공유

Buku Nikah

작가: Shira Aldila
last update 게시일: 2026-09-30 18:03:59

“Cuma sebutan yang tidak berarti. Becandaan khas teman-teman sekerja di hotel padaku,” jawab Reno akhirnya. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan. Menghadirkan topik bahasan baru. Kami membahas soal umur. Ternyata, Reno lebih muda dariku 2 tahun. Sebuah fakta yang mengejutkanku. Saat ini, aku berusia 30 tahun. Usia yang kata orang sudah terlambat untuk menikah. Bagaimana tidak, kegagalan-kegagalan dalam urusan asmara selalu terjadi padaku di masa lalu. Tak hanya dulu, sekarang pun masih begitu.

Obrolan lain juga menemani perjalanan kami menuju kantor administrasi pernikahan. Reno membuka banyak topik pembahasan yang ringan. Aku nyaman berbagi cerita dengannya. Aku menganggap, obrolan kami adalah cara kami untuk saling mengenal.

Urusan di kantor administrasi pernikahan cukup lancar. Akhirnya, aku mendapatkan buku nikah yang sangat aku butuhkan untuk legalitas pernikahan kami.

“Akhirnya, aku berhasil mendapatkan ini, Ren,” ucapku bahagia. Buku ini akan menjadi syarat utama untuk merebut kembali perusahaan Ibu dari kuasa ibu tiri dan ayah. “Jadi, namamu, …Reno Alvin Bastian? Terdengar familiar. Seperti nama putra Tuan Adrian Bastian, pemilik hotel tempatmu bekerja.” Aku baru saja tahu, setelah mengecek data yang tertera pada buku nikah. Ternyata nama lengkap Reno mirip sekali dengan nama putra pemilik hotel itu.

Bastian group tak hanya menguasai usaha di bidang perhotelan. Perusahaan ini juga memiliki banyak usaha seperti pertambangan, investasi dana, export import hasil alam dan bisnis besar lainnya. Saham Bastian Group ada di mana-mana. Tapi sepanjang pengetahuanku, Tuan Adrian dan keluarganya tidak menetap di Indonesia.

“Nah, itulah alasan mengapa teman-teman sekerjaku di hotel memanggilku dengan sebutan Tuan. Gara-gara namaku mirip dengan Tuan Muda Alvin. Jadi, gelar ‘Tuan’ untukku bukan sebuah kehormatan, melainkan cuma bahan becandaan. Nasibku dengan nasib Tuan Alvin jelas jauh berbeda. Bagai bumi dan langit,” terang Reno. Cukup masuk akal bagiku. Lagipula, putra Tuan Adrian ini masih muda sekali. Mungkin masih remaja saat sekarang. Semoga saja aku tak salah karena keluarga mereka jarang tampil di media public. Mereka adalah pemain di belakang layar tapi punya pengaruh besar. Cukup misterius.

Aku dan Reno kini tiba di kantor ayah, yang juga merupakan kantorku. Aku bekerja di sini sebagai manajer marketing pemasaran. Ayah memperkerjakanku di sini. Aku cukup bersyukur akan hal itu dan merasa masih diperhitungkan oleh ayah untuk ikut andil kedalam usaha ini walau jabatanku cuma jabatan kecil. Sementara Sarah, adik tiriku, kedudukannya lebih strategis. Ayah memberi kepercayaan pada Sarah sebagai manajer staff ahli keuangan.

“Selamat datang pengantin baru yang tidak diakui.” Maya menyambut kami ketika memasuki ruangan direktur utama, yaitu ruangan kerja ayah. Maya memang sering berada di sini. Kebetulan, Sarah juga ada di sana.

Selain sambutan yang tidak bersahabat dari mama tiriku, ayah juga menunjukkan wajah yang masam padaku, terlebih pada Reno.

“Buat apa kamu membawa pelayan hotel itu ke sini, Salma?” sambut Ayah ketus.

“Dia suamiku, Ayah. Tentu dia akan menemani kemana aku pergi,” jawabku santai. Aku mengajak Reno duduk di kursi yang berada di hadapan meja Ayah. “Ini, buku nikahku.” Aku meletakkan buku nikahku di atas meja ayah. “Buku ini adalah syarat yang ayah minta. Sekarang, aku mohon ayah segera menjadwalkan rapat para direksi untuk penggantian CEO perusahaan.”

Selama ini, Ayahlah yang menempati kedudukan itu semenjak ibu meninggal. Maya bertindak sebagai pembisik yang kerap mempengaruhi setiap keputusan ayah. Dan Sarah, memegang penuh kendali keuangan perusahaan. Sangat mencurigakan.

Ayah membuka kaca matanya, dia memijit pelipis dan menghembuskan napas berat. Ayah terlihat kesal dengan kedatanganku. “Aku tidak pernah mengakui pernikahanmu,” jawab Ayah dingin.

“Ayah tak perlu mengakuinya. Aku hanya butuh negera yang mengakui pernikahanku agar proses penggantian CEO bisa dilaksanakan dengan didampingi notaris dan pengacara,” jawabku lagi tak mau kalah.

“Sorry to say, Kak Salma. Sepertinya rapat direksi untuk penggantian CEO itu tidak akan pernah terjadi.” Sarah menimpali, dia berdiri dengan sikap angkuh di belakang ayah.

“Kenapa bisa begitu?” tanyaku.

“Ada kabar baik untuk Atmaja group, tapi ini mungkin akan menjadi kabar buruk untukmu, Kak?” lanjut Sarah percaya diri.

“Kabar soal apa?” tanyaku dengan darah yang mendesir.

“Raffi menjadi broker investasi Atmaja Group. Dia akan menjadi perwakilan perusahaan kita untuk tanda tangan kontrak kemitraan dengan Bastian group hari ini. Kamu tahu berapa nilainya? 500 milyar dan mungkin lebih. Bayangkan, dengan dana investasi sebesar itu, perusahaan kita bisa expansi. Menguntungkan, bukan? Tapi, tidak menguntungkan untukmu, Kak. Karena aku yang akan menjadi CEO karena kontribusiku yang besar berkat Raffi. Sementara kamu, apa kontribusimu untuk perusahaan ini?”

Darahku bergejolak saat menatap wajah Sarah yang penuh senyum kemenangan. Aku dibuat terdiam. Sarah berhasil membuatku kalah telak. Memang benar, aku belum bisa memberikan kontribusi apa-apa untuk perusahaan ini karena selama ini, pergerakanku sangat terbatas karena level jabatanku yang rendah.

“Setahu saya, Bastian Group belum memutuskan untuk memilih mitra yang mana. Kenapa sudah mau sudah tanda tangan saja?”

Tiba-tiba saja, Reno ikut bersuara. Aku menoleh padanya dengan jidat mengernyit.

“Heh! Tahu apa kamu soal kemitraan ini si Pelayan Hotel? Ini urusan kalangan atas. Kamu ngga akan paham.” Maya berucap ketus pada Reno, juga seenaknya menghina suamiku.

“Tentu saja saya tahu, Mama Mertua yang terhormat. Jadi, Bastian group memang sedang memilah-milah beberapa perusahaan untuk dijadikan mitra. Bagi yang memiliki kredibilitas dan rancangan program yang bagus, maka akan terpilih. Tapi untuk saat ini, belum diputuskan mitra mana yang akan dipilih. Rapat itu akan diadakan sore nanti. Jadi, belum final.”

“Pelayan Hotel ini pasti menguping pembicaraan bos-bos yang rapat saat mengantarkan minuman, hahaha. Tapi kamu sok tahu! Raffi sudah dalam proses tanda tangan. Atmaja Group sudah ditunjuk sebagai mitra,” ucap Sarah percaya diri. Dan tetap, selalu ada hinaan di setiap kalimatnya pada Reno.

“Sebentar,” ucap Reno sambil mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Dia mengetik pesan di sana. Aku sempat mengintip tapi tak jelas dia mengetik apa. “Silakan telepon Raffi kalau begitu. Sama-sama kita buktikan kalau saya tidak salah dalam hal ini,” ucap Reno begitu yakin dan tenang. Dia menoleh padaku, melempar senyum manis dan sempat-sempatnya mengelus punggung tanganku.

Sarah merasa tertantang. Dia benar menelepon Raffi. Loudspeaker dinyalakan. “Mari kita dengar sama-sama,” ucap Sarah yakin.

“Sayang, gimana? Apa kamu jadi tanda tangan kontrak kemitraan dengan Bastian Group?" tanya Sarah saat telepon sudah terhubung dengan Raffi.

“Gagal total, Sarah. Rapat itu ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. Dan aku dikeluarkan dari daftar undangan rapat. Kata mereka, Bastian Group tidak mau berurusan denganku. Dia menginginkan Salma Saraswati untuk hadir di rapat itu nanti.”

“Apa?” Sarah histeris. “Ba-bagaimana bisa?” Sarah terlihat bingung.

Wajah Maya juga ikut memerah saking emosi. Sementara ayah terlihat semakin frustasi. Satu-satuya orang yang tersenyum di ruangan ini adalah Reno.

“Ren, apa ini ulahmu?” tanyaku padanya sedikit tak yakin.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Hadiah Kecil

    “Saya tentu akan melakukan yang terbaik untuk anda, Tuan. Tapi, saya boleh tahu apa alasan anda menyembunyikan identitas anda dari wanita bernama Salma itu?” Wajah Pak Marko terlihat makin tak sabar untuk mendengarkan alasanku. "Karena aku ingin dicintai apa adanya. Aku ingin dicintai karena diriku sendiri, tanpa embel-embel nama besar Papa, jabatan sebagai CEO Bastian Group, jumlah saham dan kedudukan. Aku ingin dicintai dengan tulus," jawabku penuh keyakinan. Mulut Pak Marko, sontak menganga lebar mendengar alasanku. Dia mendekat ke arahku, menempelkan punggung tangannya ke jidatku. "Tidak panas, apa jangan-jangan anda sedang mabuk?" Pak Marko malah menilaiku sedang dalam keadaan ngawur. Apa sesulit itu mempercayai alasanku? Aku juga manusia yang ingin dicinta oleh pasangannya dengan apa adanya. Bukan hal yang muluk, bukan? "Aku sedang tidak demam. Tapi memang sedang mabuk," jawabku terkekeh. Pak Marko lansung menyambar gelas kristal di tanganku. Dia membauinya dan bergumam. "C

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Debaran

    “Raffi? Mau apa kamu ke sini?” sambutku pada Raffi dengan emosi yang mendadak tersulut. Jantungku tak aman jika harus bertemu lagi dengan pengkhianat ini. Rasanya ingin mengamuk saja padanya. “Salma, jangan emosi dulu. Aku mau bicara empat mata denganmu. Aku ingin menjelaskan semuanya.” Suara Raffi melunak. Ternyata dia datang dengan kedamaian. Tapi tetap saja aku curiga. Dia pasti sedang membuat rencana licik baru untukku. “Bicara di sini saja. Di hadapan suamiku,” jawabku ketus. Raffi menggusar rambutnya kesal. “Sudahi sandiwara ini, Salma. Dia bukan suamimu, pernikahanmu cuma rekayasa.” Aku tercekat mendengar ucapan Raffi. Bibirku terkatup tanpa mampu membalas karena dia benar. Semua orang sangat tahu bagaimana aku dan Reno menikah. “Salma, aku sudah membayar tagihan pernikahan kita, Aku ikhlas membayar semuanya dengan penuh. Anggap saja, ini caraku menebus kesalahanku. Ini memang salahku. Aku khilaf, Salma. Aku benar-benar menyesal. Belum sampai satu hari aku berbuat salah

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Gelato

    “Ren, apakah ini ulahmu?” tanyaku pada Reno meski sebenarnya aku tak yakin. Memangnya siapa Reno, sehingga dia bisa membatalkan rapat orang-orang penting itu. "Melakukan apa?” jawab Reno santai. “Itu … membuat acara rapat itu ditunda dan mengajukan namaku sebagai perwakilan Atmaja group?” tanyaku lagi untuk memuaskan rasa penasaranku. “Mana mungkin, Sal. Apakah aku sehebat itu?” “Terus, tadi kamu mengetik pesan pada siapa?” “Pak Marko, Manajerku. Aku ingin menanyakan soal rapat itu. Pak Marko yang bilang kalau rapatnya ditunda dan namamu yang tertera di list undangan kemitraan.” Reno memainkan ponsel di tangan. Matanya tertuju ke layar. Dia senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya. Sementara, aku terus memerhatikan ekspresi wajah Reno. Pikiranku mulai berkhayal liar. Aku semakin yakin bahwa Reno menyimpan sesuatu dariku. “Dari mana mereka tahu soal aku dan namaku? Aku sendiri belum pernah mengenalkan diri bahkan tak satu pun kenal dengan orang-orang di Bastian group,” ta

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Buku Nikah

    “Cuma sebutan yang tidak berarti. Becandaan khas teman-teman sekerja di hotel padaku,” jawab Reno akhirnya. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan. Menghadirkan topik bahasan baru. Kami membahas soal umur. Ternyata, Reno lebih muda dariku 2 tahun. Sebuah fakta yang mengejutkanku. Saat ini, aku berusia 30 tahun. Usia yang kata orang sudah terlambat untuk menikah. Bagaimana tidak, kegagalan-kegagalan dalam urusan asmara selalu terjadi padaku di masa lalu. Tak hanya dulu, sekarang pun masih begitu. Obrolan lain juga menemani perjalanan kami menuju kantor administrasi pernikahan. Reno membuka banyak topik pembahasan yang ringan. Aku nyaman berbagi cerita dengannya. Aku menganggap, obrolan kami adalah cara kami untuk saling mengenal. Urusan di kantor administrasi pernikahan cukup lancar. Akhirnya, aku mendapatkan buku nikah yang sangat aku butuhkan untuk legalitas pernikahan kami. “Akhirnya, aku berhasil mendapatkan ini, Ren,” ucapku bahagia. Buku ini akan menjadi syarat utama untuk mer

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Hari Yang Gila

    POV RENO Hari ini adalah hari yang gila. Bahkan sangat gila. Tanpa rencana dan tanpa agenda, tiba-tiba saja aku menikah dengan seorang perempuan bernama Salma. Hari ini adalah hari ke delapan aku berada di hotel ini. Mama memintaku untuk mengikuti serangkaian acara perjodohan. Satu wanita untuk satu hari, dalam satu acara kencan. Mama menginginkanku untuk segera menikah. Dia ingin punya menantu dari Indonesia. Kata Mama, istri yang pantas untukku adalah istri yang senegara. Awalnya aku meremehkan pandangan mama soal gadis Indonesia. Tapi pandanganku berubah setelah bertemu dengan seorang gadis yang anggun di hotel ini. Berkat bertemu dengannya, aku mulai melihat perempuan Indonesia dalam pandangan yang berbeda. Hari pertama aku melihat gadis itu, aku tergerak untuk mendekati. Tapi urung, setelah tahu siapa namanya dan apa niatnya datang ke hotel ini. Namanya, Salma, demikian info yang kudapat dari resepsionis. Salma datang untuk memesan ballroom. Dia akan menikah di hotel ini. Ras

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Kepakatan

    "Siapa mereka, Ren?" tanyaku lagi. "Para cegil!"Reno masih menggenggam tanganku erat, aku terpaksa mengiringi langkahnya yang cepat."Cegil itu apa?""Cewek gila."Setiba di dalam lift, Reno semakin panik karena pintu lift tak jua kunjung menutup. Sementara satu di antara cewek cantik yang mengejar itu sudah semakin dekat."Alvin! Aku akan adukan kamu ke ibumu!" Perempuan itu berteriak mengancam. Aku mendengar dengan jelas ucapannya. Hanya saja, saat perempuan itu mengucapkan kalimat itu, pintu lift menutup. Kami pun terbebas. Dan Reno terlihat lega walau napasnya ngos-ngosan. Setelah mengatur napas, Reno malah terpingkal."Kamu kenapa? Apanya yang lucu? Siapa cewek-cewek itu? Kenapa mereka ingin mengadukanmu pada ibumu?" tanyaku beruntun. Tentu saja aku penasaran. Bagiku, Reno adalah pria asing. Aku belum kenal dengannya. Siapa tahu, dia seorang playboy yang memiliki masalah dengan banyak wanita."Jawab, Ren!" Suaraku meninggi. Tawa Reno pun terhenti. Dia kembali bersikap tenang."

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status