Masuk"Siapa mereka, Ren?" tanyaku lagi.
"Para cegil!" Reno masih menggenggam tanganku erat, aku terpaksa mengiringi langkahnya yang cepat. "Cegil itu apa?" "Cewek gila." Setiba di dalam lift, Reno semakin panik karena pintu lift tak jua kunjung menutup. Sementara satu di antara cewek cantik yang mengejar itu sudah semakin dekat. "Alvin! Aku akan adukan kamu ke ibumu!" Perempuan itu berteriak mengancam. Aku mendengar dengan jelas ucapannya. Hanya saja, saat perempuan itu mengucapkan kalimat itu, pintu lift menutup. Kami pun terbebas. Dan Reno terlihat lega walau napasnya ngos-ngosan. Setelah mengatur napas, Reno malah terpingkal. "Kamu kenapa? Apanya yang lucu? Siapa cewek-cewek itu? Kenapa mereka ingin mengadukanmu pada ibumu?" tanyaku beruntun. Tentu saja aku penasaran. Bagiku, Reno adalah pria asing. Aku belum kenal dengannya. Siapa tahu, dia seorang playboy yang memiliki masalah dengan banyak wanita. "Jawab, Ren!" Suaraku meninggi. Tawa Reno pun terhenti. Dia kembali bersikap tenang. "Mereka semua adalah cewek-cewek pilihan ibuku. Ibuku ingin aku memilih salah satu dari mereka. Tapi aku tidak mau." Reno bercerita dengan tertawa. Mendengar ceritanya, aku malah ingin bertanya lagi. "Ibumu? Menyuruhmu memilih salah satu dari mereka? Maksudnya?" Reno mendadak terdiam. Dia berubah salah tngkah. "Ya, ibuku ingin aku menikahi salah satunya," jawabnya kikuk. "Menikahi salah satu dari mereka? Wow! Dan kamu ngga mau? Memangnya kamu siapa sih Ren kok sampai dikejar banget kayak gitu? Kulihat mereka bukan perempuan-perempuan biasa lho. Cantik-cantik. Malah wajah mereka cukup familiar. Tapi aku lupa melihatnya di mana.” “Aku juga ngga tahu, Mba. Itu kerjaan Ibuku. Lagian mereka cantik di luarnya aja. Aslinya, ngga banget. Ya udah yuk. Ngga usah dibahas. Sebaiknya kita ke kamar. Katanya ada yang mau dibicarakan.” “Iya deh,” jawabku pasrah walau masih penasaran kenapa seorang Reno yang hanya seorang pelayan hotel sampai diuber cewek-cewek cantik sekompi. Di kamar, aku ingin melepaskan gaun putih pengantinku. Rasanya sangat gerah apalagi karena lari-larian tadi. Tersadar akan kehadiran seseorang bersamaku di kamar, niatku pun urung untuk membuka resleting baju. “Saya akan ke balkon.” Tanpa diminta, Reno lansung paham. Dia pergi meninggalkanku di kamar. Aku bergegas cepat mengganti baju dengan pakaian biasa. Rasanya sangat lega walau hatiku terasa ngilu melihat gaun putih pengantin yang kini tergeletak di lantai itu. Seharusnya, gaun itu kupakai seharian dan diabadikan menjadi sebuah foto pernikahan yang akan dikenang. Tapi nasib berkata lain. Hari Pernikahanku tidak sesuai harapan. Parahnya, aku malah memutuskan menikah dengan pelayan hotel yang tak kukenali ini. Aku membuka pintu balkon. Kulihat, Reno bersandar di pagar balkon memandangi pemandangan kota sore hari yang berlembayung. Aku menghampirinya. Suasana di balkon sangat mendukung untuk mengajaknya berbicara. “Kenapa kamu mengajukan diri untuk menjadi suamiku?” tanyaku membuka pembicaraan. Reno memutar badan. Lengan berototnya tertumpu pada pagar balkon. Sejenak, perhatianku terpaku ke sana. Kemudian beralih ke dada bidang laki-laki itu karena kancing kemeja bagian atasnya sudah separuh terbuka. Sejenak, aku terpukau. “Saya menawarkan diri karena murni atas rasa kemanusiaan,” jawab Reno diplomatis. “Atas dasar rasa kemanusiaan atau kasian?” selaku getir. “Terserah Mba mengartikannya apa. Yang jelas, saya hanya ingin mendukung Mba di ruangan itu. Saya tidak tega melihatmu sendirian melawan ketidakadilan tadi. Kamu tidak pantas diperlakukan seperti itu, Mba.” “Terima kasih,” ucapku lirih. Tak terasa, air mataku jatuh mengalir. Aku terisak dalam tangis. Reno membiarkanku menangis. Seolah memberiku waktu untuk melepaskan sesak di hati. Ayah sangat tidak adil padaku. Sementara mama dan adik tiriku terlihat terang-terangan ingin menyingkirkanku dari keluarga. “Sudah nangisnya?” tanya Reno setelah melihatku sedikit tenang. “Sudah. Soal video itu bagaimana?” tanyaku lagi sambil mengelap air mata yang tersisa. “Saya minta maaf. Saya sudah lancang masuk ke kamar ini untuk bersembunyi sebelumnya,” ucap Reno. “Karena dikejar perempuan-perempuan tadi?” “Salah satu alasannya itu. Saya bersembunyi di lemari. Kemudian melihat tunanganmu masuk bersama adikmu. Padahal, saat pagi hari kalian datang ke hotel ini. Saya melihatmu dengan … siapa namanya?” “Raffi.” “Iya, Raffi. Aku melihatmu dengan Raffi begitu mesra dan bahagia. Saya juga melihat keluargamu. Juga tak sengaja mendengar kalian mengobrol di sofa lobby karena kebetulan saya duduk tepat di sebelah kalian. Jadi saya tahu mana yang calon pengantin dan mana yang adik, ibu atau ayah. Awalnya saya kira, Mba akan menjadi pengantin yang berbahagia hari ini. Ternyata tidak.” “Jadi, tadi kamu ada di lobby? Kenapa aku tidak melihatmu?” “Tentu saja tidak. Saya lihat, Mba terlalu fokus dengan tunangan Mba.” Iya juga, Tadi pagi saat aku datang ke hotel ini, aku memang terlalu fokus pada persiapan pesta dan juga Raffi. Aku tidak memerhatikan keadaan sekitar. Apalagi, tadi pagi itu, suasana hotel cukup ramai. Semua ruangan ballroom penuh dengan berbagai acara dan orang-orang berdesakan di lobby. “Terus, kenapa kamu merekam mereka?” “Awalnya iseng karena greget sendiri dengan kelakuan sepasang pengkhianat itu. Setelah mereka selesai dan keluar, aku juga ikut keluar dan masih butuh mencari tempat persembunyian. Saya memilih berada di kerumunan acara pestamu dan lansung terniat untuk memutar video itu.” Reno bercerita tanpa dosa. Aku tidak tahu harus menanggapinya dengan apa. Apakah harus marah karena dia lancang, atau justru harus mengucapkan terima kasih. “Meski aku hancur karena video itu, setidaknya, kamu sudah menyelamatkanku dari para ular. Tapi sedikit ada rasa ingin mengamuk padamu karena kelakuanmu yang lancang.” “Ya ngga apa-apa. Ngamuk aja, Mba. Manusia memang sulit menerima fakta karena kenyataan terlalu pahit untuk diterima. Manusia juga cenderung lebih suka dibohongi karena merasa nyaman dengan hal itu. Silakan Mba pilih yang mana.” Aku menghela napas dengan dalam. Berusaha mencerna kata-kata Reno. “Baiklah. Aku berterima kasih padamu.” “Sama-sama,” sahut Reno singkat. “Oh iya. Jangan terlalu formal. Jangan panggil aku ‘Mba’. Aku belum setua itu.” “Siap, Mba, eh Salma,” ucap Reno. “Besok, aku akan serahkan kartu ATM padamu. Semua bayaran akan aku transfer ke sana.” Janji adalah janji. Aku akan membayar Reno yang sudah bersedia menjadi suamiku. “Nanti saja. Kita nikmati waktu dulu. Aku juga sangat ingin berkenalan lebih jauh dengan istriku.” “Jangan salah sangka, Ren. Pernikahan ini hanya bisnis. Aku akan membayar kewajibanku dan kamu menunaikan tugasmu sebagai suami untuk mendampingiku setiap aku butuhkan. Mudah-mudahan tidak lama. Setelah semua selesai, aku akan melepasmu. Masa depan kita berdua masih panjang. Tentu kamu ingin menikah dengan perempuan yang benar-benar kamu cintai, bukan perempuan sepertiku yang mencari suami lewat jalur give-away.” Reno tergelak mendengar istilah yang kuberikan padanya. ‘Suami give-away’, terdengar konyol. “Baiklah. Senang bisa bekerja sama denganmu. Mulai hari ini, Aku akan menjadi suami yang baik untukmu,” pungkas Reno. Dia mengulurkan tangan. Aku menyambutnya. Kami saling berjabat tangan tanda sepakat untuk menjalani hari-hari ke depan sebagai suami istri. Semoga saja Reno adalah pria yang baik, tidak playboy, tidak psikopat dan tidak memberi masalah baru untuk hidupku. “SIlahkan kembali bekerja, Ren. Nanti Manajermu marah. Aku mau istirahat dulu. Besok pagi, kita janjian di lobby. Jangan lupa berpakaian rapi. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Aku mengusir Reno dari kamar. Tak mungkin aku berduaan dengannya di sini sampai pagi. Kami bukanlah suami istri pada umumnya. Dia hanya suami bayaran bagiku yang aku butuhkan untuk urusan pekerjaan saja. “Okey, selamat istirahat, Salma,” ucap Reno setuju untuk pergi dari kamarku. “Oh ya, selesaikan juga masalahmu dengan perempuan-perempuan tadi. Jangan kabur terus karena itu akan membuat masalahmu semakin besar, aku juga tidak ingin terimbas. Ingat! Kamu suamiku sekarang,” pintaku saat Reno akan melangkah keluar dari kamar. Dia tergelak lagi. Seperti menganggap remeh saranku. “Aku tidak punya masalah dengan mereka, Sal. Tenang saja.” Reno menutup pintu kamar. Aku mengernyit heran. Tak punya masalah katanya? Aku saja ngeri melihat kehisterisan perempuan-perempuan tadi saat mengejar kami. “Apa yang sudah kamu lakukan, Ren?” 💞💞💞“Saya tentu akan melakukan yang terbaik untuk anda, Tuan. Tapi, saya boleh tahu apa alasan anda menyembunyikan identitas anda dari wanita bernama Salma itu?” Wajah Pak Marko terlihat makin tak sabar untuk mendengarkan alasanku. "Karena aku ingin dicintai apa adanya. Aku ingin dicintai karena diriku sendiri, tanpa embel-embel nama besar Papa, jabatan sebagai CEO Bastian Group, jumlah saham dan kedudukan. Aku ingin dicintai dengan tulus," jawabku penuh keyakinan. Mulut Pak Marko, sontak menganga lebar mendengar alasanku. Dia mendekat ke arahku, menempelkan punggung tangannya ke jidatku. "Tidak panas, apa jangan-jangan anda sedang mabuk?" Pak Marko malah menilaiku sedang dalam keadaan ngawur. Apa sesulit itu mempercayai alasanku? Aku juga manusia yang ingin dicinta oleh pasangannya dengan apa adanya. Bukan hal yang muluk, bukan? "Aku sedang tidak demam. Tapi memang sedang mabuk," jawabku terkekeh. Pak Marko lansung menyambar gelas kristal di tanganku. Dia membauinya dan bergumam. "C
“Raffi? Mau apa kamu ke sini?” sambutku pada Raffi dengan emosi yang mendadak tersulut. Jantungku tak aman jika harus bertemu lagi dengan pengkhianat ini. Rasanya ingin mengamuk saja padanya. “Salma, jangan emosi dulu. Aku mau bicara empat mata denganmu. Aku ingin menjelaskan semuanya.” Suara Raffi melunak. Ternyata dia datang dengan kedamaian. Tapi tetap saja aku curiga. Dia pasti sedang membuat rencana licik baru untukku. “Bicara di sini saja. Di hadapan suamiku,” jawabku ketus. Raffi menggusar rambutnya kesal. “Sudahi sandiwara ini, Salma. Dia bukan suamimu, pernikahanmu cuma rekayasa.” Aku tercekat mendengar ucapan Raffi. Bibirku terkatup tanpa mampu membalas karena dia benar. Semua orang sangat tahu bagaimana aku dan Reno menikah. “Salma, aku sudah membayar tagihan pernikahan kita, Aku ikhlas membayar semuanya dengan penuh. Anggap saja, ini caraku menebus kesalahanku. Ini memang salahku. Aku khilaf, Salma. Aku benar-benar menyesal. Belum sampai satu hari aku berbuat salah
“Ren, apakah ini ulahmu?” tanyaku pada Reno meski sebenarnya aku tak yakin. Memangnya siapa Reno, sehingga dia bisa membatalkan rapat orang-orang penting itu. "Melakukan apa?” jawab Reno santai. “Itu … membuat acara rapat itu ditunda dan mengajukan namaku sebagai perwakilan Atmaja group?” tanyaku lagi untuk memuaskan rasa penasaranku. “Mana mungkin, Sal. Apakah aku sehebat itu?” “Terus, tadi kamu mengetik pesan pada siapa?” “Pak Marko, Manajerku. Aku ingin menanyakan soal rapat itu. Pak Marko yang bilang kalau rapatnya ditunda dan namamu yang tertera di list undangan kemitraan.” Reno memainkan ponsel di tangan. Matanya tertuju ke layar. Dia senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya. Sementara, aku terus memerhatikan ekspresi wajah Reno. Pikiranku mulai berkhayal liar. Aku semakin yakin bahwa Reno menyimpan sesuatu dariku. “Dari mana mereka tahu soal aku dan namaku? Aku sendiri belum pernah mengenalkan diri bahkan tak satu pun kenal dengan orang-orang di Bastian group,” ta
“Cuma sebutan yang tidak berarti. Becandaan khas teman-teman sekerja di hotel padaku,” jawab Reno akhirnya. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan. Menghadirkan topik bahasan baru. Kami membahas soal umur. Ternyata, Reno lebih muda dariku 2 tahun. Sebuah fakta yang mengejutkanku. Saat ini, aku berusia 30 tahun. Usia yang kata orang sudah terlambat untuk menikah. Bagaimana tidak, kegagalan-kegagalan dalam urusan asmara selalu terjadi padaku di masa lalu. Tak hanya dulu, sekarang pun masih begitu. Obrolan lain juga menemani perjalanan kami menuju kantor administrasi pernikahan. Reno membuka banyak topik pembahasan yang ringan. Aku nyaman berbagi cerita dengannya. Aku menganggap, obrolan kami adalah cara kami untuk saling mengenal. Urusan di kantor administrasi pernikahan cukup lancar. Akhirnya, aku mendapatkan buku nikah yang sangat aku butuhkan untuk legalitas pernikahan kami. “Akhirnya, aku berhasil mendapatkan ini, Ren,” ucapku bahagia. Buku ini akan menjadi syarat utama untuk mer
POV RENO Hari ini adalah hari yang gila. Bahkan sangat gila. Tanpa rencana dan tanpa agenda, tiba-tiba saja aku menikah dengan seorang perempuan bernama Salma. Hari ini adalah hari ke delapan aku berada di hotel ini. Mama memintaku untuk mengikuti serangkaian acara perjodohan. Satu wanita untuk satu hari, dalam satu acara kencan. Mama menginginkanku untuk segera menikah. Dia ingin punya menantu dari Indonesia. Kata Mama, istri yang pantas untukku adalah istri yang senegara. Awalnya aku meremehkan pandangan mama soal gadis Indonesia. Tapi pandanganku berubah setelah bertemu dengan seorang gadis yang anggun di hotel ini. Berkat bertemu dengannya, aku mulai melihat perempuan Indonesia dalam pandangan yang berbeda. Hari pertama aku melihat gadis itu, aku tergerak untuk mendekati. Tapi urung, setelah tahu siapa namanya dan apa niatnya datang ke hotel ini. Namanya, Salma, demikian info yang kudapat dari resepsionis. Salma datang untuk memesan ballroom. Dia akan menikah di hotel ini. Ras
"Siapa mereka, Ren?" tanyaku lagi. "Para cegil!"Reno masih menggenggam tanganku erat, aku terpaksa mengiringi langkahnya yang cepat."Cegil itu apa?""Cewek gila."Setiba di dalam lift, Reno semakin panik karena pintu lift tak jua kunjung menutup. Sementara satu di antara cewek cantik yang mengejar itu sudah semakin dekat."Alvin! Aku akan adukan kamu ke ibumu!" Perempuan itu berteriak mengancam. Aku mendengar dengan jelas ucapannya. Hanya saja, saat perempuan itu mengucapkan kalimat itu, pintu lift menutup. Kami pun terbebas. Dan Reno terlihat lega walau napasnya ngos-ngosan. Setelah mengatur napas, Reno malah terpingkal."Kamu kenapa? Apanya yang lucu? Siapa cewek-cewek itu? Kenapa mereka ingin mengadukanmu pada ibumu?" tanyaku beruntun. Tentu saja aku penasaran. Bagiku, Reno adalah pria asing. Aku belum kenal dengannya. Siapa tahu, dia seorang playboy yang memiliki masalah dengan banyak wanita."Jawab, Ren!" Suaraku meninggi. Tawa Reno pun terhenti. Dia kembali bersikap tenang."







