Mag-log in"Sekertarisku yang menggemaskan itu ternyata masih perawan. Kok bisa? Dia kan punya tiga anak. lalu, anak siapa mereka?" Ranu baru saja patah hati karena wanita yang dia cintai ternyata adalah adik iparnya. Ia pergi ke kota yang jauh, untuk menutup lukanya. Namun, dia malah bertemu dengan sekertaris cantik yang menggemaskan.
view more"Papa!"
Seorang anak kecil berusia 4 tahun memeluk kakinya. Sampai Ranu terlonjak kaget, tapi tak sampai bersuara. Dia menatap bocah itu. Siapa bocah ini? Kenapa tiba-tiba memanggil papa? "Aji!" Ranu menoleh, seorang wanita berpakaian rapi berlari mendekat dan menarik anak itu. "Maaf, Pak." "Dia anakmu?" "Maaf, dia tak ada yang menjaga. Saya tidak tega meninggalkannya sendiri di rumah. Saya minta maaf... Saya akan lebih mengawasinya..." kata wanita itu penuh penyesalan. Ranu hanya menatap, dan berlalu begitu saja,meninggalkan kegelisahan di dada wanita itu. Tapi, meski wajahnya terlihat biasa saja, sudut bibirnya sedikit terangkat ke atas. Di ruang aula pertemuan Ranu berdiri di depan. Dia memperkenalkan diri. "Nama saya Ranu Dhaniswara. mohon kerja samanya." "Selamat datang, Pak Ranu." Ranu hanya mengangguk singkat. Wajahnya datar, tatapannya tajam namun dingin. Ia berjalan melewati barisan orang-orang itu tanpa banyak bicara. Bisik-bisik halus mulai terdengar di antara deretan, terutama dari mulut para karyawan wanita. "Wah, ganteng banget sih direktur baru..." "Iya, tapi keren banget gayanya. Kalem tapi berwibawa." "Sayang sih mukanya kaku banget, kayak orang lagi marah terus." "Justru itu yang bikin keren, dingin gitu lho." Ranu pura-pura tidak mendengar. Ia fokus melangkah menuju lift yang akan membawanya ke lantai paling atas, ruang kerjanya yang baru. Di sampingnya, berjalan seorang pria paruh baya yang ditunjuk ayahnya, Pak Deni, sebagai asisten sementara untuk membantunya beradaptasi. "Ruangan Pak Ranu sudah siap semua. Semuanya sesuai instruksi dari pusat," jelas asisten itu dengan hormat. Ranu kembali mengangguk. "Baik." Pintu lift terbuka di lantai eksekutif. Begitu melangkah keluar, matanya langsung tertuju pada sebuah meja kerja tepat di depan pintu ruangannya. Di sana, berdiri sosok wanita yang tadi sempat membuatnya terhenti sesaat di lobi. Wanita itu menunduk dalam, kedua tangan saling bertaut di depan perut, tampak sangat gugup. Ranu sedikit menoleh ke asistennya, tanpa kata. "Itu Bu Pani, Pak. Sekretaris pribadi Bapak mulai hari ini. Sudah lama bekerja di sini dan sangat paham seluk beluk kantor cabang Palem," jawab asisten itu cepat. Ranu mengerutkan kening tipis. Pikirannya melayang sejenak. wanita ini yang tadi membawa anak kecil masuk dan mengganggu kedatangan pimpinan baru. Namun, ia tak menegur, Ranu percaya, nanti lama-lama juga akan tahu alasannya. "Masuk," perintah Ranu singkat sambil mendorong pintu ruangan besar itu. Sepanjang hari, Pani bekerja dengan sangat teliti. Ia menjelaskan segala hal mulai dari struktur organisasi, daftar rekan bisnis, hingga vendor-vendor yang bekerja sama dengan perusahaan. Suaranya lembut namun tegas, matanya tak berani menatap lurus ke wajah Ranu, hanya sesekali melirik saat menjelaskan data di layar monitor. Ranu menyimak dengan baik. Meski ia anak pemilik perusahaan, ia bukan tipe pemimpin yang mau hanya duduk manis. Ia ingin tahu segalanya. Dan Pani, wanita itu sangat membantu menjelaskan hal-hal teknis yang sedikit berbeda dengan apa yang biasa Ranu pelajari soal pengembangan bisnis. Waktu menunjukkan pukul satu siang. "Sudah jam makan siang, Pak. Bapak mau makan di kantin atau dipesankan?" tanya Pani pelan. "Tidak perlu. Aku makan di sini saja, pesankan apa saja," jawab Ranu tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer. Pani mengangguk lalu keluar sebentar. Tak lama kemudian, Ranu melihat dari balik kaca partisi ruangannya, Pani duduk di sudut ruangan bersama bocah kecil itu, Aji. Ranu mengamati dari kejauhan. Tadi saat bekerja, Aji hilang entah ke mana, ternyata anak itu diam di ruang tunggu kecil. Sekarang, Pani sedang berusaha menyuapi anaknya. Wajah wanita itu tampak sedikit kesal, bibirnya manyun, tapi matanya tetap penuh kasih sayang. "Aji sayang, makan sayurnya dong. Nanti kalau nggak makan sayur, badannya lemes, nggak bisa lari-lari," bujuk Pani lembut namun ada nada mendesak di sana. "Nggak mau! Aji mau ayam saja!" rengek Aji sambil memalingkan wajah. "Ih, Aji. Mama kan sudah bilang, harus seimbang. Kalau Aji nurut, nanti sore kita beli es krim," tawar Pani. Ranu yang melihat interaksi itu dari jauh, tanpa sadar sudut bibirnya terangkat sedikit. Ada kehangatan aneh yang menyelinap di dadanya yang selama ini ia kunci rapat-rapat. Pemandangan itu sederhana, namun terasa sangat hidup. Berbeda dengan suasana dingin yang biasa ia rasakan. Sore harinya, pekerjaan selesai. Ranu pulang dengan mobil yang sama. Sesampainya di rumah, Mama Anggun sudah menyambut dengan senyum hangat. "Gimana hari pertama, Nu? Lancar?" tanya Mama sambil mengambil jas yang dilepas Ranu. "Lancar, Ma. Banyak yang harus dipelajari," jawab Ranu sambil berjalan ke ruang tengah. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian santai, Ranu duduk di sofa. Ia mulai melakukan sedikit gerakan peregangan. Kakinya sudah jauh lebih baik setelah terapi intensif selama berbulan-bulan. Ia ingin membiasakan tubuhnya agar tidak kaku, ingin bisa berjalan normal bahkan berlari seperti dulu lagi. "Hari ini enggak ada jadwal terapi," ingat Mama Anggun lembut."Kata dokter dan terapis, kamu udah cukup kok. Tinggal dilatih dikit-dikit." "Iya, Ma. Aku cuma mau latihan biar cepat pulih total. Aku mau bisa mandiri lagi," ujar Ranu tegas. Mama Anggun hanya mengangguk dan tersenyum bangga. Ia tahu betul perjuangan anak muda ini untuk bangkit dari keterpurukan. **** Keesokan harinya, suasana di kantor terasa sedikit berbeda. Ranu datang tepat waktu. Saat melewati meja depan, ia melihat Pani sudah duduk rajin mengetik. Namun, tak ada sosok kecil yang biasanya memeluk kakinya atau berlarian kecil. Ranu berhenti sejenak. "Mana anakmu?" tanyanya tiba-tiba. Pani terkejut sedikit, lalu menjawab cepat, "Aji dititipkan sama neneknya di rumah, Pak. Jadi hari ini saya bisa kerja maksimal tanpa gangguan." Ranu mengangguk paham. Ia berjalan masuk ke ruangannya, tapi pikirannya menerawang entah ke mana. Nama itu. Pani. Ada sesuatu yang menggelitik di kepalanya. Ranu... Pani... Jika digabungkan bunyinya mirip sekali dengan nama sebuah wilayah di kaki gunung Semeru yang pernah ia kunjungi dulu. Ranupani. Indah. "Pani," panggil Ranu saat wanita itu masuk membawakan berkas. "Iya, Pak?" "Nama panjangmu siapa? Cuma Pani?" Pani tampak gugup. Ia merapikan lembaran kertas di tangannya, menghindari tatapan Ranu. "Panggilan saja sudah cukup, Pak. Lebih akrab." "Aku cuma tanya nama panjang, bukan minta nomor teleponmu," sahut Ranu dingin membuat Pani semakin salah tingkah. "Ehm... itu... ada rapat jam sepuluh dengan manajer pemasaran, Pak. Ini materinya sudah siap," kata Pani mengalihkan topik dengan cepat sambil meletakkan dokumen di meja. Ranu mendengus pelan. Dihindari. Ya sudahlah, pikirnya. Mungkin wanita itu pemalu. "Siapkan ruang meeting," perintah Ranu akhirnya. Ruang meeting cukup luas dan saat ini masih sepi. Ranu duduk di posisi ujung meja, membolak-balik daftar hadir dan profil karyawan yang akan rapat. Matanya menyapu baris demi baris nama. Tiba-tiba ia berhenti di satu nama. Paniyem. Alis Ranu terangkat tinggi. Ia menoleh ke arah sekretarisnya yang berdiri di samping proyektor. "Paniyem?" ucap Ranu pelan namun jelas terdengar di ruangan itu. Pani menegang. "Siapa Paniyem?" tanya Ranu lagi, matanya menyapu seluruh orang di ruangan itu. Seketika, semua kepala menoleh serentak menatap ke arah Pani yang kini wajahnya memerah padam karena malu. Suasana menjadi hening total. Pani menunduk semakin dalam, seolah ingin menghilang ditelan lantai karpet.Pagi itu Ranu sudah bangun sejak langit masih gelap. Pria itu duduk di ruang kerjanya sambil memandangi layar laptop dengan wajah serius. Kopi hitam di sampingnya bahkan sudah dingin karena tak disentuh lagi. Satu per satu panggilan telepon ia lakukan. Mulai dari kenalan di kantor polisi, pengacara kenalan keluarganya, sampai seseorang dari lembaga perlindungan perempuan dan anak. "Ada dugaan kekerasan pada anak dan penelantaran pendidikan," ujar Ranu tegas lewat sambungan telepon. "Saya butuh pendamping resmi." Di ujung sana terdengar jawaban yang membuat rahangnya sedikit mengendur. "Baik, Pak Ranu. Kami bisa bantu mendampingi." Ranu akhirnya mengembuskan napas panjang. Tatapannya jatuh pada jam dinding. Pukul lima pagi. Tanpa membuang waktu, ia langsung mandi dan bersiap menjemput Pani. **** Saat mobil Ranu berhenti d
Malam itu rumah kecil milik Pani masih berantakan. Walau pecahan kaca sudah dibersihkan sebagian. Kursi yang miring sudah dibetulkan posisinya. Namun, bekas kekacauan masih tersisa. Ranu berdiri di tengah ruang tamu sambil memandangi keadaan sekitar dengan rahang mengeras. Tangannya mengepal kuat. Ibunya Pani masih menangis pelan di sudut sofa. Tak lama kemudian terdengar suara langkah kecil dari luar pagar. "Paaapaa!" Sasa berlari masuk sambil memegang tangan Aji. Di belakang mereka, Pani berjalan pelan membawa kantong plastik berisi es krim yang mulai meleleh. Begitu melihat Ranu masih ada di sana, langkahnya terhenti. Suasana mendadak canggung. "Papa belum pulang?" "Papa nunggu kalian," balas Ranu berjongkok menyamakan tinggi. "Papa?" ulang Pani dengan alis terangkat sebelah. Ranu langsung menatapnya. "Kenapa? Kau keberatan?"
"Kamu kemana saja sih seharian?" rengek wanita itu sambil mengusap perutnya yang membuncit. "Kok kemana aja? Aku kan kerja." "Tadi ada perempuan datang bawa anak itu. Dia panggil Mama. Kamu bohong ya sama aku? Katanya kamu sudah duda?!" Faisal terlihat kaget lalu langsung menggeleng kuat. "Kamu ngomong apa? Aku kan sudah bilang, mantan istriku sudah meninggal! Aku duda mati! Tidak ada ikatan apa-apa lagi!" "Terus siapa yang bawa Desi tadi?!" teriak istrinya makin histeris. "Dia panggil-panggil Mama! Kamu pasti masih berhubungan sama mantan kamu ya! Dasar pembohong!" Wanita itu mulai menangis, menjatuhkan diri ke sofa sambil mengeluh pusing dan lelah. "Aku hamil besar begini masih harus kerja keras bersihin rumah, mikirin hidup, eh kamu malah main belakang!" Faisal memijat pelipisnya kesal. Ia tahu siapa yang berani melakukan itu. Pasti mantan adik iparnya, Pani. Si perempuan sok suci yang selam
Mobil berhenti tepat di depan rumah kecil bercat krem yang sudah mulai pudar dimakan usia. Lampu terasnya menyala redup. Begitu melihat mobil hitam milik Ranu masuk ke gang sempit itu, seorang wanita paruh baya langsung keluar dengan wajah panik. "Astaghfirullah, Pani!" Ibunya Pani buru-buru turun dari teras. Tatapannya langsung mencari Desi. Pani cepat membuka pintu mobil lalu menggandeng Desi turun. "Ibu..." suara Pani langsung melemah. Ibunya langsung memeluk Desi duluan. Napas perempuan tua itu terdengar lega sekali. "Ya Allah, Nak... Ibu takut sekali tadi." Desi tampak bingung. "Lho, Emang kenapa sih semua panik?" Pani langsung mengusap kepala anaknya pelan sambil menahan tangis lagi. Ranu ikut turun dari mobil. Tingginya langsung mencolok di depan rumah sederhana itu. Ibunya Pani segera menoleh dan sedikit membungkuk sopan. "Pak Ranu? Kok bisa sama pak Ranu?" Ranu meng
Pani masih menatap tangan Ranu yang terulur beberapa detik lebih lama dari seharusnya. “Bayar? Bapak kok perhitungan sekali sih?” Nada suaranya setengah protes, setengah tidak percaya. Ada sedikit kesal, tapi juga tidak benar-benar marah. Ranu menarik tangannya pelan. Wajahnya tetap datar. “Itu
“Pak... saya mohon... jangan pulangkan saya...” Suara Pani gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Tangannya menggenggam ujung tas seperti mencari pegangan. Ranu tetap menatap lurus ke depan. Seolah tidak terpengaruh oleh bujukan sekertaris nya. Pani langsung menoleh cepat. “Pak, aku benar-benar bi
Ranu hampir tidak percaya. Tatapannya bergantian antara Pani dan tiga anak kecil di depannya. “Kamu…” suaranya pelan, seperti menimbang kata, “Mereka bertiga, anakmu?” Pani terlihat canggung. Tangannya refleks merangkul bahu anak laki-laki kecil yang masih memeluk kakinya. “Iya, Pak.” Ranu mena
Pagi masih begitu dingin ketika Ranu sudah berdiri di ruang tengah. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Gerakan peregangan dilakukan pelan, hati-hati, seolah setiap langkahnya dihitung dengan sadar. Kakinya sudah jauh lebih baik, tapi dia tetap tidak ingin gegabah.Pintu kamar terbuka perlah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.