Share

Hari Yang Gila

Author: Shira Aldila
last update publish date: 2026-09-30 18:01:48

POV RENO

Hari ini adalah hari yang gila. Bahkan sangat gila. Tanpa rencana dan tanpa agenda, tiba-tiba saja aku menikah dengan seorang perempuan bernama Salma.

Hari ini adalah hari ke delapan aku berada di hotel ini. Mama memintaku untuk mengikuti serangkaian acara perjodohan. Satu wanita untuk satu hari, dalam satu acara kencan. Mama menginginkanku untuk segera menikah. Dia ingin punya menantu dari Indonesia. Kata Mama, istri yang pantas untukku adalah istri yang senegara. Awalnya aku meremehkan pandangan mama soal gadis Indonesia. Tapi pandanganku berubah setelah bertemu dengan seorang gadis yang anggun di hotel ini. Berkat bertemu dengannya, aku mulai melihat perempuan Indonesia dalam pandangan yang berbeda.

Hari pertama aku melihat gadis itu, aku tergerak untuk mendekati. Tapi urung, setelah tahu siapa namanya dan apa niatnya datang ke hotel ini. Namanya, Salma, demikian info yang kudapat dari resepsionis. Salma datang untuk memesan ballroom. Dia akan menikah di hotel ini.

Rasa kecewa kutelan. Pada hari berikutnya, Salma datang lagi dengan seorang pria yang akhirnya aku ketahui namanya adalah Raffi, dia adalah tunangan Salma. Mereka sering terlihat mesra dan Salma tampak bahagia.

Menyedihkan, bukan? Aku kalah bahkan sebelum sempat berkenalan dengan Salma.

Rangkaian acara perjodohan kembali menjadi fokusku. Sedikit pun aku tidak menikmati acara kencan itu. Kuakui, perempuan-perempuan pilihan mama sangat cantik dan berkelas. Mereka dari keluarga kaya. Tapi tetap saja aku merasa kurang. Entah apa. Rasanya sangat hambar.

Tepat di hari ini juga, aku harus membuat keputusan gadis mana yang akan aku pilih untuk kunikahi. 7 wanita yang sudah melewati acara kencan denganku itu menunggu keputusan dengan sangat antusias. Sayang, aku gagal memutuskan. Aku memilih kabur dan berakhir menjadi buronan.

Mereka memang gila. Mereka benar-benar memburuku sampai aku kewalahan bersembunyi. Bahkan aku terpaksa menukar jasku dengan seragam seorang pelayan hotel. Berharap, pakaianku bisa mengelabui mereka.

Pelarianku sampai ke lantai 25. Perempuan-perempuan itu ternyata ada di sana. Dengan kartu akses yang kutemukan di saku seragam, aku lancang masuk ke dalam sebuah kamar. Saat berada di kamar itu, seseorang juga ikut masuk. Aku bersembunyi ke dalam lemari. Saat bersembunyi, aku disuguhkan adegan panas yang tak seharusnya kulihat. Aku melihat Raffi dan Sarah adik tiri Salma melakukan pengkhianatan di ranjang pengantin itu. Melihat kejadian itu, dadaku rasanya membara. Aku memutuskan untuk merekamnya.

Setelah mereka selesai, keduanya keluar kamar. Aku mengikuti langkah mereka yang kebetulan menuju ruangan pesta.

Dengan seragam pelayan yang kukenakan, aku bisa mengakses semua area di hotel ini, termasuk ballroom yang menjadi tempat akan diadakannya pesta pernikahan Salma.

Saat berada di ruangan itu, aku melihat Salma dalam gaun pengantinnya. Dia terlihat bahagia dmenunggu detik-detik dimulainya acara itu. Sungguh aku tak tega membiarkan gadis itu menikah dengan pria yang berkhianat dengan adiknya sendiri. Nekad, kutayangkan video itu. Salma histeris. Kericuhan pun terjadi. Aku melihat Salma berdebat dengan keluarganya. Dari ketegangan itu, aku dapat menilai ternyata Salma adalah perempuan yang sangat menderita.

Kemudian, tanpa kuduga, Salma malah membuat sebuah pengumuman yang menggemparkan. Dia membuka peluang pada siapa saja pria lajang di ruangan itu untuk menjadi pengantin prianya. Tanpa pikir panjang, aku mengajukan diri. Dan terjadilah pernikahan itu.

**

Aku keluar dari kamar Salma tanpa merasa tersinggung sama sekali. Aku paham, perempuan itu sedang labil. Dia butuh istirahat dan butuh menenangkan diri. Aku juga tidak akan merasa nyaman berdua dengannya di kamar meski kami sudah resmi menjadi suami istri. Kami berdua teramat asing. Bahkan sangat-sangat asing. Mustahil untuk bersama menghabiskan waktu lebih lama lagi.

**

POV SALMA

Pagi tiba, kukemas semua barang dan checkout dari hotel. Semua tagihan kamar, tagihan ruangan ballroom juga tagihan pesta pernikahan kemarin, kubebankan pada Raffi. Namanya kutulis sebagai penanggug jawab. “Rasakan pembalasanku. Semoga kamu kewalahan melunasi acara pernikahan itu, Raffi,” batinku penuh dendam.

Pagi ini juga, aku sudah membuat janji dengan Reno. Kami akan bertemu di lobby.

Reno datang tepat waktu. Dia sudah duduk di sofa menungguku tiba. Kuperhatikan penampilannya. Reno mengenakan kemeja biru muda dengan bawahan celana hitam dan sepatu hitam yang mengkilat. Entah sepatu siapa yang dia pinjam. Yang jelas, Dia terlihat rapi sekali. Malah terlihat berkelas.

“Ren, kamu sudah izin untuk ngga bekerja hari ini?” tanyaku yang ikut duduk di sofa tepat di hadapan Reno.

“Aman, Sal. Aku bisa pergi, kok. Ngomong-ngomong, hari ini kita akan kemana?” tanya Reno.

“Kita akan mengurus administrasi pernikahan, setelah itu, temani aku ke kantor untuk menemui ayahku.”

“Okey, dengan senang hati.” Reno antusias sekali menjalankan tugasnya sebagai suami bayaran. Cara dia berpakaian pun cukup menyesuaikan. Aku sangat puas dengan penampilannya. Mungkin gaji 10 juta perbulanlah yang membuatnya bersemangat melakukan tugas ini. Semua juga tahu berapa gaji seorang pelayan hotel seperti Reno, pasti tak sampai setengah dari gaji yang aku tawarkan.

Sebelum melangkah keluar lobby hotel. Seorang pria datang dengan langkah tergopoh menghampiri kami. Napasnya ngos-ngosan. Pria itu berusia sekitar 50 tahunan, rambutnya sudah berwarna keperakan, tapi perawakannya masih segar. Dari setelan pakaiannya, aku bisa menilai jika pria yang menghampiri kami ini adalah orang yang memiliki kedudukan tinggi di hotel ini.

Tapi …

“Tuan, tuan, mau kemana lagi? Jangan menghilang terus. Hari ini kita ada rapat direksi dengan para mitra.”

Apa? Pria itu memanggil Reno dengan sebutan Tuan? Aku terkejut mendengar ucapan si Pria berjas. Sikapnya juga begitu tunduk dan hormat.

“Ren, dia siapa?” Tentu aku penasaran. Memang banyak hal dari Reno yang belum aku ketahui, tapi yang terjadi di hadapanku ini, membuat kepalaku dibebani tanda tanya besar.

Reno tak menjawab. Dia hanya melempar senyum kaku yang dibuat-buat padaku.

“Sebentar ya, Sal, aku mau ngobrol dulu dengan Bapak ini.”

Dengan cepat, Reno mengajak pria berjas hitam itu menjauh dariku. Mereka berbisik-bisik di kejauhan sana. Tak satu pun obrolan mereka mampu tertangkap oleh telingaku. Keduanya bercakap serius. Kemudian, pria berjas itu manggut-manggut patuh saat mendengarkan Reno berbicara.

Selang beberapa waktu, mereka pun selesai mengobrol. Reno kembali ke hadapanku.

“Ada apa?” tanyaku lagi.

“Itu manajer hotelku, Sal.” Jawaban Reno malah membuatku cemas.

“Kamu diizinkan pergi ‘kan?” tanyaku memastikan. Aku takut, ada tugas mendesak yang harus Reno kerjakan.

“Diizinkan kok. Kamu tenang aja.” Reno menenangkanku. Aku memang kahwatir dia tak bisa izin. Urusan administrasi pernikahan kami belum selesai.

“Rapat direksi dan mitra itu maksudnya apa? Apa itu tugasmu untuk melayanai peserta rapatnya nanti?” Aku mencoba menduga.

“Iya, sebenarnya aku yang harus menyiapkan ruangan itu dan melayani mereka. Tapi sekarang tidak jadi masalah, aku sudah meminta manajerku untuk mencari penggantiku sementara.” Reno menunjuk pria berjas yang masih berdiri di sana. Pria itu menatap kami dengan tatapan yang penuh selidik. Aku mulai merasa tidak nyaman dengan sikapnya itu.

“Kalau begitu, kita pergi sekarang, yuk.” Aku meraih tangan Reno dan menariknya agar cepat keluar dari hotel itu. Mobilku sudah menunggu di depan, petugas parkiran sudah membawanya ke pintu utama hotel.

“Ren, kenapa manajermu memanggilmu demgan panggilan 'Tuan'? Aneh banget ngga sih?” tanyaku saat menyalakan mesin mobil. Reno yang duduk di sebelahku malah terbatuk mendengar pertanyaanku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Hadiah Kecil

    “Saya tentu akan melakukan yang terbaik untuk anda, Tuan. Tapi, saya boleh tahu apa alasan anda menyembunyikan identitas anda dari wanita bernama Salma itu?” Wajah Pak Marko terlihat makin tak sabar untuk mendengarkan alasanku. "Karena aku ingin dicintai apa adanya. Aku ingin dicintai karena diriku sendiri, tanpa embel-embel nama besar Papa, jabatan sebagai CEO Bastian Group, jumlah saham dan kedudukan. Aku ingin dicintai dengan tulus," jawabku penuh keyakinan. Mulut Pak Marko, sontak menganga lebar mendengar alasanku. Dia mendekat ke arahku, menempelkan punggung tangannya ke jidatku. "Tidak panas, apa jangan-jangan anda sedang mabuk?" Pak Marko malah menilaiku sedang dalam keadaan ngawur. Apa sesulit itu mempercayai alasanku? Aku juga manusia yang ingin dicinta oleh pasangannya dengan apa adanya. Bukan hal yang muluk, bukan? "Aku sedang tidak demam. Tapi memang sedang mabuk," jawabku terkekeh. Pak Marko lansung menyambar gelas kristal di tanganku. Dia membauinya dan bergumam. "C

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Debaran

    “Raffi? Mau apa kamu ke sini?” sambutku pada Raffi dengan emosi yang mendadak tersulut. Jantungku tak aman jika harus bertemu lagi dengan pengkhianat ini. Rasanya ingin mengamuk saja padanya. “Salma, jangan emosi dulu. Aku mau bicara empat mata denganmu. Aku ingin menjelaskan semuanya.” Suara Raffi melunak. Ternyata dia datang dengan kedamaian. Tapi tetap saja aku curiga. Dia pasti sedang membuat rencana licik baru untukku. “Bicara di sini saja. Di hadapan suamiku,” jawabku ketus. Raffi menggusar rambutnya kesal. “Sudahi sandiwara ini, Salma. Dia bukan suamimu, pernikahanmu cuma rekayasa.” Aku tercekat mendengar ucapan Raffi. Bibirku terkatup tanpa mampu membalas karena dia benar. Semua orang sangat tahu bagaimana aku dan Reno menikah. “Salma, aku sudah membayar tagihan pernikahan kita, Aku ikhlas membayar semuanya dengan penuh. Anggap saja, ini caraku menebus kesalahanku. Ini memang salahku. Aku khilaf, Salma. Aku benar-benar menyesal. Belum sampai satu hari aku berbuat salah

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Gelato

    “Ren, apakah ini ulahmu?” tanyaku pada Reno meski sebenarnya aku tak yakin. Memangnya siapa Reno, sehingga dia bisa membatalkan rapat orang-orang penting itu. "Melakukan apa?” jawab Reno santai. “Itu … membuat acara rapat itu ditunda dan mengajukan namaku sebagai perwakilan Atmaja group?” tanyaku lagi untuk memuaskan rasa penasaranku. “Mana mungkin, Sal. Apakah aku sehebat itu?” “Terus, tadi kamu mengetik pesan pada siapa?” “Pak Marko, Manajerku. Aku ingin menanyakan soal rapat itu. Pak Marko yang bilang kalau rapatnya ditunda dan namamu yang tertera di list undangan kemitraan.” Reno memainkan ponsel di tangan. Matanya tertuju ke layar. Dia senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya. Sementara, aku terus memerhatikan ekspresi wajah Reno. Pikiranku mulai berkhayal liar. Aku semakin yakin bahwa Reno menyimpan sesuatu dariku. “Dari mana mereka tahu soal aku dan namaku? Aku sendiri belum pernah mengenalkan diri bahkan tak satu pun kenal dengan orang-orang di Bastian group,” ta

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Buku Nikah

    “Cuma sebutan yang tidak berarti. Becandaan khas teman-teman sekerja di hotel padaku,” jawab Reno akhirnya. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan. Menghadirkan topik bahasan baru. Kami membahas soal umur. Ternyata, Reno lebih muda dariku 2 tahun. Sebuah fakta yang mengejutkanku. Saat ini, aku berusia 30 tahun. Usia yang kata orang sudah terlambat untuk menikah. Bagaimana tidak, kegagalan-kegagalan dalam urusan asmara selalu terjadi padaku di masa lalu. Tak hanya dulu, sekarang pun masih begitu. Obrolan lain juga menemani perjalanan kami menuju kantor administrasi pernikahan. Reno membuka banyak topik pembahasan yang ringan. Aku nyaman berbagi cerita dengannya. Aku menganggap, obrolan kami adalah cara kami untuk saling mengenal. Urusan di kantor administrasi pernikahan cukup lancar. Akhirnya, aku mendapatkan buku nikah yang sangat aku butuhkan untuk legalitas pernikahan kami. “Akhirnya, aku berhasil mendapatkan ini, Ren,” ucapku bahagia. Buku ini akan menjadi syarat utama untuk mer

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Hari Yang Gila

    POV RENO Hari ini adalah hari yang gila. Bahkan sangat gila. Tanpa rencana dan tanpa agenda, tiba-tiba saja aku menikah dengan seorang perempuan bernama Salma. Hari ini adalah hari ke delapan aku berada di hotel ini. Mama memintaku untuk mengikuti serangkaian acara perjodohan. Satu wanita untuk satu hari, dalam satu acara kencan. Mama menginginkanku untuk segera menikah. Dia ingin punya menantu dari Indonesia. Kata Mama, istri yang pantas untukku adalah istri yang senegara. Awalnya aku meremehkan pandangan mama soal gadis Indonesia. Tapi pandanganku berubah setelah bertemu dengan seorang gadis yang anggun di hotel ini. Berkat bertemu dengannya, aku mulai melihat perempuan Indonesia dalam pandangan yang berbeda. Hari pertama aku melihat gadis itu, aku tergerak untuk mendekati. Tapi urung, setelah tahu siapa namanya dan apa niatnya datang ke hotel ini. Namanya, Salma, demikian info yang kudapat dari resepsionis. Salma datang untuk memesan ballroom. Dia akan menikah di hotel ini. Ras

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Kepakatan

    "Siapa mereka, Ren?" tanyaku lagi. "Para cegil!"Reno masih menggenggam tanganku erat, aku terpaksa mengiringi langkahnya yang cepat."Cegil itu apa?""Cewek gila."Setiba di dalam lift, Reno semakin panik karena pintu lift tak jua kunjung menutup. Sementara satu di antara cewek cantik yang mengejar itu sudah semakin dekat."Alvin! Aku akan adukan kamu ke ibumu!" Perempuan itu berteriak mengancam. Aku mendengar dengan jelas ucapannya. Hanya saja, saat perempuan itu mengucapkan kalimat itu, pintu lift menutup. Kami pun terbebas. Dan Reno terlihat lega walau napasnya ngos-ngosan. Setelah mengatur napas, Reno malah terpingkal."Kamu kenapa? Apanya yang lucu? Siapa cewek-cewek itu? Kenapa mereka ingin mengadukanmu pada ibumu?" tanyaku beruntun. Tentu saja aku penasaran. Bagiku, Reno adalah pria asing. Aku belum kenal dengannya. Siapa tahu, dia seorang playboy yang memiliki masalah dengan banyak wanita."Jawab, Ren!" Suaraku meninggi. Tawa Reno pun terhenti. Dia kembali bersikap tenang."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status