ログイン"Kenapa aku selalu dibedakan dari menantu yang lain, Bu?" tanya Mia sambil sesenggukan. Ia sungguh tak habis mengerti mengapa Bu Rina, ibu mertuanya selalu membeda-bedakan dirinya dengan menantu beliau yang lainnya. Bu Rina menatapnya tajam lalu menyahut keras. "Karena kamu miskin, bodoh dan pemalas! Nyesel saya terima kamu jadi menantu kalau tahu begini perilakumu! Sekarang, bersihkan semua pekerjaan rumah sampai tuntas! Jangan berhenti sebelum semuanya selesai!" ketua ibu mertuanya sambil mendengkus lalu menghentakkan kakinya dengan keras di hadapannya. Mia tergugu sedih. Tapi ia tak patah semangat. Ia yakin dengan kemampuannya menulis, ia akan jadi penulis terkenal dan akan bisa membalas semua hinaan ibu mertua dan suaminya itu.
もっと見るLucía caminaba lentamente por el pasillo del hospital, en shock. Sus pasos resonaban en el frío suelo de mármol, cada uno más pesado que el anterior. La noticia que había recibido hacía apenas unos minutos seguía repitiéndose en su mente, como un eco interminable. Sentía un nudo en la garganta y sus manos temblaban ligeramente. Estaba asustada y poco convencida de lo que le acababan de decir, como si su mente se rehusara a aceptar la realidad que ahora enfrentaba. Miraba a su alrededor, buscando alguna señal que le indicara que todo era un mal sueño del que pronto despertaría, pero los rostros serios y las miradas preocupadas de los médicos y enfermeras sólo confirmaban lo inevitable.
— Está embarazada — fue lo que le dijo el doctor con una sonrisa en la cara que ella no supo interpretar.
— ¿Qué? —preguntó incrédula —. No, eso es imposible, yo no puedo estar... ¿embarazada?
El doctor asintió con firmeza, sin perder la sonrisa.
— Los análisis no mienten, Lucía. Todos los signos están ahí.
Lucía sintió que el mundo se desmoronaba a su alrededor. ¿Cómo podría ser verdad? Había tantas cosas que no le cuadraban, tantas preguntas que necesitaban respuestas. Llevó una mano temblorosa a su vientre, como si necesitara confirmarlo por sí misma, y miró al doctor con ojos llenos de confusión y miedo.
— Pero... ¿cómo? — murmuró, más para sí misma que para el médico.
El doctor suspiró, comprendiendo su desconcierto.
— Sé que es un shock, Lucía, pero vamos a hacer todo lo posible para asegurarnos de que estés bien, tanto tú como el bebé.
Lucía se apoyó contra la pared del pasillo, tratando de controlar su respiración acelerada. Los recuerdos de su tiempo con Dan pasaban por su mente como una película: las risas, las conversaciones hasta la madrugada, los planes que habían hecho juntos. Él había sido su roca, su compañero, su amor. Pero este... Este era un giro que nunca había anticipado.
— Doctor, tiene que haber un error. Dan y yo... nosotros no... — Las palabras se ahogaban en su garganta.
El doctor la miró con compasión, entendiendo la complejidad de su situación.
— Lucía, entiendo que esto es difícil de asimilar, pero los análisis son concluyentes. Necesitamos enfocarnos en lo que viene ahora. Hable con Dan, cuéntele la verdad. Él merece saberlo, y usted necesita su apoyo.
Lucía asintió lentamente, aunque el miedo y la incertidumbre seguían pesando en su corazón.
Pero no era posible decirle nada a Dan hasta no tener la certeza de saber cómo diablos había quedado embarazada, si durante el último año no había sido tocada por nadie y ella no había tocado a nadie tampoco. La última vez que estuvo con un hombre fue casi un mes antes de... de liberarse, como ella lo llamaba.Aunque fue una noche que no podría olvidar, pues desconoció por completo a su acompañante, ella prefería creer que aquello nunca había pasado.— Doctor, necesito que me hagan más pruebas. Algo no está bien — Su voz temblaba, pero había una determinación en sus ojos que el doctor no pudo ignorar.
— Lo entiendo, Lucía. Vamos a hacer todo lo necesario para aclarar esto — El doctor asintió y tomó nota en su expediente.
Lucía sabía que necesitaba respuestas antes de enfrentar a Dan. No podía llevarle esta carga sin entenderla primero. Mientras caminaba de regreso a la sala de espera, sintió una oleada de confusión y desesperación. Cada paso la acercaba más a una verdad que necesitaba desentrañar, por más difícil y misteriosa que fuera.
Y cada paso la acercaba más y más a alguien que no esperaba ver allí.
Sentado en una de las lujosas sillas de paño, con la mirada fija en el frente, con esa actitud altiva y arrogante de siempre estaba Sebastián, el ex esposo de Lucia, como si él pudiera sentir su presencia giró sus ojos y los clavó en Lucía que se petrifico al verlo.
— Vaya, vaya, no creí que volver a verte me pondría tan feliz —se acercó a ella peligrosamente, haciendo que sus vellos se erizaran —, cariño — dijo con una risa atrevida y burlándose de Lucía.
— ¿Qué haces aquí? — dijo con fastidio.
— Es un centro médico, estoy enfermo — sonrió y se alejó de Lucía algunos pasos, se detuvo y se giró para enfrentarla —. Por cierto, felicitaciones — señaló el estómago de Lucí a—. Creo que será un bebé precioso.
POV DeniHari ini akhirnya aku mendapatkan juga promosi naik jabatan dari seorang staf menjadi kepala divisi. Entah aku harus senang atau tidak, karena aku sendiri masih ragu-ragu apakah posisi ini nantinya akan dapat membuatku hidup lebih baik atau tidak. Tapi meskipun begitu, aku tetap berusaha memupuk harapan terbaik, semoga suatu saat keapesan dan kesialanku ini akan segera berakhir.Pagi tadi promosi jabatanku telah dilaksanakan dan hari ini kedudukanku telah resmi menjadi seorang atasan di divisi yang aku pimpin.Ahmad yang tadinya merupakan rekan sejawatku, sekarang telah menjadi bawahanku begitu pun Sinta, sekarang menjadi stafku. Meski demikian, di rumah aku tetaplah suami yang harus patuh atas semua kendalinya. Sebab, bagaimanapun juga ialah pemegang kunci kendali atas hidupku sebab adanya perjanjian sialan mengenai hutang mahar yang mencekik leher itu.Ah, andai aku tahu menikahi ponakan direktur ternyata membuat hidupku jadi sengsara begini, mungkin lebih baik aku menduda
POV Deni"Bu, ini uang buat ibu. Maaf Deni baru bisa kasih segini karena ... karena Deni harus bayar hutang ke Pak Anton dulu, Bu. Maafkan Deni ya, Bu tapi Deni janji Deni akan usahakan untuk menambah uang ke ibu nanti. Deni mau banyakin lembur biar bisa ngasih uang ke ibu lagi ya, Bu," ujarku sambil menyerahkan uang pemberian Sinta pada ibu yang menerima dengan mata tidak percaya.Dua ratus ribu pastilah jumlah yang sangat sedikit buat ibu karena biasanya jatah bulanan beliau adalah empat juta rupiah."Kok bisa-bisanya sih, Den kamu cuma dikasih segini sama Sinta? Apa ibu bilang, nggak usah dekati perempuan itu lagi. Tapi kamu ngeyel, begini kan jadinya!" Ibu menghela nafas panjang sambil memanyunkan bibirnya. Tatapan kecewa tampak jelas dalam rona matanya.Aku pun ikut menghembuskan nafas. Dadaku terasa sakit dan sesak. Sialan, Sinta, gara-gara rayuannya untuk menggelar pesta mewah dan uang mahar yang tidak sedikit, sekarang aku harus terjerat hutang pada Pak Anton. Benar-benar meny
POV Deni"Den, mana jatah bulanan buat ibu? Kamu udah gajian bulan ini kan? Hari ini kan tanggal satu?" tanya ibu saat aku menyempatkan pulang sore hari.Niatku pulang, ingin bertanya pada ibu, barangkali masih punya sedikit sisa uang untuk pegangan tangan karena amplop gaji sudah di tangan Sinta dan dikuasainya. Sementara ia belum memberiku uang untuk transportasi karena katanya belum sempat ketemu Om Anton dan membicarakan berapa nominal sisa gaji yang bisa diberikan padaku sebab aku harus mulai mencicil hutang pada Om-nya itu."Nanti ya, Bu. Uang gajiku masih dipegang Sinta, soalnya Deni kan harus membayar hutang mahar kemarin. Ini aja Deni malah mau pinjam uang dari ibu buat dipake menjelang Sinta ngasih uang ke Deni. Ibu masih ada tabungan nggak?" tanyaku dengan suara tak enak. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur basah. Pernikahan dengan Sinta sudah terlanjur terjadi. Tak mungkin dibatalkan hanya karena hal ini. Lagi pula aku sudah terlanjur teken perjanjian pinjam uang pad
POV DeniHari ini pernikahanku dengan Sinta akhirnya digelar. Gedung pernikahan yang disewa Pak Anton terlihat meriah meski tak semewah seperti yang ada dalam pikiranku. Ya, barangkali saja Pak Anton menurunkan budget pesta pernikahan kami ini. Selain karena efek pandemi Corona masih melanda tanah air sehingga orang-orang belum begitu nyaman mendatangi keramaian. Mungkin hal itu juga bertujuan supaya hutangku tak terlalu banyak dan membengkak. Baguslah, jadi aku tak perlu terjerat terlalu lama dalam kubangan hutang pada bos perusahaan itu.Sebenarnya aku sendiri menginginkan pernikahan kecil-kecilan saja. Selain demi menghemat biaya, tujuan pernikahanku dengan Sinta memang bukan semata-mata untuk menjadikannya istri atau membuatnya merasa senang dan tersanjung sebagai istriku, tetapi karena aku sendiri juga menginginkan kehidupan yang lebih baik bila menjadi suaminya.Itu sebabnya aku tak terlalu antusias saat keluarga besar Sinta menginginkan sebuah hajatan besar sementara aku just
Kusembunyikan Kekayaanku Dari Suami dan Mertua Zalim (8)Ditanya begitu, Azmi salah tingkah. Ia tak biasa berbohong pada ibunya tetapi untuk jujur berkata iya, ia juga ragu."Maaf, Bu ... aku ...." Azmi tergagap. Ia takut ibunya bakal marah jika ia berkata jujur, itu sebabnya ia tak
Kusembunyikan Kekayaanku Dari Suami dan Mertua Zalim (7)"Apa! Main perempuan? Jadi kamu menuduh aku sudah main perempuan? Lancang benar kamu! Tahu dari mana aku main perempuan! Hati-hati kamu bicara!" Azmi tampak kesal mendengar tuduhan Mia. Lelaki itu mengibaskan tangan lalu melempar jak
Kusembunyikan Kekayaanku Dari Suami dan Mertua Zalim (6)Azmi pulang saat jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas malam. Penampilan lelaki itu tampak kusut dengan rambut dan kemeja yang berantakan.Bukan kebiasaan baru sebenarnya bagi lelaki itu pulang malam sepert
Kusembunyikan Kekayaanku Dari Suami dan Mertua Zalim (5)Mia masuk ke dalam kamar, mengunci pintu lalu melepaskan jaket tebal yang membungkus tubuhnya.Dikeluarkannya makanan kering yang barusan ia beli tadi lalu menyimpannya ke dalam tas pakaian berukuran besar di atas lemari.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビューもっと