เข้าสู่ระบบSemenjak pernikahan ayahnya yang kedua, hidup Aleena tak sama lagi. ia di kucilkan dan harus menghidupi dirinya sendiri. Di satu malam, Viki Kaka tirinya Aleena hendak melecehkan Aleena, namun hal itu urung terjadi karena tiba tiba keluarganya pulang ke rumah. Viki yang gak ingin nama baiknya rusak pun menunduh Aleena menggodanya. Ayahnya Aleena saat itu percaya dengan Viki dan memgusir Aleena. Tak sampai di situ, Aleena yang hendak mencari perlindungan pada Sang kekasih harus menelan pil pahit, karena kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya. di saat putus asa, Aleena di pertemukan dengan Kevin pengacara kaya raya berstatus duda. Drama pun di mulai karena ternyata Kevin adalah ayah dari Davin teman satu kampusnya yang sering membully Aleena
ดูเพิ่มเติม"Anak kurang ajar tak tahu malu! Pergi kau dari rumah ini?" Usir Darwin.
---- Hujan sore itu turun begitu deras, seolah ikut menangisi kemalangan Aleena. Gadis itu berjalan gontai, kakinya yang hanya beralaskan sepatu kets terasa beku. Kaos oblongnya basah kuyup, menempel di tubuhnya yang menggigil. Celana jeans yang ia kenakan terasa berat, seberat beban yang menghimpit hatinya. Aleena baru saja diusir dari rumah ayahnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung, kini berubah menjadi penjara yang menyiksa. Semua karena fitnah keji yang dilontarkan kakak tirinya, Viki. Pikirannya melayang kembali ke kejadian beberapa jam yang lalu. Aleena baru saja pulang kerja, lelah dan ingin segera beristirahat. Namun, saat ia melangkah masuk ke dalam rumah, Viki tiba-tiba menariknya ke dalam kamarnya. "Lepas!" pinta Aleena, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Viki. Viki hanya menyeringai. "Ayolah Al, aku tau, kau juga sebenarnya suka sama aku kan?" Aleena terkejut mendengar perkataan Viki. "Apa maksud Kak Viki? Kenapa Kak Viki bawa Aleena kemari?" Ketakutan di wajah Aleena membuat Viki semakin bersemangat. Ia mendekatkan tubuhnya pada Aleena. "Aleena kau sangat cantik, aku menginginkan mu malam ini, rumah ini sepi sekarang, jadi..." Aleena yang menyadari niat busuk Viki, berteriak, "Dasar mesum... Kau itu kakakku!!!" Ia berusaha bangun dan keluar dari kamar Viki. Namun, Viki lebih kuat. Ia terus menarik Aleena, hingga kaos yang dikenakan Aleena robek di bagian belakangnya. "Viki, lepasin aku, ini tidak benar!!! Kau itu Kakakku!!!" Aleena terus meronta, mengingatkan Viki tentang status mereka. "Siapa yang peduli, hah!!! Aku mau kau malam ini Aleena... kau begitu menghindariku sejak lama, dan ini kesempatan paling baik..." Aleena tidak tahan lagi. Ia menginjak kaki Viki dan berlari keluar kamar. Namun, di depan pintu, ia berpapasan dengan ayah, ibu tiri, dan adik tirinya. "Sedang apa kau di sini??" tanya ibu tirinya dengan tatapan tajam. Viki, yang baru saja keluar dari kamar, langsung berbohong. "Ah kebetulan kalian datang tepat waktu, Ayah, Ibu, Aleena datang kekamarku dan berusaha menggodaku, dia... merayuku dan bilang kalau dia mencintaiku Ayah!! Tentu saja aku memarahinya dan membuatnya menangis." Aleena menggelengkan kepalanya. "Enggak begitu Ayah, itu..." Belum sempat Aleena menyelesaikan penjelasannya, ayahnya, Darwin, menamparnya. "Dasar murahan!!!" Darwin kemudian menyeret Aleena dengan kasar dan mengusirnya dari rumah. Ibu dan saudara tiri Aleena tersenyum puas melihat penderitaan Aleena. "Pergi kau dari sini, dasar murahan!!!" usir Darwin. "Ayah itu tidak benar, tolong percaya padaku!!" "Pergi kau!!!" usir Darwin lagi, mengabaikan tangisan Aleena. "Ayah percayalah, ini tidak benar, Ka Viki yang mau melecehkan ku yah!" Aleena masih berusaha meyakinkan sang ayah sambil menangis. "Ayah jangan percaya, aku menyayangi Aleena seperti adiku sendiri, tapi tadi dia tiba-tiba masuk ke kamar dan menggoda ku yah!" elak Viki dengan begitu meyakinkan. Posisi Alena yang memang berada di kamar Viki membuat Darwin percaya pada anak tirinya itu. "Aleena, aku malu memiliki putri seperti mu!" sentak Darwin. "Dia itu kakak mu, tapi kau malah menggodanya! Apa kau tidak memikirkan harga dirimu? ibumu pasti sangat kecewa padamu, kau memang pembawa sial!" "Ayah itu tidak benar, Sungguh aku tidak melakukan itu, bukan kah aku anak kandung mu? mengapa kau tidak mempercayai ku? dan mengapa ayah malah membawa-bawa ibu?" Aleena benar-benar putus asa. air matanya sejak tadi tak berhenti keluar. "Diam! jangan sebut aku dan ibumu dengan mulut kotor mu itu!" Tuduhan keji dari Viki memang menyakitinya, tapi.... melihat ayahnya tak mempercayai nya dan lebih mempercayai Viki yang hanya anak sambungnya membuat Aleena begitu sakit hati. "Heh bodoh! bagaimana kamu bisa di percaya sedang kan kami semua melihat kamu berada di kamar putraku!" seru Elisa ibu tirinya. Elisa menatap suaminya, lalu berkata dengan suara parau, "Mas aku tau Viki bukanlah anak kandungmu, tapi aku mendidik mereka dengan baik." "El, jangan menangis, aku percaya padamu dan pada anak-anak mu." balas Darwin menenangkan. tangannya mengelus rambut Elisa istrinya dengan lembut. "Ayah....." Alena begitu putus asa mendengar itu. "Setelah ini jangan memanggilku lagi dengan sebutan Ayah, aku tidak sudi memiliki anak murahan seperti mu!" kata-kata itu pelan namun begitu menusuk di hati Aleena dan mampu mengoyak hatinya hingga hancur. Tanpa aba-aba, Darwin menarik tangan Aleena dan menyeretnya dengan kasar menuruni anak tangga. Aleena sesekali meringis kesakitan karena cengkraman yang begitu kuat di lengannya. namun Darwin yang buta akan cinta nya pada Elisa tak memedulikan semua itu. "Ayah sakit...." Darwin menyeret Alena ke dekat pintu dan membuka pintu itu dengan begitu kasar lalu mendorong tubuh kurus Aleena keluar hingga Aleena terjatuh. "Mulai sekarang, kau bukan lagi putriku, enyah kau dari hadapanku! aku gak sudi memiliki putri seperti mu!!" kata kata itu begitu menggelegar mengalahkan petir malam itu. Aleena berusaha bangkit dan mendekati ayahnya untuk meminta ampun, tapi... belum sempat Aleena bangun ayahnya sudah lebih dulu masuk dan menutup pintu dengan kasar. Aleena terpaku. "Ayah...." Aleena tak lagi berusaha menggedor atau memanggil ayahnya. ia bahkan menghapus air mata nya saat ini. Alena pun menatap langit yang semakin gelap dengan hujan dan petir yang semakin besar. Aleena bangkit dan merogoh saku celana nya. "ponsel dan tas ku tadi terjatuh di kamar Viki, bagaimana ini?" Aleena pun kembali memeriksa saku celananya, dan menemukan selembar uang, "Hanya ini....sepuluh ribu cukup untuk apa?" Pandangan nya nanar menatap uang sepuluh ribu yang terlihat lecek, ia kemudian ingat dengan kata-kata Radit, kekasihnya, "Sayang, kalau kamu perlu bantuan jangan ragu bilang sama aku ya...Aku menyayangimu...Aleena." "Iya benar, aku gak boleh sedih, masih ada Radit, aku gak sendirian....""Lama sekali kalian jalan-jalan!"Teguran berhawa dingin itu menggema keras dari arah tangga utama mansion, memotong gelak tawa tipis yang sempat mengalir di antara Davin dan Aleena. Langkah kaki keduanya membeku di ambang pintu depan.Kevin berdiri di bordes tangga, mengenakan kemeja hitam yang lengannya telah digulung hingga siku. Postur tubuhnya yang tegap memancarkan aura dominasi mutlak yang pekat. Matanya menyapu pemandangan di bawah sana—beberapa paper bag dari butik mewah di tangan Davin, serta posisi berdiri keduanya yang begitu dekat.Davin menarik napas panjang, memasang wajah acuh tak acuh khasnya. "Kami berkeliling dan belanja, Yah, jadi lama," jawab Davin santai, berusaha bersikap sewajarnya.Kevin tidak mengalihkan pandangannya. Sorot matanya yang tajam langsung mengunci sosok Aleena yang mendadak berdiri kaku. "Aleena, saya lapar. Buatkan saya makanan.""Baik, Tuan!" jawab Aleena refleks, kepalanya tertunduk hormat.Davin mengerutkan keningnya, merasa tidak tega melilh
Mobil sport hitam milik Davin melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan di sore hari. Alih-alih mengambil rute jalan tol yang mengarah kembali ke kawasan perumahan elit mereka, Davin justru memutar kemudi ke arah pusat perbelanjaan dan distrik bisnis. Aleena yang sedari tadi menatap ke luar jendela, mulai menyadari perubahan rute tersebut. Ia mengerutkan keningnya, menoleh menatap profil samping Davin yang tampak sangat santai di balik kemudi. "Davin, kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang ke rumah," tegur Aleena dengan nada cemas. "Kita jalan-jalan dulu!" sahut Davin enteng, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan. Mata Aleena membulat. "Tapi, Davin, aku harus segera pulang! Aku harus membersihkan rumah dan memasak untuk makan malam Tuan Kevin. Ini sudah tugasku!" bantah Aleena, membayangkan tumpukan pekerjaan rumah yang menantinya. "Itu bisa dikerjakan nanti. Kita jalan-jalan dan makan siang yang terlambat dulu. Santai sa
Suasana di area kantin kampus terasa tegang saat geng populer berkumpul di meja sudut. Beberapa kawan dekat Davin menatap sang ketua dengan dahi berkerut, masih terbayang adegan di dalam kelas tadi saat Davin secara terang-terangan memasang badan untuk Aleena."Davin, kau sungguh-sungguh telah berteman dengan si Aleena?" tanya salah satu temannya dengan nada tak percaya, setengah berbisik agar mahasiswa lain tak terlalu mendengar."Ya, dia temanku sekarang. Dia bekerja di rumahku," jawab Davin santai sembari mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kayu."Kamu serius, Vin?" seru Rian menimpali, membelalakkan mata."Ayah mempekerjakannya dan aku pikir tak ada yang salah dengannya. Itu saja," balas Davin singkat, berusaha mengabaikan tatapan penuh curiga dari para sahabatnya.Rian menyeringai tipis, lalu menyenggol lengan Davin. "Ku pikir kau menyukainya.""Mana ada!" sangkal Davin cepat. Suaranya sedikit meninggi, dan tanpa bisa ia cegah, daun telinganya merona merah padam—sebuah reaksi
Aleena menoleh perlahan ke arah sumber suara yang begitu dia kenali. Seketika, kilasan memori pahit berputar di benaknya. Wanita yang berdiri di samping mejanya dengan senyum meremehkan itu adalah Dina—mantan sahabat baiknya sendiri yang dengan tega berselingkuh di belakangnya bersama Radit, pria yang dulu berstatus sebagai kekasih Aleena. Melihat Dina yang kini menatapnya penuh racun, Aleena tidak gemetar. Alih-alih menyangkal atau menangis terpojok, Aleena justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di dada dengan anggun. Tatapannya berubah menjadi begitu dingin dan menantang."Kalau iya, memangnya kenapa?" sahut Aleena dengan nada suara yang sengaja dibuat santai namun menusuk. "Setidaknya aku tahu kalau ternyata pria sekelas Davin pun bisa takluk di hadapanku."Dina terbelalak, wajahnya yang penuh riasan itu mendadak kaku. "Kau!!""Apa?" potong Aleena cepat, meremehkan kepanikan Dina. "Dibandingkan dengan Davin, Radit bukan apa-apa. Sekarang aku men
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.