantap. "Nyonya, Anda mau ke mana? Anda belum sepenuhnya pulih!" perawat itu panik melihat Arunika bersiap pergi. "Pulang. Aku sudah sehat. Bye!" Arunika melambaikan tangan dengan santai. Beberapa jam kemudian, mobil hitam yang menjemputnya berhenti di depan mansion megah keluarga Chandrawinata. Matanya membulat takjub melihat kemewahan di depannya. "Gila... jadi ini rumahnya si Nathan." Senyum kecil muncul di bibirnya. "Halamannya saja sudah seperti lapangan bola. Pak Sopir, tolong maju sedikit lagi, capek kalau harus jalan sampai pintu utama." Sambil melangkah keluar dari mobil, Arunika membatin, "Jika hidup memberimu luka, maka aku yang akan menulis ulang kisahmu dengan cahaya. Ini janjiku—untukmu, Lilia, dan dua malaikat kecilmu." Pintu mansion terbuka perlahan, menyambut langkah pertamanya menuju takdir yang baru. Bersambung ....Sore pun tiba. Kali ini Nathan pulang sekitar pukul empat sore. Namun karena jalanan macet dan harus mengantar Stevia dulu, dia baru tiba di apartemen selingkuhannya itu pukul enam sore.“Nath, jangan pergi dulu. Temani aku sebentar di sini,” rengek Stevia manja, menahan tangan Nathan.“Huh... Stevia, mengertilah. Aku harus pulang. Aku lelah,” keluh Nathan, suaranya berat.“Tapi—”“Stevia,” potong Nathan tajam. “Aku mohon, mengertilah. Atau kita akhiri saja hubungan ini!”“Enggak! Aku gak mau. Kamu kan janji mau nikahin aku!” seru Stevia panik.Nathan menarik napas kasar, lalu memalingkan wajah tanpa sanggup menanggapi. “Sudahlah, turun. Aku harus pulang,” ujarnya datar.Setelah Stevia turun, Nathan langsung menancap gas. Kini, yang tersisa di dadanya hanya sesal dan penat.Sementara itu di rumah Chandrawinata, suasana jauh berbeda. Lilia tengah sibuk di dapur menyiapkan makan malam untuk kedua anaknya. Tadi, Kael dan Ivy tiba-tiba meminta mie goreng pakai telur dan sosis.Lilia terse
Nathan melangkah ke ruangannya dengan napas memburu. Wajahnya pucat pasi. Di dalam, ia melihat Angel dan Stevia sudah sibuk mengemasi barang-barang mereka. Keputusan Darian sudah mutlak: Angel tetap menjadi sekretaris, sementara Stevia "dibuang" ke bagian Humas.Stevia melirik kesal ke arah Darian. Pandangannya menajam, terutama pada Yuda, asisten pribadi ayahnya yang berdiri mematung memantau setiap pergerakannya tanpa ekspresi.Brak!Pintu terbuka keras, suara hentakan itu memecah keheningan. Darian menatap tajam ke arah sumber suara, dan mendapati Nathan berdiri di ambang pintu."Papi," ucap Nathan cepat sambil melangkah ke depan, suaranya serak."Aku mohon, Pi... jangan seperti ini," lanjutnya memelas. "Maafkan aku. Aku akan memperbaiki semuanya, hubungan ku dengan Lilia, dengan anak-anak... aku janji."Darian menatap putra sulungnya dalam diam. Tatapan yang dulu penuh kasih kini berubah dingin, nyaris tanpa ampun."Untuk apa?" suaranya datar, menusuk. "Kau pikir Lilia masih mau m
Lilia baru saja selesai mandi. Ia mengenakan kemeja biru muda dan celana jins senada-penampilannya membuatnya tampak seperti gadis berusia delapan belas tahun. Sesaat, matanya melirik ke arah Nathan yang masih terlelap di sisi ranjang.Ia mengembuskan napas pelan. "Masih tidur juga," gumamnya, lalu memutuskan untuk tak mengusiknya.Pintu kamar tertutup pelan di belakangnya.Nathan yang mendengar suara itu justru membuka matanya. Ia menatap langit-langit kamar dengan ekspresi kesal pada dirinya sendiri."Apa yang kamu harapkan, Nath? Berharap dia membangunkan kamu, hah?" Senyum getir tersungging di bibirnya. Dulu, setiap kali Lilia membangunkannya, ia malah memarahinya."Sudahlah," desahnya pelan. "Lebih baik mandi, siapa tahu bisa menyegarkan kepala."Sementara itu, Lilia sudah tiba di kamar anak-anak. Kael dan Ivy rupanya sudah bangun, sibuk merapikan tempat tidur masing-masing. Senyum lembut terbit di wajah Lilia."Pintarnya anak Mommy," pujinya sambil mendekat."Sudah beres, sekara
Lampu kamar Stevia remang, hanya tersisa cahaya temaram dari lampu tidur di sudut ruangan. Udara dingin menembus jendela yang sedikit terbuka, membuat tirai bergerak pelan. Di sisi ranjang, Stevia meringkuk di dada Nathan, wajahnya tampak tenang dan penuh rasa puas.Namun, mata Nathan menatap kosong ke langit-langit. Napasnya berat, pikirannya berputar tanpa arah. Ia mencoba memejamkan mata, tapi bayangan wajah Lilia justru muncul begitu jelas di pelupuknya."Kenapa aku malah mikirin dia..." gumamnya dalam hati.Stevia bergerak kecil, tangannya bergerak di dada Nathan dan menggenggam baju tidurnya."Sayang, kok kamu belum tidur?" suaranya lembut, manja, nyaris berbisik."Belum," jawab Nathan singkat."Masih kepikiran kerjaan, ya?" tanya Stevia lagi sambil mengusap dada Nathan dengan ujung jarinya. "Kamu harusnya istirahat, besok kan sibuk."Nathan hanya mengangguk tanpa menatapnya. Gerakannya kaku, dingin. Stevia mengerutkan dahi - entah kenapa malam ini Nathan terasa jauh."Kamu kena


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.