LOGINSang wanita memimpikan sebuah dongeng. Namun, pria itu mengubah mimpi itu menjadi kontrak yang kejam. Olivia Baskoro adalah seorang eksekutif di perusahaan teknik milik ayahnya. Dia adalah tipe romantis dan penuh pengabdian. Olivia selalu bermimpi membangun sebuah keluarga dan percaya dia telah menemukan masa depan itu di sisi pacarnya. Pada malam ketika dia memutuskan untuk menyerahkan dirinya kepada pacarnya, Olivia malah dibius oleh pacarnya sendiri yang berencana "menjual" keperawanannya kepada atasannya demi mendapatkan promosi. Namun, sebuah kekeliruan nomor kamar hotel mengubah segalanya. Olivia berakhir di pelukan seorang presdir ketus dan playboy yang tidak percaya pada cinta atau akhir yang bahagia. Dari malam terlarang itu, lahirlah sebuah kehamilan yang tak terduga. Demi menyelamatkan adiknya dari rentenir kejam dan melindungi ayahnya yang mengidap penyakit jantung, Olivia terpaksa menggunakan kartu yang ditinggalkan malam itu untuk melunasi utang ... dan akhirnya kembali terjebak di tangan Loist Hardaya. Loist membutuhkan pernikahan dan seorang ahli waris yang sah untuk mewarisi kekayaan kakeknya dan mempertahankan kerajaan bisnisnya. Olivia tidak punya jalan keluar. Di bawah tekanan, dia menyetujui pernikahan kontrak selama satu tahun dan berpura-pura menjadi istri sempurna seorang miliarder. Di antara kebencian, hasrat, dan berbagai rahasia, Olivia menyadari bahwa berpura-pura selamanya adalah sesuatu yang mustahil ... dan bahwa kontrak ini bisa menjadi penjaranya, atau justru jalan menuju cinta yang hanya datang sekali seumur hidup.
View MoreARTHUR
The air inside the Alpha Sigma house was laced with cheap vodka,cologne and cigarette smell.Every sane Omega on campus knew to steer clear of this place on a Friday night. It was a predator tank. But I wasn't here to be sensible. I was here to finish a problem. I adjusted my heavy prescription frames, shoving them up the bridge of my nose, and kept walking. My oversized beige knit sweater swallowed my hands and hid my trembling fingers. I pushed through the double doors leading into the main lounge. The crowd here was thicker, orbiting around a long leather sectional like moths around a wildfire. Sitting right in the center, one booted foot resting carelessly on the glass coffee table, was Jaxon Hilton. He was exactly as the campus rumors described him: a walking hazard. His leather jacket was thrown over the back of the couch, leaving him in a black tank top that showed off the dark, intricate ink winding up his muscular arms and climbing his throat. His dark hair was messy, falling into eyes that were sharp, arrogant, and entirely too used to getting whatever they looked at. I walked straight past his circle, stepping over an empty beer can, and stopped directly in front of him. The laughter at the table died down, replaced by a confused, irritated silence. Jaxon blinked, his dark eyes slowly tracking up from my sneakers, past my baggy denim, to my face. A slow, mocking smirk curled the corner of his lips. "Well, look who it is," Jaxon drew, his voice a low, gravelly baritone. "The chemistry tutor. Did you lose your way to the library, nerd? Or did you finally come to ask for my autograph?" His friends chuckled, leaning back to watch the show. "You got me pregnant," I blurted. The entire circle froze. The Beta girl’s drink stopped halfway to her mouth. Jaxon’s smirk stayed fixed on his face for a fraction of a second before it cracked, a sharp, booming laugh bursting from his chest. "Man, you really had me for a second," Jaxon sneered, his laughter dying down into a cold, dismissive chuckle. His eyes turned sharp, scanning my plain, unappealing appearance with pure amusement. "As if I would ever find myself sleeping with a low-life Omega like you. Nice joke, Arthur. Now get the hell out of my face before I make you." "It’s not a joke, Jaxon," I replied. "Listen to me, you little freak," Jaxon growled, leaning forward."I know exactly who I slept with at the end-of-semester party two months ago. It was a girl. A gorgeous, wild Omega girl who didn’t say a word but sure as hell knew how to handle a heat. She didn’t wear grandma sweaters or thick-ass glasses. So take your little delusions somewhere else." "You didn't sleep with a female Omega," I said, taking a deliberate step closer, right up to the edge of the coffee table. "You actually slept with me." Jaxon’s jaw clenched, his eyes darkening with genuine irritation now. "Are you deaf? I remember that night perfectly. It was pitch black in that guest room. She was small, she smelled like vanilla, and—" "And she lost her glasses under the bed the second you pinned her down," I interrupted, staring him down without an ounce of fear. "You were completely out of your mind on cheap liquor and the sudden scent match. My suppressants failed that night because my heat hit me out of nowhere. I couldn't speak because my throat was raw from the fever. You didn't check who was underneath you, Jaxon. You just assumed what you wanted to assume because it suited your taste." The room was dead silent now. Even his varsity friends had stopped grinning, their eyes darting between the two of us as the details began to line up entirely too well. Jaxon rose from the couch slowly, towering over me. The sheer physical mass of him was intimidating, but I didn't back up an inch. He glared down at me, his chest rising and falling heavily. "You're lying. You're trying to pull some pathetic scam for money or status. Anyone can make up a story about a dark room." "I don't care about your money, and I certainly don't care about your status," I muttered. "But I don't intend to carry this burden alone while you sit here playing the campus king. You think I’m making this up? You actually knotted in me. And you bit me." Jaxon scoffed, a desperate edge creeping into his voice. "I didn't mark anyone. If I had marked her—" "You didn't fully mark me because it wasn't a mating ceremony," I ridiculed, my hand reaching up to the high, thick collar of my sweater. "But you were feral enough to try. You left a semi-permanent mark. Right at the small of my neck." With one swift, deliberate motion, I caught the fabric of my collar and yanked it down over my left shoulder, exposing the pale skin where my neck met my collarbone. The harsh, flashing party lights caught the area instantly. Right there, carved deeply into my skin, was a jagged, unhealed blemish. It wasn't a clean scar; it was a rough, permanent imprint left by a frantic, heavy bite. And right in the centre of the bruised, pale flesh, the clear shape of a jagged letter 'J' sat half-faded but entirely unmistakable—a physical brand left by his dominant canine teeth. Along with the mark, the faint, residual scent of his own lemonmint pheromones radiated weakly from the broken skin, a biological lock and key that only his body could have produced. Jaxon froze entirely. His breath hitched in his throat. His eyes locked onto the jagged 'J' on my shoulder, his face draining of all colour as the smug, untouchable bad-boy persona shattered completely. He recognized his own mark. I let go of the sweater, letting the fabric snap back into place, covering the proof. I adjusted my glasses one last time, looking him dead in the eye as his friends stared at him in absolute horror. "I didn't get myself pregnant, Jaxon," I mumbled softly, turning my back to him. "It’s as simple as that. Figure out what you're going to do about it."Beberapa hari telah berlalu sejak percakapannya dengan Irish di gym sore itu. Olivia masih berjuang menghadapi rasa mual yang terus datang. Hal ini membuat suasana hatinya memburuk dan lelah.Dia duduk di depan meja rias, mengoleskan sedikit foundation untuk menyamarkan wajahnya yang terlihat begitu lelah. Pagi itu, dia memiliki janji temu pertamanya dengan dokter keluarga Loist.Sementara itu, Irish merapikan tempat tidur Olivia dengan santai, sesekali melirik temannya di sela-sela meratakan seprai."Mudah-mudahan hari ini dokternya kasih sesuatu yang bisa meredakan rasa mualmu," kata Irish dengan tulus. "Wajahmu pucat. Beberapa hari ini kamu hampir nggak makan. Itu nggak bagus untuk tubuhmu."Olivia menghela napas panjang. "Aku benar-benar berharap dia bukan tipe dokter yang menolak memberi obat di awal kehamilan. Aku sudah nonton banyak video ibu hamil yang membicarakan soal itu."Dia bergumam dengan lelah, "Aku bahkan nggak punya tenaga untuk bernapas dengan benar. Serius ... aku n
Loist berhenti mengetik sejenak, lalu beralih ke email lain."Nggak ada wanita yang bisa dipercaya," ucapnya dengan dingin.Alex tertawa singkat."Aku orang pertama yang mengakui bahwa aku bukan orang suci," katanya dengan terbuka sambil mengangkat tangan. "Aku memang playboy. Tapi kalau suatu hari aku bertemu wanita yang tepat, aku nggak akan melepaskannya."Alex menatap lurus ke arah Loist. "Kamu justru kebalikannya. Kamu justru membuang sesuatu yang semua orang tahu berbeda. Mau kamu akui atau nggak, Olivia nggak sama seperti wanita lain."Loist perlahan mengangkat pandangan. Bukan untuk berdebat, hanya untuk menegaskan bahwa percakapan itu selesai."Pembicaraan ini selesai."Alex baru saja membuka mulut untuk membalas, ketika sesuatu bergetar. Ponsel mereka berbunyi bersamaan. Itu notifikasi dari grup WhatsApp teman-teman mereka, Elite Kacau.Alex membuka kunci ponselnya. Loist juga. Salah satu dari mereka baru saja mengunggah foto Olivia di gym dengan keterangan.[ Perempuan di ma
Loist menyentuh kerah bajunya, melepaskan kancingnya. Dia tidak mengangkat pandangan."Aku sedang memimpin negosiasi bernilai triliunan, Alex," jawabnya datar. "Tugasku bukan menyenangkan siapa pun. Tugasku adalah menutup kesepakatan.""Aku ingin kamu menutup kesepakatan tanpa menghancurkan apa pun," kata Alex dengan tegas tanpa meninggikan suara. "Hari ini para investor menandatangani karena tawarannya terlalu bagus untuk ditolak. Bukan karena kamu. Dan itu nggak normal."Dia berhenti sejenak, menatap lurus ke arah Loist. "Kamu berbeda, Loist. Sangat berbeda. Dan seberapa kuat pun kamu mencoba menyangkalnya, itu semua ada hubungannya dengan Olivia."Suasana menjadi hening.Loist mengambil ponselnya, membuka kunci layar, lalu mulai menggulir seolah-olah mencari sesuatu yang mendesak. Gerakannya otomatis, jelas seperti sedang menghindar. Dia menyilangkan kaki di atas meja kopi tanpa menoleh ke Alex."Aku perlu baca beberapa email," kata Loist dengan dingin. "Besok jam 8 pagi, kita akan
Olivia menarik napas dalam, lalu berjalan masuk ke ruang ganti.Dia memilih satu set sports bra serta legging berwarna merah muda dan sepatu putih, lalu berganti pakaian. Dia mengikat rambutnya menjadi ekor kuda tinggi, memakai topi, lalu berhenti di depan cermin besar.Tubuhnya yang berlekuk tampak terpantul di sana. Dia tidak berubah secara fisik, tetapi aura yang dipancarkannya berubah.Dia mengeluarkan ponselnya, mengambil foto selfie di depan cermin, lalu membuka media sosialnya. Dia mengetik sebuah caption.[ Tuhan menciptakanku seperti ini. Mengendalikan hidupku sendiri. ]Dia mengunggahnya, mengambil tas gym-nya, lalu keluar dari kamar menuju dapur.Di dapur, Lana sedang menyiapkan sebuah sandwich. Semangkuk besar salad buah dengan yogurt serta granola sudah tersedia di atas meja. Dia mendongak saat Olivia masuk, lalu tersenyum."Pembicaraannya berhasil ya?" tanyanya sambil meletakkan piring. "Camilanmu sudah siap.""Lana, supnya tadi enak sekali." Olivia duduk di kursi tinggi
Satu minggu telah berlalu, tetapi bagi Olivia, waktu tidak lagi berjalan sebagaimana harusnya. Rasanya bagaikan labirin yang selalu membawanya ke tempat yang sama di setiap belokan. Malam itu telah mengubah segalanya.Kenangan itu datang dalam kilasan yang kabur. Potongan-potongan yang terputus, aro
Dua puluh hari telah berlalu sejak malam ketika Olivia tanpa sadar menyerahkan dirinya kepada seorang pria asing. Sejak saat itu, Peter tidak mengucapkan sepatah kata pun kepadanya. Pesan-pesannya tidak dibalas. Teleponnya selalu langsung masuk ke pesan suara. Keheningan itu berubah menjadi beban ya
Di mansion Keluarga Hardaya.Saat duduk di meja makan, Frederick mempertahankan postur tubuh yang tegak meskipun usianya sudah lanjut dan penyakit perlahan menguras kekuatannya. Sorot matanya yang masih tajam menguasai seluruh ruangan. Di sisinya, istrinya Oktavia memperhatikannya dengan saksama. Ke
Ponsel Peter bergetar, memecah keheningan kamar tidur. Dalam kondisi masih kelelahan setelah malam penuh gairah yang dia habiskan bersama selingkuhannya, Peter menjawab dengan lemas, "Selamat pagi, Pak ... apakah aku sudah memuaskan kecanduanmu?"Suara di ujung telepon terdengar ketus dan dingin, "S












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.