登入"Rencana apa?" Widra bertanya dengan penuh kebingungan. "Jangan-jangan ...." Sean bergumam sendiri, yang membuat tatapan teralih padanya. "Ini tentang pembicaraan kita sebelum masuk rumah sakit?" Kepala Harka mengangguk. "Iya." "Apa?" Yuga ikut bersuara. "Kalian ngomongin apa? Apa ada hal buruk?" Harka menggeleng, tatapannya terarah tak jelas saat ini. "Gue gak bisa ngebawa-bawa kalian terus kayak gini. Banyak hal yang harus kalian lakuin tapi ketahan karena batas yang dibuat Nugroho. Hidup itu ... kesempatan buat hidup itu cuman sekali, gue pikir sia-sia aja kalau kalian terus kayak gini." "Maksud lo apa sih, Ka?" Sam maju selangkah mendekati Harka. "Apa maksud lo--""Serahin diri ke polisi." Perkataan Harka membungkam semua yang ada. Tatapan mereka berubah tajam dengan napas yang terasa sulit untuk dikendalikan, terutama Safir yang tidak menyangka akan mendengar hal itu. Jika Harka mengatakannya, itu berarti mereka semua memang akan menyerahkan diri ke polisi?"Yang bener aja,
"Kenapa?" Pertanyaan dari Benji itu melayang pada Ferdi. "Ayah nanya ini karena peduli sama dia, atau--""Ayah cuman gak mau kamu luka lagi." Ferdi menepuk-nepuk puncak kepala Benji. "Sana mandi dulu, ganti baju, terus makan."Kedua mata Benji mengamati Ferdi untuk beberapa detik, sebelum akhirnya mengangguk dan berbalik meninggalkan Ferdi di sana. Lagipula sebuah kemustahilan jika Ferdi memang peduli pada anaknya yang pertama. Sangat sulit dipercaya. Mungkin, itu tidak akan pernah terjadi selama Benji hidup di sini.Ferdi sendiri mendudukkan dirinya di sofa, istirahat sejenak sebelum sebentar lagi berangkat ke kantor. Tangannya bergerak memijat pelipis hingga tak lama kemudian mendengar suara pintu terbuka. Pandangan Ferdi terangkat, melihat Safir yang memakai seragam melangkah masuk begitu saja mengabaikan kehadiran Ferdi."Safir, sudah pulang?" Tidak tahu kenapa, pertanyaan itu melayang begitu saja padahal Ferdi tahu betul Safir sudah di rumah. Namun jika itu Safir yang dikenalinya
Meremat rambutnya di kedua sisi kepala, Safir tidak menyangka jika dia akan menghadapi hal-hal ini secepat kilat. Guru baru saja memperingatkan agar mereka lebih banyak belajar untuk mempersiapkan ujian tengah semester, dan tidak akan ada ampun bagi mereka yang mengerjakan dengan asal-asalan. Nilai tidak akan diberikan hanya karena berkelakuan baik saja, nilai murni pada tugas dan pengerjaan adalah hal utama.Sekarang, ulangan tengah semester seperti evaluasi dari semua hal-hal yang telah dikerjakan. Safir sebenarnya tidak punya masalah dengan sistem pembelajarannya, tapi akhir-akhir ini fokusnya memang sering terganggu, terlebih di rumahnya sendiri dia tidak akan pernah bisa tenang atau mencerna apa yang dibaca. Pikirannya hanya akan melayang pada permasalahan yang ada. Tidak ada dukungan, penyemangat, dan hal-hal yang diharapkan seperti dulu, kondisinya berubah total.Menumpukan kening pada lipatan tangan di atas meja, Safir menghela napas dalam, tidak menyadari sama sekali jika Jho
"Aw! Nyeri ari manéh!" Mahesa mengelus pipinya yang ditepuk-tepuk seseorang, sampai dia membuka mata dan mengerjap karena pelakunya adalah Safir. (Aw! Sakit tahu!)Safir tersenyum kikuk, tidak tahu arti ucapan Mahesa. "Maaf aku bangunin kamu, tapi lihat, Harka gak ada di brankar."Bola mata Mahesa bergeser ke arah yang ditunjuk oleh Safir, lantas kembali bersandar ke belakang dengan santai. Sama sekali tak menangkap kekhawatiran cewek di depannya. "Lagi sama Yuga di rooftop." "Oh ... kalau gitu maaf ya, aku ganggu."Mahesa menggeleng. "Gak papa. Kalau mau ketemu Harka, susulin aja ke sana." "Emang boleh?""Gak ada yang larang." Kedua pundak Mahesa naik turun tak peduli. "Tadi juga Harka nanyain lo, sana susul." Safir menganggukkan kepala, dia segera berbalik dan keluar dari ruangan. Lebih baik cepat-cepat menemui Harka, sebab Safir juga harus tahu keadaan cowok itu. Maksudnya, perasaannya. Sean tampak kacau, bagaimana dengan ketuanya? Memasuki lift dan menekan tombol di mana lanta
Kedua motornya sudah terparkir di garasi luas yang biasa digunakan ketika mereka datang. Normalnya, jumlah yang mengisi selalu delapan motor, kali ini tidak, sebab hanya Sam dan Jho yang ada. Begitu turun dan melangkahkan kaki beberapa meter menuju pintu utama dan masuk ke dalam. Tidak perlu mengetuk untuk menunggu izin masuk, di gerbang tadi keduanya sudah diperiksa penjaga, maka akses didapatkan.Rumah besar yang sepi, ruangan tanpa suara yang hanya diisi penuh oleh barang mewah. Hanya itu semua yang ada sejak dulu begitu menginjakkan kaki ke dalam. Dibandingkan rumah untuk menetap, salah satu kediaman Nugroho ini memang seperti vila tak berpenghuni. Pelayan memang ada di setiap sudut, tetapi mereka pun tak berperan untuk menghangatkan, mereka bagai boneka berjalan--tepatnya robot pembersih rumah. Menggunakan mata sipit dan tajam, Sam mengedarkan pandang, sementara Jho berjalan-jalan dan sesekali mengangguk singkat pada pelayan yang menyapa. Keduanya tidak menemukan keributan yang
"Kumaha lamun om Andre nyahoeun?" Widra menggigit bibirnya, mulai cemas. "Gimana nasib lo sama Harka?" tanyanya, pada Sean yang sejak tadi bungkam. (Gimana kalau om Andre tahu?)Sepehaman Safir saat ini, Harka melukai kepalanya sendiri dengan membenturkannya ke dinding karena bertengkar dengan Neyna kemarin. Anggota Eight baru mendapat kabar hari ini dari Sean. Kini mereka berkumpul di taman rumah sakit, sementara Yuga dan Mahesa ditugaskan untuk menunggu di ruangan Harka dirawat. "Kita harus tahu kondisi Ney dulu, pastiin dia baik-baik aja," jawab Sam untuk mengusir keheningan yang terjadi. "Kalau dia gak papa, gak akan ada masalah.""Kalau gitu ayo ke sana." Jo berdiri dari posisi jongkoknya, meraih pundak Sam. "Walaupun telat karena Sean baru bilang sekarang, kita harus tetep gerak." Kepala Sam mengangguk untuk menyanggupi, ia menoleh pada Sean sejenak. "Yan, gue sama Jho ke sana."Sean menatapnya, kemudian berkata, "kalau ada om Andre, bilang aja kalian gak tahu apa-apa. Jangan







