LOGINGedoran di pintu ruang kerja itu tidak kunjung berhenti. Kael tidak segera bergerak untuk membukanya. Ia justru tetap mematung di depan Sabrina, menatap asistennya itu dengan isyarat tajam agar tetap diam di tempat. Jarak mereka yang hanya terpaut beberapa inci membuat Sabrina bisa merasakan ketegangan yang merambat dari tubuh pria itu."Kael! Buka pintunya sebentar. Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," suara Gladis terdengar dari luar. Nada bicaranya sangat tenang, bahkan terdengar sangat peduli seolah-olah gedoran keras tadi hanyalah wujud dari rasa antusiasnya. Sabrina meremas kain sutra gaunnya. Gladis benar-benar ahli dalam menjaga nada suaranya tetap manis, meskipun gedoran pintunya barusan mencerminkan kegelisahan yang nyata. Ia melihat rahang Kael mengeras, namun pria itu tetap tidak melepaskan tatapannya dari mata Sabrina."Kael? Aku tahu kau di dalam. Tolong buka pintunya dong," lanjut Gladis lagi. Kali ini suaranya merendah, menunjukkan sisi profes
“Tidak, ini ada yang salah ‘kan? Aku adalah orang yang berhak untuk itu. Kael atau orang di butik sana pasti salah menuliskan nama,” desis Gladis, suaranya bergetar antara malu dan amarah.“Maaf, Nona. Paket ini memang ditujukan khusus untuk Nona Sabrina,” ucap sang petugas keamanan dengan nada yang sangat hati-hati. Ia melangkah melewati Gladis yang tangannya masih terulur kaku di udara, lalu menyerahkan kotak besar bersegel emas itu langsung ke hadapan Sabrina. Sementara itu senyum lebar di wajah Gladis luntur seketika.“Sabrina, itu paket darurat yang aku pesan tadi siang. Bawa ke atas sekarang.” Suara bariton yang berat barusan memecah ketegangan. Kael berdiri di balkon lantai dua, masih memegang ponsel di tangan kiri sementara tangan kanannya bersandar di pagar pembatas. Ia men
Gladis tidak langsung bicara. Ia meletakkan sendok peraknya dengan denting pelan yang sengaja dibuat, lalu meraih serbet kain linen di pangkuannya. Gerakannya sangat lambat dan anggun. Ia mengelap sudut bibirnya dengan presisi seorang wanita bangsawan, seolah sedang melakukan ritual penting. Matanya tidak melirik Sabrina sedikit pun, memperlakukan gadis di hadapannya itu seperti bagian dari furnitur ruangan yang tidak kasat mata."Supnya enak bukan?" Gladis akhirnya memecah keheningan. Suaranya halus, namun membawa nada superioritas yang kental. "Aku belajar resep ini langsung dari seorang koki di Paris saat masih kuliah bersama Kael dulu. Di panti asuhan, aku belajar bahwa kemampuan dasar seperti memasak adalah kunci untuk bertahan hidup. Dan setelah diadopsi, aku mengasah itu agar bisa melayani orang-orang yang berharga bagiku." Sabrina hanya diam, meletakkan sendoknya. Ia tahu arah pembicaraan ini. Ia sadar kemampuannya di dapur hanya sebatas menggoreng telu
"Duduk di sana. Jangan bergerak sebelum aku selesai bicara," suara Kael rendah, namun sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya.Sementara Rani yang tadinya menggebu-gebu membela harga diri Sabrina, kini benar-benar membeku. Nampan pembersih di tangannya bergetar hebat. Ia melirik Sabrina dengan tatapan minta tolong, namun gadis itu sendiri hanya bisa menunduk dalam, meremas pakaian kerjanya yang masih ia peluk erat.Kael melangkah mendekati Rani, melewati Sabrina tanpa menoleh sedikit pun. Ia berhenti tepat di depan petugas kebersihan itu, memberikan tekanan mental yang luar biasa hanya dengan keberadaannya. "Jadi, menurutmu aku memanfaatkan asistenku sendiri? Merusak masa depannya di dalam kantor ini?""Ma-maaf, Pak... saya... saya cuma khawatir sama Sabrina," cicit Rani dengan suara yang nyaris hilang."Khawatir?" Kael mendengkus. "Khawatirlah pada pekerjaanmu sendiri. Karena mulai detik ini, kau punya tugas tambahan. Bersihkan seluruh kaca balkon di lantai in
Cahaya matahari pagi menembus jendela ruang kerja Kael melalui gorden yang terbuka sedikit. Sinarnya jatuh tepat di atas karpet bulu yang tebal, memperlihatkan posisi tidur yang sangat tidak biasa. Di sana, Kael tertidur pulas sambil memeluk Sabrina dari belakang. Lengan kekar pria itu melingkar erat di pinggang sang gadis, menarik tubuh mungil asistennya itu merapat ke dadanya seolah sedang mencari kehangatan di tengah dinginnya AC ruangan. Keduanya tampak tertidur sangat lelap setelah semalam suntuk berkutat dengan draf audit Jerman. Kael menjadi orang pertama yang terbangun. Matanya mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya yang mulai terang. Namun, begitu kesadarannya pulih dan ia menyadari posisi mereka yang sangat intim, Kael tersentak. Jantungnya berdegup kencang secara tidak wajar. Ia tahu ini sudah melampaui batas profesional yang selama ini ia jaga dengan ketat. Kael hendak beranjak secepat mungkin agar Sabrina tidak menyada
Malam di lantai teratas gedung O’Shea Group hanya menyisakan dengung pelan pendingin ruangan. Kael bersandar di kursi kebesarannya, menyesap kopi hitam yang sudah mendingin. Matanya tidak lagi tertuju pada layar monitor yang menampilkan grafik saham, melainkan pada pemandangan tak biasa di sudut sofa ruang kerjanya. Di sana, Sabrina masih tetap pada posisi terakhirnya saat mereka berdiskusi beberapa saat lalu. Blazer hitamnya tersampir sembarang di lengan sofa. Gadis itu duduk lesehan di atas karpet bulu, punggungnya bersandar pada kaki sofa dengan laptop di atas meja yang sejajar dengan pandangannya. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini digulung asal-asalan ke atas menggunakan sebuah pensil, menyingkap leher jenjangnya yang bewarna kuning langsat di bawah cahaya lampu kerja yang temaram. "Kau tidak berniat pulang?" suara berat Kael memecah kesunyian, datar namun menuntut. Sabrina tidak mendongak. Jemari







