登入Tubuh Bianca menggeliat pelan merenggangkan ototnya yang terasa kaku, tiba-tiba merasakan kehangatan tangan di balik selimut tebal. Sedetik kemudian ia menyadari sebuah lengan kekar masih melingkar erat di pinggangnya.‘Eehh... Tangan ini, masih peluk gue?’Bianca menahan napasnya sesaat, menoleh dengan sangat hati-hati ke samping. Di sana, tepat di depan wajahnya, Damian masih terlelap dengan sangat pulas.‘Gila... Gue beneran gak mimpi kan ya? Sekarang gue resmi jadi kekasihnya Pak Bos premium? Dulu dia hanya ada di dalam imajinasi liar gue, sekarang malah tidur beneran di samping gue.Tangan kekarnya meluk gue erat banget kayak gini?’ gumam Bianca dalam hati, matanya tidak berkedip memperhatikan setiap inci wajah Damian yang tampak begitu sempurna dari jarak dekat.“Ganteng banget ya ampun..”Rasa penasaran membuat Bianca memberanikan diri mengeluarkan tangan mungilnya dari balik selimut. Dengan hati-hati, ia mengarahkan jemarinya menyentuh wajah Damian. Ujung jarinya bergerak l
Bianca langsung menelan ludahnya dengan susah payah mendengar kata malam panjang. Ia tahu Damian tidak main-main kalau menyangkut masalah ranjang. Otak liarnya yang penuh imajinasi mesum langsung memutar kembali memori tentang kekuatan stamina mesin diesel milik Damian yang mampu menggempurnya habis-habisan di atas sofa penthouse tanpa ampun hingga membuatnya lemas tak berdaya. ‘Aduh mampus gue... Kalau gue masih nekat banyak bacot dan meronta sekarang, pak bos hyper yang kayak singa kelaparan ini beneran bakal langsung mengupas piyama handuk gue dalam waktu satu detik! Apalagi saat ini gue lagi gak pakai dalaman sama sekali... Bisa abis gue dikuliti hidup-hidup sama dia di atas ranjang ini sampai pagi!’ batin Bianca pasrah, nyalinya yang tadi protes langsung menciut drastis dalam sekejap. Karena tidak ingin mengambil risiko berbahaya yang bisa membuat goa terlarangnya semakin bonyok karena tekanan otot tangan dan hentakan pusaka premium
“Eeuuhhh..” Bianca menengah keras kembali memutar tubuhnya, miring ke arah Damian. Piyama handuk gadis itu semakin terbuka mbuat mata Damian semakin menggelap. ‘Dalam tidurpun, dia berani menggoda ku..’ Tanpa sepatah kata pun Damian naik ke ranjang, merangkak pelan di atas kasur mendekat ke arah tubuh mungil Bianca yang masih terlelap. Damian memajukan tubuhnya, menyusup masuk ke dalam selimut tebal yang sama dengan Bianca. Perlahan tangan pria itu bergerak maju, melingkar di pinggang ramping Bianca, merapatkan tubuhnya ke tubuh mungil gadis itu yang terasa hangat dan harum. Dalam sekali gerakan lembut tubuh keduanya menempel erat tanpa jarak. Kepala Bianca kini berada tepat didepan dada bidangnya Damian. Sentuhan lengan kekar yang tiba-tiba mencengkeram erat pinggang Bianca seketika membuat gadis itu tersentak kecil dalam tidurnya. Kesadarannya yang tadi sempat terbang ke
“Besok pagi gue harus siapin rencana biar gak jadi sarapan pembuka setelah lolos jadi makanan penutup.. Huuaamm..” Dalam hitungan menit, Bianca langsung tertidur pulas, mendengkur halus dengan posisi meringkuk seperti seekor kelinci kecil yang merasa aman di dalam sarangnya. Sementara itu, di kamar utama penthouse Damian baru saja melangkah keluar dari kamar mandi pribadinya setelah membersihkan diri. Tubuh yang berotot atletis itu kini terbalut setelan piyama satin hitam dengan kancing bagian atasnya sengaja dibiarkan terbuka, memperlihatkan dada bidangnya. “Dimana dia? Belum kembali kesini?!” Damian mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling ranjang besarnya yang masih tampak kosong. Alisnya berkerut saat menyadari sosok desainer mesumnya yang menggemaskan itu tidak juga menampakkan batang hidungnya di kamar utama, padahal jam dinding sudah menunjukkan w
‘Setelah mandi, gue bisa tidur nyenyak sampai pagi..’ Bianca langsung melangkah menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar itu. Ia melepaskan seluruh pakaiannya yang sudah tampak berantakan dan kusut, lalu menyalakan shower. Kucuran air hangat yang mengguyur tubuh mungilnya seketika memberikan sensasi nyaman yang luar biasa, membuat otot-otot tubuhnya yang tegang perlahan mulai rileks. Selama hampir tiga puluh menit Bianca menghabiskan waktu di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri dan berendam ringan untuk mengurangi rasa nyeri di tubuh bagian bawahnya akibat hentakan keras Damian di dalam mobil tadi. Otak liarnya kembali kumat saat jemari tangannya tanpa sengaja menyentuh permukaan dahi sebelah kiri yang masih terasa sedikit hangat dan memar akibat benturan kusen pintu mobil. ‘Hhh... Mengingat kejadian di parkiran tadi beneran bikin otak gue gak sehat! Bisa-bisa gue beneran ketagihan sama ukuran premiumnya yang ove
Bianca melangkah keluar dari lift pribadi yang langsung terhubung dengan area penthouse milik Damian dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Gadis itu merasa tubuhnya benar-benar lelah dan tidak bertenaga sama sekali karena kejadian ekstrem yang menguras energi fisiknya sejak pagi hingga malam hari. ‘Gila, kaki gue rasanya beneran kayak mau lepas dari sendinya! Ini semua gara-gara pak Damian! Apa dia gak tahu kalau goa terlarang gue masih terasa nyut-nyutan dan basah karena sentuhannya?! Hhhh.. Gue benar-benar gak mau di ganggu malam ini, pengen tidur nyenyak sampai pagi tanpa lembur di ranjang!’ gumam Bianca dalam hati, bibirnya mengerucut dengan ekspresi wajah yang tampak kusut. Begitu kakinya menapak di lantai atas penthouse, mata Bianca langsung melirik ke arah lorong, tempat sebuah kamar tamu yang dulu pernah ia tempati saat disana. Otak cerdasnya langsung menyusun sebuah rencana pelarian darurat demi me
Bianca membelalakkan matanya spontan. "Hahh.. Duduk di... Di pangkuan Pak Damian?" tanyanya memastikan "Ya." "Di kantor? Siang bolong? Pintunya tidak dikunci!" oceh Bianca. "Sudah saya kunci tadi," jawab Damian santai. "Setelah Bu Citra keluar." Bianca mundur selangkah, nabrak kursinya lalu te
“Aahhh.. Damian..” Bianca memejamkan mata menikmati sentuhan itu. Damian tersenyum melihat wajah Bianca yang penuh gairah. “Kamu menyukainya, jari tanganku cukup untukmu?!” tanyanya tepat di telinga Bianca. “Sshh.. Damian, jangan tanya-tanya dulu.. Saya gak fokus..” gumam Bianca sambil merem mele
“Ah sial!” umpat Bianca.Ia tersandung saat menjauh dari pintu dan kepalanya terbentur kaki meja. Tangannya mengusap dahinya sambil meringis dan menahan napas sekuat tenaga. “Semoga wanita itu tidak berjalan kesini..” gumamnya penuh harap. Ia berdiri lalu melangkah ke samping ranjang, duduk di ba
"Diam apa?! Anda itu mau tunangan, Pak Damian! Kenapa masih menahan saya di sini? Anda mau selingkuh sama karyawan sendiri di saat mau tunangan? Saya bukan mainan!" Bianca berteriak. Air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa bodoh karena sudah terlalu jauh terbawa suasana. ‘Dasa







