Home / Romansa / Sampai Kau Ingat Aku / BAB 87 - Pagi Yang Riuh

Share

BAB 87 - Pagi Yang Riuh

Author: Redezilzie
last update publish date: 2026-03-29 11:21:02

BAB 87

Zea merengut, menatap pantulan wajahnya sendiri di jendela mobil yang gelap. Lampu-lampu jalan berkelebat lewat, memberikan efek sinematik yang kontras dengan suasana hatinya yang keruh.

Mereka sudah dalam perjalanan pulang setelah makan malam yang dirasa melelahkan bagi jiwa dan raganya.

Ia memijat kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut akibat menahan kesal.

Tak lama usai mereka menandaskan isi piring masing-masing tadi, di momen basa-
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 94 - Kafe Lentera

    BAB 94“Akhirnya.” Gumam Arkan pelan, nyaris berupa bisikan, sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Setelan jas slim fit berwarna navy itu membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan bahunya yang tegap dan postur tubuhnya yang gagah.Ia merapikan kerah kemeja putih di balik jasnya, lalu memastikan jam tangan mahalnya terpasang dengan presisi di pergelangan tangan kanan, karena tangan kirinya masih memerlukan sedikit penjagaan pasca cidera, meski perbannya kini sudah lebih tipis dan tersembunyi di balik lengan jas. Rasa bangga yang membuncah perlahan menjalar di dadanya. Pria di dalam cermin itu bukan lagi Arkan yang dulu. Ia sedang menatap seorang pria matang, seorang pebisnis yang memiliki beberapa unit usaha yang cukup sukses, membuatnya cukup disegani.Dan hari ini adalah hari yang istimewa. Hari yang ia tunggu-tunggu. Hari launching kafe miliknya. Kafe yang ia beri nama “Lentera Kafe”.Nama itu bukan sekadar hiasan n

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 93 - Dalam Deru Kereta

    BAB 93Zea nyaris tersedak ludahnya sendiri. Pertanyaan Arkan barusan, tentang apakah ia memiliki rasa pada Arya, terasa begitu konyol sekaligus menohok.Tidak pernah sedikit pun terlintas di benaknya untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar teman dengan Arya. Bagaimana mungkin? Jika untuk sekedar ngobrol saja keduanya sama sekali nggak nyambung. Arya terlalu sibuk memamerkan pencapaian-pencapaiannya sedang Zea sibuk menahan mual akibatt muak setengah mati. Apalagi bagi Zea, keterikatan emosional itu diawali dari selera humor yang sama. Dari sana perbincangan hangat akan mengalir. Ia ingin menghabiskan hidup dengan seseorang yang bisa diajak tertawa bersama, meski sekedar untuk menertawai kekonyolan mereka.Zea mengatur nafasnya, mencoba bersikap acuh tak acuh meski jantungnya berdebar sedikit lebih kencang. Ia berdehem pelan sebelum melempar balik pertanyaan itu dengan tatapan menantang.“Menurut Mas sendiri bagaimana?”

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 92 - Caramu Menenangkanku

    BAB 92Taksi online yang membawa Zea dan Arkan membelah kemacetan tipis di pagi itu dan berhenti tepat di depan selasar keberangkatan stasiun. Suasana stasiun masih cukup riuh dengan orang-orang yang mengejar jadwal pagi.Arkan melirik beberapa kali ke arah Zea. Gadis itu belum mengeluarkan suara sejak mereka meninggalkan rumah. Pandangannya terkunci pada aspal jalanan.“Mas, mau sarapan apa?” Tanya gadis itu tiba-tiba saat mereka berjalan memasuki area peron.Arkan tak langsung menjawab. Ia memperhatikan sekeliling mereka. “Apa yang enak di sini?” “Mau yang berkuah apa kering-an?” Tanya Zea. Matanya menatap deretan kedai makanan.Arkan membayangkan nasi uduk yang tadi belum sempat ia sentuh. Aromanya sungguh menggoda, menerbitkan air liur. Refleks, ia menelan ludahnya “Keringan,” jawabnya cepat.Zea menoleh, menatap Arkan lekat. “Nasi uduk?” tanyanya, seolah bisa membaca sisa keinginan Arkan yang tertund

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 91 - Ambang Pintu

    BAB 91Suasana di ruang tamu yang semula kaku mendadak menjadi hening yang menekan. Bapak masih menatap Arkan dengan sorot mata menginterogasi.“Bukan Pak,” sahut Zea mantap, matanya menatap sang ayah tanpa ragu. “Aku yang minta Mas Arkan jemput ke sini.”Bapak mengerutkan kening, lipatan di dahinya semakin dalam. Sementara itu, Arkan menahan napas sejenak, diam-diam menelan ludah. Ia sama sekali tidak menyangka Zea akan melakukan manuver seberani itu di depan orang tuanya.“Kamu ke sini naik apa, Mas?” sambung Zea lagi, mengabaikan ketegangan yang merayap di wajah sang ayah.Arkan berdehem pelan, mencoba menata suaranya agar tetap terdengar tenang dan berwibawa. “Pesawat.”Jawaban singkat itu membuat Ibu yang baru saja muncul dari dapur tersentak kecil. Terbang sepagi ini hanya untuk menjemput putrinya? Skala prioritas Arkan terbaca jelas di sana.Tiba-tiba, suara derit pagar yang dibuka kasar memecah fokus mereka. Semua mat

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 90 - Sandaran

    BAB 90 Sementara itu di kota yang berbeda, Arkan menatap layar ponsel yang tiba-tiba berpendar. Sebuah notifikasi muncul menampilkan pesan yang sudah ia nanti-nantikan sejak semalam. Awalnya ia nyaris berseru girang, tapi kemudian keningnya berkerut saat melihat rangkaian kata yang tertera. Zea: Besok aku pulang jam 10 pagi aja. Mas, jemput aku ya. Aku maunya Mas yang jemput. Kalimat yang tak biasa. Seperti ada nada mendesak yang terselip dalam rengekan manja di sana. Sesuatu yang jarang Zea tunjukkan padanya secara blak-blakan. Butuh beberapa detik baginya untuk membalas. Arkan: Oke, aku jemput, tunggu aku. Sepasang alis Arkan masih bertaut. Ia membaca baris-baris kalimat dari Zea itu kembali, berulang kali. Ambigu. Bukankah rencana awalnya ia akan menunggu di peron stasiun? Namun pesan ini seakan-akan memintanya untuk melewati garis batas yang telah Zea bentang

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 89 - Nelangsa

    BAB 89Zea menikmati hembusan angin yang membelai wajahnya. Demam kendaraan yang konstan terasa lebih menenangkan dibanding keriuhan di tempat wisata tadi. Menenangkan pening di kepalanya. Tak sampai tiga puluh menit motor ojek yang ditumpanginya tiba dan berhenti tepat di depan pagar rumahnya. Zea turun dengan gerakan lunglai, membayar ongkos tanpa banyak bicara, dan langsung melangkah masuk ke halaman.Berharap bisa mengendap-ngendap masuk ke dalam kamarnya. Jujur saja ia belum memikirkan alasan yang tepat untuk ‘kaburnya’ ini.Sayangnya semesta sedang tak berpihak padanya. “Lho, Ze? Kok udah pulang?” Ibu tiba-tiba muncul dari arah dapur dengan wajah terperangah. Wanita itu melirik ke arah jam dinding yang baru menunjukkan pukul setengah satu siang. “Mana Arya? Kok sendirian?”Zea meringis merasakan denyutan di kepalanya yang semakin mengencang. Ia memandang ibu dengan tatapan sayu, “Aku nggak enak badan B

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status