OBSESI sang Berondong HYPER

OBSESI sang Berondong HYPER

last updateLast Updated : 2026-04-08
By:  Ziya_Khan21Ongoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
12 ratings. 12 reviews
5Chapters
28views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Rivan Aryawiguna menghancurkan dunia Kania Hardian hanya agar dia menjadi satu-satunya tempat Kania bersandar. Dari kemiskinan hingga kehilangan orang terdekat, semua adalah skenario Rivan untuk menjadikannya tawanan dalam "neraka wangi" yang mewah. - Saat ruang rahasia mengungkap obsesi gilapria itu sejak mereka kecil, Kania sadar: cinta Rivan bukan anugerah, melainkan pemusnahan identitas. Kini, Kania harus memilih, menjadi boneka dalam permainan beracun sang predator, atau hancur saat mencoba melawan.  - Sanggupkah Kania merebut kembali takdirnya sebelum obsesi sang berondong hyper benar-benar menelan jiwanya?

View More

Chapter 1

KR 1. Pemuda Gila!

Rasa dingin itu merayap perlahan dari ujung kaki, menelusuri betis, hingga berhenti tepat di perut bawah yang terasa kosong. Kania tersentak, kelopak matanya yang terasa seberat timah dipaksa terbuka. 

Cahaya lampu gantung kristal yang temaram di atas sana membuat kepalanya langsung berdenyut nyeri, seolah-olah ada ribuan jarum yang sengaja ditancapkan di pelipisnya secara bersamaan. Dia mencoba menggerakkan lengannya, tetapi tekstur kain yang bersentuhan dengan kulitnya terasa asing. Terlalu halus, terlalu mahal, dan di balik selimut sutra berwarna abu-abu arang itu, Kania menyadari satu hal yang membuat darahnya mendadak membeku, dia benar-benar terbaring tanpa sehelai benang pun .

"Oh, astaga ... tidak, tidak, tidak …."

"Kamu sudah bangun?"

Suara itu rendah, berat, dan datang dari sudut ruangan yang gelap. Kania merentangkan selimut setinggi mungkin, menutupi dadanya yang naik-turun dengan cepat. 

Di sana, di sebuah kursi kulit bergaya industrial, seorang pria duduk dengan santai sambil menyesap cairan amber dari gelas kristal. Rivan Aryawiguna. Mata pria itu, yang hanya berusia dua puluh tiga tahun, tetapi menyimpan tatapan predator tua, terkunci tepat pada manik mata Kania.

"Rivan? Apa yang ... kenapa aku ada di sini? Di mana pakaianku?" tanya Kania, suaranya parau dan bergetar hebat.

"Sudah dihancurkan. Kamu tidak butuh pakaian lama yang baunya penuh alkohol murahan dan keringat penyesalan itu lagi," jawab Rivan enteng, dia bangkit berdiri, memperlihatkan bahu kokoh di balik kemeja hitam yang kancing atasnya sengaja dilepas.

"Kamu bercanda, kan? Aku mau pulang. Sekarang!"

"Pulang ke mana, Kania? Ke apartemen sempit yang barusan disita bank pagi ini? Atau ke rumah mantan suamimu yang sekarang sedang sibuk mengurus perceraian keduanya?"

Kania mematung. Kepalanya semakin pening, memori semalam berkelebat seperti film rusak yang diputar cepat. Hujan lebat, dentuman musik di bar. Wajah mantan suaminya yang terlihat memuakkan saat berselingkuh. Lalu ... wangi parfum ini. Wangi musk dan kayu cendana yang tajam.

"Apa yang kamu lakukan semalam?" tanya Kania lirih, air mata mulai menggenang.

"Apa yang tidak kita lakukan, maksudmu? Kamu menangis di bahuku, memohon agar aku menghapus semua memori burukmu. Dan sebagai laki-laki yang sopan, aku hanya mengabulkan permintaanmu dengan sangat, sangat mendalam.” Rivan berjalan mendekat, setiap langkah sepatunya di lantai marmer terdengar seperti lonceng kematian bagi ketenangan Kania.

"Kamu menjebakku. Aku tahu ini salah satu permainan gila kamu!"

"Menjebak? Kamu sendiri yang datang ke kantorku kemarin sore, gemetar ketakutan karena utang ayahmu menumpuk. Ingat?"

"Tapi bukan berarti aku setuju untuk tidur dengannya ... denganmu!"

"Sayangnya, tubuhmu bicara hal yang berbeda, Kania. Tanda merah di lehermu itu bukan bekas gigitan nyamuk." Rivan berhenti tepat di pinggir tempat tidur, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Kania yang pucat. "Dan omong-omong, kamu memanggil namaku berkali-kali. Jauh lebih sering daripada kamu memanggil nama pengecut yang pernah jadi suamimu itu."

"Berhenti ... aku mohon, berhenti."

"Kenapa berhenti sekarang saat permainan baru saja dimulai? Aku sudah membeli seluruh hidupmu dari para penagih utang itu, Kania. Sekarang, setiap helai rambutmu adalah investasiku."

"Kamu gila. Aku bisa lapor polisi! Ini penculikan, ini pemerkosaan!" teriak Kania histeris.

Rivan justru tertawa. Tawa pendek yang terdengar sangat meremehkan. Dia meletakkan gelasnya di nakas, lalu dengan gerakan kilat, tangannya mencengkeram rahang Kania, memaksa wanita itu untuk terus menatapnya.

"Silakan lapor. Tapi sebelum kamu sampai ke kantor polisi, seluruh rekaman CCTV saat kamu menyeret aku masuk ke kamar ini akan tersebar ke setiap relasi bisnis ayahmu. Bayangkan apa yang terjadi pada reputasi keluarga Hardian yang 'terhormat' itu jika mereka tahu putri tunggalnya menjual tubuh pada pemuda lima tahun lebih muda demi beberapa milyar rupiah."

"Aku tidak pernah ... aku tidak mungkin melakukannya …."

"Alkohol punya cara unik untuk mengeluarkan kejujuran, Kania. Kamu mendambakan keamanan. Kamu mendambakan kekuatan. Dan sekarang, aku adalah satu-satunya hal di dunia ini yang memberimu keduanya."

"Kamu bukan penyelamatku, Rivan. Kamu iblis."

"Mungkin. Tapi iblis inilah yang akan membayari biaya rumah sakit ibumu minggu depan. Iblis inilah yang akan memastikan mantan suamimu tidak akan pernah bisa mendapatkan pekerjaan lagi di negara ini."

Kania merasakan paru-parunya mengecil. Dia tidak bisa bernapas. Dia terjepit antara kemarahan yang membakar dan kenyataan pahit bahwa pria di hadapannya ini benar-benar memegang kendali atas hidupnya yang sudah hancur lebur.

"Apa mau kamu? Kenapa harus aku?" tanya Kania dengan suara yang hampir menghilang.

"Kenapa, ya?" Rivan mengusap pipi Kania dengan ibu jarinya, gerakannya lembut, tetapi terasa seperti ancaman maut. "Mungkin karena sejak aku berumur sepuluh tahun, saat melihatmu menangis di pemakaman kakekku, aku sudah memutuskan bahwa tidak ada orang lain yang boleh melihat air matamu kecuali aku."

"Kamu ... kamu sudah memperhatikanku sejak lama?"

"Aku tidak hanya memperhatikanmu, Kania. Aku merancang duniamu. Kamu pikir kebetulan suamimu ketahuan selingkuh di saat yang sama perusahaan ayahmu bangkrut? Tidak, sayang. Aku hanya mempercepat takdir."

Darah Kania serasa berhenti mengalir. Napasnya tercekat di tenggorokan. "Apa kamu bilang? Jadi kamu ... kamu yang menghancurkan pernikahanku? Kamu yang menyabotase proyek ayahku?"

"Aku hanya merapikan jalan setapak supaya kamu tidak punya pilihan lain selain lari ke arahku. Dan lihat sekarang, kamu di sini. Di ranjangku. Persis seperti yang aku bayangkan selama tiga belas tahun terakhir," bisik Rivan tepat di telinga Kania, membuat bulu kuduk wanita itu berdiri ngeri.

"Lepaskan aku! Kamu sakit, Rivan! Kamu sakit jiwa!" Kania mencoba memukul dada Rivan, tetapi dengan mudah pria itu menangkap kedua pergelangan tangannya dan menindihnya ke kasur.

"Aku sakit karena kamu, Kania. Dan kamu adalah satu-satunya obatnya. Jadi, diam dan patuhlah. Itu akan membuat proses adaptasi ini jadi jauh lebih nyaman."

"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah sudi menjadi milikmu!"

"Benarkah? Coba lihat ke layar di depanmu itu.” Rivan menunjuk ke sebuah monitor besar yang tiba-tiba menyala di dinding depan tempat tidur.

Di layar itu, terlihat sesosok pria yang sangat dikenal Kania—ayahnya—duduk di sebuah ruangan interogasi dengan tangan terborgol. Wajah pria tua itu penuh luka lebam dan ketakutan luar biasa.

"Papa! Apa yang mereka lakukan pada Papa?" jerit Kania, air matanya kini pecah tak tertahankan.

"Itu tergantung padamu, Sayang. Satu tanda tanganmu di dokumen 'kerjasama' yang ada di meja itu, dan Papa-mu akan pulang dalam keadaan utuh sore ini. Kalau tidak ... yah, aku tidak bisa menjamin dia akan keluar dari sana dengan semua jarinya masih lengkap." Rivan melepaskan cengkeramannya, lalu berdiri dengan wajah yang kembali tenang seolah tidak baru saja mengancam nyawa seseorang.

Kania terisak hebat, tubuhnya gemetar di balik selimut sutra yang kini terasa seperti kain kafan. Dia menoleh ke arah meja kecil di dekat jendela, di mana selembar kertas dan sebuah pena emas sudah menunggu dengan sabar.

"Kenapa kamu melakukan ini padaku? Aku tidak pernah menyakitimu …," isak Kania.

"Kamu menyakitiku setiap kali kamu tersenyum pada pria lain. Kamu menyakitiku setiap kali kamu menganggapku hanya anak kecil tetangga yang tidak berarti. Sekarang, aku akan pastikan kamu hanya akan bernapas jika aku memberimu izin.” Rivan menuangkan gelas kedua, lalu berjalan menuju pintu kamar.

"Aku benci kamu, Rivan. Seumur hidupku, aku akan membencimu!"

Rivan berhenti tepat di ambang pintu, menoleh sedikit dengan seringai yang membuat detak jantung Kania berhenti seketika.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviewsMore

Taehyun
Taehyun
Benci banget dengan Rivan ......
2026-04-17 15:09:10
2
0
Gadizt Cengeng 🥲
Gadizt Cengeng 🥲
Poor Kania, kmu yg sabar yah ......
2026-04-17 14:21:22
3
0
Ernhy er🤑
Ernhy er🤑
The best ceritanya ......
2026-04-17 14:17:52
4
0
Ernhyy Ahza❤️‍🩹
Ernhyy Ahza❤️‍🩹
Smngat KK thor
2026-04-17 14:16:14
3
0
Istri Jungkook
Istri Jungkook
Ada yg baru nih ...... yg pastinya rekomen dong karya kak ziya ...️‍......️‍...
2026-04-17 13:34:30
6
0
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status