Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak

Pak Bos Jadi Papa Tiga Anak

last updateLast Updated : 2026-06-12
By:  SingoRanuUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
6Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Sekertarisku yang menggemaskan itu ternyata masih perawan. Kok bisa? Dia kan punya tiga anak. lalu, anak siapa mereka?" Ranu baru saja patah hati karena wanita yang dia cintai ternyata adalah adik iparnya. Ia pergi ke kota yang jauh, untuk menutup lukanya. Namun, dia malah bertemu dengan sekertaris cantik yang menggemaskan.

View More

Chapter 1

bab 1 - Sekertaris Pani

"Papa!"

Seorang anak kecil berusia 4 tahun memeluk kakinya. Sampai Ranu terlonjak kaget, tapi tak sampai bersuara. Dia menatap bocah itu. Siapa bocah ini? Kenapa tiba-tiba memanggil papa?

"Aji!"

Ranu menoleh, seorang wanita berpakaian rapi berlari mendekat dan menarik anak itu.

"Maaf, Pak."

"Dia anakmu?"

"Maaf, dia tak ada yang menjaga. Saya tidak tega meninggalkannya sendiri di rumah. Saya minta maaf... Saya akan lebih mengawasinya..." kata wanita itu penuh penyesalan.

Ranu hanya menatap, dan berlalu begitu saja,meninggalkan kegelisahan di dada wanita itu. Tapi, meski wajahnya terlihat biasa saja, sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas.

Di ruang aula pertemuan Ranu berdiri di depan. Dia memperkenalkan diri.

"Nama saya Ranu Dhaniswara. mohon kerja samanya."

"Selamat datang, Pak Ranu."

Ranu hanya mengangguk singkat. Wajahnya datar, tatapannya tajam namun dingin. Ia berjalan melewati barisan orang-orang itu tanpa banyak bicara. Bisik-bisik halus mulai terdengar di antara deretan, terutama dari mulut para karyawan wanita.

"Wah, ganteng banget sih direktur baru..."

"Iya, tapi keren banget gayanya. Kalem tapi berwibawa."

"Sayang sih mukanya kaku banget, kayak orang lagi marah terus."

"Justru itu yang bikin keren, dingin gitu lho."

Ranu pura-pura tidak mendengar. Ia fokus melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai paling atas, ruang kerjanya yang baru. Di sampingnya, berjalan seorang pria paruh baya yang ditunjuk ayahnya, Pak Deni, sebagai asisten sementara untuk membantunya beradaptasi.

"Ruangan Pak Ranu sudah siap semua. Semuanya sesuai instruksi dari pusat," jelas asisten itu dengan hormat.

Ranu kembali mengangguk. "Baik."

Pintu lift terbuka di lantai eksekutif. Begitu melangkah keluar, matanya langsung tertuju pada sebuah meja kerja tepat di depan pintu ruangannya. Di sana, berdiri sosok wanita yang tadi sempat membuatnya terhenti sesaat di lobi. Wanita itu menunduk dalam, kedua tangan saling bertaut di depan perut, tampak sangat gugup.

Ranu sedikit menoleh ke asistennya, tanpa kata.

"Itu Bu Pani, Pak. Sekretaris pribadi Bapak mulai hari ini. Sudah lama bekerja di sini dan sangat paham seluk beluk kantor cabang Palem," jawab asisten itu cepat.

Ranu mengerutkan kening tipis. Pikirannya melayang sejenak. wanita ini yang tadi membawa anak kecil masuk dan mengganggu kedatangan pimpinan baru. Namun, ia tak menegur, Ranu percaya, nanti lama-lama juga akan tahu alasannya.

"Masuk," perintah Ranu singkat sambil mendorong pintu ruangan besar itu.

Sepanjang hari, Pani bekerja dengan sangat teliti. Ia menjelaskan segala hal mulai dari struktur organisasi, daftar rekan bisnis, hingga vendor-vendor yang bekerja sama dengan perusahaan. Suaranya lembut namun tegas, matanya tak berani menatap lurus ke wajah Ranu, hanya sesekali melirik saat menjelaskan data di layar monitor.

Ranu menyimak dengan baik. Meski ia anak pemilik perusahaan, ia bukan tipe pemimpin yang mau hanya duduk manis. Ia ingin tahu segalanya. Dan Pani, wanita itu sangat membantu menjelaskan hal-hal teknis yang sedikit berbeda dengan apa yang biasa Ranu pelajari soal pengembangan bisnis.

Waktu menunjukkan pukul satu siang.

"Sudah jam makan siang, Pak. Bapak mau makan di kantin atau dipesankan?" tanya Pani pelan.

"Tidak perlu. Aku makan di sini saja, pesankan apa saja," jawab Ranu tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer.

Pani mengangguk lalu keluar sebentar. Tak lama kemudian, Ranu melihat dari balik kaca partisi ruangannya, Pani duduk di sudut ruangan bersama bocah kecil itu, Aji. Ranu mengamati dari kejauhan. Tadi saat bekerja, Aji hilang entah ke mana, ternyata anak itu diam di ruang tunggu kecil.

Sekarang, Pani sedang berusaha menyuapi anaknya. Wajah wanita itu tampak sedikit kesal, bibirnya manyun, tapi matanya tetap penuh kasih sayang.

"Aji sayang, makan sayurnya dong. Nanti kalau nggak makan sayur, badannya lemes, nggak bisa lari-lari," bujuk Pani lembut namun ada nada mendesak di sana.

"Nggak mau! Aji mau ayam saja!" rengek Aji sambil memalingkan wajah.

"Ih, Aji. Mama kan sudah bilang, harus seimbang. Kalau Aji nurut, nanti sore kita beli es krim," tawar Pani.

Ranu yang melihat interaksi itu dari jauh, tanpa sadar sudut bibirnya terangkat sedikit. Ada kehangatan aneh yang menyelinap di dadanya yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Pemandangan itu sederhana, namun terasa sangat hidup. Berbeda dengan suasana dingin yang biasa ia rasakan.

Sore harinya, pekerjaan selesai. Ranu pulang dengan mobil yang sama. Sesampainya di rumah, Mama Anggun sudah menyambut dengan senyum hangat.

"Gimana hari pertama, Nu? Lancar?" tanya Mama sambil mengambil jas yang dilepas Ranu.

"Lancar, Ma. Banyak yang harus dipelajari," jawab Ranu sambil berjalan ke ruang tengah.

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian santai, Ranu duduk di sofa. Ia mulai melakukan sedikit gerakan peregangan. Kakinya sudah jauh lebih baik setelah terapi intensif selama berbulan-bulan. Ia ingin membiasakan tubuhnya agar tidak kaku, ingin bisa berjalan normal bahkan berlari seperti dulu lagi.

"Hari ini enggak ada jadwal terapi," ingat Mama Anggun lembut."Kata dokter dan terapis, kamu udah cukup kok. Tinggal dilatih dikit-dikit."

"Iya, Ma. Aku cuma mau latihan biar cepat pulih total. Aku mau bisa mandiri lagi," ujar Ranu tegas.

Mama Anggun hanya mengangguk dan tersenyum bangga. Ia tahu betul perjuangan anak muda ini untuk bangkit dari keterpurukan.

****

Keesokan harinya, suasana di kantor terasa sedikit berbeda.

Ranu datang tepat waktu. Saat melewati meja depan, ia melihat Pani sudah duduk rajin mengetik. Namun, tak ada sosok kecil yang biasanya memeluk kakinya atau berlarian kecil. Ranu berhenti sejenak.

"Mana anakmu?" tanyanya tiba-tiba.

Pani terkejut sedikit, lalu menjawab cepat, "Aji dititipkan sama neneknya di rumah, Pak. Jadi hari ini saya bisa kerja maksimal tanpa gangguan."

Ranu mengangguk paham. Ia berjalan masuk ke ruangannya, tapi pikirannya menerawang entah ke mana. Nama itu. Pani. Ada sesuatu yang menggelitik di kepalanya. Ranu... Pani... Jika digabungkan bunyinya mirip sekali dengan nama sebuah wilayah di kaki gunung Semeru yang pernah ia kunjungi dulu. Ranupani. Indah.

"Pani," panggil Ranu saat wanita itu masuk membawakan berkas.

"Iya, Pak?"

"Nama panjangmu siapa? Cuma Pani?"

Pani tampak gugup. Ia merapikan lembaran kertas di tangannya, menghindari tatapan Ranu. "Panggilan saja sudah cukup, Pak. Lebih akrab."

"Aku cuma tanya nama panjang, bukan minta nomor teleponmu," sahut Ranu dingin membuat Pani semakin salah tingkah.

"Ehm... itu... ada rapat jam sepuluh dengan manajer pemasaran, Pak. Ini materinya sudah siap," kata Pani mengalihkan topik dengan cepat sambil meletakkan dokumen di meja.

Ranu mendengus pelan. Dihindari. Ya sudahlah, pikirnya. Mungkin wanita itu pemalu.

"Siapkan ruang meeting," perintah Ranu akhirnya.

Ruang meeting cukup luas dan saat ini masih sepi. Ranu duduk di posisi ujung meja, membolak-balik daftar hadir dan profil karyawan yang akan rapat. Matanya menyapu baris demi baris nama. Tiba-tiba ia berhenti di satu nama.

Paniyem.

Alis Ranu terangkat tinggi. Ia menoleh ke arah sekretarisnya yang berdiri di samping proyektor.

"Paniyem?" ucap Ranu pelan namun jelas terdengar di ruangan itu.

Pani menegang.

"Siapa Paniyem?" tanya Ranu lagi, matanya menyapu seluruh orang di ruangan itu.

Seketika, semua kepala menoleh serentak menatap ke arah Pani yang kini wajahnya memerah padam karena malu. Suasana menjadi hening total. Pani menunduk semakin dalam, seolah ingin menghilang ditelan lantai karpet.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
6 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status