Masuk"Aku akan tetap pada keputusanku..!" Jenderal Yaksin tetap pada pendiriannya, untuk menolak berkhianat.
"Hah.....!" Wang Yin sang Dewa Ruang dan Waktu menggelengkan kepalanya tanpa harapan "Selesai sudah..!" gumamnya di dalam hati, karena hanya bisa melihat salah satu temannya akan berakhir pada kematian, atas pilihan bodohnya.
Sungguh sangat disayangkan, Dewa Ruang dan Waktu tidak bisa berbuat apa - apa, padahal sebelumnya ia sudah memperingatinya untuk tidak bertindak gegabah dan bodoh, menyinggung orang yang tak seharusnya ia singgung.
Melihat keteguhan hati itu, He Sura, langsung menyentuh kepala Jenderal Yaksin
"Sura...! Apa yang ingin kau lakukan...?" Wang Yin mencoba menghentikan tindakan He Sura.
"Apa kita sedekat itu, sampai - sampai aku harus meminta izin kepadamu...?" balas He Sura dengan ekspresi wajah masa bodoh, dan menelusuri seluruh isi kepalanya. Pada hasil pencarian menggunakan me
Bisikan yang Menembus SunyiDalam keheningan itu, suara lembut muncul dari dalam kesadaran He Sura.Bukan suara manusia—melainkan resonansi dari Heavanly Dao miliknya sendiri.“Ayahhanda He Sura…”suara itu lembut, nyaris seperti nyanyian,“Ayah tahu ia tak pantas menanggung kebenaran. Tapi sampai kapan kau akan memendam luka itu sendirian?”He Sura memejamkan mata, menunduk sedikit.Bibirnya bergerak tanpa suara, tapi Dao Dunia mendengar setiap getarannya.“He Xiao’er… aku tidak menahan kebenaran untukku. Aku menahannya demi keseimbangan.” ucap He Sura yang sebenarnya mengetahui kebenaran yang sebenarnya dan seakan tak ingin dunia mengetahui, kisah sebenarnya, yang akan mengguncang keberadaan Domain Dewa Antares.Sebab meskipun rata- rata dewa memiliki sikap dan sifat sombong da
Langit Selatan bukanlah langit yang biasa. Ia adalah kubah surgawi yang memantulkan cahaya ribuan dunia, tempat para Dewa berjalan di atas awan kekekalan dan bintang-bintang tunduk pada hukum Dao tertinggi. Namun pada hari itu — untuk pertama kalinya sejak masa penciptaan — langit itu retak.Cahaya keemasan meledak dari celah di antara lapisan realitas, seperti darah suci yang mengalir dari luka surgawi. Awan menjerit, kilat melingkar dalam pola mandala, dan dari pusaran itu, turunlah sang Dewa Kaisar Jun Feng — penguasa Wilayah Selatan, pewaris tahta Dewa Qilin, putra tunggal dari Kaisar Jun Yang yang gugur dalam perang spiritual di Timur.Ia turun bukan sebagai ilusi atau bayangan kehendak seperti sebelumnya, melainkan tubuh aslinya, tubuh yang terbuat dari inti bintang Qilin Agung.Setiap langkahnya membuat dunia bergetar.Setiap helaan napasn
Setelah Dunia Tiansun terbentuk ulang, Mo Chuan, Raja Dewa Dao Pedang, memimpin seratus Domain Immortal untuk menaklukkan sepuluh Domain Immortal Dunia Tiansun. Namun upayanya berakhir dalam kehancuran mutlak, dimana seratus domain yang ia prakarsai untuk menghancurkan 10 Domain Immortal Dunia Tiansun malah berakhir runtuh menjadi debu di bawah hukum langit yang bergejolak, akibat jejak dao kekacauan yang disebabkan oleh Patung He Sura.Dengan amarah dan kehormatan yang terkoyak, Mo Chuan segera melangkah menuju Dunia Tengah Wilayah Selatan dari Wilayah Selatan terujungDomain Dewa Antares, salah satu dari Semesta Sepuluh Ribu Dunia. Di sanalah ia mencari satu nama yang menjadi momok yang begitu mengerikan dan aib luka besar bagi para Dewa: "He Sura", Sang Pembunuh Dewa.Pertarungan antara keduanya—H
Langit Tiansun tidak lagi biru.Sejak Fang Zhuo hancur menjadi debu, langit itu memantulkan warna abu keperakan — seperti cermin yang kehilangan pantulannya sendiri.Bumi tenang, tapi keheningan itu terasa seperti sesuatu yang menunggu.Menunggu napas berikutnya dari dunia.Jang Xuan duduk di atas puncak Gunung Daoluo.Pedangnya — atau sisa-sisanya — tertanam di tanah di sebelahnya.Angin melintas, membawa abu pertempuran, tapi tubuhnya tetap diam.Matanya tertutup, tapi pikirannya menembus jauh melampaui lapisan langit.“Master…” bisiknya pelan.“Kemenangan ini… terasa seperti tipuan.” ujarnya dengan nada datar, seperti memiliki rasa kekecewaan dan ketidak puasan diri, terhadap apa yang ada dan terjadi di hadapannya.Dari balik kabut spiritual, suara samar terdengar.Suara yang dala
Dunia Tiansun diam.Begitu diam hingga gema napas pun terdengar seperti doa.Sepuluh Domain Immortal memulihkan diri; aliran spiritual yang dulu mengamuk mulai kembali tenang.Namun, jauh di bawah permukaan bumi — di kedalaman yang tak pernah dijamah bahkan oleh para Sage — sesuatu bergerak.Sisa kehancuran Seratus Domain Selatan telah membentuk lapisan baru di bawah tanah:Lautan hitam cair, terdiri dari sisa darah, jiwa, dan fragmen Dao yang tercabik.Di tengahnya, mengambang tubuh Juge Fang — atau setidaknya, sesuatu yang dulu pernah menjadi dirinya.Tubuh itu sudah tidak lagi utuh.Dagingnya hilang, tulangnya berkilau seperti logam hitam, dan dari dalam rongganya, semburat cahaya merah tua menyala perlahan.
Langit Tiansun tidak lagi berputar seperti biasa.Arah angin berubah, hukum gravitasi bergeser, bahkan waktu sendiri terasa tersandung setiap kali sinar dari patung He Sura berdenyut.Bagi makhluk biasa, dunia itu kini mustahil dihuni.Namun bagi para Immortal, ini adalah momen puncak — antara pemurnian atau kehancuran total.Patung He Sura masih berdiri di tengah Kuil Tiansun.Retakan di tubuhnya kini memancarkan cahaya berlapis: emas, hitam, dan merah darah.Setiap denyut cahaya itu memancarkan getaran Dao Kekacauan — esensi dari segala yang tak dapat dijelaskan oleh hukum biasa.Setiap kali cahaya itu berdenyut, para Immortal merasakan sesuatu di dalam diri mereka:Rantai-rantai Dao mereka bergetar.Tekanan spiritual yang dulu mengikat m







