LOGINZola pikir dia telah menemukan kebahagiaan kedua dalam pelukan Haidar, duda menawan, dan putrinya, Kirana. Namun, kehadiran Raisa, mantan istri Haidar yang licik, mengubah segalanya. Dengan senyum manis dan rencana jahat, Raisa secara perlahan meracuni keluarga Zola, memanfaatkan Kirana sebagai pion dan menarik Haidar kembali ke sisinya. Terperangkap dalam jaringan kebohongan dan pengabaian, Zola harus menghadapi pengkhianatan yang tak terbayangkan. Bisakah dia menyelamatkan cintanya yang hancur, ataukah satu-satunya jalan keluar adalah meninggalkan segalanya demi dirinya sendiri? Dan, akankah Haidar melepaskan Zola demi bisa rujuk dengan Raisa atau bahkan pria itu akan tetap mempertahankan Zola? Yuk simak lika-liku kehidupan rumah tangga mereka dalam novel yang berjudul "Mas, Ayo Bercerai!" berikut ini!
View More“Kamu mau ke mana, Mas? Ini makanannya sudah siap loh,” ujar Zola bingung ketika melihat suaminya melangkah pergi dari area ruang makan.
Haidar hanya menoleh sekilas, seperti terganggu oleh keberadaan Zola. Tangannya tetap mencengkram ponsel yang masih berdering. “Urusan kerjaan. Kamu gak paham.” “Tapi, Mas—” Belum selesai Zola bicara, Haidar sudah mendorong pintu dan melangkah keluar tanpa menunggu jawaban. Suaranya hilang ditelan dinginnya malam. Zola memandang jam dinding. 20.30. Ia menarik napas panjang, menahan rasa yang tidak pernah benar-benar terucap. Dulu, Haidar pulang dengan senyum dan tangan hangat yang menariknya ke pelukan. Sekarang, ia pulang seperti tamu yang tidak peduli tuan rumahnya ada atau tidak. Zola menunduk, lalu menoleh pada gadis kecil yang duduk di bangku makan dengan kaki menggantung. Ia tersenyum kecil. Gadis itu, Kirana, adalah anak tiri Zola. Usianya hampir menginjak 8 tahun. Rambutnya hitam, wajah polos, mata fokus pada tablet di pangkuannya. Sejak tadi tidak bersuara, seolah keberadaan orang tuanya tidak memengaruhi dunianya yang kecil dan sunyi. “Kirana, mau makan duluan, sayang?” tanya Zola lembut. Kirana mengangguk dan menoleh sekilas, “Mau, Tante.” Zola tersenyum kecil. Selama ini, gadis itu masih terus memanggilnya tante. Namun, Zola tak keberatan dengan hal itu. Kirana masih kecil, mungkin memang belum begitu paham dengan apa yang terjadi. “Oke, sebentar, ya.” Zola langsung mengambil porsi kecil untuk Kirana. Beberapa menit kemudian, pintu depan terbuka. Haidar masuk kembali. Tanpa penjelasan. Tanpa tatapan. Tanpa memperdulikan istrinya yang menunggu. “Sudah, Mas?” tanya Zola, suaranya dibuat selembut mungkin. Haidar tidak menjawab. Matanya tetap terpaku pada layar ponsel di tangannya, seolah dunia di layar itu lebih penting dari apa pun yang ada di rumah ini. Dengan status Haidar sebagai seorang CEO, Zola selalu memaklumi kesibukan suaminya. Namun, jujur saja hatinya juga merasa hampa karena sikap Haidar yang tak lagi hangat. Zola mengangguk pelan, berusaha tidak memperlihatkan rasa perihnya. Ia berdiri dan mulai menyendok makanan ke piring Haidar. “Kita lanjutin makan ya, Mas.” Belum sempat mereka menyuap makanan, sebuah suara melengking dari arah meja. Tuut… Tuut… Suara video call dari tablet Kirana. Kirana mengangkat wajah kecilnya, bingung. Namun, begitu melihat nama penelpon di tabletnya, gadis itu langsung tersenyum lebar. “Ibu!” seru Kirana begitu telepon tersambung. Haidar langsung mendongak. Menatap putrinya dengan rasa penasaran. Sementara itu, Zola mematung. Raisa, ibu kandung Kirana, mantan istri Haidar, adalah sosok yang belakangan membuatnya merasa semakin kecil di keluarga ini. Meskipun wanita itu telah bercerai dengan Haidar sejak 4 tahun lalu, tetapi bayangannya tak pernah benar-benar hilang dari keluarga ini. “Kirana, sayang!” suara Raisa terdengar lega sekaligus cemas. “Kamu di mana? Ibu kira kamu ada di sini sama nenek!” Kirana berkedip, lalu menjawab dengan polos, “Aku di rumah sama Ayah, sama Tante Zola.” Raisa mendesah, wajahnya memelas. “Ibu kangen, Kirana. Ibu kira kamu di sini makanya ibu ke sini .…” “Kirana juga kangen Ibu!” seru Kirana dengan bibir yang tampak sedikit mengerucut. “Ibu tunggu di rumah nenek ya!” Setelah itu, Kirana memutuskan panggilan itu. Pandangannya langsung beralih ke arah Haidar, matanya penuh harapan. “Ayah, ayo ke rumah nenek. Kirana mau bertemu Ibu!” Belum sempat Haidar bersuara, Zola lebih dulu berkata, “Tapi ini sudah malam, Kirana. Udara malam gak baik buat kamu. Apa gak mau besok aja? Kan besok kamu libur sekolah.” Zola tampak khawatir. Kirana memang tipikal anak yang mudah sakit. Namun, Kirana justru semakin cemberut. “Nggak mau! Kirana mau ketemu Ibu sekarang!” Kirana beralih menatap Haidar lagi. “Ayah, ayo pergi sekarang sebelum Ibu pulang.” Haidar mengangguk pelan, lalu bangkit dan mengusap kepala putrinya dengan lembut. “Iya, Kirana ganti baju dulu ya, ambil jaketnya.” Zola mengernyitkan dahinya. “Mas, tapi ini sudah malam. Apa sebaiknya nggak besok aja supaya bisa lebih puas juga ketemunya kalau dari pagi.” “Besok Raisa ada acara kantor di luar kota, jadi gak akan ada waktu untuk Kirana,” jawab Haidar terus terang. Namun, jawaban itu justru membuat Zola tak paham. Kenapa suaminya bisa tahu apa yang akan dilakukan mantan istrinya? Terlebih pekerjaan mereka tidak berkaitan sama sekali. Mungkin, jika acara itu ada hubungannya dengan Kirana, Zola akan paham kenapa Haidar bisa tahu. Namun, ini terlalu jauh. “Kok kamu bisa tahu besok Raisa ada acara?” tanya Zola tak paham. “Raisa kasih tahu aku kemarin,” jawab Haidar santai, seolah tak ada yang salah. Zola menatap Haidar lebih lama kali ini. Rasanya ada sesuatu yang mengusik pikirannya. “Raisa kasih tahu kamu… kemarin?” ulang Zola lirih. Haidar mengangguk santai sambil memasukkan ponselnya ke saku celana. “Iya. Dia telepon sebentar.” Telepon dan sebentar. Kata-kata yang selalu dipakai Haidar ketika ingin mengakhiri percakapan. Zola memperhatikan gerak tubuh suaminya, bagaimana pria itu tampak begitu nyaman mengucapkannya, seakan itu adalah hal paling wajar di dunia. “Mas, kamu masih komunikasi sama Raisa… sesering itu?” Haidar mendengus. “Ya kan dia ibu kandung Kirana. Apa salahnya?” “Aku gak bilang salah.” Zola menahan napas, menahan getaran suaranya. “Tapi… kenapa kamu gak kasih tahu aku?” Haidar menatap Zola seakan wanita itu sedang membesarkan hal yang bahkan tak pantas dibahas. “Kamu ini kenapa sih? Kami cuma bahas Kirana.” “Tapi kenapa kamu gak bilang? Kenapa aku harus tahu dari kebetulan?” suara Zola mulai pecah. “Aku bukan orang luar, Mas…” Haidar mendecak pelan. “Kamu selalu bawa-bawa perasaan. Padahal ini cuma obrolan ringan soal anak.” “Kenapa kamu bilang ‘cuma’?” Zola menggeleng, air mata menggenang meski ia mencoba menahannya. “Hubungan sama mantan istri bukan hal sepele. Harusnya kamu kasih tahu aku juga karena sekarang Kirana juga anak aku, Mas.” Haidar menatap istrinya dari ujung rambut sampai ujung kaki, sinis dan lelah. “Kamu ini terlalu membesar-besarkan masalah kecil.” Zola meremas ujung bajunya sendiri. “Aku cuma tanya… kenapa kamu gak jujur?” “Sudahlah, kamu ini memang gak kayak Raisa yang gak pernah permasalahkan hal kecil begini.” Usai mengatakan itu, Haidar langsung meraih tangan putrinya dan mengajaknya bersiap untuk pergi menemui Raisa."Aduh, sakit sekali." Zola meringis. Ia duduk berdiri duduk berdiri dengan gelisah. Mulutnya tidak henti-hentinya mengoceh tidak jelas. "Kenapa denganku, aduuh!" pada akhirnya Zola tidak tahan dan suaranya semakin keras. Dokter Gamal menoleh dan mendapati Zola berjongkok dengan tangan memeluk perut. "Lana!" ia segera berlari dan mendekati Zola. "Lana, kamu kenapa?" tanyanya dengan raut wajah khawatir. Zola mengangkat tangan. Dengan bibir bergetar dia berkata pelan, "Jangan mendekat, jangan pedulikan aku." Akan tetapi, dokter Gamal tidak mengindahkan. Ia tetap melangkah mendekati Zola. Tangannya terulur untuk menyentuh lengan Zola. "Jangan sentuh aku! Aku tidak sudi disentuh olehmu!" sentak Zola di tengah rasa sakit yang mendominasi perutnya. "Aduh, pinggangku juga–" "Lana, ada apa dengan perutmu? Apakah sudah kontraksi?" tanya dokter Gamal panik. Ia sama sekali tidak memikirkan kenapa Zola tiba-tiba tidak ingin disentuh olehnya. Yang harus dirinya hadapi sekarang adal
Dewi tak kalah terkejutnya. "Jadi kamu belum tahu ya Zola?" Zola. tersenyum pahit kemudian menggeleng. "Sorry, aku tidak bermaksud menyampaikan kabar yang bikin kamu sedih Tapi kabarnya Haidar menikah dengan Raisa karena terpaksa. Mungkin dia tidak ada pilihan lain karena Kirana butuh sosok ibu." "Kamu tidak salah Kok Wi, hanya saja aku berharap Raisa benar-benar tulus masuk ke keluarga Mas Haidar. Semoga Kirana bahagia bisa berkumpul dengan ibunya. Akhirnya ia merasakan keluarganya utuh kembali." Zola. menghela napas. "Ya semoga Mas Haidar berjodoh sama Raisa." Dewi mengerutkan kening. "Kamu enggak ada sedih-sedihnya gitu Zola? Kalau aku tuh jadi kamu. Ku doain keluarga mereka tidak bahagian. Enak saja, setelah berhasil menghancurkanmu, eh mereka malah hidup senang." Zola kembali tersenyum. "Untuk apa berdoa yang buruk-buruk Wi? Takutnya doa buruk itu berbalik kepada diri kita sendiri lagi pula karma bisa mencari jalannya sendiri." Dewi manggut-manggut. "Kamu benar Zola, peri
Sampai di rental, setelah selesai mengembalikan mobil, Zola menyadari ATM nya tidak ada di tas. Ia panik, tidak tahu akan mendapatkan uang dari mana untuk membayar ongkos pulang sementara uang tunai yang ada di dompet sudah diambil semua oleh ayahnya. "Aku harus menghubungi siapa ya?" tanya Zola menimbang-nimbang dalam hati. Awalnya ia ingin menghubungi dokter Gamal, tetapi ia mengurungkan diri karena pasti akan sangat merepotkan sementara dokter Gamal lagi ada kesibukan di kota lainnya. Selain itu, dia juga tidak mau dokter Gamal tahu dia pergi tanpa pamit. "Masa iya aku harus menghubungi Mas Haidar yang sama-sama ada di kota ini? Ah tidak, itu pasti memalukan. Nanti dipikir pula aku berubah pikiran ingin kembali padanya. Lagian aku malas ketemu dia langsung. "Kenapa Mbak? Ada yang masih ketinggalan di mobil?" tanya petugas rental menyadari Zola tak kunjung pergi setelah menyerahkan kunci. "Oh Tidak Mas, hanya menunggu teman saja, tapi kok lama banget," jawab Zola berbohong
Zola menghela napas lega. Ia hendak menghidupkan mesin mobil. Namun, suara seseorang di sebelah menahan gerakannya. Entah kapan orang itu masuk dan duduk dalam mobil, mungkin saat Zola fokus menatap Kirana di depan sana. "Zola, akhirnya kita ketemu juga." Suara itu, suara dari masa lalu yang sempat mengguncang dunianya. Zola syok. Tubuhnya Zola langsung merespon. Tegang, dingin, dan kaku. Peluh dingin membanjiri seluruh tubuhnya. "Ayah?" Mata Zola membelalak, tangannya membekap mulut. Pria di samping Zola tertawa kecil. "Huh, masih ingat ternyata kamu sama ayahmu." Pria itu berdecih. "Kenapa enggak pernah menjenguk Ayah selama di penjara, hah?" Zola menggeleng lemah. "Aku .... aku ....'" suaranya tercekat di tenggorokan. Oksigen di sekitar terasa menipis, dadanya sesak. "Aku kenapa, hah? Lupa sama yang sudah susah payah membesarkanku karena kamu sudah menikah dengan orang kaya, begitu?" Zola menggeleng. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu. "Pria tadi ... Haidar Danish Azh
"Apa maksudmu Raisa? Kamu menekanku?" Tatapan Haidar tajam menusuk. Raisa mengangkat kedua bahu. "Anggap saja begitu," jawabnya santai. Haidar membuang napas, wajahnya tampak kesal. "Dari dulu sampai sekarang kamu enggak pernah berubah ya? Kamu harus mendapatkan apa yang kamu mau meskipun dengan
Zola membuka matanya, disambut oleh cahaya pagi yang lembut menyelinap dari jendela kecil kamar kontrakan. Ia tidur di atas kasur tipis yang bantalnya berbau kapur barus, tetapi ia tidur lebih nyenyak daripada malam-malam terakhir di rumah Haidar. Tidak ada bentakan, tidak ada kecemasan yang mencek
"Lana! Nak Lana!" Ibu Anwar menepuk-nepuk pipi Zola. Zola menggeleng cepat, keringat dingin di pelipis semakin bercucuran. Tubuhnya bergerak gelisah di atas brankar. Dadanya naik turun tidak beraturan, seolah dikejar oleh makhluk tak kasat mata. "Tidak ... tidak." Zola terus menggeleng dengan mat
Nyonya Sinta mengerutkan keningnya melihat gestur tubuh Raisa yang tidak biasa. "Punya siapa, Raisa? Kamu tahu pemiliknya? Punya Zola, bukan?" Nyonya Sinta mencoba menebak. "Ah, ah, ini ... bukan punya Zola, Ma," jawab Raisa gugup. Nyonya Sinta mengerutkan kening. "Terus punya siapa? Punya Bik
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews