LOGINSelena Aurelia Montserrat menjalani pernikahan nyaris dua tahun dengan Dharma Alexander Castellanos, pria terhormat dan mapan. Namun di balik kehormatan itu, Dharma tak mampu menyentuh Selena sebagaimana seorang suami seharusnya. Demi menjaga nama baik keluarga, Selena bersabar menutupi kenyataan pahit ini. Namun,Segalanya berubah ketika Dharma mempercayakan masalahnya pada dokter pribadinya. Di sanalah Selena menemukan dunia baru. kenikmatan, gairah, sekaligus dosa. Terjebak antara cinta, kehormatan, dan nafsu, Selena harus memilih. tetap setia pada Suaminya atau menyerah pada api terlarang yang membangkitkan hidupnya.
View MoreBab 1 – Malam yang Selalu Gagal
Sudah dua tahun aku tidur di ranjang yang sama dengan suamiku, tapi setiap malam rasanya seperti tidur sendiri. Kehangatan suami-istri yang seharusnya hadir di antara kami, justru menguap seperti asap. Dan malam ini, aku mulai lelah berpura-pura semuanya baik-baik saja. Mas Dharma, suamiku, baru saja keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan kaos abu-abu dan celana tidur. Aku duduk di tepi ranjang. Kami tampak seperti dua orang asing yang terjebak di kamar yang sama, tapi tak tahu cara saling mendekat. “Kau belum tidur?” tanyanya datar, sambil menyalakan lampu tidur di sisi tempatnya. Aku menggeleng. “Aku hanya ingin bicara sebentar, sebelum kita tidur, mas.” Mas Dharma berhenti sejenak. Aku tahu, kalimat itu saja sudah cukup membuatnya canggung. Ia duduk di sisi ranjang dengan punggungnya tegak. “Kita... nggak bisa terus begini,” kataku dengan suara nyaris bergetar. Ia menatapku dengan tatapan tajam. “Maksudmu?” Aku menarik napas panjang. “Sudah dua tahun, Mas. Dua tahun kamu selalu bilang lelah, sibuk, stres... sampai kita tidak pernah—” Kata-kataku hanya mampu sampai tenggorokan. Sunyi. Aku sampai bisa mendengar detak jantungku yang tidak karuan. Mas Dharma mengalihkan pandangan. “Jangan mulai lagi!” katanya terdengar ketus. Aku mendekat, menatap wajahnya dari jarak dekat. “Atau mungkin, karena aku kurang menggoda, mas?” Mas Dharma mendengus. “Kamu nggak ngerti. Aku cuma butuh waktu.” “Waktu?” suaraku meninggi tanpa sadar. “Dua tahun bukan waktu yang sebentar!” Pria itu berdiri, berbalik membelakangiku. Bahunya menegang, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. “Aku nggak mau bahas ini lagi,” katanya pelan, tapi cukup untuk memutuskan sisa kesabaranku. Aku berdiri, menghampirinya. “Kamu pikir aku senang tiap malam pura-pura tidur lebih dulu? Pura-pura nggak kecewa? Pura-pura nggak dengar kamu nyalahin dirimu sendiri di kamar mandi?” Mas Dharma terdiam. Aku bisa melihat rahangnya mengeras. “Kalau mas mau,” lanjutku, “kita bisa konsultasi masalah ini ke dokter—” “Cukup!” bentaknya tiba-tiba, membuatku terlonjak. “Aku nggak butuh apapun! Aku hanya... aku hanya belum siap!” Belum siap. Dua kata yang sudah terlalu sering kudengar, sampai rasanya hampa. Aku menatap punggungnya, dadaku terasa begitu sesak. “Belum siap untuk apa, Mas? Untuk menyentuh istrimu sendiri?” Mas Dharma tak menjawab. Aku tahu, setiap kata yang keluar dariku membuatnya semakin terpojok. Tapi diamnya justru lebih menyakitkan daripada marah. “Kenapa kamu nggak pernah mau cerita?” tanyaku lirih. “Aku istrimu, mas. Sampai kapan masalah ini selesai?” “Kamu nggak akan ngerti!” ucapnya lagi. Hatiku mencelos. Aku bangkit lagi, perlahan kembali mendekatinya. “Aku cuma ingin tahu... apa yang sebenarnya kamu sembunyikan?” Ia menarik napas panjang, lalu menghela dengan keras. Tapi ia tak mengatakan apa pun. Ia hanya mengambil rokok dari nakas dan menyalakannya dengan gusar. Asap tipis mulai memenuhi udara kamar. Aku berdiri di belakangnya. “Jadi ini caramu menghadapi masalah ini?” tanyaku. Aku menelan ludah, menahan tangis yang mendesak di tenggorokan. Mas Dharma tetap saja diam. “Aku hanya ingin hubungan kita berjalan normal, mas.” Ia mematikan rokoknya dengan kasar. “Berhenti berbicara seolah kau mengerti!” Suaranya meninggi, tapi kemudian meredup. “Kau pikir hanya kau yang lelah? Aku juga!” Kali ini, aku yang terdiam. Aku menatapnya lama, mencoba memahami. Tapi bagaimana bisa aku memahami sesuatu yang bahkan tak pernah ia jelaskan? Aku duduk di sisi ranjang lagi, memeluk lututku sendiri. Air mata akhirnya jatuh. Aku tahu aku mencintainya. Tapi cinta saja ternyata tak cukup kalau jarak ini tak pernah berkurang. Dalam diam, mataku menangkap sesuatu di meja rias, sebuah amplop kecil dengan nama dokter tercetak di pojoknya. Dokter yang sama seperti yang kulihat dulu, tanpa sengaja, di dompetnya. dr. Adrian Prasetya, Sp.And. Mas Dharma menoleh sebentar, melihat tatapanku yang tertuju ke amplop itu. Seketika wajahnya menegang. Ia mengambil amplopnya cepat dan memasukkannya ke dalam laci. “Jangan lihat!” katanya dingin. Aku hanya diam. Tak ada gunanya berdebat lagi malam ini. Mas Dharma kembali duduk di sisi ranjang, tapi jaraknya jauh. Punggung kami saling membelakangi. Malam ini kembali seperti biasa. Untuk kesekian kalinya, aku kembali tertampar oleh kenyataan bahwa malam pertama kami selalu gagal.Lampu lorong rumah sakit masih sama putih, dingin, dan terasa tak ramahtapi kali ini langkah kakiku sedikit lebih ringan ketika perawat mengizinkan kami masuk.“Ayahmu sudah bisa dijenguk,” katanya singkat.Kalimat itu seperti udara segar yang masuk ke paru-paruku setelah lama tenggelam.Ayah terbaring dengan mata setengah terbuka. Wajahnya pucat, tapi napasnya teratur. Ada selang kecil di hidung. Saat matanya menangkap sosokku, bibirnya bergerak tipis.“Selena…”Aku langsung mendekat, menggenggam tangannya yang terasa hangat namun rapuh.“Aku di sini,” bisikku. “Aku nggak ke mana-mana.”Matanya berkedip pelan.genggaman tangannya menguat sebentar, cukup untuk membuat dadaku bergetar. Aku menoleh ke arah ibu. Ia berdiri di sisi lain ranjang, matanya sembab, bahunya turun seperti baru saja melepaskan beban besar.“Aku pulang sebentar ya, Bu,” kataku lembut. “Aku ambilin baju ganti. Aku juga mau mandi badanku lengket.”Ibu mengangguk. “Hati-hati.”Keluar dari ruang rawat, kakiku terasa
Aku terpaku.Kata-kata Dharma menggantung di udara, terasa lebih dingin dari angin taman yang menyapu wajahku. Otakku butuh beberapa detik untuk mencerna kalimat barusan, seolah maknanya terlalu besar untuk langsung kuterima.“Rumah sakit… jiwa?” ulangku lirih, hampir berbisik. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.Dharma mengangguk pelan. Senyumnya masih ada, tapi itu bukan senyum lega. Itu senyum seseorang yang sudah terlalu lelah untuk menangis.“Aku tidak punya banyak pilihan, Selena,” katanya. “Kalau ibuku dilaporkan, semuanya akan terbuka. Media, polisi, pengadilan. Nama keluargaku, keluargamu… semua akan hancur.”Dadaku terasa sesak. “Kau pikir… dengan cara ini semua bisa tertutupi?”“Aku tidak bilang ini benar,” jawabnya cepat, seolah membaca pikiranku. “Tapi ini jalan tengah yang bisa kupilih.”Ia menatapku dalam, matanya merah, basah, tapi tidak ada air mata yang jatuh.“Kalau ibuku dinyatakan tidak stabil secara mental, kasus ini akan berubah. Dari niat jahat jadi t
Aku sudah hampir mengitari seluruh rumah sakit.Lorong UGD, ruang tunggu, kantin kecil di lantai bawah.nama Dharma terus kupanggil dalam hati, tapi sosoknya seperti menghilang. Ponselku tetap sunyi tanpa ada balasan telepon dari Dharma.Rasa cemas mendorong kakiku melangkah ke taman belakang rumah sakit. Tempat itu sepi, hanya ada bangku-bangku besi dan pohon kamboja yang bunganya berguguran di tanah.Dharma berdiri di bawah pohon, membelakangiku. Di depannya ada seseorang. Seorang perempuan yang tidak kukenal. Mereka berdiri cukup dekat. Terlalu dekat untuk sekadar percakapan biasa.Langkahku terhenti.Aku bersembunyi di balik batang pohon, jantungku berdegup keras. Aku tidak langsung mendekat. Ada rasa takut yang aneh.takut melihat sesuatu yang sebenarnya sudah siap menghancurkanku.Aku menunggu.Beberapa detik kemudian, Dharma menoleh tanpa sengaja. Pandangannya menangkap keberadaanku. Seketika wajahnya berubah.Ia langsung menoleh ke perempuan itu, berkata singkat namun tegas. Pere
Ibu mengusap wajahnya perlahan, seolah mencoba menenangkan diri, tapi aku tahu ketenangan itu hanya di permukaan. Ada sesuatu yang jauh lebih keras sedang tumbuh di dadanya.Ia menoleh ke arah Darlo.Mertuaku itu berdiri dengan punggung menempel dinding, tatapannya kosong menembus pintu UGD yang sudah kembali tertutup rapat. Rahangnya mengeras, kedua lengannya terlipat di dada seperti tameng. Lelaki itu terlihat kokoh, tapi ada kegelisahan yang tak lagi bisa ia sembunyikan.“Pak Darlo,” suara Ibu terdengar pelan, tapi jelas.Darlo menoleh. Pandangan mereka bertemu.Aku refleks menegakkan punggung. Jantungku berdebar lebih cepat. Ada firasat buruk yang mungkin justru firasat bahwa sesuatu yang selama ini dipendam akhirnya akan diucapkan.Ibu berdiri. Tangannya terlepas dari genggamanku, tapi aku tetap berdiri di sisinya, setengah langkah di belakang. Aku ingin jadi saksi. aku ingin memastikan Ibu tidak sendirian.“Aku sudah terlalu lama menahan diri,” kata Ibu, suaranya bergetar tipis


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews