LOGINSambungan video diputus sepihak. Layar laptop Bianca langsung berubah hitam, menyisakan pantulan wajahnya sendiri yang sudah pucat pasi mirip mayat.
Jadi… pria itu mendengarnya selama ini?! Malam itu benar-benar menjadi malam paling sial dalam hidup Bianca. Efek obat flu sialan itu mendadak hilang sepenuhnya tepat setelah layar laptop menggelap, menyisakan dirinya yang membeku di atas kursi kerja. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke bumi, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ekstrem dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Tidur? Jelas tidak bisa. Bianca langsung menjerit frustrasi, melempar tubuhnya ke kasur dan bergulingan kesana kemari hingga seprainya berantakan tidak karuan. Setiap detik, kalimat 'disuruh lembur di ranjang juga aku ayo aja' langsung menggema di telinga. Detik itu juga, selimut yang membungkus tubuhnya mendadak terasa panas membakar, seolah ikut menertawakan kebodohannya. "Mati aja deh gue, mati aja! Malu banget, Ya Tuhan!" pekiknya, menenggelamkan wajah ke bantal agar suaranya yang parau tidak menggedor dinding kamar sebelah. Bagaimana bisa dia sekonyol itu? Membicarakan ukuran ibu jari bos besar, membandingkannya dengan mantan pacar, bahkan menantang siap di ranjang. Semua itu diucapkan tanpa logika. Bianca bangkit, duduk bersila di tengah kasur dengan rambut yang sudah acak-acakan. Pikirannya mulai melantur ke mana-mana. Opsi pertama jelas mengundurkan diri besok pagi, tapi apakah surat resign saja cukup untuk menghapus dosa itu? Rasanya tidak. Damian itu tipe pria pendendam yang bisa saja mem-blacklist namanya dari seluruh industri perhiasan tanah air. "Apa…. gue harus ganti identitas?" gumamnya dengan tatapan kosong tertuju pada dinding kamar yang remang. Ide gila itu mendadak terdengar sangat rasional bagi otaknya yang sedang stres berat. Ia bisa pindah ke luar kota, mengganti namanya menjadi Sri atau Indah, lalu bekerja sebagai kasir toko kelontong yang jauh dari gemerlapnya ibu kota. Dengan begitu, dia tidak perlu lagi bertemu dengan bosnya itu. "Nggak, nggak," Bianca meracau sendiri, menjambak rambutnya frustrasi. Logikanya benar-benar sudah mati total. Rasa malu yang teramat sangat berhasil mengalahkan akal sehatnya dalam hitungan jam. Ia bahkan mulai membuka aplikasi mobile banking, menghitung sisa saldo di rekeningnya dengan teliti. Cukup atau tidak uangnya untuk membeli tiket pelarian instan malam ini juga tanpa perlu pamit pada siapa pun. Namun, di tengah kepanikan yang nyaris membuat jiwanya melayang, ponsel di atas nakas mendadak bergetar hebat. Bianca tersentak, matanya melotot menatap benda pipih itu seolah-olah baru saja melihat bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan sisa hidupnya. Dengan tangan gemetar dan telapak yang dingin oleh keringat, ia merangkak pelan mendekati nakas. Layar ponselnya menyala terang, menampilkan sederet nomor tidak dikenal yang tidak tersimpan di kontak. Jantung Bianca langsung merosot sampai ke dengkul. Nafasnya mendadak tertahan di tenggorokan, membuat hidungnya yang mampet makin terasa menyiksa. Bianca menelan ludah yang terasa sesat dan kering. Dengan jari yang luar biasa kaku, dia menggeser ikon hijau ke atas, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa berani mengeluarkan suara sepatah pun. Ia bahkan menahan napasnya sendiri agar tidak menimbulkan bunyi yang aneh. Hening beberapa detik. Hanya ada suara desah napas berat dari seberang sambungan yang sanggup membuat seluruh bulu kuduk Bianca meremang seketika. Suasana kamarnya mendadak mencekam. “Bianca, saya tunggu jam delapan besok.” Sambungan diputus sepihak bahkan sebelum Bianca sempat mengumpulkan jiwanya untuk menjawab sepatah kata. Ponsel di tangannya perlahan melorot, jatuh ke atas kasur empuk. Panggilan singkat dari Damian barusan menyatakan bahwa dia bersalah dan tidak bisa lari ke mana pun. Menghadap Damian besok dengan muka tebal jelas bukan pilihan yang masuk akal. "Gak bisa. Gue gak bisa nemuin dia lagi setelah semua omongan menjijikkan itu," isaknya, menghapus air mata dengan kasar. Harga dirinya yang tersisa menolak untuk diseret dalam interogasi memalukan besok pagi. Persetan dengan kontrak khusus sketsa 'Eternal Solace'. Persetan dengan karier impiannya di perusahaan perhiasan ternama ini. Satu-satunya jalan keluar untuk menyelamatkan mukanya adalah mundur sebelum didepak secara tidak hormat. Bianca bergeser mundur, turun dari kasur dengan kaki lemas. Ia meraih laptopnya yang masih setengah terbuka berada. Cahaya putih dari layar langsung menerangi wajahnya yang sembab. Jari-jarinya yang dingin mulai bergerak di atas keyboard, membuka dokumen kosong baru. SURAT PENGUNDURAN DIRI. ***"Akh! Aku lupa.. Masih ada satu lagi! D-Damian... Tolongin aku..." cicit Bianca lemas. Damian menundukkan kepalanya, mendaratkan satu kecupan yang sangat dalam dan hangat di dahi Bianca yang basah oleh keringat. "Satu lagi, Bianca sayang. Demi aku dan anak-anak kita, kamu kuat ya.. Aku mencintaimu.." pangkas Damian rendah, suaranya yang serak dan penuh kehangatan membakar kembali semangat Bianca. "Nngghhh... Akhhhhhhh...!" Bianca mengumpulkan seluruh energi terakhirnya, mengejan penuh semangat dalam dekapan Damian. Oeeekk! Oeeeekk! Oeeekkk! Suara tangisan bayi kedua tak kalah nyaring dan menggelegar kembali menggema memenuhi seluruh ruangan pada pukul 08.22. "Sempurna! Bayi kedua perempuan yang sangat cantik!" seru Dokter Edward penuh rasa haru. "Selamat Pak Damian, Nona Bianca! Anak Anda kembar sepasang! Laki-laki dan perempuan!
"Damian... Sakit banget... Akh! Rasanya mulas banget, Suamiku..." cicit Bianca lemas, peluh dingin membasahi dahi dan leher jenjangnya. Damian menyapu keringat di dahi Bianca menggunakan ibu jarinya, sementara tangan satunya dengan sigap menekan tombol telepon selulernya, menyambungkan panggilan ke Mama Valencia. [Mama,] pangkas Damian kaku saat sambungan terhubung. [Damian? Ada apa? Kenapa suara kamu tegang begitu?] tanya Mama mertuanya, Valencia dari balik telepon. [Ketuban Bianca pecah. Perutnya sakit. Kami menuju rumah sakit,] pangkas Damian singkat dan padat. [Apa?! Ketuban pecah?!] seru Mama Valencia histeris di seberang sana. [Damian, dengarkan mama! Itu artinya Bianca sudah pembukaan lanjut! Segera suruh sopir tancap gas! Mama dan Mama Vivienne langsung meluncur ke rumah sakit sekarang juga!] [Bsik,] pangkas Damian menutup telepon. Ia kembali memfo
"Damian..." panggil Bianca dengan nada manja. "Lihat deh, matahari udah tinggi banget. Hari H yang diprediksi Dokter Edward itu hari ini lho, sayang..." Damian perlahan membuka kedua matanya. Manik mata hitam yang biasanya tajam kini meredup tenang, menatap wajah cantik istrinya. "Hmm," sahut Damian pendek dengan suara serak. "Kok cuma 'hmm' sih?" cicit Bianca geli. "Ayo dong bangun! Hari ini kan jadwal kita nunggu gelombang cinta si kecil. Perut aku udah bener-bener bulat banget kayak semangka jumbo nih!" Tangan besar Damian yang hangat mengelus perut istrinya yang sudah sangat membesar, mengusap permukaan perut itu dengan gerakan melingkar yang sangat lembut. "Masih belum terasa sakit?" pangkas Damian kaku, menatap perut buncit Bianca. "Belum... Tapi kata Dokter Edward, kalau hari ini belum ada kontraksi, kita harus makin sering pancing pakai induksi alami," goda Bia
'Astaga! Bisa-bisanya dia masukin CD gue ke dalam saku jas dengan ekspresi sedatar itu?! Bener-bener suami gue ini, kalau urusan ranjang ekspresinya bikin spot jantung!' batin Bianca makin tidak karuan melihat kelakuan ajaib suaminya. Belum sempat Bianca menetralkan rasa terkejutnya, Damian sudah melonggarkan sabuk kulit mewahnya dan menurunkan resleting celana bahannya. Benda pusaka premiumnya telah menegang sempurna dan menahan gejolak hasrat selama dua bulan penuh itu seketika menyapa kehangatan paha dalam Bianca. "Sshhh... Damian… Sudah keras.. Hangat.." desah Bianca spontan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher hangat suaminya. "Pegang bahuku," pangkas Damian rendah. Tangan besar Damian merengkuh pinggang ramping Bianca, menopang berat tubuh istrinya agar berada pada kemiringan yang paling aman. Pria itu perlahan mengarahka
"I-iya-iya tahu dua bulan libur..." cicit Bianca mendadak gugup, merasakan dada bidang Damian yang berdebar kencang di dekatnya. "Tapi kan gak usah blak-blakan gitu juga, suamiku… Aku kan—" "Dokter sudah mengizinkan," pangkas Damian tegas, suaranya turun satu tingkat lebih dalam, bernada serak dan tampak lebih dominasi dengan aura posesif yang sangat menuntut. Jari tangan Damian menyusup di sela-sela rambut panjang Bianca, menengadahkan wajah cantik istrinya agar menatap lurus pada manik matanya yang kini meredup penuh gairah yang telah tertahan selama dua bulan penuh. "Damian... Kita masih di dalam mobil..." bisik Bianca sambil menelan ludahnya susah payah. Wajahnya yang tadi merona karena malu kini berubah menjadi tampak mupeng, otak liarnya beralih drastis saat merasakan perubahan aura panas dari tatapan suaminya. 'Duh... Tatapan suami Spek Dewa gue
'Astaga! Suami Gue! Bisa-bisanya tanya hal itu ke dokter Edward!' jerit Bianca histeris dalam hati, ia merasa ingin menghilang saat ini juga. Bianca yang tadinya sedang tersenyum sambil menyandarkan kepala di bahu Damian, seketika matanya membelalak lebar. Napasnya seakan terhenti di tenggorokan Wajah cantiknya pun berubah merah padam sampai ke ujung telinga hanya dalam hitungan detik. Darahnya berdesir hebat karena rasa malu yang luar biasa. 'Tumben banget dia ceplas ceplos kayak gini! Pasti karena ketularan gue nih! Bisa-bisanya dia nanya soal jatah ranjang di depan Dokter Edward dengan wajahnya sedatar itu dan suara selantang itu?! Dua bulan nahan nafsu ternyata dia beneran udah kelaparan sampe ke ubun-ubun!' oceh Bianca dengan pikiran liarnya yang sibuk perang batin. Dokter Edward sendiri sempat tertegun selama dua detik, menghentikan gerakan tangannya di atas keyboard, sebelum akhirnya senyumnya me
Bianca hanya bisa pasrah. Ia menyeret langkahnya keluar dari kamar dengan canggung, lalu duduk di kubikelnya sendiri sembari menyalakan tablet grafisnya dengan tangan yang masih gemetar kaku. Pikirannya benar-benar kosong, menyisakan kepanikan yang membuat napasnya putus-putus.Tadi… apa yang dire
Bianca terpaku sesaat, ia memberanikan diri menatap wajah Damian didepannya, pria yang kemarin menjadi sumber imajinasi liarnya. “Di bawah kungkungannya.. Bukan! Di bawah pengawasannya..’Bianca membeku. Berarti mulai hari ke depan… ia akan berurusan dengan pria di depannya?Dengan kejadian kema
Bianca berdiri di depan pintu ruangan Damian dengan gemetar. Jantungnya rasanya sudah merosot sampai ke dengkul, berdegup begitu kencang hingga dadanya terasa nyeri. Tangannya yang dingin dan basah oleh keringat gemetar hebat saat terangkat, ragu untuk sekadar mengetuk pintu kayu mahoni di depanny
"Kalau mau ajak tidur, minimal kayak gini!" Bianca mengomel sambil menunjuk-nunjuk layar laptopnya yang menampilkan visual sang bos. Kalimat sang mantan tadi masih terngiang di telinga Bianca, ingatannya memutar kembali saat pacarnya minta putus karena dirinya menolak untuk diajak tidur bersama.







