SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN

SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN

last updateLast Updated : 2026-10-22
By:  Shira AldilaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
15views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku membayar seorang pria tak kukenal untuk menjadi suamiku karena di hari pernikahan, calon suamiku ketahuan berkhianat. Dia berselingkuh dengan adik tiriku yang licik. Setelah menghabiskan banyak waktu dengan suami bayaranku itu, akhirnya aku tahu bahwa dia bukanlah pria dari kalangan biasa. Ternyata suami bayaranku itu adalah seorang Milyarder yang akan menjadi investor perusahaan kelurgaku. Selamat Membaca 💞💞💞

View More

Chapter 1

Sebuah Video

"Video apa ini?"

Aku histeris ketika melihat rekaman video yang ditampilkan di layar besar di acara akad nikahku. Seharusnya yang ditayangkan di sana adalah video prewed-ku bersama Raffi tunanganku, bukan tayangan mesvm seperti ini.

Di dalam video itu menampilkan adegan tidak senonoh antara Raffi dan Sarah adik tiriku. Mereka bercinta di kamar pengantinku di hotel tempatku akan berbulan madu. Para undangan yang berada di ballroom hotel ini pun menatap jijik rekaman mereka berdua. Apalagi aku, selain jijik, hatiku juga hancur lebur.

"Hentikan video itu, kenapa ditayangkan terus!"

Itu suara Maya, Ibu tiriku. Dia juga histeris. Wajahnya memerah karena malu ulah perangai Sarah anak kandung kesayangannya.

Pria berseragam pelayan hotel yang memutar video itu mematikan layar. Wajahnya terlihat puas dan senang setelah menayangkan video pengkhianatan itu. Siapa dia? Aku tak kenal dengannya. Sepertinya dia sengaja melakukan hal ini. Tapi apa tujuannya? Entahlah. Fokusku sedang kacau. Jiwaku mendadak labil. Hal yang ingin aku lakukan sekarang adalah mencerca Raffi dengan segudang pertanyaan.

"Raffi, jelaskan padaku, sejak kapan kamu main hati dengan Sarah? Lalu kenapa Sarah? Apa ngga ada perempuan lain untuk kamu jadikan selingkuhan? Mengapa kamu mengkhianatiku dengan adikku sendiri?" tanyaku beruntun. Emosiku sudah memuncak di ubun-ubun.

"Ayolah, Salma. Kamu juga ngga pernah cinta sama aku. Kamu ingin nikah 'kan cuma ingin mendapatkan perusahaan Ibumu saja dari ayahmu. Aku udah ngga bisa berpura-pura lagi, Salma. Aku mencintai Sarah sejak awal aku berkenalan dengannya," jawab Raffi berterus terang. Kejujurannya teramat pahit untuk kutelan.

“Iya, Kak. Maafin kami yah. Mau gimana lagi. Aku juga mencintai kak Raffi. Apalagi Kak Raffi sudah terang-terangan bilang kalau dia ngga pernah cinta sama Kak Salma," sahut Sarah tanpa dosa. Kutatap wajah adik tiriku itu. Tidak terlihat raut penyesalan sedikitpun. Malah Sarah terlhat senang. Harusnya dia kabur dari ruangan ini setelah aibnya dipertontonkan pada banyak orang. Tapi ini tidak. Dia hanya cengengesan. Dasar tak tahu malu.

Jawaban Raffi dan Sarah membuat aku terpojok. Aku ingin mendapatkan pembelaan dan dukungan sekarang. Aku berharap ayahku yang akan melakukan hal itu.

"Ayah, lihat kelakuan Sarah. Apa ayah tidak ingin menegurnya? Dia sudah membuat malu keluarga." Aku berusaha memancing ayah agar angkat bicara. Tapi reaksi yang tak kuduga yang kudapatkan darinya.

"Salma, mengalahlah dengan adikmu. Kalau mereka saling cinta. Kita bisa apa?" ucap ayahku tanpa beban.

"Apa? Aku ngga nyangka ayah akan berucap seperti itu. Mengalah kata ayah? Rasanya seumur hidup aku selalu mengalah dengan Sarah. Buka hati ayah, lihat kelakuannya. Dia tidak hanya merebut tunanganku, tapi dia sudah membuat malu keluarga ini dengan berbuat hal yang tidak senonoh," ucapku dengan nada suara tinggi, berharap ayahku sadar dan mau mendengarkan.

"Tutup mulutmu, Salma. Jangan hina adikmu. Dia hanya khilaf. Soal video itu, pasti ada yang ingin menjebaknya dan ingin menjatuhkannya," balas ayah yang membuatku semakin meradang. Ayahku memang pengecut. Semenjak menikah dengan Maya, ayah seperti orang yang diguna-guna. Selalu manut dengan semua ucapan istri mudanya. Cara ayah memperlakukan Sarah pun sering salah. Apapun kelakuan buruk adik tiriku itu selalu dibela. Pantas saja dia tumbuh menjadi gadis yang egois dan manja.

"Ayah sengaja membela Sarah karena ayah memang tidak ingin aku menikah, bukan? Ayah tidak ingin mengembalikan perusahan Ibu ke tanganku, bukan? Jangan-jangan ayah memang berencana ingin menguasainya kemudian menyerahkan perusahaan itu pada Sarah dan Mama."

Kali ini, air mataku jatuh berderai. Aku merasa tak berharga di keluargaku ini. Ternyata ayahku sendiri juga ingin mengkhianatiku.

"Andai perusahaan itu jatuh ke tangan Sarah, apa masalahnya buat kamu, Salma?" Maya ikut bersuara. Dia sangat to the point. Terlhat jelas ambisi dari mama tiriku itu.

"Tidak masalah kata mama? Lahir bathin aku ngga rela. Perusahaan itu milik ibu kandungku. Sarah tidak berhak," balasku sengit. Air mataku mendadak kering. Tangisku hilang. Kesedihanku menguap, berganti menjadi kebencian yang memekat pada keluarga toxic-ku ini.

"Tapi sekarang 'kan ayah yang mengelolanya, Salma. Ayah lakukan untuk kita bersama. Untukmu, juga Sarah. Untuk kedua putri ayah." Ayah mencoba membujuk. Bujukan ayah terdengar seperti rayuan yang penuh tipu daya. Aku tidak percaya jika ayah menganggapku setara dengan Sarah. Itu sangat bohong. Semenjak Ibu meninggal, aku selalu disisihkan. Bahkan dianggap ngga ada. Ayah selalu mengutamakan Sarah di atas segalanya.

Bukannya aku tidak mau berbagi, tapi dalam wasiat ibu, namaku yang menjadi pewaris satu-satunya. Ayah hanya mengelolanya sampai aku dewasa dan menikah. Seharusnya, hari inilah waktunya. Tapi semuanya gagal karena pengkhianatan.

Lagi pula, Maya seharusnya tidak berhak sama sekali untuk menikmati hasil keuntungan perusahaan milik mendiang Ibuku itu. Hanya saja, ayahku terlalu bodoh dan bucin pada si pelakor itu. Kehadiran Mayalah yang membuat ibuku jatuh sakit kemudian meninggal dalam keadaan patah hati di masa lalu. Dan sekarang, mereka terang-terangan ingin menguasai. Sungguh aku tak sudi.

"Baiklah. Sekarang aku sudah paham dengan akal bulus kalian." Aku menatap tajam ke arah Ayah yang sengaja membuang muka dariku. Dia tidak berani menatapku. "Ayah, kata ayah, ayah akan menyerahkan perusahaan Ibu jika aku sudah dewasa dan menikah. Aku akan penuhi syarat itu hari ini juga. Aku akan tetap menikah," ucapku tegas. Ayah terkesiap mendengar ucapanku.

"Apa maksudmu, Salma? Dengan siapa kamu akan menikah?" tanya Ayah heran dengan ucapanku. Aku hanya membalas ayah dengan senyum sungging yang penuh kegetiran.

"Kamu mau menikah dengan siapa hari ini, Salma? Raffi ‘kan sudah tidak menginginkanmu lagi. Dia hanya menginginkan Sarah." Maya menimpali.

"Itu bukan urusanmu, Mama!” jawabku ketus. Rasa hormatku sudah hilang pada perempuan itu.

Aku memutar badan. Menghadap ke arah tamu undangan yang sedari tadi menjadi penonton drama memalukan keluargaku yang tolol ini.

"Hadirin yang berbahagia. Aku Salma Saraswati Atmaja. Hari ini aku mencari suami. Ada imbalan hadiah yang akan aku berikan, termasuk gaji 10 juta setiap bulan bagi yang bersedia menjadi suamiku. Selama menikah denganku, aku tidak akan menuntut banyak hal. Cukup bertugas menjadi suami yang baik untukku. Bagi yang berminat, silakan angkat tangan."

Aku berbicara lantang di hadapan semua orang. Suaraku terdengar keras dan berani. Tapi percayalah, jauh di dalam hati, aku sangat malu dan merasa putus asa. Tapi demi wasiat Ibu, memutus urat malu pun aku mau.

"Salma, jangan gila kamu," cegah Ayah.

"Anggap saja aku memang sudah gila. Aku gila karena ayah," balasku tak peduli lagi pada ayah. Kudengar, Sarah dan mamanya berbisik-bisik dan menertawakanku di belakang.

Aku menatap dengan mata memohon pada para pria-pria lajang yang datang sebagai undangan. Aku berharap ada yang mau maju dan menawarkan diri untuk kujadikan suami. Tapi beberapa menit berlalu, semua pria itu hanya diam mematung seraya melemparkan tatapan iba padaku.

"Kamu memang menyedihkan, Kak Salma. Lihat, ngga ada satu pun pria yang menginginkanmu di ruangan ini, Kak." Sarah mengejek di belakang. Tapi aku abaikan. Fokusku kini adalah mencari calon pengantin priaku.

Lama menunggu, akhirnya ada suara seorang pria yang berteriak lantang. Suaranya berasal dari samping panggung pelaminan.

"Saya. Saya bersedia menjadi suamimu."

Mataku menoleh pada sumber suara. Semua mata orang-orang pun juga tertuju padanya. Serentak, orang-orang melongo, termasuk aku. Tak hanya melongo, tapi hatiku juga mencelos tak berdaya saat tahu siapa pria yang menawarkan diri menjadi suamiku itu.

Pria itu adalah ...

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status