تسجيل الدخول"Kenapa aku selalu dibedakan dari menantu yang lain, Bu?" tanya Mia sambil sesenggukan. Ia sungguh tak habis mengerti mengapa Bu Rina, ibu mertuanya selalu membeda-bedakan dirinya dengan menantu beliau yang lainnya. Bu Rina menatapnya tajam lalu menyahut keras. "Karena kamu miskin, bodoh dan pemalas! Nyesel saya terima kamu jadi menantu kalau tahu begini perilakumu! Sekarang, bersihkan semua pekerjaan rumah sampai tuntas! Jangan berhenti sebelum semuanya selesai!" ketua ibu mertuanya sambil mendengkus lalu menghentakkan kakinya dengan keras di hadapannya. Mia tergugu sedih. Tapi ia tak patah semangat. Ia yakin dengan kemampuannya menulis, ia akan jadi penulis terkenal dan akan bisa membalas semua hinaan ibu mertua dan suaminya itu.
عرض المزيدThe iron door slammed shut, and before I could even catch my breath, Officer Graves slammed my face into the cold concrete wall.
Pain exploded across my jaw. Blood filled my mouth, warm and metallic. The metal handcuffs bit so deep into my wrists that skin tore, but Graves didn't care. He jammed his heavy thumb right behind my ear, pushing until I saw blinding white spots. “Move, fresh meat,” Graves hissed in my ear. I choked on a scream as he forced me down onto his knees. The freezing floor burned right through my thin orange jumpsuit. I hadn’t been in this prison for ten minutes, and the corruption was already choking me. “Eight years for fraud,” Graves sneered. He grabbed a handful of my hair, yanking my head back so hard my neck popped. His breath smelled like stale tobacco and rotten meat. “You think you’re special, Hart? Out here, you’re just a soft target. You want to survive this place? You’re going to run my illegal money ledgers. You’re going to help me steal.” I swallowed the blood in my mouth and tried to glare at him. “No.” Graves gritted his teeth and drove his heavy fist straight into my ribs. Air exploded out of my lungs. I doubled over on the floor, curling into a ball as a sickening heat spread through my chest. I couldn't breathe. I couldn't speak. I just lay there on the filthy floor, gasping like a fish out of water. “If you say no again,” Graves growled, kicking my shoe, “I’ll unlock the gang cells tonight and tell them you asked for a visit. They’ll tear you apart, and I’ll stand outside the door and listen.” Fear clutched my heart so tight I thought it would stop. I was completely alone. Nobody was coming to save me. My lawyer was gone, my old friends had abandoned me, and the system had thrown me away. I was completely helpless. “Touch him again, Graves, and I’ll rip your throat out.” The voice was low, rough, and hit the room like a physical blow. Graves froze instantly. The two guards standing behind him reached for their heavy batons, their faces going pale. A tall man stepped out of the shadows at the end of the hall. He moved like someone who owned every inch of this hellhole. Broad shoulders, built like a brick wall, with heavy iron chains dragging from his wrists. A long, jagged scar ran down his sharp jawline. But it was his eyes that made my blood run cold. They were storm-gray, completely dead, and sharp enough to cut glass. Kael Vance. The man everyone called the Reaper. Kael didn’t even look at the armed guards or their raised weapons. His gray eyes locked onto me. He looked at the blood on my face, my torn jumpsuit, and the way my body was shaking on the floor. Something dark and dangerous flared in his eyes—not pity, but a wild, possessive anger that made my pulse spike. “Vance,” Graves spat, stepping back to hand-cover his gun holster. “Keep walking. This is intake. He belongs to the house.” Kael closed the space between them in three long, silent strides. He was massive. He used his height to crowd Graves right against the iron bars, looking down at him like he was an insect. “He belongs to me,” Kael said. His voice was a low rumble that vibrated right through the concrete. “Lay another hand on him, and the supply trucks stop coming into your garage. Every illegal dollar you make in this prison disappears overnight.” Graves’ face turned bright red, but he didn't move a muscle. He was terrified. Kael controlled the entire prison black market, and if Kael shut it down, Graves was ruined. Graves backed away, his hands shaking as he pulled out his keys. He unlocked the nearest cell door and kicked my foot hard. “Get in! Lock him down! We’ll see how brave you are when the lights go out, Hart.” The heavy iron door screeched open, and Graves shoved me inside. I hit the floor hard, scraping my knees against the concrete. The door slammed shut behind me, the lock clicking into place with a sound like a gunshot. I pulled myself up against the small metal bunk, chest heavy, blood still dripping from my chin onto my jumpsuit. Through the narrow bars, Kael stood in the dim hallway. The guards didn't dare touch him as they led him down the hall. Before he turned the corner, Kael stopped. He turned his head and looked straight at me. His gray eyes burned into mine. It wasn't a gentle look. It was a claim. A silent warning that I was his now, whether I liked it or not. My heart hammered against my ribs—not just from the terror of the prison, but from the sudden, hot pull I felt toward him. He hadn't saved me because he was a good person. He had saved me because he wanted me for himself. Outside my tiny window, the main prison block began to wake up. Shouts, laughing, and heavy metal tin cups banging against bars filled the night. “Fresh meat!” someone screamed from a cell down the line. “We’re coming for you, pretty boy!” I sank onto the thin, dirty mattress and pressed my back against the cold wall. My whole body was shaking. I was trapped between a corrupt guard who wanted to destroy my life, a tier full of violent men waiting for the dark, and an inmate kingpin who had just claimed me as his property. I wiped the blood off my face with a trembling hand. Eight years. I didn't know if I would survive eight hours. But as the floor lights dimmed to a pale blue glow, I knew one thing for sure: the nightmare was just getting started.POV DeniHari ini akhirnya aku mendapatkan juga promosi naik jabatan dari seorang staf menjadi kepala divisi. Entah aku harus senang atau tidak, karena aku sendiri masih ragu-ragu apakah posisi ini nantinya akan dapat membuatku hidup lebih baik atau tidak. Tapi meskipun begitu, aku tetap berusaha memupuk harapan terbaik, semoga suatu saat keapesan dan kesialanku ini akan segera berakhir.Pagi tadi promosi jabatanku telah dilaksanakan dan hari ini kedudukanku telah resmi menjadi seorang atasan di divisi yang aku pimpin.Ahmad yang tadinya merupakan rekan sejawatku, sekarang telah menjadi bawahanku begitu pun Sinta, sekarang menjadi stafku. Meski demikian, di rumah aku tetaplah suami yang harus patuh atas semua kendalinya. Sebab, bagaimanapun juga ialah pemegang kunci kendali atas hidupku sebab adanya perjanjian sialan mengenai hutang mahar yang mencekik leher itu.Ah, andai aku tahu menikahi ponakan direktur ternyata membuat hidupku jadi sengsara begini, mungkin lebih baik aku menduda
POV Deni"Bu, ini uang buat ibu. Maaf Deni baru bisa kasih segini karena ... karena Deni harus bayar hutang ke Pak Anton dulu, Bu. Maafkan Deni ya, Bu tapi Deni janji Deni akan usahakan untuk menambah uang ke ibu nanti. Deni mau banyakin lembur biar bisa ngasih uang ke ibu lagi ya, Bu," ujarku sambil menyerahkan uang pemberian Sinta pada ibu yang menerima dengan mata tidak percaya.Dua ratus ribu pastilah jumlah yang sangat sedikit buat ibu karena biasanya jatah bulanan beliau adalah empat juta rupiah."Kok bisa-bisanya sih, Den kamu cuma dikasih segini sama Sinta? Apa ibu bilang, nggak usah dekati perempuan itu lagi. Tapi kamu ngeyel, begini kan jadinya!" Ibu menghela nafas panjang sambil memanyunkan bibirnya. Tatapan kecewa tampak jelas dalam rona matanya.Aku pun ikut menghembuskan nafas. Dadaku terasa sakit dan sesak. Sialan, Sinta, gara-gara rayuannya untuk menggelar pesta mewah dan uang mahar yang tidak sedikit, sekarang aku harus terjerat hutang pada Pak Anton. Benar-benar meny
POV Deni"Den, mana jatah bulanan buat ibu? Kamu udah gajian bulan ini kan? Hari ini kan tanggal satu?" tanya ibu saat aku menyempatkan pulang sore hari.Niatku pulang, ingin bertanya pada ibu, barangkali masih punya sedikit sisa uang untuk pegangan tangan karena amplop gaji sudah di tangan Sinta dan dikuasainya. Sementara ia belum memberiku uang untuk transportasi karena katanya belum sempat ketemu Om Anton dan membicarakan berapa nominal sisa gaji yang bisa diberikan padaku sebab aku harus mulai mencicil hutang pada Om-nya itu."Nanti ya, Bu. Uang gajiku masih dipegang Sinta, soalnya Deni kan harus membayar hutang mahar kemarin. Ini aja Deni malah mau pinjam uang dari ibu buat dipake menjelang Sinta ngasih uang ke Deni. Ibu masih ada tabungan nggak?" tanyaku dengan suara tak enak. Tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur basah. Pernikahan dengan Sinta sudah terlanjur terjadi. Tak mungkin dibatalkan hanya karena hal ini. Lagi pula aku sudah terlanjur teken perjanjian pinjam uang pad
POV DeniHari ini pernikahanku dengan Sinta akhirnya digelar. Gedung pernikahan yang disewa Pak Anton terlihat meriah meski tak semewah seperti yang ada dalam pikiranku. Ya, barangkali saja Pak Anton menurunkan budget pesta pernikahan kami ini. Selain karena efek pandemi Corona masih melanda tanah air sehingga orang-orang belum begitu nyaman mendatangi keramaian. Mungkin hal itu juga bertujuan supaya hutangku tak terlalu banyak dan membengkak. Baguslah, jadi aku tak perlu terjerat terlalu lama dalam kubangan hutang pada bos perusahaan itu.Sebenarnya aku sendiri menginginkan pernikahan kecil-kecilan saja. Selain demi menghemat biaya, tujuan pernikahanku dengan Sinta memang bukan semata-mata untuk menjadikannya istri atau membuatnya merasa senang dan tersanjung sebagai istriku, tetapi karena aku sendiri juga menginginkan kehidupan yang lebih baik bila menjadi suaminya.Itu sebabnya aku tak terlalu antusias saat keluarga besar Sinta menginginkan sebuah hajatan besar sementara aku just
Kusembunyikan Kekayaanku Dari Suami dan Mertua Zalim (8)Ditanya begitu, Azmi salah tingkah. Ia tak biasa berbohong pada ibunya tetapi untuk jujur berkata iya, ia juga ragu."Maaf, Bu ... aku ...." Azmi tergagap. Ia takut ibunya bakal marah jika ia berkata jujur, itu sebabnya ia tak
Kusembunyikan Kekayaanku Dari Suami dan Mertua Zalim (7)"Apa! Main perempuan? Jadi kamu menuduh aku sudah main perempuan? Lancang benar kamu! Tahu dari mana aku main perempuan! Hati-hati kamu bicara!" Azmi tampak kesal mendengar tuduhan Mia. Lelaki itu mengibaskan tangan lalu melempar jak
Kusembunyikan Kekayaanku Dari Suami dan Mertua Zalim (6)Azmi pulang saat jarum jam sudah menunjukkan angka dua belas malam. Penampilan lelaki itu tampak kusut dengan rambut dan kemeja yang berantakan.Bukan kebiasaan baru sebenarnya bagi lelaki itu pulang malam sepert
Kusembunyikan Kekayaanku Dari Suami dan Mertua Zalim (5)Mia masuk ke dalam kamar, mengunci pintu lalu melepaskan jaket tebal yang membungkus tubuhnya.Dikeluarkannya makanan kering yang barusan ia beli tadi lalu menyimpannya ke dalam tas pakaian berukuran besar di atas lemari.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعاتأكثر