LOGINEloise Felicia Ilona tak pernah menyangka bahwa pria dingin yang menjadi majikannya adalah seseorang yang pernah dijanjikan untuknya. Altair Demian Xavier Evander, pewaris konglomerat yang tak mudah percaya kepada siapa pun, menganggap Eloise hanyalah perempuan asing yang membawa masalah ke dalam hidupnya. Namun, semakin mereka dekat, semakin sulit bagi Altair untuk mengabaikan perasaan yang tumbuh di antara mereka. Mereka tak tahu bahwa masa lalu telah mengikat nama mereka dalam sebuah pertunangan—sebelum kebohongan memisahkan kedua keluarga. Ketika kebenaran terungkap, akankah Altair memilih cinta atau membiarkan kebencian menghancurkan kesempatan kedua mereka? Sebab, bagaimana mungkin mencintai seseorang yang seharusnya menjadi milikmu, tetapi tak pernah benar-benar kamu kenal?
View MoreDi hadapan meja kayu mahoni, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun berdiri dengan punggung tegak. Rambut hitamnya tersisir rapi, sementara sepasang mata kelabunya menatap sang ayah dengan rasa ingin tahu yang bercampur ketidakpuasan.
Altair Demian Xavier Evander tidak menyukai perubahan mendadak. Terlebih ketika perubahan itu menyangkut sesuatu yang bahkan belum sempat ia pahami. "Apa maksud Ayah, pertemuanku dengan keluarga Ilona dibatalkan?" Damian tidak langsung menjawab. Ia merapikan beberapa lembar dokumen di atas meja, lalu memasukkannya kembali ke dalam sebuah map hitam. "Bukan hanya pertemuannya, Altair. Pertunangan itu juga dibatalkan." Altair terdiam. Selama bertahun-tahun, ia hanya mengenal Eloise Felicia Ilona melalui cerita ibunya, sebuah nama dalam undangan keluarga, dan janji bahwa suatu hari mereka akan bertemu. Ia tidak pernah melihat wajah gadis itu. Bahkan, ia tidak tahu seperti apa suaranya. Namun, sejak awal ia diberi tahu bahwa Eloise akan menjadi bagian dari masa depannya. "Kenapa?" tanyanya akhirnya. Damian mengangkat wajah. "Keluarga Ilona mengkhianati kepercayaan kita." "Mereka melakukan apa?" "Ini bukan urusan anak-anak." Jawaban itu membuat rahang Altair mengeras. Ia membenci kalimat tersebut. Orang dewasa selalu menggunakannya setiap kali menginginkan anak-anak menerima keputusan tanpa penjelasan. Di atas meja, ia sempat melihat nama perusahaan yang tercetak pada salah satu dokumen. Ada beberapa angka, tanda tangan, dan cap resmi. Ia belum memahami persoalan bisnis keluarga, tetapi ia cukup mengenali kemarahan di wajah ayahnya. "Kalau mereka bersalah, kenapa Eloise harus ikut dihukum?" tanyanya. Untuk sesaat, Damian tidak mengatakan apa-apa. "Suatu hari nanti kau akan mengerti bahwa kepercayaan tidak mudah diperbaiki." Altair menunduk menatap map hitam itu. "Tapi aku bahkan belum pernah bertemu dengannya." "Lupakan dia." Kalimat itu terdengar seperti perintah terakhir. Altair ingin membantah, tetapi ia tahu percuma. Ayahnya telah mengambil keputusan. Dan seperti banyak keputusan lain dalam keluarga Evander, tidak ada seorang pun yang berani mempertanyakannya terlalu lama. Di sisi lain kota, Eloise Felicia Ilona duduk di tepi ranjangnya dengan gaun tidur berwarna putih. Usianya baru delapan tahun. Di pangkuannya tergeletak sebuah kartu undangan yang sejak pagi ia pandangi dengan antusias. Ia telah memilih pita biru untuk rambutnya. Ia bahkan meminta ibunya mengajarinya cara menyapa orang dengan sopan agar tidak mempermalukan keluarganya saat bertemu dengan anak laki-laki bernama Altair. Namun, semua persiapan itu kini terasa sia-sia. "Mama bilang aku akan bertemu dengannya," ucap Eloise pelan. "Apa aku melakukan kesalahan?" Helena Marielle Ilona segera duduk di samping putrinya. "Tidak, Sayang. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun." "Lalu kenapa mereka tidak mau bertemu denganku?" Helena memeluk Eloise. Ia ingin memberikan jawaban yang mudah dipahami anak seusia itu, tetapi bagaimana menjelaskan pengkhianatan, dokumen palsu, dan tuduhan yang belum tentu benar kepada seseorang yang bahkan belum mengenal dunia? "Kadang-kadang, orang dewasa membuat keputusan berdasarkan hal-hal yang belum mereka pahami sepenuhnya," jawabnya lirih. Eloise mengangkat wajah. "Kalau begitu, mereka bisa mengubah keputusan itu nanti, kan?" Helena terdiam cukup lama sebelum mengangguk kecil. Ia tidak tega merampas harapan putrinya, meskipun dirinya sendiri tidak tahu apakah harapan itu masih memiliki tempat untuk bertahan. Malam itu, dua keluarga mengambil keputusan yang sama: menjauhkan anak-anak mereka dari satu sama lain. Mereka percaya sedang melindungi keluarga masing-masing. Mereka percaya dokumen dan bukti yang berada di tangan mereka tidak mungkin salah. Mereka tidak menyadari bahwa seseorang telah menyusun kebohongan dengan begitu rapi hingga kebenaran tampak seperti pengkhianatan. Di kediaman Evander, Altair akhirnya menyimpan kartu undangan itu ke dalam laci. Ia tidak merobeknya. Ia juga tidak membuangnya. Ia hanya menutup laci tersebut dan berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak lagi memikirkan gadis yang bahkan belum pernah ditemuinya. Sementara itu, Eloise meletakkan pita birunya di dalam kotak kecil, bersama kartu undangan yang tak lagi memiliki arti bagi siapa pun selain dirinya. Tak satu pun dari mereka tahu bahwa empat belas tahun kemudian, kehidupan akan mempertemukan mereka kembali dalam keadaan yang jauh berbeda. Altair akan tumbuh menjadi pria yang terbiasa mengendalikan segala sesuatu, termasuk perasaannya sendiri. Eloise akan tumbuh menjadi perempuan cerdas yang percaya bahwa ketulusan cukup untuk membuat orang lain mempercayainya-hingga dunia mengajarinya bahwa tidak semua orang datang dengan niat baik. Dan ketika mereka akhirnya berdiri di hadapan satu sama lain, mereka tidak akan mengenali nama yang pernah dijanjikan untuk menjadi bagian dari hidup mereka. Mereka akan saling mencurigai. Mereka akan saling melukai. Tanpa menyadari bahwa di balik semua kebencian itu, ada sebuah janji lama yang belum pernah benar-benar selesai. Sebab, sebelum cinta sempat tumbuh, seseorang telah lebih dahulu memastikan bahwa mereka tidak akan pernah bertemu.Harga Sebuah KepercayaanPagi itu, Eloise sedang duduk di dekat jendela kamarnya ketika ponselnya bergetar.Sebuah pesan dari Laras muncul di layar.**Laras:***Eloise, aku sudah mendapatkan kabar. Kamu bisa bertemu dengan pihak keluarga yang membutuhkan pekerja itu besok.*Eloise segera meraih ponselnya dengan penuh antusias.**Eloise:***Benarkah? Akhirnya! Di mana kita akan bertemu?*Ia menunggu balasan sambil sesekali melirik jam di dinding. Tidak lama kemudian, pesan baru masuk.**Laras:***Aku akan menjemputmu. Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan sebelum kamu bertemu mereka.*Eloise tersenyum lebar. Setelah beberapa hari menunggu, akhirnya ia mendapatkan kepastian.Ia membayangkan bahwa pertemuan tersebut akan menjadi langkah pertamanya menuju kehidupan yang selama ini diinginkannya. Ia ingin membuktikan kepada kedua orang tuanya bahwa dirinya mampu bertanggung ja
Langkah Menuju Kehidupan BaruPagi itu, Eloise terbangun lebih awal dari biasanya.Sinar matahari menyelinap melalui celah tirai kamarnya, menerangi ruangan yang tertata rapi. Namun, berbeda dari pagi-pagi sebelumnya, pikirannya sudah dipenuhi berbagai pertanyaan tentang kesempatan yang ditawarkan Laras.Ia meraih ponsel di atas nakas, berharap ada kabar baru dari sahabatnya.Benar saja, sebuah pesan telah masuk beberapa menit lalu.Laras:Eloise, aku sudah mendapatkan kabar. Orang yang kuceritakan kemarin bersedia bertemu denganmu. Bagaimana kalau kita bertemu siang ini?Eloise langsung bangkit dari tempat tidur.Ia membaca pesan tersebut dua kali sebelum mengetik balasan.Eloise:Benarkah? Tentu saja aku mau! Di mana kita akan bertemu?Balasan Laras datang tidak lama kemudian.Laras:Kita bertemu di kafe yang biasa kita datangi. Nanti aku akan menjelaskan semuanya d
Kepercayaan yang DisalahgunakanMalam mulai menyelimuti Aurelia ketika Eloise kembali ke kediaman keluarganya. Sepanjang perjalanan pulang, pikirannya masih dipenuhi percakapan bersama Laras di kafe tadi siang.Ia terus bertanya-tanya tentang kesempatan yang dimaksud sahabatnya. Laras memang belum menjelaskan secara terperinci, tetapi perkataannya berhasil menumbuhkan harapan baru di hati Eloise.Mungkin, untuk pertama kalinya, ia benar-benar bisa melakukan sesuatu atas keinginannya sendiri.Sesampainya di rumah, Eloise mendapati ibunya sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca sebuah majalah. Perempuan itu mengangkat wajah ketika mendengar langkah putrinya.“Sudah pulang, Sayang?”Eloise menghampiri ibunya dan mengecup pipinya sekilas.“Sudah, Ma.”“Bagaimana pertemuanmu dengan Laras? Menyenangkan?”“Menyenangkan sekali.” Eloise menjatuhkan tubuhnya ke sofa di samping ibunya. “Kami mengobrol banyak
Awal dari Sebuah KesalahanHari-hari setelah percakapannya dengan Laras berlalu seperti biasa. Eloise masih tinggal di rumah keluarganya, menjalani rutinitas yang selama ini terasa begitu mengekang. Meski telah menyelesaikan pendidikannya, ia tetap belum benar-benar mendapatkan kebebasan yang selama ini diinginkannya.Setiap kali hendak keluar rumah, dua pengawal yang ditugaskan ayahnya selalu bersiap mengikutinya. Bahkan, untuk sekadar pergi ke toko buku atau berjalan-jalan bersama Laras, Eloise harus menghadapi berbagai pertanyaan mengenai tujuan dan waktu kepulangannya.Bagi orang lain, kehidupan Eloise mungkin tampak sempurna. Ia memiliki keluarga terpandang, rumah yang nyaman, serta segala sesuatu yang dibutuhkan. Namun, bagi Eloise, semua kemudahan itu terkadang terasa seperti dinding tinggi yang membatasi langkahnya.Pagi itu, Eloise sedang duduk di tepi ranjang sambil menatap layar ponselnya. Ia membuka percakapan dengan Laras, membaca kem






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.