Masuk"Sudahlah. Jangan diteruskan!" potong Sabrina cepat. Ia mengangkat tangan di udara, sebuah gestur otoriter yang menandakan bahwa ia tidak ingin mendengar satu silabel pun alasan dari mulut kakaknya. "Aku tidak peduli kau sedang kencan, sedang urusan bisnis, atau sedang bermain detektif. Yang aku tahu, kau berbohong dan meninggalkanku menghadapi Kael di saat Aliz sedang rewel!"
Ganda terdiam sejenak, menatap adiknya deng
Jeritan kecil Sabrina teredam begitu saja ketika Kael menarik tubuhnya mendekat, mengikis habis jarak yang tersisa di antara mereka. Alih-alih menjawab protes istrinya, Kael justru menyeringai tipis, lalu menundukkan kepala. Detik berikutnya, dia melancarkan jurus maut yang paling tidak bisa ditolak oleh Sabrina; melakukan tarian lidah yang lembut namun menuntut di ceruk leher wanita itu. "Kael... geli... stop, ah!" Sabrina menggeliat, mencoba menjauhkan lehernya yang sensitif. Namun, cengkeraman tangan Kael di pinggangnya justru semakin erat, mengunci posisinya dengan sempurna di dalam kepungan busa hangat. "Ini hukuman karena kau berani kabur ke sini, Sayang," bisik Kael parau, suaranya terdengar sangat seksi tepat di lubang telinga Sabrina. Sentuhan lidahnya berpindah dari ceruk leher naik ke daun telinga, memberikan kecupan-kecupan basah yang membuat bulu kuduk Sabrina meremang seketika. "Aku tidak kabur, aku hanya... ahh... Kael, dengar dulu..ssh" Kalimat Sabrina kembali te
"Grandma! Ke mana Sabrina dan Noah?" Nyonya Maureen menghela napas pelan lalu geleng-geleng kepala melihat wajah cucunya yang tampak kusut masai usai pulang dari kantor klan."Apa dia merajuk lagi? Apa dia kabur?" tanya Kael beruntun dengan nada cemas yang tidak bisa disembunyikan."Menurutmu?" Nyonya Maureen malah balik bertanya dengan tenang, sengaja membuat Kael semakin kelabakan. Kael memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pening, sementara Teguh yang berdiri di belakang bosnya hanya menahan senyum sekuat tenaga. Sudah enam bulan berlalu sejak mereka kembali dari Singapura, dan dinamika rumah tangga ini selalu berhasil membuat asisten pribadi itu terhibur di sisa harinya."Kenapa dia seringkali begitu?" keluh Kael lirih, t
Hari ini adalah hari terakhir mereka di Singapura sebelum terbang kembali ke Jakarta sore nanti. Namun, sebelum menuju bandara, ada satu tempat yang harus mereka kunjungi. Kael berjalan paling depan sembari menggendong Noah dengan sangat protektif di dalam dekapannya, memastikan bayinya terlindung dari embusan angin. Di sampingnya, Sabrina melangkah perlahan didampingi oleh Nyonya Maureen, Ganda, Gladis, dan juga Aliz yang sengaja meluangkan waktu untuk ikut mengantar kepergian mereka. Langkah Sabrina terhenti tepat di depan gundukan tanah dengan batu nisan bertuliskan nama Adrian. Keheningan seketika menyergap. Aliz bergerak maju selangkah, dengan telaten membantu membawakan keranjang berisi bunga segar dan menyerahkannya kepada Sabrina."Ini bunganya, Mama Sabi,"
Tawaran barusan kedua mata Sabrina membola sempurna. Ada kerinduan yang membuncah, sekaligus ketakutan yang mendalam."Tapi... dia sangat kecil, Sus. Bagaimana kalau gerakanku justru menyakitinya?" cicit Sabrina cemas."Hei, dengarkan aku," bisik Kael lembut, menatap lurus ke dalam netra Sabrina. "Tidak ada tempat yang lebih aman untuk Noah selain di dalam pelukan ibunya sendiri. Kau tidak perlu takut, Sayang." Sabrina menarik napas panjang lalu mengangguk. Kael dengan sabar membantu membuka kancing atas pakaian rumah sakit istrinya. Dengan kehati-hatian tingkat tinggi, perawat mengangkat tubuh mungil itu dari inkubator, menjaga agar semua selang medis tetap aman, lalu meletakkannya perlahan di atas dada telanjang Sabrina.
"Ini adalah efek bendungan ASI, Bu. Payudara Anda bengkak dan mengeras karena produksi ASI sudah mulai berjalan, tetapi belum ada pengosongan selama Anda tidak sadarkan diri." Penjelasan dari dokter jaga yang datang beberapa menit kemudian membuat Kael sedikit bernapas lega, meski rasa cemas belum sepenuhnya hilang. Dokter paruh baya itu memeriksa kondisi Sabrina dengan cekatan sebelum meresepkan kompres hangat dan obat pereda nyeri yang aman untuk ibu menyusui."Terlebih Anda baru saja sadar dari koma pasca-operasi tiga minggu lalu, perubahan hormon dalam tubuh Anda sedang bekerja sangat aktif," tambah dokter itu sembari menoleh ke arah perawat di sampingnya. "Perawat akan membantu Anda meredakan bengkaknya malam ini dengan teknik pemijatan lembut dan stimulasi laktasi."
Kael berkedip cepat. Dia ingin memastikan apakah telinganya sedang berhalusinasi akibat kurang tidur atau wanita di atas ranjang itu memang baru saja mengucapkan kata-kata yang paling ingin didengarnya di dunia ini. Kael langsung mendekat ke sisi ranjang. Napasnya tertahan di tenggorokan saat dia berusaha menyelami netra wanita yang sangat dicintainya itu. Tidak ada lagi binar canggung atau tatapan asing yang beberapa jam lalu sempat membuatnya ingin gila. Yang ada di sana kini hanyalah binar usil, kehangatan, dan sedikit rasa bersalah yang terpancar nyata.“Kau…”"Ya. Tentu saja aku masih mengingatmu. Bagaimana bisa aku..." Ucapan Sabrina terputus begitu saja. Kael tanpa ab
“Apa dia tidak curiga?” Suara Ganda di seberang telepon sana begitu serius. Sementara itu, Kael tersenyum karena dari kejauhan melihat Sabrina sibuk menunjukkan berbagai jenis kerajinan tan
Sabrina seketika panik. Jangankan membuka kaki, dia justru mengapitkan kedua pahanya dengan sangat rapat, mengunci pertahanannya kuat-kuat di atas seprai.“Sudahlah! Lupakan saja!” rengek S
Mobil hitam mewah itu melaju cepat membelah kegelapan pinggiran kota. Lampu depannya menyapu jalanan berliku yang diapit deretan pohon pinus tinggi, menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak di aspal basah.&nb
"Benar-benar tidak sopan! Kau pikir aku ini pelayan yang bisa kau suruh pergi begitu saja?" Sabrina mengomel tanpa henti di depan pintu unit apartemen Kael. Suaranya melengking di koridor yang sepi, menunjukkan betapa dongk







