Mag-log in"Sekertarisku yang menggemaskan itu ternyata masih perawan. Kok bisa? Dia kan punya tiga anak. lalu, anak siapa mereka?" Ranu baru saja patah hati karena wanita yang dia cintai ternyata adalah adik iparnya. Ia pergi ke kota yang jauh, untuk menutup lukanya. Namun, dia malah bertemu dengan sekertaris cantik yang menggemaskan.
view morePani masih menggenggam tangan Ranu ketika mereka berjalan menuju kamar.Langkahnya terasa sedikit kaku.Bukan karena takut.Hanya saja, semuanya terasa begitu baru.Rumah baru.Status baru.Dan sekarang, ia harus berbagi kamar dengan laki-laki yang beberapa waktu lalu masih ia panggil atasannya.Begitu pintu kamar terbuka, Pani berhenti di ambang pintu.Kamar itu luas dan nyaman. Tempat tidur besar berada di tengah ruangan dengan seprai putih bersih. Di sampingnya terdapat dua nakas, sofa kecil, lemari pakaian besar, serta jendela lebar yang menghadap ke taman belakang.Pani menelan ludah."Pak..."Ranu yang sedang meletakkan koper langsung berhenti.Ia menoleh perlahan."Pak?"Pani berkedip."Iya."Ranu berjalan mendekat."Siapa yang kamu panggil?"Pani menunjuk Ranu."Pak Ranu."Ranu menghela napas, lalu tersenyum geli."Sepertinya kamu lupa sesuatu.""Apa?""Kita sudah menikah."Wajah Pani langsung memerah."Aku tahu.""Kalau tahu, kenapa masih panggil Pak?"Pani menunduk."Sudah t
Mobil yang membawa mereka akhirnya memasuki kawasan perumahan elite. Desi yang duduk di samping jendela langsung menempelkan telapak tangannya ke kaca. "Waaah..." Matanya membulat melihat deretan rumah-rumah besar yang berdiri megah di kanan dan kiri jalan. "Bibi... rumahnya bagus-bagus." Pani tersenyum kecil, meski dadanya sendiri dipenuhi rasa gugup. "Iya." Aji ikut menjulurkan leher. "Pohonnya banyak." "Jalannya juga bersih." Sasa yang sejak tadi diam hanya memandangi pemandangan di luar. Sesekali ia melirik Ranu yang sedang menyetir. Sampai sekarang pun ia masih sulit percaya. Laki-laki yang dulu hanya dikenal sebagai atasan kakaknya... Sekarang sudah menjadi suami kakaknya. Sekaligus kepala keluarga mereka. Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah
Beberapa minggu kemudian... Ruang sidang itu dipenuhi suasana tegang. Pani duduk berdampingan dengan Ranu. Jemarinya sejak tadi saling menggenggam erat di atas pangkuan. Meski berusaha terlihat tenang, napasnya masih terasa berat. Ranu menoleh pelan. "Gugup?" Pani tersenyum tipis. "Sedikit." "Percaya sama prosesnya." Pani mengangguk. "Aku percaya." Di seberang mereka, keluarga Farhan duduk dengan wajah tegang. Ayah dan ibu mendiang suami kakak Pani beberapa kali berbisik dengan kuasa hukumnya. Tak lama kemudian, majelis hakim memasuki ruang sidang. "Sidang dibuka." Semua orang berdiri sebelum akhirnya kembali duduk. Hakim ketua membuka berkas yang cukup tebal. "Setelah memeriksa seluruh alat bukti, mendengar keterangan para saksi, serta mempertimbangkan kepentin
Beberapa jam setelah akad selesai, suasana haru di rumah Pani belum benar-benar reda. Buku nikah itu masih berada di atas meja, sementara ucapan selamat dari tetangga yang berdatangan silih berganti baru saja usai. Namun, bagi Ranu dan Pani, hari itu belum selesai. Masih ada dua anak yang harus mereka bawa pulang. Ranu menatap jam tangannya. "Hampir jam sebelas." Pani yang masih mengenakan kebaya sederhana langsung mengangkat kepala. "Kita berangkat sekarang?" "Iya." Anggun yang sedang membereskan kotak hantaran langsung menoleh. "Baru juga selesai akad, Ran." "Justru karena sudah selesai." Ranu mengambil map hitam yang sejak tadi dibawanya. "Sekarang status kami sudah jelas." Deni mengangguk pelan. "Papa ikut." "Aku juga," sahut Anggun cepat. Ran
Pagi masih begitu dingin ketika Ranu sudah berdiri di ruang tengah. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Gerakan peregangan dilakukan pelan, hati-hati, seolah setiap langkahnya dihitung dengan sadar. Kakinya sudah jauh lebih baik, tapi dia tetap tidak ingin gegabah.Pintu kamar terbuka perlah
"Papa!"Seorang anak kecil berusia 4 tahun memeluk kakinya. Sampai Ranu terlonjak kaget, tapi tak sampai bersuara. Dia menatap bocah itu. Siapa bocah ini? Kenapa tiba-tiba memanggil papa?"Aji!"Ranu menoleh, seorang wanita berpakaian rapi berlari mendekat dan menarik anak itu."Maaf, Pak.""Dia an
Pani masih menatap tangan Ranu yang terulur beberapa detik lebih lama dari seharusnya. “Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?” Nada suaranya setengah protes, setengah tidak percaya. Ada sedikit kesal, tapi juga tidak benar-benar marah. Ranu menarik tangannya pelan. Wajahnya tetap datar. “Itu
“Pak... saya mohon... jangan pulangkan saya...” Suara Pani gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menggenggam ujung tas seperti mencari pegangan. Ranu tetap menatap lurus ke depan. Seolah tidak terpengaruh oleh bujukan sekertaris nya. Pani langsung menoleh cepat. “Pak, aku benar-benar bi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.