Share

Pasang Susuk Emas Di Wajah

"Sudah makannya? Aku pesan taksinya sekarang, bagaimana," tanya Fani.

"Boleh, aku bayar dulu, ya. Sekalian membeli minum untuk di jalan," aku bangun dan membayarnya.

"Bentar lagi taksi datang Say, kebetulan sedang dekat sini, yuk ke depan," ucap Fani berdiri dan membersihkan mulutnya dengan tissue.

"Yuk, sudah aku bayar semua," aku melangkah dan dan disusul Fani berjalan.

"Bu, saya sudah di titik jemputan," pesan dari Supir Online.

"Tunggu ya, Pak," gegas Fani dan mengajak Siska menuju mobil.

Langkah cepat menghampiri mobil itu.

"Bapak Jajang, ya," tanya Fani memastikan nama Supir.

"Iya Bu, dengan Bu Fani, ya, silahkan masuk Bu," Supir mempersilahkan.

"Selamat menjelang siang Bu," sambut Supir.

"Siang Pak, langsung berangkat Pak," ujar Fani.

"Siap Bu, sesuai titik tujuan, ya,"

 Supir memastikan.

"Iya, Pak."

 

Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Menyusuri keramaian Ibu Kota, melewati tikungan tanjakan dan turunan. 

 

****

Sampai di tempat tujuan sebuah rumah lumayan mewah yang terkenal dengan sebutan Mbah Susuk. Mbah yang sudah biasa memasang susuk kepada pasiennya dan kebanyakan wanita.

 

"Permisi Mbah, Creng ... Creng ... Creng."

 

 

Fani memberi salam dan menggedur besi pagar rumah Mbah Susuk.

 

 

Keluar seorang Lelaki tua melangkah menuju pagar dan membukakannya.

 

 

"Mari masuk," ajak Mbah.

 

 

"Iya Mbah," Fani menggandeng Siska supaya masuk.

 

 

Sepertinya Indah ketakutan ragu melangkah, makanya Fani menggandengnya.

 

Mereka berdua duduk.

 

"Jadi yang mau memasang susuk sendiri atau berdua? Mau susuk jenis apa?" Tanya Mbah.

 

 

"Kami berdua yang mau masang Mbah, susuknya yang paling bagus Mbah," cetus Fani.

 

 

"Sebentar, Mbah ambil dulu."

 

 

Mbah yang berwajah horor berdiri dan mengambil susuk yang paling bagus.

 

 

"Nah, ini susuk yang paling dahsyat, namanya susuk jarum emas, pasangnya di wajah," Mbah menjelaskan.

 

 

"Harganya lebih mahal dari yang biasa, bagaimana? Mau yang ini atau yang biasa saja," Mbah memberikan pilihan.

 

 

Fani mencolek serta menatap Siska dan memberi kode kepada Siska agar berbicara.

 

 

"Emm ... Ya sudah Mbah, susuk jarum emas saja yang penting paling bagus ya, Mbah, masalah harga tidak masalah," Siska berbicara dan sudah menentukan pilihannya.

 

 

 

"Sebentar Mbah ritual dulu," mengambil susuk itu kemudian membakar kemenyan dan mengucapkan mantra.

 

 

Bacaan mantranya berbahasa yang sulit dimengerti dan artinya kira-kira seperti ini.

"Tik tik tik, yang jelek jadi cantik dan yang cantik tambah cantik."

"Cang cing cung, yang mengacung cantik, yang membaca cantik dan yang komentar cantik-cantik."

"Tang ting tung, beruntung."

 

 

"Ok, sekarang kalian tiduran, susuk ini akan Mbah masukkan ke dalam wajah kalian," pinta Mbah.

 

 

"Sa ... Sakit gak Mbah?" Aku bertanya.

 

 

"Iya Mbah, sakit gak?" Fani juga menanyakan.

 

 

"Gak kok, tenang saja, udah pejamkan mata kalian," Mbah memulai mengambil susuk yang sudah diberi ajian mantra.

 

 

Lanjut tangannya bergerak ke arah pipi Fani terlebih dahulu. Fani menaikkan pipinya karena takut.

 

 

"Jangan tegang pipinya, santai saja." Mbah kembali mengingatkan.

 

Fani menurutinya dan ....

 

 

Sret ....

 

Susuk telah masuk perlahan, selesai Fani lanjut sekarang memasukkan susuk ke pipi Siska. 

 

Pipi Siska juga sama seperti tegang ketakutan.

 

"Santai dan tenang, ya," ucap Mbah kepada Siska.

 

 

Susuk telah masuk juga ke dalam pipi Siska.

 

 

"Nah sudah, gak sakitkan?" Tanya Mbah sesudahnya.

 

 

Mereka berdua membuka mata dan berkata,

 

 

"Iya Mbah, gak sakit, cuma berasa ada yang jalan masuk ke dalam." Fani yang menjawab.

 

 

Siska mengangguk dan menatap Fani merasakan hal yang sama.

 

 

Mereka duduk kembali dan Mbah memberikan minuman, kemudian Mbah membicarakan mengenai pantangan yang harus dihindari dan perihal lainnya yang bersifat rahasia.

 

 

Mbah juga mengatakan setelah beberapa hari ke depan paling lama, wajah kalian akan terlihat bersinar bercahaya dan glowing tanpa skincare.

 

 

Mereka tidak menanyakan gimana melepas susuknya tersebut dan Mbah juga tidak memberi tahu. Karena hati mereka sudah merasa senang dan yakin sesudah ini akan ada perubahan hingga mereka lupa menanyakan hal itu.

 

 

"Ini Mbah uang pembayarannya."

 

Fani dan Siska mengeluarkan uang. 

 

 

"Ingat ya, akan pantangannya tadi."

 

Cetus Mbah memperingatkan kembali.

 

 

"Ya sudah Mbah, kami pamit pulang."

 

 

Mereka berdua beranjak dari duduknya dan berjalan melangkah keluar. Kemudian Fani memesan lagi taksi.

 

 

Menunggu taksi menjauh dari rumah Mbah, 

 

 

"Fan, berasa banget tadi, ya, jarum itu masuk seperti berjalan gitu," aku mengatakan perlahan.

 

 

'iya, gue juga ngerasain gitu, tadi."

 

 

Tidak lama kemudian taksi menjemputnya dan mereka masuk dan kembali pulang ke kosnya Siska.

 

 

Sampai di kos Siska, Fani menumpang untuk beristirahat dulu.

 

Mereka berdua lelah dan tertidur.

 

 

****

 

Bangun tidur pada sore hari, bersiap-siap untuk berangkat kerja. 

 

 

Siska berjalan menuju cermin penasaran ingin melihat wajahnya.

 

 

"Hemmm ... Sedikit terlihat, sepertinya aku berbeda, ya." Ungkapnya dalam hati dan kembali ke tempat tidur.

 

 

"Fan! Cova deh lo ke cermin dan lihat wajah lo, " aku menyuruhnya.

 

 

"Kenapa Say," tanya Fani penasaran.

 

Lekas berdiri dan menghampiri cermin.

 

 

"Iya sih, cepat ya, sudah sedikit gue lihat ada perbedaan."

 

 

Siska mengusap-usap wajahnya perlahan.

 

 

"Udah, gue numpang mandi, ya," Fani meninggalkan cermin betapa senangnya dia.

 

 

Sika juga merasakan hal yang sama, senang dan merasa lebih percaya diri lagi.

 

 

Mereka bersiap-siap dan Fani tidak pulang lagi ke kosnya, setelah dari kos Siska langsung berangkat ke tempat kerja.

 

 

"Semoga rame ya, Fan. Weekand soalnya," celotehku berharap ramai malam ini.

 

 

"Iya Say, semoga ramai."

 

 

Sambil berjalan mereka mengobrol sembari mencari makan terlebih dahulu sebelum masuk kerja.

 

 

Rumah makan langganannya itu di dekat tempat kerjanya, kemudian masuk dan Siska memesan makan terlebih dahulu.

 

 

"Bu, saya makan dong," aku mulai memesan.

 

 

"Wah, Siska seger banget wajahnya hari ini, habis gajian ya, haaa." Canda Ibu warung langganannya.

 

 

"Ah Ibu, bisa saja, masa sih wajah saya segar hari ini, emangnya kemarin-kemarin gimana, Bu, kucel ya?" Aku penasaran.

 

 

"Ya kucel sih, ga. Hanya beda aja, Ibu melihatnya hari ini," Ibu itu mengulanginya.

 

 

Bersambung.

 

 

****

 

Simak terus dan berlangganan, ya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status