ログイン"Mas, Mas Angga," panggil Davina.
Wanita itu baru saja bangun, saat meraba kasur di sampingnya ternyata suaminya sudah tidak ada. Ia pun kembali bersedih saat mengingat tentang kondisinya saat ini. "Kenapa duniaku segelap ini sekarang, hiks… bagaimana aku menghadapi masa depanku nanti." Air matanya kembali jatuh. Untung saja ia segera sadar, Davina tak ingin terus berlarut dalam kesedihannya itu. "Lebih baik aku keluar mencari udara segar sekaligus mencari Mas Angga," tuturnya. Lalu secara perlahan Davina turun dari ranjang dan mulai mencari pintu keluar. "Sepertinya itu suara Mas Angga," terkanya. Ia mendengar suara suaminya sedang bercanda gurau dengan Michelle. "Mas, Michelle," panggil Davina. "Ya ampun, kamu udah bangun Vin? Kok nggak panggil aku?" Michelle segera membantu Davina. "Aku sudah memanggil kalian, tapi tidak ada yang mendengarnya. Ternyata kalian sedang di sini, memangnya kalian sedang apa Chelle?" Demi mengobati rasa penasarannya, Davina pun bertanya. "Oh, kami tadi sedang melakukan terapi untuk Mas Angga Vin. Dokter menyarankan untuk itu," jelas Michelle. "Kenapa kok tanya-tanya gitu, jangan berpikiran yang macam-macam ya!" imbuh Anggara. "Enggak kok Mas, aku sama sekali nggak mikir aneh. Justru aku sangat berterima kasih sama Michelle karena udah mau bantuin kita di sini. Makasih banyak ya Chelle." Wajahnya tersenyum tulus, dia benar-benar merasa bahagia memiliki teman seperti Michelle. "Sama-sama Vina, aku juga seneng kok bisa bantu kalian di sini," sahut Michelle. Saat sore hari, waktu sudah menunjukkan pukul 5. Ayah Davina datang dengan di antar sopir pribadinya. Hendra tampak menenteng beberapa kantung belanjaan dari dalam mobil. "Hallo Om, baru pulang kerja ya?" Michelle bertanya saat ia melihat Hendra masuk ke dalam rumah. "Iya, di mana Davina?" tanyanya. "Oh Vinanya masih mandi sih Om, tadi dia minta untuk di tinggal dulu. Om silahkan duduk dulu, biar aku bantu Davina untuk bersiap." Michelle segera pergi, dan Anggara datang untuk menyambut mertuanya. "Hallo Yah, udah pulang kerja ya?" Anggara mencium tangan mertuanya. "Iya Ngga, ini Ayah belikan beberapa barang untuk kebutuhan rumah kalian. Kalau ada yang kurang bilang aja, biar nanti anak buah Ayah yang mengirimnya," ucap Hendra. "Makasih banyak Yah, sebenarnya Ayah tidak perlu repot-repot begini. Angga malah merasa tidak berguna menjadi suami. Em, omong-omong gimana kerjaan Ayah di kantor, pasti sedikit repot ya karena nggak ada Davina." Anggara mulai menyinggung masalah pekerjaan. "Yah, memang sedikit keteteran. Ayah sih masih berharap ada keajaiban untuk Davina. Supaya dia bisa kembali beraktivitas seperti dulu." Lagi-lagi guratan kesedihan itu kembali muncul. "Aku pun berharap demikian Yah, tapi ini takdir. Siapa yang bisa melawan takdir, jujur Angga juga sedih melihat kondisi istri yang sangat Angga sayangi menjadi seperti itu." Angga mulai menangis dan mengusap air mata itu. "Ayah harap kamu tetap bisa menerima kondisi putri Ayah walaupun seperti ini ya Ngga," pinta Hendra. Anggara hanya mengangguk sambil mengusap sisa air matanya. "Em … Yah, sebagai tanda bakti Angga dan Davina. Bagaimana kalau Angga saja yang menggantikan posisi Davina selama sakit. Seandainya suatu saat nanti ada keajaiban dari Tuhan dan Davina sembuh, maka Angga akan menyerahkan semuanya kembali pada Davina. Angga hanya ingin membantu Ayah saja," jelasnya. Hendra tampak sedikit berfikir, apakah dia benar membutuhkan Anggara juga di kantor. "Ide mu tidaklah buruk Ngga, Ayah akan membicarakan ini pada Davina dan beberapa petinggi di kantor. Ayah harap mereka semuanya tidak keberatan," sahut Hendra. Jelasnya, Hendra butuh waktu untuk berfikir sejenak. Dia juga perlu menyelidiki Anggara, apakah pria itu layak masuk Setiawan Techcore. Sebab tidak semudah itu memasukkan orang baru di posisi sepenting jabatan Davina. Setelah selesai mandi dan bersiap, Michelle mengantarnya ke ruang keluarga. "Om sama Davina ngobrol dulu aja, biar aku buatin teh hangat ya," ucap Michelle. Kemudian wanita itu segera menghilang. "Ayah …." Davina mulai ingin menangis lagi. "Sssttt, sudahlah Sayang jangan menangis lagi. Ayah akan usahakan pengobatan terbaik untukmu, kalau perlu Ayah akan membawamu ke luar negri untuk mengobati matamu." Perkataan Hendra membuat Davina merasa sedikit lega, setidaknya ayahnya pun masih peduli dengannya. "Terima kasih Ayah," jawabnya. "Silahkan diminum Om." Michelle meletakkan gelas yang berisi minuman di meja. "Vin, aku tinggal ke belakang dulu ya," pungkas Michelle. Lalu Michelle pun pergi. Saat situasinya sudah memungkinkan, Hendra pun mulai bercerita tentang pembicaraannya dengan Anggara tadi. "Bagaimana menurutmu Sayang, apakah Ayah harus menerimanya?" tanya Hendra."Nona, anda sudah bisa melihat?" tanya Deby dengan serius. Davina hanya hanya mengangguk sambil tersenyum. "Aku harap kau tidak mengatakannya pada orang lain dulu. Kali ini aku percaya padamu bahwa kau bisa memegang rahasia ku ini. Aku masih ingin mengungkap kebusukan orang-orang yang telah mengkhianati ku," ucapnya dengan sorot mata yang tajam. "Baik Nona, saya akan merahasiakan ini." Deby mengatakannya penuh dengan kemantapan. "Selanjutnya lakukan saja apa yang aku perintahkan," pungkas Davina. Setelah mendapat mandat dari nona besarnya, Deby segera pergi. Tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang mendengarkan pembicaraan itu. Dia lantas pergi tanpa mengeluarkan suaranya. Malam pun tiba, entah keberapa kalinya Anggara mengajak Michelle pulang ke rumah. Kali ini Davina menunggu suaminya di ruang tengah. Saat itu Davina yang sedang duduk bersama dengan mbak Mi untuk menonton TV. "Tuan," sapa mbak Mi. Namun, seketika suaranya tercekat karena Anggara menempelkan jari telunjukn
Davina terlihat serius menatap layar laptopnya. Dahinya mengernyit dan pandangannya menajam, seolah sedang mengintai sesuatu. Setelah beberapa saat ia melepas kacamatanya dan menyenderkan tubuh di kursi. "Baru beberapa bulan gabung di perusahaan Ayah, dia sudah berani memanipulasi keuangan kantor dengan jumlah yang begitu besar? Sepertinya dia memang bakat jadi maling, sungguh memalukan! Sayangnya pria bangs*t seperti itu masih berstatus sebagai suamiku," sesalnya. Apa yang dilihatnya tadi mulai dicetak kedalam bentuk kertas, satu persatu lembaran kertas itu muncul dari dalam printer. "Okey, sudah selesai. Sekarang tinggal kirim ke pengacaraku lalu mulai jalankan misi selanjutnya," gumamnya. Setelah merapikan beberapa lembar kertas itu, Davina mengambil ponselnya lalu menelfon seseorang. "Denis, aku sudah berhasil mengumpulkan data-data transaksi penggelapan uang kantor yang dilakukan Anggara. Sekarang tinggal menunggu bukti chat Anggara dengan Gundiknya itu," ucap Davina dengan po
"Nak apa kamu terluka, kenapa kamu melamun?" tanya Johanes. "Ah, e ... tidak kok Kek. Saya tidak apa-apa, silahkan di cek dulu Kek, apa isinya masih lengkap," usul Davina. "Iya semuanya masih lengkap, sekali lagi terima kasih ya Nak. Sebagai ucapan terima kasih ku, ini untuk jajan nanti." Johanes memberi Davina sejumlah uang di dalam amplop coklat. "Kakek, ini tidak perlu. Saya ikhlas menolong Kakek, sebenarnya itu tadi hanya gerakan reflek setelah mendengar Kakek berteriak tadi. Sepertinya kondisi Kakek sudah lebih aman sekarang, aku harap para pengawal Kakek tidak berada terlalu jauh dari Kakek. Aku harus pergi Kek, sampai jumpa." Davina segera pergi dengan melambaikan tangan. Johanes hanya tersenyum sambil menggeleng pelan, lalu ia pergi bersama para pengawalnya. Sementara Davina sendiri merasa lega karena sepertinya kakek Johanes tidak mengenalinya. Saat ini perusahaan milik Johanes masih ada kerjasama dengan milik ayahnya, Davina takut jika Johanes mengenalinya maka akan m
"Mas, ponsel ini yang keluaran terbaru udah ada lho. Kamu nggak mau beliin aku Mas," rayu Michelle."Boleh Sayang, emang berapa harganya?" Anggara tampak tersenyum menanggapi permintaan kekasihnya itu."Murah kok Mas, paling cuma 35 jutaan. Emang beneran kamu mau beliin aku Mas?" tanya Michelle untuk memastikan lagi."Iya dong, kamu pikir aku orang miskin. Tentu tidak Sayang hahaha ...,"ucapnya dengan percaya diri."Apa jangan-jangan kamu udah dapet duit lagi dari istrimu yang buta itu ya Mas?" Michelle terlihat semangat dengan pertanyaannya itu."Pinter banget sih kamu hahaha...." Anggara tertawa penuh kemenangan.Malam itu Anggara masuk ke kamar Davina sambil mengendap-endap saat Davina sudah terlelap. Lantaran saat di kantor Anggara mendengar jika Davina dikirim uang dalam jumlah banyak, sudah pasti saat itu uang istrinya masih banyak. Benar saja, ada beberapa gepok uang di laci nakas. Tanpa ragu dan takut Anggara mengambil beberapa gepok dan hanya disisakan dua gepok saja.'Orang
Pagi itu Anggara pergi ke kantor tanpa pamit dengan Davina. Jika dia Davina yang kemarin, maka hatinya akan sangat sedih mendapat perlakuan seperti itu dari suaminya. Sayangnya Davina hari ini sudah berbeda, semenjak semalam dia mengetahui jika suaminya secara diam-diam mengambil isi rekeningnya. Anggara menggunakan sidik jari Davina untuk melakukan transaksi mobile banking, padahal saat itu Davina sedang tertidur. Meskipun Davina sempat sadar, tapi dia memilih untuk membiarkan Anggara melakukan apa yang dia mau."Bagus jika dia sudah pergi, tinggal aku suruh Mbak Mi pergi juga. Lalu para teknisi cctv akan segera datang," ucapnya sambil menatap jendela.Beberapa menit yang lalu Davina baru saja melihat suaminya pergi dengan mobil barunya, tentu saja ada Michelle juga yang sedang glendotan di lengan Anggara. Tidak ada rasa cemburu sedikitpun di hati Davina saat ini, sepertinya memang dia sudah mati rasa. "Mbak ... Mbak Mi," panggilnya."Iya Non, ada apa?" tanya mbak Mi."Sekarang tang
"Hallo selamat siang, saya butuh seseorang yang bisa dijadikan mata-mata. Bisakah kalian mengirimkan orang yang paling ahli? Berapa pun harganya akan saya bayar," ucap Davina.Yah, wanita itu menghubungi sebuah agen detektif yang cukup terkenal di kota itu. Lantaran aktingnya yang harus tetap berpura-pura buta, Davina memiliki batas ruang gerak. Dia tidak bisa mengikuti kemana suaminya pergi, sehingga ia memutuskan untuk menyewa seorang detektif saja."Aku harap dengan cara ini bisa membantuku," gumamnya sendiri. Data diri serta foto Anggara telah dikirimkan Davina ke agensi itu. Lalu seseorang mengabari jika akan menuju lokasi Anggara saat ini."Bagus, sekarang aku akan menghubungi pengacara ku." Davina mulai menceritakan semua yang dia alami ke pengacaranya. Dia juga meminta pengacaranya agar mendampinginya dalam proses yang sedang dia jalani sekarang. "Mba Mbak Mi," panggilnya.Dari arah dapur mbak Mi sedikit berlari kecil dan menyahuti panggilan majikannya, "iya Non ada apa?""Se
"Kamu dianter sopir kan Mas?" tanya Davina."Iya, nanti sopir yang anter aku. Kamu lanjutin makannya, aku mau berangkat dulu ya, bye!" Anggara mengecup kening Davina sebelum ia pergi."Hati-hati Mas," teriaknya.Saat suaminya sudah pergi, Davina melihat situasi dan tidak ada orang saat itu. Ia berg
Tak terasa sudah satu bulan semenjak kejadian naas itu, kini Anggara mulai bisa berjalan kembali. Walaupun belum sepenuhnya normal, setidaknya ia sudah bisa beraktivitas. Setelah mendapat persetujuan dari Davina, Anggara kini sudah mulai bergabung di perusahaan ayahnya. "Hai Vin, gimana kabarmu ha
Tanpa sengaja seorang pria menabrak Davina dari belakang. Sambil terus menepuk-nepuk pipi Davina, pria itu mencoba membangunkannya. "Akh … sial, aku harus segera membawanya ke rumah sakit." Pria itu segera mencari taksi untuk membawa Davina ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, Davina segera
"Tahu, arem-arem, kacang-kacang buk." Seorang pedagang kaki lima mendekati jendela Davina sambil menawarkan barang dagangannya. "Mineralnya satu berapaan Mang?" tanya Davina setelah kaca mobil turun. "Lima ribu aja Buk, mau berapa? " jawab si mang penjual. "Dua aja deh Mang." Davina mengeluarkan







