LOGINWhy was I thinking about his lips? Was I really that starved for attention? I couldn't tear my eyes away. Maybe it was the alcohol, or maybe it was just the sheer need for something to distract me. But it wasn't just his lips. His jaw was sharp, the muscles of his neck visible beneath the fabric of his shirt. He looked like someone who could make me forget everything. His voice broke through my thoughts. "Something wrong?" I blinked, shaking my head, forcing my eyes to pull away from him. "No. Nothing." I felt his gaze still on me, making me feel like he could see right through all the bullshit I was trying to wear. I wasn't sure if it was the alcohol, the heartbreak, or the way he looked at me, but suddenly it didn't feel like a mistake. It felt like something I needed. Without thinking, I stood, my body moving before my mind could catch up. My heart raced as I stepped closer to him, his brow furrowing slightly in confusion. He was surprised, but I didn't care. I grabbed his shirt, pulled him down to me, and pressed my lips to his.
View MoreBab 1
"Apa? Saya hamil, Dok?" ulangku lirih. Aku menoleh sekilas kepada pria yang tengah fokus menghadapi alat USG yang terpasang tepat di sisi ranjang yang tengah kutiduri ini. "Betul, Bu. Lihatlah, titik kecil ini menandakan sebuah embrio, titik kehidupan baru yang ada di rahim ibu." Pria muda itu menggerakkan kursor dan menunjuk ke titik yang dimaksud, walaupun tentu saja aku tidak mengerti karena bagiku sama saja. Layar di depanku itu hanya berwarna hitam putih dan aku tidak tahu titik yang dimaksud oleh dokter Aariz. "Tapi bagaimana mungkin? Bukankah aku sudah lima tahun menikah dan belum juga dikaruniai anak?" Aku menggumam tanpa sadar. Seorang perawat perempuan membantuku bangkit dari pembaringan dan kini aku sudah duduk berhadapan dengan dokter Aariz. Sebenarnya dokter Aariz meresepkan obat pereda mual dan vitamin untukku, tapi sengaja tidak kutebus, karena uang yang kumiliki terbatas. Aku hanya sanggup membayar biaya pemeriksaan. Mungkin nanti aku akan membeli minyak kayu putih saja untuk membantuku meredakan rasa mual dan pusing yang nyaris setiap waktu mendera. Ayunan langkah yang gontai membawaku keluar dari bangunan rumah sakit ini. Tubuhku serasa lemas tak bertenaga. Rasanya sudah tak kuat lagi untuk berjalan. Akhirnya aku memutuskan untuk duduk di kursi yang ada di taman kecil samping rumah sakit ini. "Nak.... Terima kasih sudah hadir dalam hidup Mama, meskipun mungkin kita hanya akan menjalani hari-hari berdua saja, karena Mama sudah ditalak dan diusir papamu dari rumah kita." "Mungkin dengan keadaan Mama yang seperti ini, Mama nggak bisa kasih kamu yang terbaik, tapi Mama memastikan untuk tetap merawat dan membesarkan kamu semampu Mama." "Kehadiranmu sudah sangat lama Mama nantikan. Bagaimanapun sulitnya kondisi dan kehidupan Mama saat ini, kamu tetaplah anugerah terindah. I love you, Baby." Aku membelai perutku berulang kali. Tangisku pecah seketika. Seandainya kehamilan ini terjadi disaat aku belum ditalak oleh mas Keenan, pasti kami akan merasa sebagai pasangan yang paling berbahagia. Seandainya fitnah itu tidak menjadi badai yang akhirnya membuat suamiku gelap mata.... Aku memejamkan mata ketika merasakan pandanganku menggelap. Bayangan itu silih berganti berkelebatan di benakku seperti slide film. Mereka, ibu mertuaku, dua kakak iparku.... Dan Eliana. Perempuan cantik yang sangat berhasrat untuk merebut suamiku. Mungkin kini dia tengah bersorak-sorai kemenangan karena berhasil membuat mas Keenan menceraikanku, lalu mengusirku dari rumah besar itu, tempat yang selama lima tahun terakhir ini menjadikanku ratu di sisi mas Keenan. Meski kedua kakak perempuan dan ibunya tidak menyukaiku, tapi itu tidak membuat mas Keenan berhenti meratukanku di sisinya. Aku tetaplah menikmati perhatian dan cintanya yang teramat besar. Sampai akhirnya entah mendapatkan dari mana, tapi yang jelas foto-foto itu dilemparkan mas Keenan begitu saja ke hadapanku. Bukan cuma itu. Dia pun melemparkan ponsel mahalnya. Ponsel yang tengah memutar video yang berdurasi hampir satu menit. Video yang menjijikan itu, bahkan langsung membuat tubuhku panas dingin. Tentu saja aku teramat kaget, karena merasa tidak pernah melakukan apapun. Tapi kenapa di video itu aku terlihat tengah melakukan hubungan badan bersama pria lain, pria yang bahkan berbeda-beda di setiap foto yang mas Keenan lemparkan ke hadapanku? Siapa yang sudah memodifikasi atau mengedit foto dan video itu? Apakah ini makar yang sedang dilancarkan oleh orang-orang yang tidak menyukaiku di dalam keluarga inti mas Keenan? Namun untuk menuduh seperti itu, jelas aku tidak punya bukti. Aku yang terlalu polos tidak mengira jika mereka akan berbuat kejam kepadaku sampai sejauh ini. Tubuhku seketika gemetar. "Itu foto editan, Mas. Masa kamu lupa, zaman sekarang sudah canggih?! Kalau memang benar aku selingkuh, dan melakukan seperti apa yang terlihat di foto itu, mana saksi untukku?!" tantangku. "Mas harus hadirkan dua saksi yang adil untukku sebelum menuduhku berzina!" Aku tetap bersuara lantang meski wajahku sudah basah dengan air mata. "Aku dan Yuna yang menjadi saksinya!" Kedua kakak perempuan mas Keenan itu begitu kompak bersuara, sehingga aku terpaksa menoleh. Perempuan yang memakai dress selutut itu melangkah begitu anggun. Rosa bahkan mengibaskan rambutnya yang tergerai saat berada di dekat kami. "Aku dan Yuna melihat Alifa dijemput oleh seorang pria di mall, lalu kalian pergi dengan mobil. Aku dan Yuna mengikuti kalian sampai akhirnya kalian sampai di hotel, lalu melakukan kegiatan panas yang menjijikan itu!" "Aku tidak akan pernah membiarkan seujung kuku pun disentuh oleh pria lain, walaupun nyawaku taruhannya. Demi Allah, itu bukan aku. Foto dan video ini editan!" "Editan kamu bilang?!" Lagi-lagi suara lain terdengar. Kali ini sosok perempuan bernama Eliana, perempuan yang konon katanya merupakan putri dari sahabat dekat ibu mertuaku. "Aku bisa membantu Mas Keenan untuk membawa foto-foto dan video ini kepada seorang ahli IT. Dari situ nanti ketahuan jika foto-foto ini editan atau bukan." Perempuan itu tersenyum miring sembari menatap kepadaku. "Tapi aku percaya jika foto-foto ini seratus persen asli. Hanya Mas Keenan saja yang begitu gampang tertipu oleh wajah polosnya, padahal aslinya Alifa hanya seorang pelacur!" "Tidak perlu!" Mas Keenan menggebrak meja di dekatnya yang membuat aku seketika mundur selangkah. Namun tanpa diduga mas Keenan justru mendekatiku. Dia berjongkok dan menarik tanganku sehingga kini kami saling berhadapan. "Kamu hanya cukup mengakui kesalahanmu, Alifa. Minta maaf dan tidak mengulangi perbuatanmu lagi. Setelah itu kita anggap semuanya sudah selesai. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.... Aku memaafkanmu, Alifa," ucap pria itu dengan mata yang berkaca. Bibirnya tampak bergetar. Sempat ragu menyelinap di hati, tapi aku memilih untuk menggeleng. "Aku tidak bisa mengakui sesuatu yang tidak pernah aku perbuat, Mas!" "Apa?!" Ketiga perempuan yang berdiri tidak jauh dari kami itu memekik bersamaan. "Kamu benar-benar sombong, Alifa!" sambung mbak Rosa. "Tak kusangka ternyata Keenan sebucin ini pada istrinya. Tapi ternyata kamu malah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadamu. Dasar pelacur sialan!" Kali ini mbak Yuna yang memakiku. Dia sempat akan bergerak mendekatiku, tapi tangannya keburu ditangkap oleh mbak Rosa. "Tampaknya Alifa masih ingin bertualang dari satu lelaki ke lelaki lainnya di belakang Mas Keenan," sinis Eliana, lagi-lagi dengan senyuman miringnya. "Mungkin dia tidak cukup dengan satu lelaki. Lagi pula dia kan mandul, jadi nggak bakalan hamil anak siapapun." "Ayolah, Alifa! Aku percaya masih ada sedikit cintamu untukku. Akui perbuatanmu, dan aku menganggap semuanya berlalu." Lagi-lagi bujukan mas Keenan menggoyang pertahananku. Duniaku terasa runtuh melihat tetes air mata yang tumpah dan membasahi pipinya. Sebesar aku mencintainya, maka sebesar itu pula cintanya kepadaku. Aku tahu seberapa besar cinta dan usahanya dalam memperjuangkanku untuk tetap berada di sisinya. Apa yang harus aku lakukan? Tapi bukankah kita tidak boleh mengakui perbuatan buruk yang tidak pernah kita lakukan? "Tidak akan pernah kalian kubiarkan kembali bersama!" Tiba-tiba saja sepasang tangan ibu mertuaku yang tiba-tiba muncul di ruangan ini menarik tubuh mas Keenan, sehingga pria itu terdorong ke belakang dan akhirnya menjauh dariku. Sosok ibu mertuaku yang kini malah menatapku berkilat-kilat. "Aku tidak sudi anakku punya istri seorang pelacur!" "Keenan, talak Alifa!" "Mama!" pekik pria itu. "Tolong jangan ikut campur dengan urusan rumah tanggaku." Namun perempuan tua itu malah berjongkok, memegang lutut mas Keenan, lalu menjatuhkan bokongnya ke lantai. "Talak Alifa sekarang! Apa kamu mau Mama mati pelan-pelan, karena kamu memilih mempertahankan istri pelacur ini?!~SCARLETT.My feet were glued to the fucking soil. I couldn’t take my eyes off the tall grass, swaying like it was mocking how completely terrified I’d become. My chest heaved, and every pulse thudded so loudly I could swear Liam could hear it.Judging by the low, humorless laugh he exhaled against my neck… he could.“What’s the matter, doll?” he hissed. “All that fire you had earlier… gone now. Shaking like some frightened little leaf. Where’d your bravado disappear to?”Before I could even blink, his teeth clamped onto the shell of my ear, and a strangled, humiliating muffled gasp left me as an unwelcome shiver crawled straight to my core, forcing my lady bits to tingle despite myself.And of course he felt it.Of course he did.The bastard didn’t even need to speak; I felt the curl of his smirk in the way his lips hovered against my skin.No.Abso-fucking-lutely not.That tiny, shameful shiver was all it took to snap me back.Bucking hard, I twisted against him, kicking at the gra
~SCARLETT.You know that moment when you’re finally trying to do the right thing and then the devil in your head just laughs and shoves you straight off the cliff?Yeah.That’s me now, cold all the way through, staring at the message for the millionth time hoping the letters might shift into something less fucking audacious.When it obviously didn’t, a cocktail of emotions came crashing hard into me. Anger came first, because from the nickname alone, and the possessive edge in the text, I knew damn well who had sent it.Then came the ugly realization that if he could text me on a number he should never have… then Liam wasn’t far. He was here. Tracking me. Watching me this very second.And I don’t even need to scan the room to confirm it. He’d never put himself anywhere obvious.For how long had he been watching?Minutes? Hours?Long enough, apparently, because the first line of his text made it painfully clear he’d seen everything.And then, like the absolute slut she was, my pussy
~SCARLETT.“Where exactly did you say we were going again?” I asked as I turned to face Lucas behind the wheel.One moment I was sitting stiffly at his family’s barbecue; the next he was ushering me out with some rushed explanation to Elaine. I hadn’t absorbed a single word. My head was still stuffed full with everything that happened over there. We were back in the city now, driving as dusk fell and the lights from the buildings went by.“It’s a surprise,” Lucas tapped nervously on the steering wheel. “Just… trust me, okay? I could tell you were uncomfortable back there. Honestly, so was I. I warned you my family can be… a lot. So I wanted to show you something else.”I only managed a soft, exhausted hum. Still, the one question in my head wouldn’t stop bugging me.“Lucas,” I said quietly, staring out at the buildings passing by. Why did you lie to your mom… about me teaching kids dance?”I felt him tense up immediately, and the car went so quiet I heard him swallow, hard, before he
~SCARLETT.My son—the one I’d abandoned—has a knife at my throat. That single fact beat louder than my pulse, louder than the laughter drifting in from the backyard where everyone had been arguing minutes ago.He and I stared each other down: me half‑kneeling, dress trapped beneath his knees; him standing far too still, far too fierce for a three‑year‑old. A box‑cutter blade hovered in the soft hollow where my heartbeat fluttered.“Caleb,” I whispered, palms up in surrender. “Please put that down, sweetheart.”He didn’t so much as flinch. A gull screeched over the lake; floorboards creaked in the hall; Sylvia’s gravel laugh carried faintly—proof people were near, clueless.“Don’t scream,” he warned. “I cut if you scream.”“Okay.” I breathed. “No screaming.”Head tipped, he said, “You keep watching us. First outside our house, then at the barbecue with Lucas.”I fought for calm. “I’m not here to hurt anyone.”“Lucas never brings girls. Now he brings the weird lady with red hair.”Guilt












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.