Share

Bab 74 Kenyataan Pahit

Penulis: Tri Afifah
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-05 11:59:58

Adrian menatapku tajam setelah kalimat itu meluncur dari bibirnya. Ada luka yang berubah menjadi amarah, dan amarah yang mencari pembenaran.

“Kau mencoba kembali menipuku?” katanya, suaranya sedikit naik tidak seperti awal kami bicara. “Kau pintar sekali, Selena. Menarik ulur perasaan seorang pria. Kau tahu kapan harus mendekat, tahu kapan harus menjauh.” Ia tertawa pendek,“Kau benar-benar tahu cara memanipulasi keadaan.”

Aku hanya diam, tidak membela diri.

“Aku tidak memanipulasi apa pun,” jawabku tenang. “Aku jujur sejak awal.”

“Tidak,” potongnya cepat. “Kejujuranmu itu yang paling kejam.”

Aku menghela napas pelan. “Kejujuran tidak pernah kejam, Adrian. Yang kejam adalah harapan yang kau bangun sendiri.”

Matanya berkilat, rahangnya mengeras. Ia menoleh sejenak ke arah pintu, lalu kembali menatapku, seolah ingin memastikan satu hal terakhir.

“Kau akan selalu seperti ini,” ucapnya lirih, tapi penuh penekanan. “Membuat orang percaya mereka berarti lalu pergi tanpa menoleh.”

Aku mengge
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 76 Perisai Terakhir

    Aku kembali ke meja itu dengan langkah yang sudah kuatur sedemikian rupa agar terlihat biasa. Kursi di hadapan Dharma kutarik perlahan, lalu aku duduk. Tanganku meraih cangkir teh yang sudah hampir dingin, bukan untuk diminum, tapi sekadar memberi alasan pada jemariku agar tidak gemetar.Belum sempat aku mengangkat wajah, suara Dharma lebih dulu memecah jeda.“Apa kau kemarin menemui Adrian setelah kejadian di rumah?” tanyanya datar. “Karena aku sudah menelpon orang tuamu. Kau tidak ada di rumah.”Aku membeku sesaat.Bukan karena pertanyaannya, tapi karena caranya mengatakan Dharma yang terlihat begitu tenang, tanpa sedikit pun menaruh perhatian pada sembab di mataku. Seolah aku kembali dari toilet dengan wajah yang sama seperti saat aku pergi.Aku mengangkat pandanganku perlahan,Menatapnya. Ada sesuatu yang dingin mengendap di dadaku.“Ya,” jawabku akhirnya. “Aku menemuinya.”Rahang Dharma mengeras tipis. Ia menyandarkan punggung ke kursi, lengannya terlipat di dada. “Untuk apa?”Aku

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 75 Aku Sendiri

    Kami tiba di sebuah kafe kecil tak jauh dari klinik. Tempat itu tidak ramai,hanya beberapa pengunjung yang duduk tersebar, tenggelam dalam urusan masing-masing. Dharma langsung melangkah lebih dulu, matanya menyapu ruangan sebelum memilih meja di sudut paling belakang, setengah tersembunyi oleh tanaman hias tinggi. Jauh dari lalu-lalang dan tentunya akan jauh dari telinga orang lain.Aku mengikutinya tanpa bertanya.Kami duduk berhadapan,Jarak meja terasa seperti garis batas yang tak kasatmata. Pelayan datang, mencatat pesanan dengan cepat. Kopi hitam untuknya. Teh hangat untukku dan beberapa makanan ringan yang Dharma pesan.Setelah itu, keheningan kembali mengambil alih.Aku menatap tanganku sendiri, ada getar halus di ujung jemari yang tak bisa sepenuhnya kusembunyikan.“Aku tidak berniat membawamu ke sana,” ucap Dharma akhirnya. “Tapi aku juga tidak ingin menunda ini lagi.”Aku mengangguk pelan. “Aku mengerti.”Itu jawaban paling jujur yang bisa kuberikan saat ini.Pesanan datang.

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 74 Kenyataan Pahit

    Adrian menatapku tajam setelah kalimat itu meluncur dari bibirnya. Ada luka yang berubah menjadi amarah, dan amarah yang mencari pembenaran.“Kau mencoba kembali menipuku?” katanya, suaranya sedikit naik tidak seperti awal kami bicara. “Kau pintar sekali, Selena. Menarik ulur perasaan seorang pria. Kau tahu kapan harus mendekat, tahu kapan harus menjauh.” Ia tertawa pendek,“Kau benar-benar tahu cara memanipulasi keadaan.”Aku hanya diam, tidak membela diri.“Aku tidak memanipulasi apa pun,” jawabku tenang. “Aku jujur sejak awal.”“Tidak,” potongnya cepat. “Kejujuranmu itu yang paling kejam.”Aku menghela napas pelan. “Kejujuran tidak pernah kejam, Adrian. Yang kejam adalah harapan yang kau bangun sendiri.”Matanya berkilat, rahangnya mengeras. Ia menoleh sejenak ke arah pintu, lalu kembali menatapku, seolah ingin memastikan satu hal terakhir.“Kau akan selalu seperti ini,” ucapnya lirih, tapi penuh penekanan. “Membuat orang percaya mereka berarti lalu pergi tanpa menoleh.”Aku mengge

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 73 Kau Pintar Memanipulasi Keadaan

    Ponselku bergetar cukup keras untuk memotong sisa keheningan di antara kami. Aku melirik layar tanpa segera mengambilnya. Nama yang tertera membuat dadaku menegang sedikit.Dokter Erela!Aku mengangkat ponsel itu, jariku sempat ragu sesaat sebelum akhirnya menjawab.“Ya, Dok?”“Nyonya Castellanos?” suara di seberang terdengar profesional seperti biasa, namun ada jeda tipis sebelum ia melanjutkan. “Aku hanya ingin memastikan. Besok itu jadwal Tuan Dharma untuk kontrol lanjutan. Jam sembilan pagi.”Aku menghela napas pelan. “Iya, Dok. Saya ingat.”“Aku sudah coba menghubungi nomor Dharma langsung,” lanjutnya, nada suaranya sedikit menurun, tanpa embel-embel kata ‘Tuan’.“tapi nomornya tidak aktif.Jadi aku pikir lebih aman menghubungimu.”Tanpa sadar, aku mengencangkan pegangan pada ponsel.“Apa ada perubahan jadwal dari pihak kalian?” tanya Dokter Erela lagi, kini lebih berhati-hati.“Tidak,” jawabku cepat. “Tidak ada perubahan.”“Baik,” katanya. “Kalau begitu, mohon pastikan dia datang.

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 72 Kenapa Tidak Bercerai?

    Aku menegang dalam pelukannya,Tanganku mendorong dadanya. Namun Adrian justru menahan, lengannya mengunci tubuhku seolah aku sesuatu yang tak boleh lolos. Bukan pelukan yang menenangkan lebih seperti upaya menahan kendali.“Adrian,Lepaskan aku.”Ia tidak langsung menuruti. Napasnya berat di dekat telingaku.“Aku tidak akan menyerah,” katanya. “Aku begitu mencintaimu, Selena.”Kata-kata itu justru semakin membuatku tak nyaman.Karena aku tahu siapa dia sebenarnya.Aku berhenti melawan secara fisik. Tubuhku mengendur, bukan karena menyerah, tapi karena aku tidak ingin ia membaca gejolak apa pun dariku. setelah Adrian mengatakan perasaannya tiba-tiba saja dii kepalaku, wajah Darlo muncul jelas. tatapan dinginnya, suaranya yang selalu terdengar seolah sedang mengatur bidak catur.Orang suruhan Darlo tidak pernah datang tanpa tujuan.“Apa pun yang kau rasakan,” kataku pelan, nyaris datar, “lepaskan aku dulu.”Mungkin nada suaraku yang berubah, atau ketiadaan emosi yang ia harapkan, membuat

  • Saat Hasrat Menjadi Dosa   Bab 71 Ungkapan Perasaan

    Kepalaku berdenyut hebat, seolah ada palu yang terus menghantam dari dalam. Aku menekan pelipis dengan kedua tangan, mencoba bernapas, tapi yang datang justru potongan-potongan suara itu kembali.Dadaku terasa sesak, Napasku terputus-putus. Aku bangkit dari tepi ranjang, langkahku goyah. Kenangan tentang ayahku caranya saat tersenyum, caranya memelukkuSemuanya terasa berbanding terbalik dengan kenyataan yang baru saja dibongkar. Rasanya seperti ditarik ke dua arah sampai hampir robek.“Aku tidak sanggup,” bisikku, lebih pada diriku sendiri daripada siapa pun.Tanpa benar-benar berpikir, aku melangkah kembali ke arah Adrian. Tanganku meraih punggungnya, memeluknya erat seolah jika kulepas, aku akan runtuh. Kepalaku bersandar di dadanya, detak jantungnya terdengar cepat. Satu-satunya hal yang terasa hidup.“Selena,” katanya pelan, mencoba menarikku sedikit menjauh. “kau…”Aku mendongak dan kembali mencium bibirnya. Kali ini lebih putus asa daripada sebelumnya. Ciuman itu bukan perminta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status