Share

SUSUK JARUM EMAS
SUSUK JARUM EMAS
Penulis: Erwin Fathar

DENGKI DAN IRI

"Dih, perasaan cantikan gue, warna kulit juga putihan gue, kenapa dia selalu diperebutkan Lelaki, ya."

Siska iri melihat temannya dari kejauhan yang selalu di dekati Lelaki dan mengobrol dengan dekatnya.

"Fani ...! Sini deh."

Temannya Fani menghampiri.

"Eh, lo lihat deh si sok cantik itu, kenapa dia selalu di dekati para Lelaki, ya, coba lo lihat gue, cantikan mana gue sama dia! Jawab jujur," tanyaku pada Fani.

"Secara fisik cantikan elo, tapi kalau lihat auranya kenapa dia lebih enak di lihat, ya. Kalau warna kulit jelas elo Say, putih bersih, nah yang gue bingung ya, itu tadi. Si sok cantik itu ronanya kayaknya wah gimana, gitu."

Fani juga menjadi berpikir dan terheran-heran, memang sempat mengucap juga hal yang sama seperti Siska. Kenapa bisa lengket Lelaki kalau sudah mengobrol dengannya.

"Nah itu dia Fan, sudah dari bulan lalu gue perhatiin tuh burik, lihat aja tuh, Lelakinya pada keren dan oke semua, bisa-bisanya deket sama dia, gimana dong Fan?" Cetusku 

"Hemm ... Sini deh gue bisikin, loe mau gak pasang susuk?" Lirih Fani di telingaku.

"Hah, susuk apaan?" Aku juga menjawab terheran dengan suara kekerasaan.

"Eh, pelan-pelan suara lo! Didenger orang nanti," colek Fani.

"Ups, sory. Iya gimana susuknya maksudnya, gue gak ngerti Fan," aku mendekatkan telinganya.

Fani menarikku ke ruangan yang sepi dan jauh dari orang yang ada di sekitarku malam itu. Aku mengikuti jalannya Fani menuju samping luar gedung.

"Di sini deh, aman. Jadi gini, susuk itu pemikat, orang yang melihat lo akan terpesona, seperti lagu itu loh,

Terpesona .... Aku ... Terpesona, heee. Lo mau gak, kalau mau gue anterin ke tempat orang yang biasa bisa memasang susuk pemikat."

Fani menjelaskan sambil bernyanyi.

"Hemm ...." Tanganku di dagu berpikir sejenak.

"Mau deh, Fan. Kapan mau ke tempatnya?" Sepertinya aku tertarik dan sangat ingin menyaingi si burik itu.

"Oke kalau gitu, besok kita berangkat, pagi jam 9 gue telpon lo ya, Say," ajak Fani.

"Oceee siap."

Semangatku menjawab ajakan Fani. Masalah biaya tenang saja, berapapun akan aku bayar asal bisa bersaing dan membuat si burik terpesona. Haaaa. Gumamku berjalan mengikuti Fani lagi, masuk ke dalam.

"Sepi amat nih kita Fan, malam ini," ungkapku yang duduk menunggu Lelaki yang datang.

"Santai saja Say, nanti juga ada, kok."

Ucapan Fani membuatku merasa lebih santai, memang dia sahabat yang selalu mengisi hariku.

"Nah kan datang Say, dah sana sambut dia."

Cetus Fani menyuruhku menyambut Lelaki yang datang, aku berdiri tersenyum kepadanya. 

"Boleh juga nih, cowok." 

Aku mengatakan dalam hati berharap dia memilihku. Lelaki itu tersenyum dan melangkah masuk menuju resepsionis.

"Loh Fan, dia nunggu siapa?" Tanyaku pada Fani karena sepertinya Lelaki itu mencari seseorang.

"Iya, ya. Jangan-jangan nunggu si ono, Say."

"Coba gue samperin, ya."

Aku mendekatinya, merapikan rambutku dan berjalan agar dilihatnya. 

"Malam, mau buka room?" Sapaku di hadapannya.

"Iya, tapi nanti, aku nunggu yang biasa," jutek jawabnya.

"Oh ya sudah, kirain mau denganku."

Aku berlalu pergi membalikkan badanku dengan rasa dongkol yang teramat dalam, rasanya ingin pulang saja dan malas kerja.

"Nunggu siapa dia Say," Fani bertanya menunjuk Lelaki itu.

"Dia bilang sih nunggu dengan yang biasa menemaninya, tapi ... Siapa?" Otakku ingin menebak si Burik.

"Oalaa, jangan-jangan si Ono lagi Say atau Icha mungkin juga Meli, tau ah. Coba kita lihat saja," Fani bingung juga karena masih ada 3 temannya lagi termasuk wanita yang jadi pembicaraan mereka.

"Iya Fan, kita lihat saja siapa nanti."

Aku mengiakannya, tidak lama kemudian.

"Alo Kak, sudah lama nunggu, ya."

Ternyata benar saja Lelaki itu menunggu wanita yang membuat Siska iri dan dengki.

"Cuih ... Tuh Fan, ah! Dia lagi."

Kekesalanku bertambah, dia lagi dan lagi.

"Slow aja Say, nanti kita lihat sampai di mana dia, tenang saja! Kita balas nanti," Fani pun ikut kesal.

"Fan kita cari makan saja dulu yuk," aku mengajaknya.

"Yee, nanti ada yang datang gimana?" Ujarnya.

"Ga ada kali, Fan."

Kemudian aku berdiri dan hendak menghilangkan kejenuhan sambil bernyanyi. 

"Itu Say, ada yang datangkan," Fani mencolek 

"Weks, bener juga lo Fan, dah lo samperin deh Fan, dia berdua tuh."

Celetukku. Fani mendatangi kedua Lelaki itu dan setelah bersama dengan Lelaki itu, Fani memanggilku.

Aku melihat lambaian tanggannya menyuruhku menghampiri, dengan cepat menuruti ke arah Fani.

Srek ... Srek ... Srek ....

Dengan jalan sedikit genit menuju Fani.

"Kenapa? Fan."

Sembari kulontarkan senyuman.

"Mau buka room Say, yuk," cetus Fani menarikku ke ruangan bernyanyi kamar 5.

"Oke Deh, yuk."

Kami bersama-sama berjalan masuk menuju kamar nomor 5. Aku dan Fani saling menatap dan tersenyum karena ke gabutan kita terobati. Akhirnya bisa dapat pemasukan juga.

Jam kerja telah selesai, aku dan Fani pulang ke kosan dan kita berpisah pada sebuah simpang jalan.

"Sampai besok ya, Say, gue ke kosan lo besok." Ucap Fani.

"Oke Cantik, gue tunggu, ya."

Lanjutku memanggil tukang ojek pengkolan yang biasa menunggu. Tanganku memanggil tukang ojek itu.

Sampailah pada kosan yang menjadi tempat tidurku, aku masih bisa tersenyum hari ini, tidak zoonk pemasukan.

Masuk membuka pagar dan mengambil kunci kamar dari dalam tasku, lalu masuk dan menyegerakan membersihkan diri dulu. Ahh, cepet tidur deh, besokkan mau jalan.

Sudah bersih aku mengganti pakaian dan merebahkan diri, berpelukan dengan guling kesayanganku.

****

Tok ... Tok ... Tok ....

"Siska ...."

Fani mengetuk kamar kos Siska dan memanggilnya.

"Iyaa ... Sebentar."

Teriak Siska dari dalam kamar yang baru bangun tidur, beranjak bangun dan langkahnya sembari membersihkan wajahnya dengan tangannya, lalu membuka pintu.

"Masuk Fan, aku baru bangun, heee. Sebentar ya, aku mandi dulu," aku langsung tinggalkan Fani yang masih di luar pintu.

"Ya udah sana, mandi dulu," ujarnya dan melangkah masuk ke dalam kamar kosnya Siska.

Fani mengambil ponselnya dan mengirim pesan ulang kepada seseorang yang ahli memasang susuk itu.

"Mbah, sekitar satu jam lagi kami berangkat ke sana, terima kasih Mbah,"

Pesan terkirim.

Cling ....

Masuk balasan dari Mbah.

"Di tunggu."

"Sory lama Fan, bentar gue ganti baju dulu." 

Gesit langkah Siska berjalan menuju lemarinya mengambil.baju.

"Tenang saja, Say, nanti kita sarapan dulu, perjalanan lumayan jauh, yo," celetuknya.

"Iya sarapan dulu, gue juga laper, ih."

Siska dengan cepat berpakaian dan lanjut lagi berdandan, kini sudah rapih dan sedang  duduk di depan cermin merapikan rambutnya.

"Yuk, kita berangkat."

Siska mengambil tas kecilnya dan merapikan selimutnya serta menarik sprei kasurnya supaya rapih. Mematikan lampu kamar kos dan bersiap untuk berangkat.

Mereka berjalan ke luar tempat kos mencari tempat makan terlebih dahulu.

"Kita makan di sana fan, ada tuh rumah makan."

Siska menunjuk tempat makan dekat kosnya.

"Ya udah, di mana saja deh, yang penting bisa isi perut dulu, hee," jawab Fani sambil nyengir dan mengusap perutnya.

Bersambung.

Akan lebih seru nanti, jangan lupa berlangganan dan ikuti. 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status