Share

Bab 6 GIBAHAN TETANGGA

"Bu, ibu ... ayah kemana?" tanya Safia saat saya sedang memasak pagi ini. 

Hari minggu ini, aku sengaja membuat makanan kesukaannya. Setelah itu saya akan mengajak Safia pergi jalan-jalan, meski hanya ke pelabuhan melihat kapal-kapal besar yang sedang berlabuh. 

Safia akan bahagia dan bercerita dengan antusias kepada Bapak dan Bu Fatimah. Usia Safia, memang sedang cerewet-cerewetnya. Setiap hari selalu ada dialog panjang yang ditanyakan saat saya pulang kerja. 

Begitupun dengan bapak dan ibu, tanya ini dan itu. Lalu bercerita sesuai dengan imajinasinya sendiri. Membuat siapapun yang melihatnya akan begitu gemas.

"Kenapa kita tidak jalan-jalan sama ayah juga, bu?" tanyanya lagi dengan sorot mata yang polos. 

"Safia putri ibu yang paling cantik, paling pintar, dengerin ibu, ya, nak. Ayah sedang bekerja jauh sekali, nanti, kalau sudah banyak uang, ayah pasti pulang dan kita bisa jalan-jalan bersama," Ku sembahkan senyum manis buat Safia, aku harap dia mengerti akan apa yang aku katakan padanya.

Meski hanya mengangguk-angguk, saya rasa Safia sudah mengerti akan jawaban yang saya berikan. Kugandeng tangan kecilnya untuk menonton kartun kesukaannya. Supaya saya bisa leluasa memasak di dapur.

Sejak bisa berbicara, Safia memang suka bertanya tentang apa yang tidak dia ketahui. Kalau jawabannya kurang tepat dan mantap, maka akan bertanya lagi.

"Tunggu ibu selesai memasak, lalu kita pergi jalan-jalan lihat kapal, ya," ucapku sambil mengelus pucuk jenggot.

Safia tersenyum dengan sangat manis, wajahnya yang mirip dengan Mas Rudi membuat darahku berdesir. Ada rasa kangen di dalamnya, saat aku melihat Safia, seperti itu pula aku melihat suamiku. Putri kami bagaikan foto copy annya Mas Rudi.

'Ah, Mas, aku kangen' batinku. 

"Bu, nanti kalau Ayah pulang, kita jalan-jalan sama Ayah juga, ya? Seperti, Tasya kemarin. Dia jalan-jalan sama ayahnya, naik kapal, beli es krim juga."

“Iya, mangkanya doain Ayah cepat pulang, ya!” ucapku dengan mencium pipi gembulnya. 

☀☀️ 

“Enak, ya, punya hutang tapi tidak pernah membayarnya,” ujar Mbak Eni, tetanggaku yang memang terkenal dengan gaya bicaranya yang ceplas-ceplos.

Saat kami sama-sama ikut gotong royong di tempat tetangga yang sedang ada hajatan, menjadi kebiasaan bagi kami para warga yang lain untuk membantu. Istilahnya yaitu rewang.

Semua bergerombol dalam melakukan pekerjaannya masing-masing, ada yang sedang memarut kelapa, mengiris-iris bumbu-bumbu dan masih banyak lagi. 

Entah karena apa, Mbak Eni tiba-tiba saja nyeletuk aneh menurutku. Sebab, saya tidak pernah sedikitpun ikut menggosipkan seseorang. Tanpa dinyana dia malah seperti menyindirku dengan kata hutang. 

Bagaimana dia bisa tahu kalau suamiku memang punya hutang? 

Suaranya begitu lantang dengan melirikku sekilas, aku yang merasa, hanya berpura-pura tidak tahu. Lebih baik diam daripada nanti ujung-ujungnya menimbulkan masalah baru.

"Aku, kalau jadi orang yang nagih akan aku ambil semua yang ada di dalam rumahnya, enak saja mau uangnya tapi saat mau membayar harus pakai dalih ini dan itu. Kebiasaan," ujarnya dengan suara yang ditinggikan.

"Siapa, Mbak? Memangnya disini ada orang yang punya hutang banyak seperti itu?" tanya Yu Tijah dengan kerasnya juga. Mereka adalah sahabat karib, saling bantu membantu satu sama lain. Kemana-manapun selalu berdua, seperti dua sejoli yang enggan terpisahkan.

Suara mereka bak mobil tronton yang lewat di jalanan kota besar, nyaring dan bising. Membuat gendang telinga seakan ingin pecah saja.

“Ya orang lah, masak yang hutang itu hewannya,” jawab Mbak Tika yang membuatku seperti menahan penyakit asma. Sesak.

"Jangan suka menggosipkan sesuatu yang kita tidak tahu juntrungannya, Mbak. Dosa besar. Orang luar seperti kita tahunya itu cuma kulitnya saja, sedang dagingnya nggak paham sama sekali. Toh, mereka berhutang juga kita tidak ikut membayarnya, betul tidak, Bu Endang?" ucap Mbak Tika yang ikut menimpali ucapan Mbak Eni. 

“Tapi, Mbak….” 

"Benar apa kata Mbak Tika. Seharusnya kita tidak usah ikut campur urusan orang lain atau menyindir seseorang, Mbak. Kita disini ikut membantu Mbak Putri yang sedang punya hajat. Kalau mau gosip, gosipkan saja itu artis yang ganteng-ganteng kena narkoba. Berdoa saja semoga anak cucu kita dijauhkan dari hal-hal yang haram! Benar, 'kan ibu-ibu?" saran Bu Endang yang membuat semua orang terdiam. 

Bu Endang, beliau orang baik dan berpendidikan di lingkungan RT kami, sehingga ucapannya selalu di dengar bagi siapa saja yang diajak bicara. Tak terkecuali, Mbak Eni dan yang lainnya. 

"Kasihan, Mbak Rani. Dia tidak pernah sedikitpun membicarakan kalian, buat apa kalian mengorek rumah tangganya? Menurut saya, Mbak Rani orang yang hebat. Ditinggalkan suaminya pergi kerja jauh mencari uang besar, namun, harus berhadapan dengan Hutang-hutang yang selama ini dipakai oleh suaminya. Memangnya kalau kalian berada di posisi yakin akan sanggup menjalaninya?" ujar Bu Endang panjang lebar yang membuatku menahan tangis. Perih.

"Eh, Bu Endang kok mikirnya saya ngomongin, Rani? Jangan suudzon dong, Bu," pekik Mbak Eni tak terima. 

"Lalu?" 

"Maaf ya, Mbak Rani. Memang sudah menjadi rahasia umum jika Mas Rendi ada hutang banyak. Karena, saat penagih datang ke rumahnya, Mbak, mereka bertanya kepada Mbak Eni. Lalu tersebarlah semua ini," jelas Bu Endang yang aku jawab dengan anggukan dan senyum tipis.

Yang aku lihat raut wajah Mbak Eni berubah tegang saat Bu Endang bertanya siapa yang telah dimarahi olehnya barusan. Meski Mbak Eni menyangkal, namun, saya juga tahu pasti kalau akulah orang yang telah disindirnya itu.

Entah kenapa dadaku terasa sesak, ingin rasanya aku berlari dari acara rewang ini. Kini semua mata seolah-olah menelanjangi dengan tanpa ampun. Malu.

“Mbak Eni, maaf, bukannya saya sok suci. kita dengan hal seperti itu? Nanti yang terjadi malahan silaturahmi antar tetangga akan terputus," imbuh Mbak Tika tegas.

Mbak Wati yang tengah duduk di sampingku mengelus pundakku sembari tersenyum dan berbisik.

"Yang kuat, jangan masukkan dalam hati ucapan Eni!" bisik Mbak Wati.

Kami yang mendengar hanya manggut-manggut, entah itu paham dan setuju atau tidak. Semenjak Bu Endang membuka suaranya, tidak ada pelesetan yang berani mencela dan membantahnya. Semua membasu.

“Ibu… ibu, aku mau jajan seperti Tasya, aku mau jajan, Bu!” teriak Safia saat suasana hening. 

"Iya, yuk kita beli!" ajakku dengan menggandeng tangan Safia. "Maaf ya Mbak, saya mau beli jajan dulu buat Safia, maaf saya tinggal kerjaannya."

"Nggak apa-apa, biar nanti dilanjut yang lain," jawab Mbak Wati.

Aku pun berlalu dengan memikirkan terima kasih kepada Bu Endang dan semuanya, akhirnya aku bisa bernafas dengan lega karena telah terbebas dari segerombolan orang-orang yang telah membuatku sesak.

Kuciumi Safia dengan deraian air mata, ku peluk raga kecil itu dengan bersyukur sebanyak-banyaknya karena masih ada orang baik di sekelilingku. Bu Endang dengan bijak membalas setiap kata dari Mbak Eni yang membuat hatiku semakin memanas.

Andai tadi tidak ada Bu Endang, entah kalimat apa lagi yang akan diutarakan oleh Mbak Eni dan Yu Tijah. Belati itu menancap di relung hatiku lalu dicabik-cabik dan di siram dengan air garam. Perih. 

Sungguh lidah Mbak Eni segitu tajamnya memporak-porandakan kumpulan daging bernama hati.

❤️❤️❤️

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status