Cinta Satu Malam: Melahirkan Pewaris Untuk Suami Kontrak

Cinta Satu Malam: Melahirkan Pewaris Untuk Suami Kontrak

Par:  Débora OliveiraEn cours
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
Notes insuffisantes
50Chapitres
862Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Sang wanita memimpikan sebuah dongeng. Namun, pria itu mengubah mimpi itu menjadi kontrak yang kejam. Olivia Baskoro adalah seorang eksekutif di perusahaan teknik milik ayahnya. Dia adalah tipe romantis dan penuh pengabdian. Olivia selalu bermimpi membangun sebuah keluarga dan percaya dia telah menemukan masa depan itu di sisi pacarnya. Pada malam ketika dia memutuskan untuk menyerahkan dirinya kepada pacarnya, Olivia malah dibius oleh pacarnya sendiri yang berencana "menjual" keperawanannya kepada atasannya demi mendapatkan promosi. Namun, sebuah kekeliruan nomor kamar hotel mengubah segalanya. Olivia berakhir di pelukan seorang presdir ketus dan playboy yang tidak percaya pada cinta atau akhir yang bahagia. Dari malam terlarang itu, lahirlah sebuah kehamilan yang tak terduga. Demi menyelamatkan adiknya dari rentenir kejam dan melindungi ayahnya yang mengidap penyakit jantung, Olivia terpaksa menggunakan kartu yang ditinggalkan malam itu untuk melunasi utang ... dan akhirnya kembali terjebak di tangan Loist Hardaya. Loist membutuhkan pernikahan dan seorang ahli waris yang sah untuk mewarisi kekayaan kakeknya dan mempertahankan kerajaan bisnisnya. Olivia tidak punya jalan keluar. Di bawah tekanan, dia menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dan berpura-pura menjadi istri sempurna seorang miliarder. Di antara kebencian, hasrat, dan berbagai rahasia, Olivia menyadari bahwa berpura-pura selamanya adalah sesuatu yang mustahil ... dan bahwa kontrak ini bisa menjadi penjaranya, atau justru jalan menuju cinta yang hanya datang sekali seumur hidup.

Voir plus

Chapitre 1

Bab 1 Malam Kebenaran

Bahkan setelah pagi yang melelahkan di kantor, Olivia Baskoro masih terlihat begitu berseri-seri.

Di hari yang diguyur hujan itu, jantungnya berdetak dengan irama yang berbeda. Hari itu adalah ulang tahunnya yang ketiga bersama Peter Shadika. Tiga tahun sejak dia percaya bahwa akhirnya dia menemukan pria yang tepat.

Setelah meninggalkan perusahaan, Olivia langsung menuju spa. Dia harus terlihat sempurna, karena sesuatu di dalam hatinya mengatakan bahwa malam ini akan menjadi malam yang tak terlupakan.

Sambil bersandar di kursi, Olivia membiarkan dirinya rileks di bawah sentuhan lembut ahli kecantikan yang memijat wajahnya dengan gerakan melingkar yang perlahan. Ponselnya bergetar di atas meja untuk ketiga kalinya. Dia mengambilnya dan tersenyum ketika melihat nama di layar.

"Sis, maaf aku nggak angkat telepon tadi," katanya ringan. "Aku lagi facial."

"Ohhh, jadi malam ini malam begituan, ya!" goda Camilla.

"Aku nggak tahan sama rasa gugup ini. Ditambah lagi, sekarang hujan deras. Aku masih harus dandan," kata Olivia sambil melirik dinding kaca yang dipenuhi jejak air hujan. "Sepertinya, aku belum pernah segugup ini seumur hidupku."

Di ujung telepon, Camilla tertawa.

"Gugup soal apa? Kamu lagi merayakan tiga tahun bersama pria paling luar biasa di Dartania. Kalau kamu terus begini, kamu bisa-bisa panik dan malah berakhir di rumah sakit, bukan di makan malam."

Olivia menghela napas sambil menatap bayangannya di cermin. Kulitnya putih cerah, mata birunya berkilau penuh harap, dan rambut hitam panjangnya terurai sampai ke pinggang.

"Jangan bilang begitu. Ayolah, ini sudah tiga tahun," katanya pelan. "Dan hari ini ... sesuatu di dalam hatiku bilang, dia akan melamarku." Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Dan aku memutuskan bahwa ... aku akan menyerahkan diriku untuknya. Aku tahu, aku terlalu lama menunggu dan beberapa orang menganggap aku kolot, tapi sekarang akhirnya aku merasa siap. Dan aku berharap semuanya akan romantis."

Keheningan memenuhi sambungan telepon.

"Wah! Akhirnya!" jawab Camilla. "Aku nggak tahu gimana Peter yang menggoda itu bisa bertahan selama ini tanpa seks."

Olivia tersenyum dengan gugup.

"Dia menunggu karena dia mencintaiku. Sejak awal dia tahu aku ingin semuanya terasa istimewa dan tanpa tekanan. Hubungan itu bukan cuma soal seks, tahu?"

"Aku tahu," jawab Camilla cepat. "Tapi jujur saja, pria itu mikir dengan selangkangan. Mereka ingin wanita yang selalu siap melompat ke pelukannya."

Penata rias tiba-tiba menyela dengan lembut, "Say, aku butuh kamu pakai headphone atau aktikan speaker saja, ya?"

"Cam, aku harus tutup telepon," kata Olivia sambil tertawa. "Aku lupa bawa earphone dari rumah dan kamu sudah mulai bicara ngelantur. Doakan aku beruntung!"

"Semoga berhasil, dan lakukan saja," kata Camilla sambil tertawa pelan. "Kadang hidup memberi hadiah pada mereka yang mau menunggu."

"Aku harap begitu," jawab Olivia sambil merapikan sehelai rambut yang jatuh di bahunya. "Malam ini ... aku ingin semuanya sempurna."

"Pasti sempurna!" kata Camilla segera. "Muach!"

Setelah dia menutup telepon, ruangan itu kembali sunyi. Beberapa saat kemudian, penata rias selesai.

Olivia mengenakan lingerie berrenda merah yang memang sengaja dipilihnya. Lingerie itu berani, tetapi juga sekaligus lembut. Di atasnya, Olivia mengenakan gaun merah muda mutiara yang membalut lekuk tubuhnya dengan elegan, serta menonjolkan pinggang ramping dan pinggulnya yang anggun. Dia memakai sepatu hak tinggi berwarna nude, memasang anting-antingnya, lalu kembali menatap dirinya di cermin.

"Say, malam ini pasti akan luar biasa," kata penata rias itu sambil mengedipkan mata dengan nakal. "Puaskan saja priamu."

Di dalam hati Olivia, hanya satu kalimat yang terus terngiang-ngiang, 'Malam ini, hidupku akan berubah.'

Restoran di dalam hotel mewah itu memancarkan suasana eksklusif. Meja-meja dihiasi rangkaian bunga putih dan lilin yang menyala, sementara suara piano yang samar terdengar di kejauhan, memenuhi ruangan dengan keanggunan yang menenangkan.

Peter sudah menunggunya dengan setelan jas hitam yang sempurna. Rambut pirangnya disisir rapi ke belakang dan senyum menawan terhias di bibirnya. Bagi siapa pun yang melihat, dia tampak seperti pria yang sangat mencintai pasangannya.

Saat Olivia masuk, beberapa orang langsung menoleh. Peter segera berdiri, seolah memperlihatkan sebuah hadiah berharga dengan bangga.

"Kamu terlihat sangat menakjubkan, Sayang," katanya sambil mencium tangan Olivia.

"Kamu juga ganteng seperti biasanya," jawabnya sambil tersenyum lembut.

Pelayan menuangkan anggur untuk mereka. Peter mengangkat gelasnya lebih dulu dan berkata dengan tegas, "Bersulang demi cinta kita."

Dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena haru, Olivia menambahkan, "Semoga bertahan selamanya."

Anggur itu mengalir di tenggorokannya dengan hangat dan menenangkan. Namun sebelum dia sempat menikmati momen itu, ponsel Peter bergetar di atas meja. Suara notifikasi itu memecah suasana romantis sejenak. Dia segera mengambilnya.

Layar menyala dan sebuah pesan muncul dengan jelas.

[ Aku sudah dalam perjalanan ke hotel. Malam ini, kamu akan memuaskan kecanduanku pada wanita perawan. ]

Peter segera mengunci layar ponselnya. Senyumnya tidak berubah, seolah tidak terjadi apa-apa.

"Ada apa?" tanya Olivia dengan khawatir.

Peter menaruh tangannya di atas tangan Olivia.

"Nggak ada yang lebih penting daripada berada di sini bersamamu sekarang."

Jantung Olivia berdetak lebih cepat. Dia memercayai ucapan pria itu.

Makan malam pun berlanjut. Namun, Peter tampak jauh lebih tertarik memastikan gelas anggur mereka terus terisi.

"Gimana proses seleksi untuk posisi baru itu, Sayang?" tanya Olivia.

"Aku sudah berusaha sebaik mungkin. Itu saja yang kupikirkan akhir-akhir ini," jawabnya sambil kembali mengisi gelas Olivia dengan penuh desakan.

"Sepertinya aku sudah cukup minum malam ini ... Sayang," gumam Olivia ragu.

"Ini perayaan, Sayang. Jangan merusak momennya," katanya dengan senyum yang hampir seperti perintah.

Olivia tertawa kecil dan akhirnya mengalah, "Kalau aku mempermalukan diri sendiri, itu salahmu."

Beberapa saat kemudian, Olivia pergi ke toilet. Saat dia pergi, Peter diam-diam menarik gelas Olivia mendekat. Dengan hati-hati, dia memasukkan sesuatu ke dalamnya. Dia mengaduknya pelan, memastikan tidak ada yang terlihat mencurigakan. Lalu, dia bersandar kembali di kursinya dengan senyum puas di bibirnya.

Ketika Olivia kembali, dia duduk lagi sambil tersenyum.

"Kita sampai di mana tadi?" tanyanya sambil mengangkat gelasnya.

Seiring dengan setiap tegukan, pandangan Olivia semakin kabur. Suara piano terdengar semakin jauh. Olivia merasa pusing dan seolah sedang berkhayal.

"Kamu tahu, Sayang ...," gumamnya sambil menopang dagu Peter dengan tangan. Kata-katanya terdengar lebih lambat karena pengaruh alkohol. "Malam ini ... kita akan berhubungan intim."

Peter berpura-pura terkejut. "Kamu yakin?"

Olivia menarik napas dalam-dalam dan mencoba untuk tetap fokus. "Aku ingin kamu merasakan setiap bagian dari diriku, Sayang."

Mata Peter langsung berbinar.

"Kamu nggak tahu sudah berapa lama aku menunggu itu," katanya sambil membelai tangan Olivia.

Olivia menatapnya beberapa detik, meskipun kelopak matanya semakin berat.

"Malam ini, kamu akan ... menemukan jalan," katanya dengan kondisi hampir tidak sadar. "Menuju harta tersembunyiku."

Peter tetap mempertahankan senyum yang sudah terlatih di wajahnya. "Tentu saja, malaikatku. Ayo kita minum."

Olivia mencoba tertawa, tetapi kepalanya terasa berputar. "Panas sekali di sini ... padamkan apiku, Peter," bisiknya.

"Tenang saja, Sayang," katanya lembut sambil menyentuh wajah Olivia seolah menenangkannya. "Sebentar lagi, kita akan melanjutkan perayaan kita di tempat lain."

Di akhir makan malam, dia menuntun Olivia ke meja resepsionis. Olivia hampir tidak bisa berjalan lurus dan tubuhnya bersandar berat pada lengan Peter. Dia benar-benar mabuk dan kehilangan kendali.

"Reservasi atas nama Peter Shadika," katanya kepada resepsionis.

Petugas muda yang gugup karena keramaian tamu yang tertahan akibat badai itu mengetik dengan cepat. Tanpa sadar, dia menukar Suite 1240 menjadi 1204. Dia menyerahkan kartu kunci dengan senyum tergesa-gesa.

Peter mengucapkan terima kasih, lalu saat menuntun Olivia menuju lift, dia diam-diam mengeluarkan ponselnya.

"Aku bawa dia ke kamar sekarang," bisiknya.

Di ujung telepon, suara wanita yang menggoda menjawab, "Lama nggak, Sayang?"

"Nggak. Aku akan meninggalkannya di suite lalu langsung menemuimu, Sayang," katanya dengan senyum kemenangan. "Bosku akhirnya mendapatkan apa yang selalu dia inginkan, satu malam bersama pacarku. Promosiku sudah bisa dipastikan."

Olivia tertawa sendiri tanpa sadar.

"Sayang ...," katanya dengan suara pelo. "Aku ... basah sekali." Dia tertawa cekikikan dan tenggelam dalam kesadarannya yang kabur.

Lorong suite yang mewah itu tampak sunyi. Peter membuka pintu dan membaringkan Olivia di tempat tidur, lalu menutupinya dengan seprai putih.

"Aku punya kejutan untukmu, Sayang. Biarkan lampunya tetap mati. Aku akan segera kembali," bisiknya.

Olivia tertawa keras.

Beberapa menit kemudian, pintu perlahan terbuka. Seorang pria masuk dengan terhuyung-huyung. Dia sedang mabuk. Langkahnya tidak stabil dan napasnya berat.

"Di mana lampunya?"

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Pas de commentaire
50
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status