LOGINSafir adalah siswi baru di Nuansa Jaya, niatnya ingin memperbanyak teman cewek yang satu frekuensi. Namun, alih-alih terealisasi, dia malah mendapatkan delapan cowok sekaligus yang siap sedia ketika dirinya butuh. Sayangnya, cowok-cowok itu terkenal berandalan. Lantas bagaimana dia harus menghadapi delapan cowok itu?
View More"Ini surat-surat kasih ke wali kelas, jaga kartu identitas kamu, jangan sampai hilang, Ayah berangkat kerja dulu."
Cewek berambut panjang bergelombang cantik itu menerima pemberian ayahnya dengan tatapan lurus tak terbaca, tetapi di detik berikutnya binaran penuh harap langsung terpancar. "Ayah, aku berangkatnya bareng sama Ayah, ya? Aku udah siap, kok, lagian kita satu arah."
"Ayah udah janji ke Tania sama Benji. Kamu jangan manja, ada sopir di depan." Ferdi melanjutkan langkah tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. Pria paruh baya yang sudah siap dengan pakaian rapi untuk ke kantornya kini menghilang begitu pintu utama ditutup.
Ditinggalkan begitu saja, Safir tidak terima. Secepat kilat dia berlari menyusul keluar, melupakan sarapannya di meja makan yang sudah disiapkan ART. Apa pentingnya itu dibandingkan perhatian ayahnya?
"Ayah! Aku kan baru masuk sekolah umum, Ayah beneran gak mau antar?!" ucapnya sedikit berteriak juga memaksa, mengekori Ferdi yang hampir masuk ke dalam mobil. "Tania sama Benji pasti ngerti kalau Ayah-"
"Safir, keadaan kita berbeda dari dulu. Tolong mengerti." Ferdi menghela napas, tatapan lurus tanpa makna tertuju pada anaknya yang mematung tak melanjutkan perkataannya. "Lagian kamu sudah kelas dua belas, belajar mandiri, Tania dan Benji masih SMP. Kamu gak malu kalau mereka yang ngalah?"
'Ngalah apanya? Ayah pakai mobil, kita semua muat di sana.' Safir hanya bisa berkata dalam hati, tak berani mengeluarkan semua itu lewat suara.
Ini artinya dia harus mengalah pada dua adik tirinya yang seminggu ini tinggal di rumah kakek dan nenek mereka, bersama ibu mereka yang sudah berstatus sebagai istri dari ayahnya. Safir tidak boleh membantah sekalipun dia anak dari Ferdi.
"O-oke." Safir tersenyum menyembunyikan rasa kecewanya yang besar di dalam dada. Tidak ada gunanya membujuk lagi. Benar apa yang ayahnya katakan jika kondisi mereka tidak seperti dulu. Semuanya sudah mengalami perubahan yang jauh, dan perubahan yang menurutnya merugikan.
Jadinya untuk kali ini, dan yang kesekian kali Safir harus menahan diri, mengalah dan menerima apa yang terjadi--mungkin, apa yang akan terjadi. Safir melambai, pada mobil ayahnya yang sudah pergi meninggalkan pekarangan rumah.
Memainkan jarinya untuk menahan semua rasa yang tak keruan dalam diri, Safir melirik ke kanan dan ke kiri lantas tersenyum saat pandangannya terpaku pada sebuah motor scoopy berwarna biru muda. Dia akan menggunakannya setelah sekian lama hanya menggunakan mobil diantar sopir. Itu membosankan dan membuatnya tak bisa menikmati perjalanan. Motor lebih baik.
"Aku jago baca maps, gampang kalau ke mana-mana sendiri," ucapnya lalu segera berlari menghampiri motornya.
Hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit, Safir sudah tiba di gerbang SMA Nuansa Jaya yang memang tidak terlalu jauh dari perumahan yang ditempati. Safir berhenti di dekat pos satpam dan membuka kaca helm yang menghalangi wajah.
"Permisi Pak, kalau parkiran motornya di sebelah mana?" tanya Safir. Takutnya parkiran motor malah terpisah, dan dia terlanjur memasukkan motor ke dalam gerbang, itu akan memalukan.
Sebagai murid yang pertama kali bersekolah umum, Safir tidak boleh melakukan kesalahan atau ia akan menjadi bahan ejekan murid lain. Itu tidak seru.
"Oh, masuk aja ke sini. Tinggal belok kanan, nanti ada motor yang ngumpul, nah itu tempatnya."
Safir mengangguk. Setelah mengucapkan terima kasih, dia melajukan motornya masuk ke dalam dan berbelok ke kanan seperti apa yang dikatakan satpam tadi. Ada parkiran di sana. Samping kiri untuk mobil, lalu di samping kanan untuk motor. Herannya, parkiran motor masih kosong sementara parkiran mobil terisi banyak.
Safir jadi mengernyit, dia tidak tahu bagaimana keadaan SMA Nuansa Jaya sebab yang memilih sekolah umum ini bukan dirinya, melainkan ayahnya. Safir juga belum sempat mencari tahu, karena dia pikir, semua sekolah sama saja 'kan? Bedanya, sekolah ini tercampur antara cowok dan cewek, sementara sekolahnya dulu tidak seperti itu. Safir sekolah di asrama khusus putri.
Turun dari motor dengan keadaan gugup setengah mati, Safir sudah berada di koridor lantai satu sekolah. Kelasnya ada di lantai tiga, dia bisa menggunakan lift yang tersedia atau tangga.
Kepala Safir menoleh ke kanan dan ke kiri, sebaiknya dia langsung menuju ke kelas namun dia tak tahu letak kelasnya. Lantai tiga pastilah luas, dan banyak ruang di sana, bagaimana Safir mencarinya? Menyusuri satu persatu dan melihat papan nama? Repot sekali.
Jadinya Safir memutuskan untuk bertanya pada seseorang dan meminta diantarkan ke kelasnya saja, atau lebih baik ke ruang guru terlebih dahulu. Namun entah mengapa, Safir merasakan semua tatapan tertuju padanya, mereka seperti menahan tawa dan berbisik-bisik membuat Safir mengernyit.
"Kenapa?" Safir bertanya pada salah satu cewek yang ada di dekatnya. Namun bukannya menjawab, cewek itu justru tertawa terbahak-bahak. "Kalian kenapa?" tanya Safir, dia benar-benar bingung.
"Hai?"
Safir tersentak saat seseorang menepuk pundaknya. Dia membuka matanya lebar-lebar begitu seorang cowok menghampiri dan tersenyum lembut. Baru pertama kali Safir berinteraksi dengan cowok asing. Benar-benar pertama kali. Catat itu!
"Eh, eh itu ... iya, halo?" Safir gelagapan sendiri, bingung setengah mati harus bagaimana.
"Gak usah takut kayak gitu, gue gak akan gigit. Omong-omong, kenapa lo gak simpan helm lo? Di tempat parkir ada kok tempat buat penyimpanan helm." Cowok itu masih tersenyum, tidak menahan tawa seperti murid lain.
Dan perkataan cowok itu, menyadarkan Safir bahwa dia belum membuka helmnya! Ayolah, niat Safir itu tidak akan mempermalukan diri sendiri di hari pertama. Kenapa malah kacau balau?
Dengan wajah memerah sempurna, Safir segera membuka helm, menahan malu saat tawa terdengar di mana-mana.
"Sssst! Gak usah ngetawain. Kalian gak lebih baik dari dia," ucap cowok yang ada di hadapan Safir, berhasil membuat suasana jadi senyap seketika. "Sekarang gue antar lo ke parkiran, mau gak?"
Safir meneguk ludahnya susah payah. Rasa malunya mendadak meluap pergi mendengar perkataan lembut cowok di hadapannya ini. Cowok dengan rambut bergelombang yang hampir menyentuh pundaknya. Entah siapa. Ingin melirik papan nama yang ada di seragamnya, tapi Safir tidak berani.
Jadinya kali ini, Safir berjalan kembali ke parkiran untuk menyimpan helm bersama dengan sosok cowok yang dengan senang hati mengantarnya. Bahkan mengantar Safir ke ruang guru setelah mengetahui Safir adalah murid baru.
Sayangnya, Safir benar-benar tidak tahu siapa nama cowok itu sampai dia duduk di kelas baru.
Bus bisa menampung hingga lima belas orang atau lebih, tetapi karena belum ada penumpang lain, di bus warna merah muda itu hanya terisi Eight dan juga Safir. Cewek itu langsung antusias duduk di kursi paling sisi kanan agar bisa melihat langsung jalanan, kemudian di samping kirinya duduk Sam yang juga sama semangatnya. Menoleh ke belakang, Safir menghitung semua yang ada, dan mereka sudah lengkap. Di paling belakang ada Mahesa dan juga Jho, sementara di depan dengan kursi menyamping, Widra sudah merekam dengan senyum lebar. Bus mulai melaju dari Alun-Alun, Safir yang sudah tidak sabar hampir memekik, matanya melihat dan memperhatikan dengan semangat bangunan yang dilewati. Awalnya Safir ingin bertanya pada Sam, tetapi begitu ia mendengar sesuatu, pandangannya tertuju ke depan. Ada bagian kosong di depannya, bagian yang mana seorang pemuda berdiri memegang mikrofon, pakaiannya sama dengan sopir. "Cek, cek, satu, dua. Udah ya, nyala," ucap pemuda itu. "Halo, semuanya yang ada di sini
Safir berguling ke samping kiri untuk menyamankan posisi tidurnya. Hangat dan wangi teh yang samar mulai tercium membuatnya tenang sekaligus tergoda untuk membuka mata. Pada akhirnya kelopak matanya bergerak, menyesuaikan cahaya yang masuk hingga ia bisa melihat dengan jelas keberadaannya sendiri. Kini, suara seorang wanita dari televisi mulai jelas di telinganya. Safir menoleh ke sisi kiri di mana ia bisa merasakan dengan jelas kehadiran seseorang, sedang meneguk sesuatu di cangkir yang mengepulkan uap. "Sean?" Safir buru-buru bangkit, membuat selimut yang membungkusnya jatuh sampai pinggang. "Kamu udah baikan? Sini aku periksa dulu."Sean tersenyum dan sedikit menunduk agar punggung tangan Safir menyentuh keningnya. "Gue udah gak panas, udah sembuh," jawabnya. "Lo lanjut tidur aja, belum sore, kok." Helaan napasnya terdengar ringan, suhu tubuh Sean tidak panas, hanya wajahnya saja yang terlihat masih pucat. Pandangan Safir mengedar sesaat. Ia berada di ruangan keluarga, entah sej
Ini kedua kali Safir mengunjungi rumah Abah. Suasananya masih sama nyamannya dan hangat, membuat senyumannya juga mengembang ketika Abah menyambut dengan sapaan khas. Safir langsung menghampiri dan mencium tangan pria paruh baya itu."Apa kabar, Abah?""Baik, Neng. Seneng pisan Abah kalian ke sini lagi," ucap Abah, kini mereka semua duduk di tempat biasa.Semua bisa melepaskan senyum santai di sini, tanpa paksaan sama sekali. Untuk saat ini, Harka menghampiri Abah dan mendekat. "Sean semalam ke sini, Abah?" tanyanya, dia duduk di lantai sementara Abah duduk di kursi dan mengangguk ketika pundak Harka bersandar pada satu kakinya."Sekarang dia lagi istirahat, udah minum obat penurun panas tadi.""Dia kenapa, Abah?"Atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Harka, Abah tidak langsung menjawab, dia memberikan jeda panjang hingga akhirnya mengembuskan napas pelan. "Tanya sendiri, Ka. Abah juga belum tahu, Abah belum sempat nanya."Harka langsung mengangguk, dia tidak beranjak dari tempatnya d
Abah mengusap kepala Sean seperti anaknya sendiri, memberi ketenangan sekaligus kekuatan, membuat Sean menoleh dengan tatapan kosong."Maafin Sean, Abah. Sean gak sopan berkunjung di jam segini."Abah menggeleng. "Teu nanaon. Minum dulu, jangan mikirin ganggu atau nggak, tenangin dulu diri kamu."(Gak papa)Tubuhnya gemetar karena kedinginan, tatapannya tak jelas mengarah ke mana, dan luka-luka yang terlihat jelas di bawah sorotan lampu, Sean terlihat bukan Sean yang sama. Abah jelas tidak menduga itu akan terjadi, tapi dia tahu siapa yang menjadi penyebabnya.Nugroho dan orang tuanya sendiri. Yang jelas, Abah juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawan, dia harus berada di batas aman demi anaknya, berhubung sang istri sudah menjadi korban.Elusan lembut terus Abah berikan pada kepala Sean, dia tak bisa memijat pundak remaja itu sebab ada luka di sana yang akan membuatnya sakit jika disentuh.Abah menghela napas ketika Sean membawa gelas dengan gemetar, lalu meneguk airnya. "Sekar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.