Share

Kejar-Kejaran

Author: Shira Aldila
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-30 17:57:03

"Pelayan hotel? Hahaha!" Tawa Sarah menggelegar. Maya juga ikut tertawa mencemooh. Laki-laki yang menawarkan diri untuk menjadi suamiku itu adalah pelayan hotel yang tadi lancang memutar video pengkhianatan Raffi. Jauh di dalam hati, aku pun merasa tak siap menjadikannya suami. Tapi ejekan Maya dan Sarah harus kubungkam. Aku harus komit pada janjiku sesuai pengumumanku tadi.

"Ke sinilah, perkenalkan namamu padaku." Aku menyambut pria itu dengan hati lapang. Kupersilakan dia untuk naik ke panggung pelaminan.

Ayah yang berada di dekatku lansung mencegat langkah pelayan hotel itu.

"Jangan coba-coba kamu menikahi putriku, kamu tidak sederajat dengan kami," sergah Ayah.

“Tuan Rudi. Namamu Tuan Rudi Atmaja, bukan? Lihat orang-orang di ruangan ini. Adakah yang bersedia membantu putrimu? Bahkan kamu sendiri tidak mau melakukannya. Harusnya kamu yang pasang badan jika ada yang menyakiti putrimu. Tapi ini tidak, malah kamu membiarkan dia terpuruk sendirian begitu saja. Sebagai manusia waras. Saya tidak tega melihat putrimu kewalahan dan menanggung malu seperti itu. Izinkan saya menikahinya.” Ucapan pelayan hotel yang tegas itu berhasil membungkam mulut ayah. Aku juga dibuat terenyuh oleh ucapannya.

Melihat ayah bungkam, aku lansung mendukung ucapan pria yang bersedia menjadi pengantin priaku itu.

“Dia benar. Ayah seharusnya tidak perlu mempersulit hidupku lagi. Keputusanku sudah bulat. Aku akan menikah dengannya." Perlawananku membuat ayah semakin tak berkutik.

"Sudahlah, Mas. Ikuti saja maunya. Kita lihat sampai di mana permainan ini. Orang keras kepala seperti Salma memang harus dibiarkan saja biar dia jera di kemudian hari." Ucapan Maya membuat ayahku mau menyingkir dari hadapanku dan calon suamiku. Ayah memang patuh pada Maya.

“Baik, aku akan kabulkan keinginan gilamu. Semoga kamu tidak menyesal,” ancam Ayah. Dia menjauh dariku dan bergabung bersama istri dan anaknya yang busuk hati itu.

"Saya Salma, namamu siapa?" tanyaku ramah pada calon pengantin priaku.

"Saya, Reno."

"Reno? Reno saja?" tanyaku lebih lanjut ingin tahu nama lengkapnya.

"Reno Alvin Bas …." Kudengar, dia terbata menyebutkan nama lengkapnya.

"Reno Alvin, Mba," lanjutnya.

Mengapa dia terbata menyebutkan nama lengkapnya sendiri? Apa karena dia terlalu gugup?

"Reno Alvin, apakah kamu bersedia menjadi suamiku?” tanyaku sambil mengulurkan tanganku padanya. Rasanya sangat aneh. Kuakui, aku benar-benar gila dan putus asa saat ini. Seharusnya, seorang prialah yang mengucapkan hal itu pada gadis pujaannya. Tapi yang aku lakukan adalah kebalikannya. Aku seperti perempuan yang tak punya harga diri.

“Saya bersedia. Saya dengan senang hati akan menjadi suami anda.” Reno mendekat dan menyambut tanganku. Kemudian dia memangkas jarak di antara kami berdua. Pria itu berbisik ke telingaku. “Saya juga akan dengan senang hati untuk ikut andil mengerjai keluargamu yang toxic itu. Saya mendukungmu penuh.” Bisikan Reno benar-benar menaikkan mentalku yang sempat terpuruk. Aku berbinar menatap kedua bola matanya yang terlihat tulus untuk membantuku.

"Mba Winda. Mumpung penghulunya belum datang, tolong siapkan pakaian pengantin priaku," pintaku antusias kepada manajer WO yang mengurus acara akad dan pernikahanku ini.

“Baik, Mba. Tapi, apa Mba yakin?” Mba Winda bertanya sambil berbisik padaku.

“Aku sangat yakin. Please, tolong siapkan dia untukku,” pintaku lagi.

Mba Winda membawa Reno ke kamar ganti. Beberapa menit berlalu, mereka kembali memasuki ruangan. Mba Winda mengiringi langkah Reno yang sudah mengenakan jas hitam. Jas yang seharusnya diperuntukkan untuk Raffi itu terlihat sedikit kekecilan di tubuh Reno yang jangkung dan atletis.

Kini, semua mata tertuju pada calon suamiku. Reno tampak berbeda. Lebih tepatnya, dia terlihat … mempesona. Tidak terlihat aura-aura pelayan hotelnya sedikit pun. Dia terlihat tampan dan berwibawa dalam balutan jas itu. Penampilannya membuat orang-orang memandang kagum.

"Tampan juga, yah. Tapi ingat, Kak. Dia hanyalah seorang pelayan hotel," bisik Sarah saat melewati tubuhku. Untungnya, moodku sudah berubah membaik melihat kedatangan Reno yang memukau. Jadi, ucapan Sarah kuanggap sebagai pujian, walau niatnya adalah untuk menghinaku.

“Siap menikah dengan saya, Mba?” tanya Reno begitu percaya diri saat dia akan duduk di sebelahku.

“Tentu,” ucapku yakin.

Penghulu datang ke ruangan. Dia mengecek data-data pengantin yang akan dinikahkan.

“Kok orangnya beda?” tanya penghulu itu bingung melihat nama yang berbeda dari data yang sudah dia terima sebelumnya.

“Iyah, beda Pak. Calon pengantin prianya baru saja saya ganti,” jawabku santai.

“Diganti kapan?”

“Barusan.”

“Hah? Kok bisa?” Penghulu itu melongo dan heran.

“Iya, Pak. Tolong nikahkan kami segera. Semua data-data administrasi akan kami selesaikan nanti. Yang penting sekarang, nikahkan kami cepat,” desakku.

“Hah?”

Lagi-lagi Penghulu itu berucap ‘Hah?’, Saking bingung dengan apa yang sedang terjadi. Andai penghulu itu tak datang terlambat. Tentu dia akan ikut menjadi saksi kekacauan tadi.

Akad nikah akhirnya dilaksanakan setelah meyakinkan sang penghulu. Ayah bersedia menjadi wali nikahku meski hatinya hanya setengah-tengah. Ayah akhirnya setuju, berkat Maya yang menyuruh ayah untuk mau menikahkanku dengan pria asing ini. Malah Maya terlihat antusias. Entah apa yang sedang dia rencanakan.

Prosesi akad berjalan lancar. Ternyata Reno juga sungguh-sungguh dengan niatnya. Setelah para saksi mengucakan kata 'sah', aku lansung mengajak Reno pergi dari ruangan itu. Tidak ada pesta pernikahan hari ini. Tidak akan ada sepasang pengantin yang akan duduk di pelaminan itu. Bagiku, yang terpenting adalah menikah dengan sah di depan penghulu agar aku bisa memenuhi persyaratan ayah. Semoga saja aku tidak dipersulit lagi setelah ini.

"Reno, kita ke kamar," ajakku pada pria yang sudah sah menjadi suamiku itu.

“Ke kamar? Sekarang? Buru-buru amat, Mba? Kan bisa nanti malam,” tanyanya heran. Aku tahu apa yang melintas di pikiran Reno.

"Banyak hal yang harus kita bicarakan empat mata di sana,” tegasku agar Reno tak salah paham.

"Baiklah. Kamar pengantinmu di lantai 25, bukan?” tebak Reno.

“Iyah. Kok Kamu tahu?”

“Saya ‘kan pelayan di hotel ini, Mba?” jawab Reno santai.

“Oh iya. Saya lupa.” Aku menepuk jidat. “Ayok, kita pergi dari sini. Saya sudah muak berada di sini.”

Kusinsing gaun putih pengantinku. Langkahku bergegas meninggalkan ruangan pesta. Aku tak ingin lagi berada di ballroom ini. Terserah apa kata dunia sepeninggalanku dari sana.

Saat berjalan di lorong hotel. Kulihat Reno gelisah. Dia bersikap aneh. Matanya liar melihat ke kiri dan ke kanan, seperti sedang menghindari sesuatu.

"Kamu kenapa?" tanyaku mulai risih dengan sikapnya.

"Hmmm ...." Belum sempat Reno menjawab, aku mendengar suara teriakan perempuan yang memanggil nama Reno.

"Reno!"

Setelah namanya dipanggil, Reno malah berubah ketakutan.

"Lari, Mba! Lari!" teriak Reno tak kalah histeris mengajakku berlari. Reno menarik lenganku kencang. Terpaksa aku mengikutinya meski kepayahan berlari dengan gaun pengantin yang kukenakan.

Di ujung lorong, tak hanya ada satu perempuan, melainkan tujuh orang. Perempuan-perempuan cantik dalam balutan gaun mahal itu terus berteriak memanggil nama Reno, sebagian meneriaki dengan nama Alvin. Tak hanya berteriak, mereka juga mengejar ke arah kami. “Alvin, tunggu. Jangan tinggalkan kami!” teriak mereka.

“Siapa perempuan-perempuan itu, Ren?” Suaraku menggema di Lorong hotel. Reno tak jua menjawab. Dia terus gigih berlari dan menarikku untuk kabur. Sementara perempuan-perempuan di belakang terus mengejar kami seperti zombie.

Siapa mereka? …

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Hadiah Kecil

    “Saya tentu akan melakukan yang terbaik untuk anda, Tuan. Tapi, saya boleh tahu apa alasan anda menyembunyikan identitas anda dari wanita bernama Salma itu?” Wajah Pak Marko terlihat makin tak sabar untuk mendengarkan alasanku. "Karena aku ingin dicintai apa adanya. Aku ingin dicintai karena diriku sendiri, tanpa embel-embel nama besar Papa, jabatan sebagai CEO Bastian Group, jumlah saham dan kedudukan. Aku ingin dicintai dengan tulus," jawabku penuh keyakinan. Mulut Pak Marko, sontak menganga lebar mendengar alasanku. Dia mendekat ke arahku, menempelkan punggung tangannya ke jidatku. "Tidak panas, apa jangan-jangan anda sedang mabuk?" Pak Marko malah menilaiku sedang dalam keadaan ngawur. Apa sesulit itu mempercayai alasanku? Aku juga manusia yang ingin dicinta oleh pasangannya dengan apa adanya. Bukan hal yang muluk, bukan? "Aku sedang tidak demam. Tapi memang sedang mabuk," jawabku terkekeh. Pak Marko lansung menyambar gelas kristal di tanganku. Dia membauinya dan bergumam. "C

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Debaran

    “Raffi? Mau apa kamu ke sini?” sambutku pada Raffi dengan emosi yang mendadak tersulut. Jantungku tak aman jika harus bertemu lagi dengan pengkhianat ini. Rasanya ingin mengamuk saja padanya. “Salma, jangan emosi dulu. Aku mau bicara empat mata denganmu. Aku ingin menjelaskan semuanya.” Suara Raffi melunak. Ternyata dia datang dengan kedamaian. Tapi tetap saja aku curiga. Dia pasti sedang membuat rencana licik baru untukku. “Bicara di sini saja. Di hadapan suamiku,” jawabku ketus. Raffi menggusar rambutnya kesal. “Sudahi sandiwara ini, Salma. Dia bukan suamimu, pernikahanmu cuma rekayasa.” Aku tercekat mendengar ucapan Raffi. Bibirku terkatup tanpa mampu membalas karena dia benar. Semua orang sangat tahu bagaimana aku dan Reno menikah. “Salma, aku sudah membayar tagihan pernikahan kita, Aku ikhlas membayar semuanya dengan penuh. Anggap saja, ini caraku menebus kesalahanku. Ini memang salahku. Aku khilaf, Salma. Aku benar-benar menyesal. Belum sampai satu hari aku berbuat salah

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Gelato

    “Ren, apakah ini ulahmu?” tanyaku pada Reno meski sebenarnya aku tak yakin. Memangnya siapa Reno, sehingga dia bisa membatalkan rapat orang-orang penting itu. "Melakukan apa?” jawab Reno santai. “Itu … membuat acara rapat itu ditunda dan mengajukan namaku sebagai perwakilan Atmaja group?” tanyaku lagi untuk memuaskan rasa penasaranku. “Mana mungkin, Sal. Apakah aku sehebat itu?” “Terus, tadi kamu mengetik pesan pada siapa?” “Pak Marko, Manajerku. Aku ingin menanyakan soal rapat itu. Pak Marko yang bilang kalau rapatnya ditunda dan namamu yang tertera di list undangan kemitraan.” Reno memainkan ponsel di tangan. Matanya tertuju ke layar. Dia senyum-senyum sendiri melihat layar ponselnya. Sementara, aku terus memerhatikan ekspresi wajah Reno. Pikiranku mulai berkhayal liar. Aku semakin yakin bahwa Reno menyimpan sesuatu dariku. “Dari mana mereka tahu soal aku dan namaku? Aku sendiri belum pernah mengenalkan diri bahkan tak satu pun kenal dengan orang-orang di Bastian group,” ta

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Buku Nikah

    “Cuma sebutan yang tidak berarti. Becandaan khas teman-teman sekerja di hotel padaku,” jawab Reno akhirnya. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan. Menghadirkan topik bahasan baru. Kami membahas soal umur. Ternyata, Reno lebih muda dariku 2 tahun. Sebuah fakta yang mengejutkanku. Saat ini, aku berusia 30 tahun. Usia yang kata orang sudah terlambat untuk menikah. Bagaimana tidak, kegagalan-kegagalan dalam urusan asmara selalu terjadi padaku di masa lalu. Tak hanya dulu, sekarang pun masih begitu. Obrolan lain juga menemani perjalanan kami menuju kantor administrasi pernikahan. Reno membuka banyak topik pembahasan yang ringan. Aku nyaman berbagi cerita dengannya. Aku menganggap, obrolan kami adalah cara kami untuk saling mengenal. Urusan di kantor administrasi pernikahan cukup lancar. Akhirnya, aku mendapatkan buku nikah yang sangat aku butuhkan untuk legalitas pernikahan kami. “Akhirnya, aku berhasil mendapatkan ini, Ren,” ucapku bahagia. Buku ini akan menjadi syarat utama untuk mer

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Hari Yang Gila

    POV RENO Hari ini adalah hari yang gila. Bahkan sangat gila. Tanpa rencana dan tanpa agenda, tiba-tiba saja aku menikah dengan seorang perempuan bernama Salma. Hari ini adalah hari ke delapan aku berada di hotel ini. Mama memintaku untuk mengikuti serangkaian acara perjodohan. Satu wanita untuk satu hari, dalam satu acara kencan. Mama menginginkanku untuk segera menikah. Dia ingin punya menantu dari Indonesia. Kata Mama, istri yang pantas untukku adalah istri yang senegara. Awalnya aku meremehkan pandangan mama soal gadis Indonesia. Tapi pandanganku berubah setelah bertemu dengan seorang gadis yang anggun di hotel ini. Berkat bertemu dengannya, aku mulai melihat perempuan Indonesia dalam pandangan yang berbeda. Hari pertama aku melihat gadis itu, aku tergerak untuk mendekati. Tapi urung, setelah tahu siapa namanya dan apa niatnya datang ke hotel ini. Namanya, Salma, demikian info yang kudapat dari resepsionis. Salma datang untuk memesan ballroom. Dia akan menikah di hotel ini. Ras

  • SUAMI BAYARANKU TERNYATA SULTAN   Kepakatan

    "Siapa mereka, Ren?" tanyaku lagi. "Para cegil!"Reno masih menggenggam tanganku erat, aku terpaksa mengiringi langkahnya yang cepat."Cegil itu apa?""Cewek gila."Setiba di dalam lift, Reno semakin panik karena pintu lift tak jua kunjung menutup. Sementara satu di antara cewek cantik yang mengejar itu sudah semakin dekat."Alvin! Aku akan adukan kamu ke ibumu!" Perempuan itu berteriak mengancam. Aku mendengar dengan jelas ucapannya. Hanya saja, saat perempuan itu mengucapkan kalimat itu, pintu lift menutup. Kami pun terbebas. Dan Reno terlihat lega walau napasnya ngos-ngosan. Setelah mengatur napas, Reno malah terpingkal."Kamu kenapa? Apanya yang lucu? Siapa cewek-cewek itu? Kenapa mereka ingin mengadukanmu pada ibumu?" tanyaku beruntun. Tentu saja aku penasaran. Bagiku, Reno adalah pria asing. Aku belum kenal dengannya. Siapa tahu, dia seorang playboy yang memiliki masalah dengan banyak wanita."Jawab, Ren!" Suaraku meninggi. Tawa Reno pun terhenti. Dia kembali bersikap tenang."

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status